14.11.10

Gasibu Minggu Pagi, Disfungsi atau Alih Fungsi?


Rabu, 10 November 2010

Madfal Rabu 10 November 2010 mendiskusikan soal Gasibu di hari Minggu pagi. Tampaknya warga Bandung sudah maklum, lapangan Gasibu tiap Minggu pagi berubah jadi pasar, makin membesar, dan menjadi area non-kendaraan bermotor. Jika Anda punya kepentingan lain di waktu tersebut, sebaiknya Anda menghindari area Gasibu, demikian salah satu poin diskusi. Dengan kata lain, Gasibu Minggu pagi telah menjadi kepentingan tersendiri.

Lapangan tepat di seberang Gedung Sate, pusat pemerintahan Jawa Barat tersebut, bagian tengahnya dilengkapi dengan lintasan lari. Dulu, Gasibu Minggu pagi memang identik dengan kegiatan jogging. Para peserta diskusi kemudian berbagi ingatan tentang fungsi yang pelan-pelan berubah. Mulai dari para pedagang makanan-minuman yang hadir untuk memenuhi kebutuhan para pengunjung Gasibu hingga akhirnya makin lebih ramai kegiatan perdagangannya daripada kegiatan olahraganya.

Seturut paparan Moh. Syafari Firdaus, hal menarik dari membesarnya pasar Gasibu adalah para pelopornya sebagian merupakan pedagang asongan (direct selling) yang biasanya tidak punya gerai tetap, atau orang-orang yang butuh penghasilan tambahan. Dengan demikian ini merupakan gerakan informal. Mengamati keadaan terkini, selain soal makin beragamnya barang yang diperdagangkan, adalah soal kemungkinan berlangsungnya logika khas pasar: siapa yang punya modal akan menang. Ada kemungkinan para pedagang dengan modal kapital kuat makin menguasai banyak lahan di sana.

Lebih jauh, saat diskusi menyoroti ragamnya dagangan di sana, mulai dari berbagai makanan—jadi maupun mentah, barang kebutuhan sehari-hari, hingga kendaraan bermotor, gerai waralaba pasar swalayan, juga pakaian bekas dan sisa ekspor, kemudian terungkap satu hal menarik tentang pakaian bekas atau sisa ekspor ini. Ada kemungkinan, pembeli berminat bukan karena harga yang murah, tapi karena ini peluang untuk mendapatkan merk tertentu yang agak langka. Dengan demikian ada kemungkinan ini bukan sekedar pasar bagi kelas menengah-bawah, melainkan sudah menjadi gaya tersendiri bagi kelas menengah-atas. Jika dugaan ini benar, berdasar logika pasar tadi, maka segmen kelas menengah-bawah sedang sedikit demi sedikit, nyaris diam-diam, disingkirkan oleh segmen kelas lebih atas, yang, seperti biasa, menjanjikan keuntungan lebih besar. Selain keterpinggiran kelas menengah-bawah yang sudah kadung dianggap lazim, pergeseran ini juga melanggengkan pemilahan kelas.   

Bagi Dien Fakhri Iqbal, pandangan pesimis ini bisa dilanjutkan: bahwa kesan pemerintah membiarkan pertumbuhan organik pasar Gasibu, alih-alih menunjukan lemahnya kontrol, justru merupakan strategi pengawasan.

Hal lain adalah soal pertemuan antarmanusia. Bahwa ini bukan semata pasar tempat orang mencari barang kebutuhannya, perputaran barang, dan dinamika harga, melainkan tempat di mana orang bertemu orang. Ketiadaan patokan harga yang ketat meleluasakan proses tawar-menawar yang mengandalkan komunikasi antarmanusia. Penjual menghadapi pembeli sebagai manusia, demikian juga sebaliknya. Dihubungkan dengan kemungkinan “pemilahan kelas” di atas, sempat muncul guyonan tentang “pemindai status sosial”. Jangan-jangan, pembeli mulai membuka harga bukan karena perhitungan selisih harga bagi keuntungan pribadinya, melainkan berdasarkan asumsinya mengenai status sosial si calon pembeli. Dia tidak akan mengambil keuntungan terlalu banyak dari pembeli yang “manusiawi”: yang memperlakukan dia sebagai manusia dan mengajaknya berbicara. Sebaliknya, pada pembeli yang berorientasi pada barang pemenuhan kebutuhan atau apalagi yang berorientasi pada citra yang terbangun dari merk, maka dia akan memperlakukannya dengan kurang “manusiawi”: pasang harga yang menguntungkan.

Amrizal Salayan mencoba mengatasi kemungkinan-kemungkinan di atas dengan refleksi tentang “pergerakan vertikal dan horisontal”. Baginya, pusat-pusat perbelanjaan yang aturan mainnya kaku dan megah merupakan gerakan vertikal. Ini inisiatif dari atas dengan segmen terbidik yang tegas. Pertumbuhan organik pasar Gasibu baginya merupakan contoh pergerakan horisontal yang cair dan tanpa ketegasan bidikan segmen. Ini inisiatif dari bawah yang bersifat macam jejaring, melebar-mendatar, menyapa sesama, manusiawi dan hangat. Pergerakan horisontal tengah menggembosi pergerakan vertikal. Maka baginya, bukan disfungsi pun bukan alih-fungsi, melainkan “dwi-fungsi”.  

Saya kira diskusi ini baiknya diteruskan dengan amatan lebih lanjut menyangkut pilahan “pasar tradisional” dan “pasar modern”, dan tinjauan mengenai ruang publik—misalnya amatan atas dampak dari “Dago Car Free Day” yang juga berlangsung hari Minggu pagi di Bandung. Saya sendiri akan melemparkan masalah “Jakarta Paska Suharto” berdasarkan hasil bacaan saya atas tesis Abidin Kusno dalam buku “Ruang Publik, Identitas dan Memori Kolektif: Jakarta Pasca-Suharto” pada Rabu 17 November 2010. Diskusi ini masih akan melanjutkan bahasan atas isu komunalitas, pemilahan kelas, dan ihwal ruang publik. Semoga Bach memberkati amatan kita agar makin tajam dan bernas.

Heru Hikayat
Google Twitter FaceBook

1 comment:

Anonymous said...

gasibu minggu pagi, reaksi pada kapitalisme pasar dari kemerosotan ekonomi

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin