12.5.10

Membedas Formalisme bersama Ki Daus


Hari itu suasana Madrasah Falsafah (Madfal) terasa sedikit lebih serius. Ini kemungkinan disebabkan oleh topiknya yang lumayan menguras pikiran, yakni menyoal formalisme. Berbeda dari biasanya, hari itu madfal menggunakan semacam narasumber, yang tak lain adalah Mas Daus, yang biasa dipanggil Ki Daus (oleh Mas Joko). Dari judul topiknya pun, terasa bahwa madfal sedang tidak berbicara soal keseharian. Maka, apakah itu formalisme? Anehnya, yang duluan membawakan adalah Mas Heru Hikayat, yang ternyata juga seorang narasumber. Mas Heru ini memberikan semacam pengetahuan soal formalisme dalam seni rupa. Pada intinya, formalisme menyoroti bagaimana sebuah karya seni dinilai dan diukur berdasarkan barometer-barometer yang terdapat dalam ilmu tentang seni itu sendiri. Maksudnya, formalisme menyampingkan hal-hal yang berbau interpretasi terlalu jauh yang membuat sebuah karya seni keluar dari konteksnya. Ki Daus kemudian menambahkan dari sudut pandang sastra. Formalisme ini dianut oleh orang-orang yang membedah sastra bukan menitikberatkan pada “bagaimana sastra dipelajari”, melainkan lebih merujuk pada “apa yang sebenarnya menjadi persoalan pokok dari studi sastra itu sendiri”. Bagi kaum formalis, objek ilmu sastra bukanlah kesusastraan, melainkan kesastraannya.

Pada intinya, formalisme sastra misalnya, mengukur sebuah karya sastra disebut puisi atau tidak, dan kemudian puisi itu bagus atau tidak, berdasarkan instrumen-instrumen yang berusaha tidak keluar dari konteks sastra. Formalisme ogah menilai puisi berdasarkan kesan-kesan dan pemaknaan. Bisa dibilang, formalisme ini mensaintifikasikan seni agar punya barometer dan tolok ukur yang kira-kira jelas. Dalam kesempatan itu pula, untuk memudahkan pemahaman, peserta madfal disuguhi oleh dua handout dari masing-masing Ki Daus dan Mas Heru.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin