Monday, May 17, 2010

Do The Greenvolution: Mengenal Species Langka Indonesia part 1

Tarsius sangirensis: Madagaskar dikenal dunia karena mempunyai spesies primata unik dalam wujud lemur. Madagaskar adalah pulau yang terisolir sehingga mempunyai beberapa spesies unik (endemik) yang tak didapati di belahan bumi lain. Alfred Russel Wallace juga pernah mengindikasikan teritori mirip dengan Madagaskar, den...gan paradoksnya mengenai fauna zona peralihan, di region yang kini kita kenal dengan nama Sulawesi. Membentang dari selatan sampai ke Filipina. Seperti halnya Madagskar dengan lemurnya, zona peralihan tersebut juga mempunyai ikon primata dalam wujud tarsius. Ragam tarsius juga membentang dari selatan ke utara. Mereka tidak hidup di kontinen besar, namun hanya menghuni pulau-pulau kecil di sepanjang region ini. Tarsius Sulawesi adalah salah satu yang mempunyai kembangan spesies terbesar. Termasuk di antaranya berada di ujung utara negeri kita, tarsius Sangihe (Tarsius sangirensis).

Tarsius adalah primata yang mirip dengan hybrid monyet dan koala. Kepalanya berbentuk bulat, mata besar, dengan jari-jari yang panjang, mengingatkan kita pada ilustrasi alien. Mereka merambat di antara dahan pohon dengan cengkeraman jari tangan dan kakinya. Binatang nokturnal (aktif kala malam) pemakan serangga dan binatang kecil ini mempunyai dimensi badan kecil. Hanya berkisar antara 10-15 sentimeter, dengan panjang ekor mencapai 25 senti. Diet mereka membuat tarsius satu-satunya spesies primata yang karnivora.

Keberadaan tarsius, sayangnya, sangat kritis di alam liar. IUCN melabeli Tarsius secara umum dengan "Critically Endangered" yang hanya selangkah menuju punah di alam liar. Status satwa di zona khusus membuat mereka tak mampu beradaptasi hidup di habitat lain. Ancaman kepunahan ini tentu amat disayangkan mengingat keunikan tarsius potensial "dijual" sebagai primata khas negara kita, selain orangutan. Tak kalah dengan Madagaskar.

Teks: Hilman TaofaniDavro

 Chelonia mydas, si penyu hijau

Orang Bali gemar menari. Orang Papua pintar memahat patung bermotif hewan. Orang Jawa? Ada dimana-mana! Lalu apa kesamaan ketiganya? Chelonia mydas, Penyu hijau!

Yap! Di sepanjang garis pantai ketiga pulau itu, juga di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan, berenanglah dia, si Penyu hijau. Menghanyutkan cangkang lebarnya dalam “gyre”, lorong-lorong arus bawah permukaan rahasia yang menghubungkan seluruh samudera di dunia. Mengembara sepanjang hidupnya, mengarungi perairan tropis yang hangat dan penuh warna, hingga dingin dan kejamnya perairan sub-tropis yang kelabu.

Jika si Mydas hijau ini berkeliaran di seluruh dunia, kenapa kita mesti khawatir? Sederhana saja: karena dalam lima generasi terakhir, jumlah Penyu hijau betina yang bersarang di pantai berkurang sebanyak 67%! Bahkan kini mereka sudah resmi dinyatakan hilang dari perairan Israel.

Bagian paling menyedihkan dari kisah Penyu hijau adalah bahwa kitalah, manusia, yang menjadi ancaman utama mereka. Konsumsi telur penyu, yang digadang-gadang sebagai obat kuat, mendesak mereka ke jurang kepunahan.

The IUCN Red List of Threatened Species, dengan mempertimbangkan penurunan populasi yang sangat cepat, menempatkan si Hijau dalam kategori Endangered, tiga langkah sebelum kepunahan total.

Jadi ingatlah Mydas si hijau setiap kali kita menyantap telur mata sapi, telur orak-arik, atau telur dadar pada saat sarapan. Berjanjilah bahwa kita akan membiarkan penyu-penyu hijau kecil itu nyaman berenang dalam “gyre”, alih-alih dalam lautan asam lambung kita yang berbau busuk!

Teks: Eko Prabowo
Art: Davro

Beberapa minggu ke depan, rubrik literasi berisi sepuluh hewan langka Indonesia yang terancam punah. Kampanye ini di gagas oleh para penggemar Pearl Jam di Indonesia yang tergabung dalam Pearl Jam Indonesia.  http://pearljamindonesia.blogspot.com/
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin