Dalam rangka mendukung Digital Detox Week, 20-26 April 2010, Tobucil & Klabs mengundang teman-teman untuk berbagi pengalaman soal hubungan teman-teman dengan internet (termasuk games online, jejaring sosial di internet). Tobucil menganggap Digital Detox sangatlah penting untuk menemukan kembali makna, hidup ditengah-tengah informasi yang berlimpah ruah yang membuat kita seringkali kehilangan kemampuan untuk memilihnya sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Jika teman-teman termasuk yang sedang berjuang untuk mengatasi ketergantungan pada internet atau sudah melewatinya, pengalaman teman-teman akan sangat berharaga untuk dibagi. Silahkan kirimkan pengalaman teman-teman ke tobucil@gmail.com, tulisan yang masuk akan dimuat di blog ini sampai akhir April 2010.
Diterjemahkan dan dikembangkan dari sini
Menjelang Minggu Digital Detox yang sudah semakin dekat, situs adbusters.org menyuguhkan tiga tips singkat mengenai bagaimana menyikapi minggu tersebut, agar lebih bermakna dan efektif bagi partisipator. Artinya, minggu tersebut jangan sampai dirayakan seperti histeria massa semata, melainkan punya daya reflektif yang kuat dan menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik setelahnya, berikut tahapan-tahapan tersebut:
1. Lakukan Momen Keheningan
Pada saat bangun tidur untuk pertama kalinya di hari pertama Minggu Digital Detox, lakukanlah secara lebih perlahan dan lambat. Dalam artian, buat dirimu menyadari apa yang kau lakukan, dan jangan langsung bergerak seolah-olah dirimu adalah robot yang bergerak sesuai tuntutan mekanis. Sempatkan waktu untuk merenung sejenak dan sangat disarankan dalam suasana hening. Jika kau melakukan Digital Detox, pastilah kau adalah orang yang rajin berinteraksi dengan komputer. Perlu diingat bahwa Digital Detox sama sekali tidak melarang untuk melakukan koneksi dengan internet, melainkan menjauhkannya dari jaringan sosial untuk sementara serta games online. Nah, sebelum menyalakan komputer, ada baiknya merenungkan selama 60 detik di depan layarmu yang belum nyala dan masih berwarna hitam. Lihatlah wajahmu disitu, dan renungkan hubungannya dengan layar di depan. Adakah hubungan kalian begitu erat? Atau sebatas dua benda yang satu mati yang satu hidup? Jika demikian, kenapa kau mau menghabiskan waktu di depannya ketimbang dengan orang-orang di dunia nyata?
2. Perlambat
Dalam situs dipertontonkan semacam animasi satu menit, tentang bagaimana rutinitas orang kota itu pada umumnya. Mereka menghabiskan waktu untuk kerja, perjalanan menuju kantor, dan berkomunikasi via telepon atau internet. Sedangkan waktu untuk bercengkrama dengan keluarga, kekasih, atau binatang piaraan, hanya beberapa menit saja. Maksud perlambat disini adalah: perlambat tempo hidupmu, jangan biarkan rutinitas memenjarakan keinginanmu untuk memperkaya batin. Jadi, dihimbau untuk lebih banyak tersenyum dengan orang sekitar, menyapanya, dan mengobrol akrab dengan teman-teman. Adapun luangkan waktu lebih banyak dengan keluarga, pacar, atau binatang piaraan. Hal tersebut akan mencegah alienasi dari rutinitas yang membenamkan kesadaran.
3. Sambungkan Kembali Dirimu dengan Realitas
Gunakan seminggu tersebut untuk berkumpul dengan teman-teman lama. Buatlah acara pertemuan yang menyenangkan seperti hiking atau makan bersama. Buatlah pertemuan tatap muka kembali menjadi utama alih-alih via Facebook atau Twitter. Nikmatilah senyum, sedih, senang, susah, dan ekspresi-eskpresi yang langsung ditampakkan padamu. Karena dalam jaringan sosial, apa yang ditampilkan seringkali tidak alami dan tidak sesuai keadaan yang sebenarnya. Pun pesan emosionalnya seringkali tidak sampai. Buatlah dirimu menjadi manusiawi kembali dalam upaya mengembalikan diri dengan realitas ini.
Selamat Mencoba!
Syarif Maulana
Bookmark this post: |
1 comment:
1. apakah semua orang yg mengalami rutinitas adalah robot yg menjadi bagian dari suatu mekanisme sistem?
sistem yg mana?
saya tergolong sangat rajin menggunakan internet, karena saya bekerja dipelosok timur indonesia, dan internet menjaga saya tetap kritis akan perkembangan dunia termasuk dinamika internal keluarga dan sahabat dekat serta kekasih saya, apakah saya harus menipu diri dg mengatakan bahwa saya baik-baik saja bila melalui hari tanpa mendengar kabar dari mereka? atau mungkin saya harus meninggalkan mereka dan mencari ayah baru, adik baru hingga kekasih baru? mungkin saya bisa menghibur diri dg bermain gim atau memutar video tapi saya tetap tidak bisa (minimal) mendengar suara mereka kan,,
2. saya menghabiskan waktu dg bekerja, di kantor, membicarakan pekerjaan dan bercerita ttg kisah masing2 individu, apa itu salah?
saya jalan kaki menuju kantor, dan saya tidak sendirian, saya selalu berkomunikasi dg siapapun yg juga pejalan kaki, saya bahkan bisa mempunyai banyak teman dari penduduk asli saat menuju ke kantor, apa itu juga salah?
3. biaya transportasi utk menemui mereka secara langsung sangat besar dan membebani, ini konyol, saya menghubungi mereka secara reguler dan pulang menemui mereka saat hari libur keluarga,,
tidak ada yg hyper-realita sebenarnya,,
adbusters lagi-lagi membuat pesta konyol setelah pesta-pesta konyol lainnya seperti buy nothing day yg alih-alih bukannya mengurangi gejala konsumerisme malah meningkatkannya dg ekskalasi yg ganjil,,
dan sekali lagi, upaya utk mengkritik budaya masyarakat massa menjadi aksi gaya-gayaan belaka,,
bila semua masyarakat yg (katanya) terjebak dlm rutinitas kerja itu teralienasi dlm dunia yg sama dimana setiap orang ingin menjadi seperti orang lain, lalu apa bedanya dg sebuah dunia dimana setiap orang SAMA-SAMAberusaha terlihat beda?
adbuster dan garda depan penganut budaya tanding sepertinya harus lebih bijak lagi menetapkan strategi yg baik bila ingin meningkatkan kualitas manusia, bukan sekedar gaya-gayaan belaka,,
Post a Comment