13.6.10

Memaknai Penyintas

Rabu 2 Juni 2010, Tarlen Handayani menjadi pemasalah forum diskusi Madrasah Falsafah (Madfal). Ia memulai paparannya tentang “penyintas” dengan pengalaman kunjungan dia ke reruntuhan WTC New York. Penyintas bersepadan arti dengan “survivor” dalam Bahasa Inggris. Pemandu dalam tur itu adalah petugas pemadam kebakaran yang selamat dari bencananya. Menurut Tarlen, di situs itu tidak ada sesuatu yang istimewa untuk diperhatikan. Sang pemandu “hanya” bercerita tentang jejak-jejak, apa-apa yang tadinya ada di sana. Lebih menarik dari itu, si pemandu tidak pernah menyebut teroris sebagai penyebab runtuhnya menara WTC.

Beberapa bulan lalu, Tarlen melakukan perjalanan lagi. Kali ini ke wilayah Asia Tenggara. Wilayah yang relevan dengan diskusi kita, adalah negara Vietnam dan Kamboja. Di Vietnam, Tarlen menyaksikan sisa-sia kubu pertahanan pejuang Vietnam saat berperang melawan Amerika Serikat. Orang Vietnam tidak menyebutnya “Perang Vietnam”, melainkan “Perang Amerika”. Istilah itu sekaligus menegaskan bahwa perang tersebut, Amerika-lah yang memulai. Antitesis dengan istilah di Amerika sana yang seolah mengatakan Vietnam biang keladinya. Bagi Tarlen, menyaksikan kecanggihan sekaligus kesederhanaan kubu pertahanan berupa lorong-lorong bawah tanah (bisa sampai tiga tingkat ke bawah dan luar biasa sempit—hanya cukup untuk satu orang lewat) sangat mengingatkan pada semangat “DIY” (Do It Yourself). Mereka dengan bersahaja, gagah menghadapi pasukan AS yang didukung teknologi termutakhir saat itu.

Di Kamboja, Tarlen merasa melihat hal yang kebalikan dari semangat juang rakyat Vietnam. Situs yang disaksikan Tarlen adalah sisa-sisa kekejaman rejim pemerintah Kamboja meneror rakyatnya sendiri. Di Kamboja, para penyintas juga dapat kesempatan menjadi pemandu, bertutur tentang pengalaman mereka. Suasana di sana sarat dengan aroma kematian dan kesedihan, demikian kesaksian Tarlen.

Tarlen kemudian bercerita, bahwa dia dan beberapa teman pernah mendiskusikan tentang arti kata penyintas. Menurutnya, penyintas bukan sekedar orang yang berhasil bertahan hidup, lebih dari itu penyintas adalah orang yang berhasil melepaskan diri dari problematika yang mengakibatkan hidupnya terancam.

Diskusi kemudian sempat berpusar pada hubungan kebertahanan hidup dengan kesempatan bertutur. Soal kesempatan ini, berhubungan juga dengan kemenangan dan kekalahan: jika pihak yang tadinya kejam membunuhi sesama kalah, maka ia dapat dibuat tunduk mengakui kesalahannya dan para mantan korban berkesempatan tampil membuat pernyataan.

Bukankah memang itu yang paling penting: pengakuan atas kesalahan dan bagaimana cara mengambil pelajaran agar kesalahan itu tidak terulang lagi?
Moh. Syafari Firdaus kemudian menggaris-bawahi tentang aspek politis. Rejim Pol Pot di Kamboja kalah, dan korban-korbannya dapat bertutur tentang horor yang dialami, hingga kita—orang yang tidak mengalami—bisa mengambil pelajaran. Dengan kata lain, kalau Pol Pot tidak kalah, akankah para penyintas itu dapat kesempatan tampil? Akankah kekejaman rejim Pol Pot bisa terungkap? Bukankah jika benar begini, maka sejarah tetaplah sejarah penguasa. MSF mengingatkan pentingnya pemunculan “sejarah korban”: suatu sudut pandang dari mereka yang kalah. Aspek politis ini penting mengingat kondisi negara kita. Hingga saat ini kekejaman rejim Suharto masih jauh dari terkuak.
Dien Fakhri Iqbal kemudian melontarkan masalah lain. Dari pengalamannya di Aceh, mendampingi para penyintas bencana tsunami, dia melihat ada kecenderungan orang Aceh enggan mengingat. Tonggak pengingat, totem, monumen, merupakan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Ada juga suara-suara yang menyayangkan: dahsyatnya bencana tsunami menghapus jejak kekejaman penindasan ABRI atas rakyat Aceh. Betul, tsunami mengakibatkan mereka kehilangan banyak orang-orang yang dicintai. Tapi ini adalah penyebab yang berada di luar kuasa manusia. Namun periode Daerah Operasi Militer (DOM), juga membuat mereka kehilangan banyak, dan ini disebabkan oleh sesama manusia—tepatnya oleh “saudara sebangsa dan setanah air”. Membekukan ingatan atas kehilangan yang disebabkan oleh bencana Tsunami sepertinya membuat terhapus kehilangan lain yang disebabkan oleh sesama.

Kira-kira dari diskusi tersebut, beberapa hal yang bisa diambil adalah: penyintas bukan sebatas bertahan hidup, tapi juga soal mengeluarkan diri dari lingkaran kekerasan, kesempatan bertutur, kompetisi wacana, kekuasaan, horor, dan tenggang rasa. Diskusi hari itu ditutup dengan tepuk tangan seperti biasa, dan peserta pulang dengan perasaan bingung dan penuh pertanyaan: lazimnya orang pulang dari sebuah diskusi filsafat. Terutama Iqbal, ya, ada seorang peserta baru bernama Iqbal. Yang baru saja lulus seleksi penerimaan mahasiswa kedokteran. Ia dengan semangat datang ke Madfal seolah mencari kebenaran, dan ketika pulang, tak ada satupun yang tahu apakah ia telah menemukannya atau malah menjauhkannya.


Heru Hikayat, ditambahkan sedikit oleh Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin