28.11.10

Klab Nulis: Mengenal Hermeneutika

Senin, 22 November 2010

Hari Senin itu, tutor utama Sophan Ajie urung hadir membimbing Klab Nulis. Begitupun co-tutornya yakni Puji. Klab Nulis jadinya didaulatkan pada saya, yang kebetulan hari itu bertugas untuk menenerangkan soal hermeneutika. Akibat hujan, yang hadir ternyata cuma berdua, yakni Martia dan Arlin. Yang lainnya entah kemana, yang pasti show must go on. Hermeneutika mesti tetap dijelaskan semata-mata karena itu amanah yang diemban. Yang menjadi tantangan adalah, bagaimana konsep hermeneutika dijelaskan sesederhana mungkin agar mudah dicerna lalu dipahami.

Hermeneutika, biarpun istilahnya terdengar rumit, sebetulnya bisa diartikan sesederhana "menafsir". Hermeneutika adalah kegiatan menafsir, yang diambil dari nama dewa Yunani, Hermes. Hermes adalah dewa yang tugasnya menyampaikan pesan dari Zeus ke dewa lain atau kepada manusia. Uniknya, menurut beberapa cerita, Hermes ini kerjanya berbohong, memelintir ucapan, dan menyampaikan ucapan yang tidak persis sama. Ini menarik ketika kegiatan menafsir adalah kegiatan yang hampir mustahil tidak sama dengan apa yang dikehendaki si pengucap. Apabila yang kita tafsir adalah teks buku sejarah, novel, atau kitab suci, selama kita tidak bertemu dengan si penulis buku dan berbincang langsung dengannya, maka yang kita pahami sesungguhnya adalah sebatas pemahaman cakrawala kita saja. Tidak akan persis sama dengan maksud si penyampai, dan tidak mungkin sama.

Para pemikir yang merumuskan pemikiran soal hermeneutika, banyak sekali. Namun untuk kelas menulis kemarin, disampaikan dua saja diantaranya yang paling penting. Yang pertama adalah Friedrich Schleiermacher, begini ilustrasinya:


Schleiermacher percaya, bahwa untuk memahami suatu teks seutuhnya, kita tidak cuma harus membaca teksnya, tapi juga memahami penulisnya. Selain penulisnya, juga kondisi jaman serta lingkungan dimana ia hidup. Misalnya, membaca buku Hegel misalnya, kita mesti tahu bahwa si pengarang ada di era Romantik, dimana nasionalisme sedang kental, dimana para filsuf dan seniman senang dengan segala hal yang berbau lebay. Dari situ kita bisa tahu kejiwaan si penulis seperti apa, dan memahami teks yang dia tulis dengan jelas dan tegas.

Satu lagi, namanya Hans George Gadamer, ia menolak konsepsi Schleiermacher habis-habisan. Harusnya, menurut Gadamer, seperti ini:


Pembaca atau penafsir, menafsirkan teks itu sesuai tempat dan jaman dimana si penafsir berada. Menurutnya, mustahil kita mengetahui kejiwaan si penulis teks, wong kita mengulang apa yang kita perbuat lima menit yang lalu saja mustahil diulangi! Yang benar adalah, memproduksi ulang itu sesuai dengan kebutuhan kekinian tempat penafsir itu hidup. Jika Schleiermacher bilang bahwa penafsiran teks itu sifatnya historis, maka Gadamer hendak berkata, penafsiran itu sifatnya produktif. 

Demikian kiranya ringkasan pemikiran hermeneutika yang diperkenalkan di Klab Nulis. Hal ini berguna bagi kegiatan menulis, karena penulis yang baik, konon mesti pembaca yang baik. Dan pembaca yang baik, juga penafsir yang baik. Baik yang seperti bagaimana? Ya itu terserah, entah baik menurut Schleiermacher atau Gadamer, keduanya asik-asik saja. Dan juga jangan dilupa, bahwa menulis sesungguhnya adalah jua kegiatan menafsir. Menafsir gagasan apa yang ada di kepala. Selamat menafsir, Klab Nulis!


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin