Sekira ba’da maghrib, saya tiba di Tobucil. Hari itu hujan rintik, dan terlihat Klab Nulis sedang berkumpul di pertemuan perdananya di angkatan tujuh. Terlihat mentor Sophan Ajie sedang berbicara di hadapan empat peserta yang diketahui bernama Mba Fety, Yunita, Echa, dan Willy. Pertama saya hadir, mereka berempat sedang asyik menulis, sebelum kemudian dibacakan satu persatu. Apa gerangan yang mereka tuliskan? Yakni sebuah tulisan ringkas yang di dapatnya mesti ada kata danau, Miyabi, Brad Pitt, serta oli. Tidak nyambung kan? Memang disitu tantangannya, dan hasilnya cukup menarik serta variatif.
Mba Fety menyuguhkan tulisan tentang imajinasi liar, tapi kemudian dibuyarkan dengan tuturan bahwa si aku dalam cerita itu didapati hanya bermimpi. Sophan mengomentari itu sebagai khas Mba Fety: akhir yang mengejutkan. Sedangkan Yunita dengan jenaka bercerita tentang sebuah keadaan yang serba “biasa-biasa”. Maksudnya, ia bertutur seting dimana ada desa yang biasa-biasa saja, danau biasa-biasa saja, serta orang biasa-biasa saja. Yang lucu, di desa itu ada guru bernama Sharon Stone dan kakek tua bernama Brad Pitt. Kontan para peserta tergelak mendengarnya, lantas Sophan berkomentar bahwa Yunita sangat pandai berparodi. Meski demikian, dalam sebuah tulisan, tetap mesti ada unsur informatifnya. Maka istilah “biasa-biasa” yang banyak dituliskan oleh Yunita dianggap kurang dipahami oleh pembaca. Dua terakhir dibacakan milik Echa dan milik Willy. Yang pertama bercerita tentang lamunan di danau membayangkan Miyabi, dan yang kedua dikaitkan dengan sebuah agama xxx. Sophan lalu memberi masukan yang mirip pada keduanya. Yakni kurang membebaskan imajinasinya. Penulis mesti merdeka, penulis mesta mengekspresikan yang dia mau secara bebas. Maka itu, jangan menggunakan istilah “agama xxx” menurut Sophan. Blak-blakan saja soal agama apa itu, dan mesti berani. Sedangkan untuk Echa, penggunaan metafor akan lebih meliarkan imajinasi seseorang. Misalnya untuk mengingat sensualitas Miyabi, bisa saja digunakan kalimat, “Miyabi bernafas setengah-setangah”, untuk membuat pembaca lebih membayang-bayangkan, daripada misalnya, “Miyabi membelai dengan lembut.”
Demikian Klab Nulis hari itu berlanjut pada diskusi ringan yang hangat tentang idealisme penulis. Sophan Aji yang berpengalaman dengan santainya berbagi dan membuat para peserta betah duduk berlama-lama hingga larut. Sophan Aji, tanpa bermaksud berlebihan, sungguh mengingatkan saya pada figur Mr. Keating di Dead Poets Society. Ia bisa memaksa muridnya untuk mengeluarkan imajinasinya yang terliar.
Bookmark this post: |

No comments:
Post a Comment