26.10.10

Apakah Fungsi dari Selebriti?

Madrasah Falsafah hari itu kedatangan orang yang bukan itu-itu lagi. Namanya Tisna Prabasmoro, ia akan memasalahkan sesuatu yang dirangkum dalam judul Star Attack. Mba Eci berkelakar bahwa apakah ini tentang sabun cuci? Hahaha sesungguhnya tidak, kata Kang Tisna. Star disini berkaitan dengan selebriti, tentang eksistensinya, dan “serangannya” pada kita-kita yang notabene non-selebriti. Setelah cukup lama memaparkan tesisnya, Kang Tisna mengajukan pertanyaan kritis yang cukup seru: Apakah kemudian, cultural function of celebrity?
Mba Eci beranjak duluan, ia berkata, “Setidaknya saya punya seseorang yang bisa dicaci maki.” Atau Haseena, seorang gadis dari Singapura yang kebetulan ikut duduk disana berkata, “Selebriti tak ada gunanya.” Mas Heru Hikayat punya cerita yang lebih panjang, ia mengutip kisah pelukis Jean Michel Basquiat kala berjumpa Andy Warhol, seniman yang telah lebih dahulu populer. Basquiat, yang kala itu berstatus tuna wisma, melukis di atas kertas tissue dengan saus dan macam-macam yang ada di meja makan. Setelah selesai, ia tunjukkan pada Warhol, dan mendapat respon seperti ini, “Lumayan, saya beli seharga lima dolar.” Setelah itu Basquiat pergi, dan memanfaatkan selebritas Warhol untuk berkata, “Saya pernah makan siang dengan Andy Warhol.”
Cerita Mas Heru ditanggapi dengan asyik dan sangat merangsang diskusi. Bahwa selebriti, pada titik tertentu, punya fungsi sebagai akses untuk memasuki sebuah kelompok masyarakat. Kang Tisna menyebutkan, jika masuk lingkungan Viking (pendukung Persib), sangat penting jika mengenal Heru Joko atau Ayi Beutik yang notabene menjadi figur penting dalam Viking. Hanya saja hal tersebut ditentang keras oleh Mas Daus, katanya, menyebutkan seseorang di luar dirinya, membuat eksistensinya hilang. Dengan mengatakan, saya kenal si anu dan si anu, itu membuat orang tidak melihat dirinya sebagai dirinya. Bahkan Mba Eci mengusulkan, mereka yang seperti itu, tulis saja di kartu namanya, sebagai profesi: “Teman selebritis anu.”
Meski demikian, Mas Daus pun tak sepenuhnya didukung. Wiku pedia yang kebetulan ikutan forum, mengatakan hampir mirip dengan Kang Tisna. Bahwa kita tidak menafikan bahwa mengenal seseorang yang telah lebih dulu dekat dengan suatu kelompok masyarakat, menjadikan kita lebih mudah untuk memasuki kelompok tersebut. Apalagi jika kemudian si orang yang kita sebut adalah selebritisnya kelompok tersebut. Akhirul kata, Kang Tisna akhirnya mengungkap kesejatian pemikirannya. Bahwa kita tidak bisa melulu menganggap selebritis tak punya guna, walaupun itulah yang biasa dilakukan orang kala pertama kali mendengarnya. Sesungguhnya lewat selebritis, pasar terus hidup di dalamnya. Karena selebriti, bagaimanapun juga menjadi idol bagi beberapa orang, dan menjadi duta berjalan bagi banyak merk. Keterkenalan selebriti adalah reklame bagus bagi perusahaan-perusahaan, dan daya giur menarik bagi para calon konsumen. Dari situ selebriti menemukan fungsinya yang hakiki. Patut direnungkan.
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin