7.11.10

Sastra dan Agama


Kamis, 4 November 2010

Kedatangan saya agak telat untuk meliput Klab Nulis hari itu. Namun saya agak keheranan ketika duduk di tengah-tengah mereka, ternyata belum ada satupun tulisan yang mereka bubuhkan di atas masing-masing kertasnya. Ternyata, Klab Nulis hari itu memang tiada acara menulis, melainkan diskusi. Tutor Klab Nulis, Sophan Ajie, sedang berhalangan dan digantikan oleh kawannya, Puji. Mereka membahas topik yang amat serius dan menarik, yakni sastra dan agama.

Puji rupanya memulai diskusi dengan kutipan Sartre, bahwa suatu saat nanti, gereja-gereja akan kosong, dan gedung teater akan penuh. Karena sastra akan menggantikan agama. Ungkapan ini sangat menggelitik nalar dan membangkitkan gairah diskusi, ada yang pro dan ada yang kontra. Namun Puji meredakan sejenak, dengan bertanya: apakah perbedaan dan persamaan antara sastra dan agama? Martina, salah seorang peserta menjawab: sama-sama mencerahkan, tapi sastra dinamis, agama statis. Yang lain menjawab tiada bedanya, malah agama adalah karya sastra jua. 

Yunita, peserta lainnya, bertanya kritis: apakah ada, sastra yang salah itu? Yang misal, bertentangan dengan agama. Oh, banyak, demikian dijawab Puji. Dan yang biasanya laku, justru yang seperti itu, yang out of the box. Tapi salah-benar kemudian, adalah ditentukan oleh rezim yang berkuasa ketika sastra itu dibuat. Di Indonesia misalnya, ketika masa orde baru, maka yang dibredel adalah sastra-sastra yang berkaitan dengan komunisme. Maka itu sastra tidak ada istilah "benar-salah", karena semuanya bergantung kekuasaan. Atau mengutip Nietzsche, "Kebenaran adalah kekuasaan." Orang yang memenangkan ronde main poker, ia bisa menentukan langkah pertama di putaran berikutnya.

Di akhir diskusi, muncul kesadaran bahwa agama sesungguhnya punya nilai dinamis jua. Itu muncul dari kesusateraan agama yang multitafsir. Agama selalu punya nilai yang melulu relevan untuk diinterpretasi setiap jamannya, termasuk oleh sastra. Agama adalah salah satu dari empat pilar peradaban utama, selain dari filsafat, sains dan seni (baca: sastra). Keempatnya menopang satu sama lain, maka itu hipotesis Sartre tentang sastra kelak menggantikan agama, amatlah pincang. Karena ketika agama hilang dari muka bumi, peradaban menjadi goyah karena kehilangan satu pilar penyangganya.

Google Twitter FaceBook

2 comments:

Dimas Dito said...

benar seperti yang dikatakan puji di awal diskusi, "gereje-gereja akan sepi dan teater akan ramai". sama pernah baca hal yang serupa di sebuah artikel, entah di majalah horison atau di indonesia art news saya lupa, intinya, sastra telah menggantikan agama lama kelamaan. orang-orang lebih mengenal penulis buku daripada ustadz atau pastur. dan dari sekarang, orang-orang banyak mengutip pernyataan dari pengarang atau isi buku dibandingkan ayat alquran maupun injil. hehe. tabik

RIVAL ARDILES SANDO said...

"kamis, 4 desember 2010" kayanya belum bulan desember

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin