24.5.10

Do The Greenvolution: Mengenal Species Langka Indonesia part 2

Owa Jawa (Hylobates moloch)
Beberapa suara mendefinisikan dan mewakili ekosistemnya. Auman singa dan terompet gajah menjadi penanda ekosistem savana Afrika. Nyanyian kera dan monyet menjadi suara hutan di Brazil. Maka, seharusnya hutan di negara kita juga mampu "bersuara".

Jawa di masa lampau tak kalah dengan hutan Amazon. "Suara" hutan diwakili oleh lengkingan keras primata, owa Jawa (Hylobates moloch). Owa Jawa merupakan satu dari bagian keluarga Gibbon yang ada di Indonesia, dan mempunyai bulu berwarna biru keperakan.

Lengkingan itu merupakan penanda teritorial. Owa adalah makhluk sosial, seperti halnya rata-rata keluarga primata, yang mempunyai teritori khusus. Bila ada yang menerobos, maka owa akan mengeluarkan suara lengkingan untuk mengusir si pengganggu. Jadi bisa kita bayangkan betapa bisingnya hutan-hutan di Jawa pada masa lampau. Seperti gambaran atmosfer hutan-hutan liar yang ada di film, meriah dengan suara-suara alam.

Sayangnya, itu hanya bisa dibayangkan dalam lamunan nostalgik. Untuk membayangkan hutan di Jawa sekalipun sudah susah. Rapatnya permukiman manusia, atau lahan pertanian dan ladang yang meluas membuat habitat owa Jawa makin terdesak. Itu adalah ancaman paling nyata bagi binatang yang sensitif terhadap teritori mereka. Owa tidak dapat dipaksa hidup dalam habitat yang menyempit. Maka, resikonya adalah berkurangnya populasi owa di pulau Jawa secara drastis. Keberadaan mereka tinggal di hutan-hutan lindung yang berada di pucuk pegunungan. Itu juga masih menghadapi bahaya besar kedua, yakni seringnya binatang ini ditangkap untuk dijadikan peliharaan.

Owa adalah binatang liar yang memberi warna terhadap habitatnya, sebagai salah satu suara alam yang dominan. Teriakan owa kini hampir tidak akan terdengar lagi di alam liar Jawa, menyusul jumlah yang makin menyusut serta ketakutan ekstrim mereka terhadap manusia. Hutan di Jawa kini seperti hutan bisu. Tak punya suara dan kuasa.


 Kantung semar papua (Nephentes paniculata)

El Pirata Cofresi, si Bajak Laut asal Puerto Rico di era 1800-an, mencekoki awak kapalnya dengan campuran rum keras, santan kelapa, dan sari nanas sebelum terjun kedalam pertempuran. Pina Colada, koktail nikmat yang mengirim mereka semua dalam kematian yang manis...

Di belahan dunia lain, dalam dekapan hutan hujan tropis Papua yang lembab, di ketinggian 1.400-an m dpl, hiduplah Nepenthes paniculata, si Kantung semar Papua. Pina Colada dalam bentuk tanaman merambat raksasa dengan panjang batang hingga 20 m. Tanaman karnivora yang memangsa serangga hingga anak kodok, setelah sebelumnya menjerat mereka dengan wangi getah dan warna bibir kantung yang menggairahkan.

Namun semua pesona itu tak banyak gunanya bagi kelangsungan hidup si Kantung. Perluasan area tambang dan perkebunan di Papua yang seolah tidak berujung, dengan cepat melempar mereka ke peringkat Endangered dalam The IUCN Red List of Threatened Species, tiga langkah dari pinggir jurang kepunahan.

Maka, selain koteka, patung dan tarian Asmat, serta keserakahan Freeport yang tak tertanggungkan, tambahkanlah si Kantung semar ketika kita mengingat Papua. Bayangkanlah betapa ia bersusah payah memerangkap mangsanya dengan segala pesona, sementara puluhan ton roda truk perkebunan dan pertambangan berderap mendekat dengan cepat. Segera menggilas dan mengirimnya ke kematian yang sama sekali tidak manis.

Beberapa minggu ke depan, rubrik literasi berisi sepuluh hewan dan tanamanan langka Indonesia yang terancam punah. Kampanye ini di gagas oleh para penggemar Pearl Jam di Indonesia yang tergabung dalam Pearl Jam Indonesia.  http://pearljamindonesia.blogspot.com/
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin