6.11.10

Merajut Kehangatan Untuk Korban Bencana

Yuk, merajut bersama untuk kemanusiaan!
Ada yang berbeda di hari Minggu, 31 Oktober 2010. Tobucil tampak lebih meriah dan ramai dari minggu biasanya. Sejak pk.11 siang, teman-teman yang ingin merajut bersama untuk membantu korban bencana Mentawai dan Merapi, berdatangan. Esti, dosen Kriya Tekstil FSRD ITB, malah datang mendahului yang lain. "Aku mau pilih-pilih benang dulu sambil menunggu yang lain," kehadirannya memang sengaja untuk merajut bersama. Tak berapa lama kemudian, satu persatu teman-teman dari klab merajut tobucil berdatangan. Dian Rinjani dan Palupi Kinkin yang selama ini mengajar di kelas crochet dan knitting, sengaja meliburkan kelas di hari itu dan mengajak murid-murid yang datang dan merajut bersama. Setiap yang datang, disediakan benang gratis dan bisa langsung bergabung untuk merajut bersama.

Kakak dan adik
Tak lama setelah kegiatan merajut bersama ini dimulai, datang dua orang kakak adik:  Aci dan adik laki-lakinya datang dari Margahayu untuk bergabung dan merajut bersama. "Mba, tapinya aku belum bisa yubiami, bisa minta diajarin dulu ga? adikku juga mau belajar."  Otomatis, Rudi dari The Men Who Knit didaulat untuk mengajari Aci dan adiknya., tak berapa lama kemudian adik kakak itu sudah asyik beryubiami ria. " Jangan lupa ya, panjangnya dua meter biar bisa sama panjangnya," Palupi Kinkin mengingatkan para yubiamiers yang hadir.
Belanja dulu, mumpung di tobucil.. :D
Segera meja di garasi tobucil dipenuhi benang, rajutan, botol minuman ringan, cemilan, dan suasana canda tawa pun mengiringi acara merajut bersama untuk kemanusiaan ini. Dari halaman depan terdengar suara mobil berhenti dan keriuhan orang-orang menghampiri teman-teman. Ternyata rombongan milis mari_merajut@yahoogroups.com yang sedang melakukan wisata benang ke Bandung. Ari Asih, tante Yeti dan tante Yeni dari Yen's rajut,  terlihat hadir diantara kerumunan itu. Sebelas orang  di tambah tante Yeni dan dua orang pegawainya menambah kemeriahan suasana. " Kita mau ke dalam dulu ya, ingin belanja benang dulu," kata Ari Asih yang menjadi kepala rombongan wisata benang. Sementara tante Yeni dan dua pegawainya bergabung untuk beryubiami bersama. Beberapa pak benang dari Yen's rajut sumbangan tante Yeni, menambah pilihan benang yang ada.
Adi Marsiela dan rajutannya
 Setelah merajut tanpa henti selama kurang lebih 3 jam, Adi Marsiela, jurnalis dan juga aktivis The Men Who Knit ini, berhasil menyelesaikan sebuah syal sepanjang satu meter. "Udah ya, saya harus ngetik dulu, biasa lah deadline kerjaan," Adi pun berlalu dari tobucil. Adi pergi, datang teman-teman klab klassik. "Mau latihan ya?" Mas Yunus salah satu penggiat klab klassik, mengiyakan. Menjelang sore, petikan gitar yang terasa malu-malu, mengiringi teman-teman yang masih asyik merajut.  Sementara rombongan wisata benang, berpamitan pulang, karena mereka harus melanjutkan perjalanan kembali ke Bogor dan Jakarta. "Kita mau mampir dulu nyari oleh-oleh nih.." disela-sela cipika cipiki setelah foto bersama teman-teman tobucil usai.

Rombongan wisata benang
 Menjelang magrib, satu persatu undur diri. Tobucil pun kembali lengang. Saya, Palupi Kinkin, Dian Rinjani,  Kenti, Wiku Baskoro, Errie Nugraha, Rudi, memandangi hasil rajutan teman-teman semua. Ada tiga puluhan syal  dan lima belasan kupluk, jumlah ini akan bertambah karena teman-teman perajut membawa sebagian benang-benang yang tersisa untuk dirajut di rumah masing-masing.

 "Semoga kehangatan rajutan teman-teman semua bisa mengahangatkan hari-hari dingin di pengungsian."

Foto-foto bisa di lihat di album foto tobucil

(vitarlenology)
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin