2.5.10

Luka di Madfal yang Membludak


Ada yang aneh di Madrasah Falsafah (Madfal) Rabu itu. Aneh karena, ketika saya datang, oh betapa sesaknya. Saya sempat berpikir ada satu meja yang berisi anak-anak SMA atau kuliah tengah belajar kelompok. Tapi sesaat setelah saya berada di beranda, baru saya sadar, dari Mas Heru dan Mas Iman Abda, bahwa semua yang berada di beranda, tengah mengikuti madfal. Jumlahnya amboi banyaknya, ada barangkali 25-30 orang. Ini barangkali rekor peserta Madfal (betulkah, Kang Ami?).

Saya mencoba menerka apakah gerangan yang menyebabkan Madfal sekarang cukup ramai, dari yang biasanya paling banyak sekitar 15 orang? Pertama, menurut dugaan Diecky, salah seorang peserta, ini karena Kang Ami mengaktifkan kembali grup Madfal di FB, dan menyebarkan undangannya madfal via message grup. Meski Kang Ami tidak menampik hal tersebut sebagai penyebab datangnya banyak orang, tapi Kang Ami lebih menyoroti pemilihan tema sebagai penyebab utama. Ya, tema hari itu adalah tentang “luka”. Sepertinya biasa-biasa, tapi ternyata menyedot massa. Meski menurut Ijal, jalannya diskusi menjadi sedikit repot karena orangnya sangat banyak, tapi Mas Joko mendapati beberapa pernyataan yang menarik tentang topik tersebut. Misalnya, pernyataan Kang Ami sendiri, yang berbicara soal luka pada pria seringkali menjadi kebanggaan. Dan dikaitkan dengan sebuah film yang (lupa judulnya) menunjukkan ekspresi seorang anak yang begitu sedih ketika luka di tubuhnya hilang. Lalu ada pula yang menarik lewat pernyataan yang menjadikan luka sebagai jalan spiritual, yakni menjadi lebih menerima diri. Saking banyaknya orang, memang menjadi banyak sekali pernyataan-pernyataan, termasuk dari Mas Heru yang mengangkat soal luka bangsa, lalu Mas Joko mengaitkan dengan luka sebagai momen eksistensial yang menghubungkan bangsa dengan dirinya sendiri.

Bagi beberapa orang, pendapatnya memang cukup beragam soal penuhnya Madfal ini, Ami mengaku cukup tersanjung, meski cukup repot. Karena banyak hal yang jadi kurang terkendali, malah katanya ada yang komplen karena tidak kebagian bicara. Meski demikian, Mas Joko bilang ini bagus, karena dalam forum Madfal yang biasanya, ia sering dirempuk oleh peserta lain, sehingga dalam kesempatan ini, ia bisa menghimpun massa pendukung lebih banyak. Diluar plus minus membludaknya peserta ini, tetap ini menjadi semacam pertanda menarik: bahwa banyak orang tertarik filsafat, tertarik untuk tidak membiarkan pikirannya berada dalam pengaruh otoritas tertentu. Melainkan ingin mandiri, berdiri sendiri.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin