26.10.10

Merumuskan Harga Tiket Konser

Sore itu KlabKlassik berkumpul di beranda Tobucil. Rencananya, KK akan syukuran telah melewati CGF 2010 yang diselenggarakan 8 Oktober 2010. Telah berkumpul saya, Royke, Iyok, Kristianus, Ina, Mas Yunus dan Kang Tikno. Kami kemudian mengadakan rapat evaluasi yang singkat dan berkesimpulan bahwa CGF kemarin, terlepas sukses-tidak sukses, atau untung-rugi, bagaimanapun telah terlewati dengan gembira serta damai. Setelah itu, daripada bingung, dibukalah forum diskusi yang mana topiknya dilempar oleh Royke, begini ceritanya:
 Suatu hari, ketika Royke sedang mengumumkan publikasi CGF 2010 di sebuah milis. Ia mendapatkan balasan yang tidak terduga. Setelah mengumumkan harga tiketnya 20.000 rupiah, ada yang membalas begini kira-kira, “Kapan gitaris kita bisa dihargai, kalau harganya tak lebih dari tukang sol sepatu.” Royke kontan kaget, dan juga jagat permilisan tersebut. Responnya kemudian beragam, ada yang secara halus mengatakan bahwa acara CGF tidak apa-apa naik sedikit harganya, ada pun yang mengatakan bahwa angka 20.000 sudah bagus, karena diliat dari lokasi juga. Di Jakarta barangkali kemurahan, tapi di Bandung, harga seperti itu cukup lumayan.
Akhirnya bahan diskusi kami adalah: Apakah harga tiket, bersinggungan dengan tingkat apresiasi kita terhadap musisi? Ternyata jawaban kebanyakan yang hadir di Klab adalah tidak. Maksudnya, harga tiket lebih berkaitan dengan apresiasi kita terhadap si konser, bukan musisinya. Dengan mematok harga, berarti si konser itu tidak gratis-gratis amat, dan penonton lebih berkewajiban untuk datang. Soal pematokan harga sendiri, itu murni berdasarkan kebutuhan operasional panitia, dan juga memang sangat disesuaikan dengan kantong rata-rata penonton. Iyok punya tambahan bagus: “Kalau mau menghargai musisi secara full, harganya bukan 20.000 atau 50.000, satu juta pun masih kurang!”
Mas Yunus menambahkan, banyak yang berpendapat musik klasik adalah musik yang eksklusif. Dengan harga yang tinggi, seolah kita-kita yang telah mendapatkan stereotip eksklusif, malah jadi ingin tambah meng-eksklusifkan diri dong. Ini jelas bertentangan dengan tujuan klab, kata Royke. Menurutnya, klab seyogianya berfungsi memasyarakatkan musik klasik. Sehingga untuk tahap awal pengenalan, jangan dulu mematok harga tinggi-tinggi. Tujuan klab juga bukan untuk mencari profit dari konser-konser edukatif. Demikian diskusi singkat namun padat itu pun ditutup, dengan kepercayaan bahwa suatu hari nanti, jika uang klab banyak, maka sesekali bikin konser gratis demi kemaslahatan umat tidaklah haram hukumnya.
Google Twitter FaceBook

1 comment:

arushidup said...

kalo pun mau hitung-hitungan tarif konser juga bagus sih. tapi kalo emang gak mau ngambil surplus-value, ya udah tarifnya dihargai buat nutupin biaya-biaya yang dikeluarin selama konser doang :D.

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin