8.10.10

Menghadirkan Serpihan Semangat Mao Di Tobucil

Pada hari Rabu, 29 September itu, beranda Tobucil konon lebih sesak daripada biasanya. Memang iya, itu adalah jadwal Madrasah Falsafah, sehingga tak aneh jika penuh. Tapi ini sedikit berbeda, karena mulainya jam tiga, alih-alih jam lima seperti biasanya. Ternyata, ada semacam diskusi, presentasi dan bedah buku. Buku yang dibedah sebelumnya belum jadi, masih dalam proses penerbitan. Tapi yang menarik, acara tersebut disyuting oleh Metro TV sebagai bagian dari acara Kick Andy yang cukup terkenal. Walhasil memang jadinya amat ramai Tobucil sore itu.

Buku yang dibahas adalah Salju & Nyanyian bunga Mei: Terjemahan atas Sajak-Sajak Mao Zedong. Ini menarik bagi saya pribadi, karena jujur saya tidak tahu diktator proletariat macam Mao yang terkenal dengan karakternya yang keras, mampu menulis sajak sedemikian banyaknya, dan amboi indahnya. Yang hadir menjadi pembicara adalah Soeria Disastra, yang mana penerjemahnya sendiri. Lalu Hawe Setiawan sebagai editor, serta Hikmat Gumelar, yang lebih memberikan penjelasan tentang hubungan Tionghoa-Indonesia.


Talkshow dibuka dengan curhat Hawe Setiawan tentang kendala penerjemahan. Katanya, mengedit buku tersebut adalah tantangan yang cukup berat. Karena pertama, bahasa sesungguhnya tak bisa persis dialihbahasakan. Dalam artian, ada ungkapan yang mana hanya terdapat dalam satu kosa kata suatu bahasa, dan tidak terdapat dalam bahasa lainnya. Ini menyulitkan, terutama kenyataan bahwa Kang Hawe tak mampu berbahasa Mandarin. Maka itu Kang Hawe menilai penerjemah mesti sangat paham tentang konteks yang dibicarakan oleh sang penutur atau penulis, tidak hanya mengalihbahasakan secara tekstual.

Setelah Kang Hawe, maka berikutnya Pak Soeria memberikan pandangannya. Tak lama, singkat, padat, dan menarik, terutama kala beliau membacakan salah satu sajak sang revolusionis Mao:

Angin dan hujan mengantar musim semi pergi,
Tebaran salju menyambut musim semi datang
Tebing terjal tinggi sudah terbungkus es beku
Di sana masih bertengger setangkai bunga ayu
Meski ayu ia tidak berebut musim semi
Cuma membawa warta musim semi sudah tiba
Sampai saat bunga-bunga pegunungan semarak
Ia pun tersenyum di tengah rumpun


Desember 1961 –

Sajak tersebut dibacakan dalam dwibahasa, dan mengundang decak kagum. Salah satunya dari kelompok peserta diskusi yang ternyata dari komunitas Tionghoa. Amboi, seorang Mao, yang dengan gagah menentang imperialisme dan pernah dengan kejam melakukan Revolusi Kebudayaan yang memakan korban rakyat Cina hingga jutaan, bisa menulis sajak yang manis dan berbunga-bunga. Setelah Pak Soeria membacakan sajaknya, sayangnya, tak bisa dilanjutkan dengan diskusi, karena beliau keburu diculik Metro TV untuk wawancara. Acara pun diserahkan pada pembicara berikutnya, Hikmat Gumelar.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin