13.6.10

Jangan Baca Madilog!

Rabu 26 Mei 2010 saya datang ke Madfal terlambat. Walaupun tidak seterlambat Daus (Mohamad Syafari Firdaus) tetap saja saya luput mendengar paparan awal Iqbal (Dien Fakhri Iqbal ) tentang Madilog. Saya belum tamat baca buku karya Tan Malaka itu. Tapi begitu duduk, saya langsung tahu satu hal: membaca buku Madilog bikin sakit mata. Iqbal sibuk memaparkan hasil bacaannya dengan mata bengkak memerah.

Seturut kesaksian Syarif Maulana, JS (Joko Supriyadi) adalah rival MSF. Pesan Syarif, siapapun yang menjadi pemandu forum Madfal, selayaknya mewaspadai debat berkepanjangan antara JS dan MSF. Hari itu JS berperan cukup besar mengisi kekosongan pemaparan yang diakibatkan Iqbal berkali-kali harus berhenti bicara, menutup mata, mendongakan kepala, dan mengelap cairan yang menetes dari matanya. Andai ada yang melihat dari kejauhan, Iqbal akan tampak seperti orang yang sedang mencurahkan hatinya. Suatu beban dalam dada yang begitu berat, begitu memerihkan, dicurahkan pada sekumpulan teman-teman dekat yang setia menjadi pendengar.

Pada satu titik, Iqbal memutuskan untuk mengenakan kacamata hitam. Sepertinya ia tanggap melihat teman-temannya risih. Kedua mata Iqbal mencolok, menjadi bagian yang paling menarik perhatian lawan bicaranya. Saat Iqbal harus membuka buku Madilog untuk menjelaskan satu bagian dari buku itu, adegan pun makin tampak memelaskan. Ia seperti orang dengan penglihatan bermasalah sedang berusaha menyimak satu teks tertulis yang terlalu sulit dicerna dan ia melakukannya demi orang lain bisa mengerti teks tersebut. Sungguh satu niat baik yang layak diberi penghargaan.

Dalam jeda-jeda yang diakibatkan keterbatasan Iqbal itu, saya pun berusaha melontarkan poin-poin yang bisa mengembangkan diskusi dan mengimbangi perdebatan JS dan MSF agar tidak terlalu mendominasi forum. Teman-teman lain yang hadir saat itu, Mata (Permata Andhika Rahardja), Myra Mariezka Annisa, Dini Zakiaturohmah, Vety—teman yang sudah lama tidak datang ke Madfal— dan Rizal (maaf, saya tidak tahu nama lengkap dan ejaannya yang benar) tidak banyak bicara. Saya menduga, mereka terharu melihat perjuangan Iqbal.

Saat baru tiba, Daus berkomentar: “wah, revolusi ternyata banyak peminatnya ya”. Diskusi ini hanya dihadiri sedikit orang, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan saat Madfal membahas topik "Luka". Madilog memang buku yang revolusioner. Selain ditulis dalam waktu lama (8 bulan), dalam keadaan penulisnya serba terbatas, dan baru berhasil diterbitkan 2 tahun setelah si penulis meninggal, hal yang revolusioner dalam buku itu adalah suatu upaya perombakan cara berpikir secara radikal: bebaskan dirimu dari tenung mistis dan berpikirlah rasional. Maka, bersiap-siaplah sakit mata!

Cigadung 30 Mei 2010
(Heru Hikayat)
Google Twitter FaceBook

3 comments:

tantiko said...

Sangat disayangkan jarang generasi skr yg tau akan perjuangan dan pemikiran Tan Malaka akibat pengaburan sejarah oleh orba terutama. Saya hargai forum diskusi ttg Tan Malaka dan bukunya.

Paskal Panuntun said...

Hari Minggu tanggal 17 Maret 2011, mengunjungi toko buku di bilangan Jl.Supratman Bandung. Disana dijual buku 'Madilog' karya Tan Malaka yang dicetak sekitar tahun 2009-2010

Apa yang saya dapati, ternyata Banyak bagian yang dihapus. Saya mengetahui ini setelah saya cermati daftar isi-nya. Saya pertama kali baca 'Madilog' versi aslinya, yang notabene merupakan salah satu buku yang dilarang pada zaman order baru, sehingga saya yakin betul bahwa 'Madilog' cetakan baru ini sudah di 'edit'.

Ternyata masih sulit memang dari Bangsa ini untuk menerima sebuah pemikiran Tan Malaka. Secara kehidupan zaman sekarang, memang buku ini menurut saya cukup berbahaya.

Tapi satu sisi, merombak isi buku (tanpa sepengetahuan penulis/pihak yang berwenang) merupakah sebuah tindak mencemarkan buah karya pemikiran dari seorang intelektual.

Salam

cabun said...

saya ingin membaca buku madilog ini, kira2 ada yang tau ditoko buku supratman yg sebelah kiri atau kanan ya? terus harganya berapa?

trims

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin