Monday, March 29, 2010

Kreativitas dan Kesendirian

Foto diambil dari sini


Jika manusia dibilang makhluk sosial, tentu saja tak bisa disanggah. Ia saling mengadakan dengan sesamanya, saling melengkapi. Namun terkadang, manusia tak selalu bersama dengan yang lain. Ia kadang tampil sendirian, atau bersama-sama, tapi kesepian. Atau seringkali, ia berada di tengah sosialita, tapi segala keterdesakan yang dialami, tak ada orang yang peduli.

Jika tengah demikian, manusia menunjukkan sisi yang lainnya: ia mengadakan untuk dirinya sendiri. Ia berjuang untuk sesuatu yang ia anggap orang lain tak mampu memenuhinya. Ini barangkali yang disebut kreativitas dalam arti yang paling purba. Kreativitas adalah cara untuk mengatasi keterdesakan, yakni ketika realitas dan idealitas berjarak terlalu jauh. Ketika manusia purba ingin memotong kayu, tapi batu dianggap tumpul, dan maka itu ia mencipta kapak. Ketika Robinson Crusoe terbujur sendirian di tengah pulau, ia menghidupi dirinya puluhan tahun oleh sesuatu yang ia tak bisa sebelumnya. Ketika Tobucil ingin menjual sesuatu dan dalam waktu bersamaan banyak sampah plastik akan sulit diurai dalam ribuan tahun, maka keduanya disatupadukan sebagai upaya mengatasi "keterdesakan".

Dan ketika Mbak Tarlen, sang pemred pergi selama tiga minggu, maka saya dan Ipey "terpaksa" berkreasi membangun edisi blog tobucil selama ditinggalkan. Kami mencoba mengatasi keterdesakan, dan berusaha melampaui apa-apa yang tadinya tidak pernah terpikirkan ada dalam diri kami berdua.

Selamat menikmati.

Semoga Bach memberkati.

Google Twitter FaceBook

Antara Nyepi dan Earth Hour

Tulisan ini dimodifikasi sedikit dari sini



Foto diambil dari sini

Malam minggu tanggal 27 kemarin, dunia memperingati earth hour. Yakni kampanye yang bertujuan dalam rangka mengurangi resiko global warming dengan cara mematikan lampu selama satu jam dari jam 20.30 hingga 21.30.

Terlepas dari benar-tidaknya earth hour mengurangi resiko global warming serta buruknya kesadaran masyarakat kita, saya pribadi menemukan banyak hal yang menarik dalam satu jam kegelapan tersebut. Kegelapan dalam dunia kita pasca Edison segera menjadi hal yang langka serta identik dengan keterbelakangan. Dulu pemerintah rajin mencanangkan program LMD (Listrik Masuk Desa) yang mana mencirikan desa sebagai simbol keterbelakangan karena ketiadaan listrik (baca: penerangan listrik). Istilah "mati lampu" juga segera berkembang menjadi istilah dengan konotasi negatif, dekat dengan musibah, dan identik dengan ketidakmungkinan melakukan sesuatu. Alasan "mati lampu" bisa juga menjadi favorit para mahasiswa jika tak mampu mengumpulkan tugas, yang anehnya, para dosen kebanyakan mafhum. Bahkan di kita ada istilah "menerangkan", yang berarti "menjelaskan", ada upaya membuat orang dari tidak tahu menjadi tahu. Artinya jika "menerangkan" berkata dasar "terang" membuat orang menjadi tahu, berarti mungkin tadinya adalah "gelap" alias tidak tahu. Dalam bahasa gaul juga terdapat istilah "tau ah gelap", menyiratkan kondisi bahwa gelap adalah sama dengan ketidaktahuan. Ada pun dalam istilah kriminalitas ada yang namanya "penggelapan uang". Pokoknya "gelap", dalam padanan kata bahasa Indonesia (atau mungkin bahasa-bahasa lainnya di dunia), hampir selalu bertautan dengan kebodohan dan kejahatan.

Kebetulan dua hari sebelumnya adalah Hari Raya Nyepi, yang kondisi kegelapannya jauh lebih parah dari earth hour. Jika earth hour cuma sejam, maka Nyepi dua puluh empat jam. Jika earth hour cuma urusan lampu, maka Nyepi terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api [baca: lampu atau listrik), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Menarik jika kedua "fenomena kegelapan" ini dikaitkan.

Menurut kepercayaan umat Hindu sebagai penyelenggara Nyepi, segala hal yang bersifat peralihan, selalu didahului dengan perlambang gelap. Misalnya seorang bayi yang akan beralih menjadi anak-anak (1 oton/6 bulan), lambang ini diwujudkan dengan 'matekep guwungan' (ditutup sangkar ayam). Wanita yang beralih dari masa kanak-kanak ke dewasa (Ngeraja Sewala), upacaranya didahului dengan ngekep (dipingit). Demikian halnya dengan Nyepi, yang merupakan bagian dari upacara untuk memperingati Tahun Baru Saka. Contoh paling mudah untuk Nyepi ada di Pulau Bali. Pada hari-H, pulau itu mendadak lengang dan bisa dibilang "mati". Mengapa harus dari kegelapan? seperti biasa, penjelasan agama seringkali kurang memuaskan, yakni: untuk menyucikan Buwana Alit (alam manusia) dan Buwana Agung (alam semesta). Adapun penjelasan yang lebih mengakar, namun masih abstrak, yaitu demi menyucikan hati dan sanubari. Sebenarnya tak hanya Hindu, agama-agama besar lainnya pun menjelaskan pentingnya semacam transisi demi memperoleh kesadaran baru, yang mana transisi tersebut sepertinya harus gelap, sakit, susah, dan kadang darah. Islam misalnya, transisi untuk mencapai Idul Fitri yang konon mengembalikan manusia kepada kesucian, mesti melewati yang namanya puasa sebulan penuh. Adapun upacara kurban (bukan hanya Islam yang punya), juga seringkali dipakai sebagai simbol penyucian. Artinya, transisi menurut agama, mestilah lewat sesuatu yang tidak disukai oleh tubuh.

Jika memang dunia pasca Edison menganggap kegelapan sebagai malapetaka, tidakkah earth hour jadi penting sebagai upaya transisi kesadaran, jika mengambil esensi ritual-ritual keagamaan seperti Nyepi? Barangkali inilah cara untuk "menyucikan" masyarakat metropolis yang bergelimang "dosa" dari rutinitas yang membentuknya menjadi mekanistik. Mekanistik itu membawanya pada "kesadaran harian" yang melulu soal kerja, uang, pemenuhan hasrat dan lain-lain yang cuma bisa dilakukan jika ada penerangan (bercinta boleh gelap gulita, tapi pasti ogah jika tak lebih dahulu melihat pasangannya). Kala upacara Tahun Baru Masehi masih dirayakan dengan gegap gempita, terang benderang, hiruk pikuk, dan ujung-ujungnya tidak membentuk kesadaran baru yang "sadar malapetaka", maka earth hour mengajak kita untuk "merayakan tahun baru" dengan cara lain, yakni lewat berdiri dalam kegelapan dan kesunyian -sebuah simbol yang tak populer belakangan-. Hal tersebut, bagi saya, sukses menyadarkan bahwa terang benderangnya dunia akhir-akhir ini memang terlalu menyilaukan bagi penglihatan kesadaran. Alih-alih ia bisa melihat, yang ada memandang dengan mata terpicing, atau malah menutupnya. Gelap.

Syarif Maulana

 
Google Twitter FaceBook

Membedah Eksistensialisme


Akhirnya, Madrasah Falsafah (Madfal) bertemu kembali dengan tema "berkenalan dengan filsafat". Tema yang direncanakan rutin diadakan setiap minggu keempat tersebut, kali ini mengangkat topik spesifik. Sesuai dengan saran pemuda galau bernama Ijal, maka baguslah jika topik ini mengangkat soal eksistensialime, atau katanya lebih detail lagi: Ateisme Sartre.

Seperti jadwal rutinnya, Madrasah Falsafah dimulai pukul lima, hari rabu sore yang mendung dan rintik-rintik itu. Awal mulanya, ada Tobuciler, Mas Heru Hikayat, Lia, Mas Joko, dan seorang Ibu yang aduh, dia sudah bilang namanya siapa, tapi Astagfirullah Tobuciler lupa, tapi tenang Bu, katanya kan Ibu mau datang lagi minggu depan, nanti saya tanya lagi namanya dan akan saya catat baik-baik. Ibu itu, ternyata punya misi yang cukup mulia dalam mengikuti Madfal, yakni mencatat tentang komunikasi literer, untuk kepentingan disertasinya. Dan sepanjang diskusi, si Ibu sering sekali mencatat, baik ihwal isi diskusi, maupun suasana diskusi itu sendiri.

Topik dibuka dengan pertanyaan Tobuciler soal, apa sesungguhnya aliran filsafat eksistensialisme itu? Mas Heru menjawab sederhana: Hari yang sendu. Apakah itu, Mas? Menurutnya, ilmu positif di jaman sebelumnya, tidak bisa menjawab soal hari yang sendu. Karena memang, hari kan tidak sendu. Tapi eksistensialisme mencoba menyelami itu, karena dekat dengan pengalaman harian manusia, dan mengabsahkan hari yang sendu itu sebagai bagian dari objektivitas juga. Lalu pembicaraan mulai menyempit, ke arah eksistensialisme Sartre, yang menganggap eksistensi mendahului esensi. Artinya, menggunakan analogi pembuat pisau, Sartre menjelaskan ketika seseorang membuat pisau, maka ia sudah lebih dulu memikirkan esensi-esensi apa yang kemudian melekat pada pisau sebelum si pisau sendiri bereksistensi. Ia menganggap Tuhan itu seperti demikian sebelum menciptakan manusia, yakni membuat esensinya sebelum eksistensi. Tapi kenyataannya, bagi Sartre, manusia hadir duluan, bereksistensi, lalu ia merumuskan esensi benda-benda, dan kemudian Tuhan itu sendiri. Kesimpulannya: tidak mungkin ada Tuhan jika demikian, karena toh manusia yang hadir duluan, dan dia bebas, tidak dikenakan esensi apa-apa dari sebelumnya.

Setelah mendapatkan pandangan teoritik tersebut, Madfal yang mulai ramai dengan kedatangan Kang Ami, Ijal, Diecky, dan seorang lagi yang astagfirullah lagi-lagi namanya tidak Tobuciler catat, mulai mencari pandangan praktis. Dan dari "seorang yang Tobuciler lupa namanya itu", akhirnya Madfal mendapati cerita menarik. Alkisah, ia dulu berasal dari keluarga berkecukupan, dan ayahnya baik sekali. Bahkan ayahnya sempat bilang, bahwa apapun yang dilakukan orang pada ayah, ayah tidak akan membalas perlakuannya, karena sifat baik ayah sudah melekat. Tapi ternyata, keadaan menunjukkan sebaliknya, karena ternyata ayahnya pada akhirnya terlilit kesulitan keuangan dan sempat diadili. Lantas, seorang yang Tobuciler lupa namanya itu menjadi mempertanyakan, mengapa orang baik seperti ayah mendapatkan hukuman demikian? Forum menyimpulkan bahwa yang demikian adalah sebentuk pertanyaan khas eksistensialisme. Pertanyaan yang langsung menyentuh ke dasar segala pertanyaan, yakni kira-kira: mengapa hidup ini demikian?

Sebelum ditutup, adapun pernyataan Ijal yang begitu menunjukkan bahwa hidup ini sesungguhnya absurd dan menyedihkan, sesuai dengan semangat eksistensialisme itu sendiri. Mas Joko dan Ami tak lupa saling melengkapinya dengan mitos Sisyphus yang terkenal. Akhir cerita, Tobuciler pada saat itu membacakan kata-kata Sartre ketika ditanya bagaimana perasaannya menjadi ateis?

Itu seperti kau naik kereta tanpa karcis. Di perjalanan, kau berusaha keras menghindari kondektur, tapi sesungguhnya kau tahu, tiada satupun orang menantikanmu di stasiun tujuan.


Google Twitter FaceBook

KlabKlassik: Menggoda Iman Kevin

Di KlabKlassik, ada seorang pemuda yang sedang rajin-rajinnya berpartisipasi. Partisipasi itu awalnya berupa kedatangan ke latihan Ririungan Gitar Bandung saja, tapi belakangan, ia mulai merambah ke kegiatan KlabKlassik. Jadi begini, KlabKlassik terbagi atas dua acara, yang pertama adalah Ririungan Gitar Bandung yang diselenggarakan jam 13.00-15.00, lalu dilanjutkan diskusi KlabKlassik dari jam 15.00-17.00. Keduanya dilakukan di hari minggu genap setiap bulannya.

Syahdan, pemuda itu bernama Kevin. Seorang yang sungguh tangguh dan rajin datang. Sekolahnya kelas satu SMA, umurnya enam belas. Tobuciler ingat pada suatu pertemuan bulan lalu, Kevin yang bergurukan Royke Ng (masih aktivis klab), mendapat godaan iman yang berarti bagi perjalanan musik klasiknya. Dengan permainannya yang sangat mumpuni bagi seusianya, ia dicekoki berjam-jam oleh forum diskusi yang KlabKlassik yang dimotori oleh Mas Gatot waktu itu, dengan anggapan bahwa musik adalah segala hal yang dekat dengan batin kita. Artinya apa? musik belakangan sudah terinstitusikan dan tereksklusifkan. Sehingga aneh sebetulnya ada istilah "belajar musik", karena apalah musik sebetulnya, selain darah daging kita sendiri, manusia? Jadi, Kevin, apakah betul, kau memang harus les, atau tidak? Kevin lalu juga dicekoki oleh pelbagai macam musik tak lazim yang isinya cuma bebunyian yang bising, atau bunyi kodok yang seolah diharmonisasikan. Di ujung cerita, forum yang merasa tidak enak telah mencekoki Kevin dengan berbagai macam ketidaknyamanan musikal tersebut, berkata, "Kevin, tetaplah les sama Royke, jangan jadi bimbang gara-gara topik ini yah." Ditutup dengan tertawa membahak, forum pun ditutup.

Tapi sepertinya KlabKlassik tidak kunjung mau berhenti sampai disitu. Minggu kemarin Kevin menunjukkan permainan piawainya kembali, tapi lantas Tobuciler bertanya: Kevin, apakah kau memetik senar menggunakan kuku? Kevin menjawab tidak. Dan serta merta, forum mengajukan pertanyaan, kenapa kau tidak memakai kuku? apa alasannya? apakah nyaman demikian? Berturut-turut dari Dicky, Bilawa, Kang Tikno, dan Tobuciler sendiri. Kevin sepertinya tak mampu menjawab dan kebingungan, sehingga jawaban terbaiknya adalah, "Kata guru Royke, untuk memperkuat tekniknya dulu." Demikian, akhirnya Bilawa bercerita soal sejarah kuku, dimana memang terbagi dua mazhab antara yang percaya bahwa memakai kuku adalah bagus, tapi ada juga yang tidak, seperti Fernando Sor yang terkenal hebat. Demikian, lagi-lagi Kevin mendapat terpaan, yakni pertanyaan eksistensial soal apa yang ia lakukan selama ini. Tapi lagi-lagi di akhir cerita, forum menekankan, "Kevin, tetaplah les sama Royke, jangan jadi bimbang gara-gara topik ini yah." Dan tetap tertawa terbahak.

Syarif Maulana


Kevin (tengah berbaju kuning, duduk)



Google Twitter FaceBook

Menghabiskan 8 Jam Sehari di Depan Layar: Sebuah Penelitian

Dalam rangka mendukung Digital Detox Week, 20-26 April 2010, Tobucil & Klabs mengundang teman-teman untuk berbagi pengalaman soal hubungan teman-teman dengan internet (termasuk games online, jejaring sosial di internet). Tobucil menganggap Digital Detox sangatlah penting untuk menemukan kembali makna, hidup ditengah-tengah informasi yang berlimpah ruah yang membuat kita seringkali kehilangan kemampuan untuk memilihnya sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Jika teman-teman termasuk yang sedang berjuang untuk mengatasi ketergantungan pada internet atau sudah melewatinya, pengalaman teman-teman akan sangat berharaga untuk dibagi. Silahkan kirimkan pengalaman teman-teman ke tobucil@gmail.com, tulisan yang masuk akan dimuat di blog ini sampai akhir April 2010.


Di dunia dengan toko grosir yang dipenuhi oleh layar televisi, kumpulan film yang disebarkan secara digital, dan video klip di telepon genggam, bangsa Amerika rata-rata dijejali dengan 61 menit iklan dan promosi per hari.
Sebagian orang mungkin berpikir bahwa angka tersebut berlebihan. Tapi tampaknya mereka tetap tidak sadar dan menghindarinya, ungkap Jack Wakshlag, kepala kantor penelitian di Turner Broadcasting.
Faktanya, orang dewasa diekspos oleh berbagai layar, baik itu televisi, telepon genggam, bahkan perangkat G.P.S, untuk sekitar 8.5 jam tiap harinya, menurut penelitian oleh Council for Research Excellence pada hari Kamis. Penelitian menemukan bahwa televisi tetap sebagai media yang dominan untuk konsumsi media dan periklanan. Data menunjukkan bahwa penggunaan komputer telah menggantikan radio sebagai aktivitas media kedua yang paling sering.
Dewan ini didirikan oleh Nielsen Company tetapi memiliki komisi independen. Penelitian berbiaya 3.5 juta dolar ini dibiayai oleh Nielsen, mencari, sebagian, untuk menentukan jikalau perusahaan-perusahaan media perlu menunjukkan format baru untuk pengukuran media.
Para peneliti di Ball State University’s Center untuk media desain, yang menyelenggarakan penelitian untuk dewan, mengatakan bahwa ini adalah observasi penggunaan media terbesar yang pernah dilakukan. Alih-alih terpusat pada apa yang orang-orang tonton, para peneliti memusatkan pada kegiatan nyata yang dilakukan oleh penonton dengan mengamati 350 subyek. Para peneliti ini mengatakan bahwa mereka merekam sikap para subyek selama 952 hari. Sebagai cararan, Orang-orang di bawah 18 tahun tidak termasuk dalam penelitian ini.
Hasil penelitian video konsumen dapat memikat para klien periklanan untuk musim penjualan iklan mendatang. Para peneliti menemukan bahwa menit-menit yang dihabiskan dengan media hampir sama untuk semua golongan usia. Mr. Wakshlag menyebut jumlah waktu “secara mencengangkan konsisten di semua kelompok usia.” Kecuali, bahwa untuk usia 45 – 54 tahun, yang menghabiskan rata-rata satu jam ekstra di depan layar setiap harinya, seperti yang ditemukan dalam penelitian.
“Hal ini bertentangan dengan kebijaksanaan yang umum, tentu saja, yang menyatakan pada kita bahwa kelompok yang lebih muda menghabiskan waktu lebih banyak dengan media berbasis layar,” ujar Michael Bloxham, direktur di pusat Ball State.
Di antara kejutan-kejutan lain, para peneliti menemukan bahwa bukan hanya kaum muda yang membagi perhatian mereka di antara bermacam layar dan mesin; mereka yang berusia di sekitar 20, 30, dan awal 50 tahun pada dasarnya melakukan beberapa hal pada jumlah waktu yang sama. Mereka yang berusia di atas 55 tahun secara jelas ditemukan tidak suka melakukan beberapa hal sekaligus. “Itulah perbedaan generasi yang ada, jika memang ada,” ujar Mr. Bloxham.
Walaupun para peneliti menekankan bahwa penelitian ini tidak disiapkan untuk membuktikan poin spesifik apapun tentang konsumsi media, banyak sekali data yang sesungguhnya cukup menghibur untuk industri pertelivisian, ujat Mr. Wakshlag. Data tersebut menegaskan kembali banyak hal yang telah Nielsen temukan di penelitian yang lalu, yaitu bahwa televisi tertinggal jauh di tengah-tengah dominasi tayangan video. Penelitian Ball State menemukan bahwa rata-rata orang dewasa Amerika dijejali 5 jam dan 9 menit siaran televisi setiap hari, hampir 15 menit via perangkat DVR dan 2.4 menit tayangan video di komputer.
“Walaupun orang-orang memiliki kesempatan untuk menonton video di komputer dan telepon selular mereka, televisi mempertanggungjawabkan 99 persen dari video yang ditonton selama 2008,” kata Mr. Bloxham. “Bahkan 98 persen di antara usia 18 hingga 24 tahun.”
Di antara penonton yang lebih muda, ada indikator utama yang membuat jaringan internet mempengaruhi penggunaan media. Data menunjukkan bahwa yang berusia 18 hingga 24 tahun – biasanya siswa-siswa dan para pendatang baru di dunia kerja – menonton televisi paling sedikit disbanding kelompok usia lain (tiga setengah jam per hari), menghabiskan lebih banyak waktu mereka dengan saling mengirim pesan dengan teks (29 menit per hari) dan menonton video online (5.5 menit per hari).
Penonton yang sedikit dewasa, usia 25 hingga 34 tahun, menghabiskan sebagian besar waktu mereka menonton video DVD atau VCR. Mereka yang berusia 35 sampai 44 tahun menghabiskan waktu mereka di jaringan internet dibandingkan kelompok usia yang lain, 74 menit rata-rata per harinya. Demografi selanjutnya, usia 45 hingga 54 tahun menghabiskan lebih banyak waktu pada e-mail. Konsumen di atas usia 65 tahun yang paling banyak menonton televisi, menurut penelitian ini.
Para peneliti menemukan bahwa televisi dan video game lebih banyak menarik perhatian, sementara aktivitas lain (seperti mendengarkan musik) sering mereka lakukan sambil melakukan hal lain.
Lebih dari 30 persen rumah tangga memiliki digital video recorder, yang memungkinkan mereka untuk membagi waktu nonton dan mempercepat iklan. Penelitian menemukan bahwa rata-rata orang Amerika menonton televisi selama hampir 15 menit menggunakan DVR tiap harinya.
Mr. Wakshlag mengatakan bahwa para pemilik baru DVR “menggunakannya untuk pembagian waktu menonton yang lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang sudah lama memilikinya.” Mr. Bloxham mencatat bahwa lebih banyak orang menerima DVR sebagai bagian dari layanan peningkatan mutu oleh perusahaan tv kabel, daripada membeli sendiri.
Sementara penelitian menemukan rating yang pada umumnya sejajar dengan rating yang Nielsen dan perusahaan lain laporkan tiap hari dan bulannya, para peneliti menemukan bahwa orang-orang merasa bahwa mereka lebih jarang menonton televisi daripada kenyataannya.
Saat subyek penelitian diminta untuk mengingat kebiasaan mereka, “mereka menganggap remeh waktu yang banyak mereka habiskan di depan televisi,” sekitar rata-rata 25 persen, ujar Mr. Wakshlag. Mereka juga cenderung melebihkan penggunaan media mereka.

Sumber diterjemahkan dari sini
Google Twitter FaceBook

Apa Alasanmu Mengupdate Status?

Ani Kurniasih
buat pamer :D
 

Deasy Suryani Purba
biar seru aja..sambil kerja bosennn bangedd kaleee
Che Setya
Mediator luapan perasaan....spt halnya lirik2 yg ku goreskan untuk musikku.everybody need sumthing to ekpres........
Snow Wash
Memberi kabar/ keadaan terbaru
Rudy Pratama Agnel
saya sependapat dengan semuanya... hehehehe... :D
Skeptis Pram
sama seperti alasanmu mengupdate statusmu kali ini..
Nanne Lasut
Nyari temen ngobrol aja buat seru2an..!? ^_^
Snow Wash
Нёнё☺☺нёнё☺☺ 
Ricky Yudhistira
sudah jam 5 sore
Ratih Handayani
buat di-komenin!hahhaha :D
heuum..enggak atuh, buat berbagi informasi, atau berbagi lirik lagu yang bagus, I guess..
Syafika Ayu Az-zahra
Buat promosi kl ada produk terbaru biar laku keras jualany xixixixi
Agung Trianto Widya Nugraha
buat nyindir-nyindir orang.. :p
Syarifah Tika Irmasari
meneriakkan suara hati, hehe :P
Halimun Giri
menjalankan ritual
Gibug N Oncom
biar eksis, pok hehehehe ... :))
KiBagus Ahmad Mangunsukarta
merasa sebagai pesbuker sejati,..
Google Twitter FaceBook

30 Maret 2010


Ada apa dengan 30 Maret? :D Hmmm, saya menemukan beberapa hal yang menarik di 30 Maret, yang tentunya berhubungan dengan Tobucil juga:

Pertama, mulai minggu ini (update 30 Maret) dan dua minggu ke depan, saya dan Syarif tidak  lagi mengirim tulisan kami via e-mail ke Mbak Tarlen, karena kami  berdua akan menulisnya langsung di blogger! Waw.  Mungkin kalian biasa saja, tapi untuk kami, waw! Cukup galau, hehe. Mbak Tarlen untuk 3 minggu ini tidak akan ada di Tobucil, karena itulah di blog minggu lalu Mbak Tarlen menulis akan ada koki baru untuk sementara (Syarif dan saya).

Kedua, tanggal 30 Maret adalah hari spesial buat Mbak Tarlen, yang tentu semua teman-teman di Tobucil juga tau, karena itu adalah hari kelahiran Mbak Tarlen. Happy birthday, Mbak Tarlen! :D

Dan ketiga, untuk tahun ini, 30 Maret juga jadi hari spesial untuk saya, karena band favorit saya, 311, manggung di Jakarta! Hehe. 311 buat saya sama seperti Pearl Jam buat Mbak Tarlen, The Cranberries buat Mbak Elin, (mungkin) James Iha buat Mbak Upik, dan band-band 'galau' seperti Sigur Ros buat Mas Wiku. Hehehehe. Lalu kalau kalian bertanya apa hubungannya dengan Tobucil? Ya tentu saja ada, karena 311 band favoritnya salah satu penjaga Tobucil . Hahaha. Terkesan maksa? Tak apa lah, sekali-kali :D Anggap saja berbagi kebahagiaan :)

Selamat tanggal 30 Maret! [Ipey]
Google Twitter FaceBook

Buku: Jurnal Perempuan 65: Mencari Ruang Unuk Difabel

Harga: Rp 20000
Penerbit: Yayasan Jurnal Perempuan

Prinsip demokrasi dan kesetaraan diuji bukan melalui siapa yang memenangkan suara terbanyak. Ia diuji justru dengan melihat keberpihakannya pada kelompok-kelompok minoritas dan tertinggal. Demokrasi telah ditantang untuk memberi ruang bagi kesetaraan perempuan. Ia telah digugat oleh kelompok non-heteroseksual dan ia telah diingatkan untuk berpihak pada kaum minoritas etnis, agama dan budaya. Pertanyaan berikutnya apakah demokrasi mampu memberikan ruang pula pada para difabel? Melalui jurnal edisi ini kami ingin memberikan ruang bagi difabel untuk bercakap-cakap dengan demokrasi.

Google Twitter FaceBook

Siapa Mau Ikut Crafty Days #4, Sabtu - Minggu 29 -30 Mei 2010?

Siapa mau Ikut Crafty Days #4, Sabtu - Minggu 29 -30 Mei 2010?

Tobucil & Klabs, kembali menyelenggarakan acara tahunan Crafty Days untuk keempat kalinya. Kali ini mengambil tema: "Magic Finger" meliputi kegiatan pameran, bazaar dan workshop.
Untuk itu, kami membuka pendaftaran untuk kegiatan bazaar dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:
1. Barang yang dijual adalah karya kerajinan tangan buatan sendiri dan tidak diproduksi dalam jumlah masal.
2. Peserta yang mendaftar mengirimkan data dan foto contoh karya ke tobucil@yahoo.com. Untuk data silahkan copy form berikut ini:
NAMA LENGKAP PESERTA:
NAMA LABEL/MEREK (jika ada):
ALAMAT LENGKAP:
NO TELEPON & NO. HP:
ALAMAT EMAIL:
ALAMAT BLOG (jika ada):
DESKRIPSIKAN BARANG YANG AKAN DIJUAL:
sertakan foto maksimal 5 foto
3. Pendaftaran peserta bazaar dibuka mulai: 24 Maret - 30 April  2010 (terbuka bagi peserta dari bandung maupun luar bandung).
4. Tobucil & Klabs akan menseleksi peserta yang mendaftar berdasarkan: keunikan desain dan bahan yang belum pernah ditampilkan di crafty days sebelumnya. Hanya tersedia 20 meja.
5. Peserta yang terpilih akan di hubungi selambat-lambatnya tanggal 10 Mei 2010 melalui email dan telepon.
6. Peserta yang terpilih membayar biaya sewa meja rp. 250.000 (untuk dua hari/meja)
7. TOBUCIL TIDAK MENGAMBIL PRESENTASE DARI PENJUALAN.
keterangan lebih lanjut silahkan hubungi:
tobucil 022 4261548 (senin-minggu, Pk. 9.00 - 20.00 wib)

 ------

Dalam rangka mendukung Digital Detox Week, 20-26 April 2010, Tobucil & Klabs mengundang teman-teman untuk berbagi pengalaman soal hubungan teman-teman dengan internet (termasuk games online, jejaring sosial di internet). Tobucil menganggap Digital Detox sangatlah penting untuk menemukan kembali makna, hidup ditengah-tengah informasi yang berlimpah ruah yang membuat kita seringkali kehilangan kemampuan untuk memilihnya sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Jika teman-teman termasuk yang sedang berjuang untuk mengatasi ketergantungan pada internet atau sudah melewatinya, pengalaman teman-teman akan sangat berharaga untuk dibagi. Silahkan kirimkan pengalaman teman-teman ke tobucil@gmail.com, tulisan yang masuk akan dimuat di blog ini sampai akhir April 2010.


-------

Madrasah Falsafah
Setiap Rabu, Pk. 17.00 - 19.00

-------
Crafty Kids Club
Sabtu, Pk. 10.30 - 12.00

Klab baru untuk anak-anak PG (play group) dan SD. Klab ini bertujuan menumbuhkan kreativitas, belajar merealisasikan ide dan gagasan menjadi karya serta melatih kemampuan motorik anak.

Tempat: Tobucil & Klabs
Jl. Aceh No. 56 Bandung
Telp. 022 4261548

Biaya sudah termasuk alat dan bahan:
Per pertemuan: Rp. 50.000

Pendaftaran paling lambat sehari sebelumnya.

-----

Kursus Merajut (knitting):Rp. 25.000,00/pertemuan.
Rp. 150.000,00/ bulan (termasuk benang)
Rp. 300.000,00/ 3 bulan (termasuk benang dan jarum)

Kursus Merenda (Crochet):Rp. 25.000,00/pertemuan.
Rp. 150.000,00/ bulan (termasuk benang)
Rp. 300.000,00/ 3 bulan (termasuk benang dan jarum)
Google Twitter FaceBook

Monday, March 22, 2010

Menyambut Koki Baru Menu Dinamis Blog Tobucil & Klabs

 Purnama di Aceh 56 Foto oleh vitarlenology

Setelah minggu lalu absen karena masalah teknis, tobucil hadir kembali untuk membawa kabar terbaru seputar kegiatan kami di sini. Minggu ini ada oleh-oleh dari Syarif tentang perjalanan spiritualnya ke tanah suci. Setiap perjalanan selalu menyertakan banyak oleh-oleh, setidaknya oleh-oleh berupa pengalaman dan pemahaman baru.

Mulai minggu depan sampai sebulan ke depan, tugas saya akan digantikan sementara oleh Syarif dan Ipey, karena giliran saya sekarang yang melakukan perjalanan sekaligus digital detox, tapi jangan kawatir saya pasti akan membagi oleh-oleh perjalanan buat teman-teman tobucil semua.

Jadi selamat menikmati hidangan dari 'koki' baru blog tobucil. Semoga bisa memberikan rasa dinamis dari perjalanan yang dilakukan tobucil bersama teman-teman semua selama ini.

Aceh 56
vitarlenology
Google Twitter FaceBook

Kompetisi Musik Klassik Perlukah?

 Kegiatan Klab Klassik Dokumentasi tobucil & klabs

KlabKlassik kembali berkumpul tanggal 14 Maret kemarin. Tobuciler, yang biasa ikut serta dalam pertemuan dan menjadi moderator diskusi, urung hadir. Meski demikian, Royke sukses membawakan diskusi yang bertemakan kompetisi musik klasik tersebut. Yang hadir ada Bilawa, Mas Yunus, Kang Trisna, dan dua orang murid Royke, yakni Kevin dan Kelvin. Diskusi dimulai dengan cerita mengenai kompetisi yang banyak diwarnai macam-macam motivasi dari si peserta. Ada yang memang untuk mengukur kemampuan diri, motivasi untuk bermain lebih baik, cermin teknik, dan latihan mental. Pada titik itu, kompetisi adalah acara yang sangat positif. “Itu dengan catatan, si pemain mampu menerima subjektivitas penilaian juri,” kata Bilawa. Apalagi di banyak negara maju, tambah Bilawa, kompetisi adalah salah satu cara meningkatkan karir pemain. Karena disana, banyak orang menjadikan musik klasik sebagai bahan mata pencahariaan utama. Dan gelar-gelar kompetisi bisa menambah kelancaran berkarir mereka di bidang musik.

Tapi ada pula yang menganggap kompetisi sebagai adu gengsi belaka dan menjadi ajang superior-inferior. Peserta seperti ini, dalam forum diskusi tersebut, juga mengikuti kompetisi atas dasar orientasinya pada hadiah. Memang, hal tersebut sulit dihindari sebagai bagian dari motivasi peserta dalam mengikuti sebuah kompetisi. Kang Trisna menambahkan, “Memang, jika hadiahnya kurang bergengsi, peserta menjadi kurang tertantang untuk ikut.” Tapi, yang dinilai kemudian adalah dampaknya. Ketidaksehatan motivasi ini membuat peserta seringkali ada yang sulit menerima keputusan juri. Padahal, “Kompetisi memang soal subjektivitas juri,” demikian Royke, sang moderator, menambahkan.

Lantas, apa solusinya?  Mas Yunus mencoba menanggapi, bahwa yang pertama ditanamkan adalah, kenyataan bahwa kompetisi bukanlah suatu ajang untuk mengukur musik secara objektif. Kompetisi adalah cara untuk mengukur kemampuan lewat mata juri. Juri yang pastinya subjektif juga. Dan menurut Bilawa, mustahil kompetisi objektif, kecuali misalnya diadakan kompetisi dengan lagu sama, partitur sama, instrumen sama. Lalu yang diukur pun teknis saja, ekspresi adalah poin tambahan. Eh jangan lupa, pastikan juga seluruh peserta berada dalam kondisi yang sama. Jika demikian, barulah kompetisi dapat dibilang mendekati objektivitas.

Pertemuan KlabKlassik berikutnya adalah tanggal 28 Maret. Rencananya, KK akan melakukan Listening Session. Artinya, setiap yang hadir, membawa musik dalam soft copy, untuk kemudian diperdengarkan dan dibahas. Bach memberkati. [Syarif Maulana]
Google Twitter FaceBook

Nabi Tak Perlu Turun Ke Bandung


Tanggal tujuh hingga lima belas Maret kemarin, Tobuciler sedang tidak bisa meliput kegiatan Tobucil. Alasannya, Tobuciler pergi ke Makkah untuk menjalankan ibadah umrah. Untuk Tobuciler yang belum pernah ke luar negeri sebelumnya, kepergian pertama, langsung ke Tanah Suci, adalah hal yang sangat emosional. Dalam artian, ada perasaan senang, kagum, sedih, malu, dan takut sekaligus. Tobuciler punya stereotip, bahwa orang yang pergi ke Tanah Suci, mestilah punya dasar ketaatan religius yang baik. Ini yang tak dipunyai Tobuciler, sehingga membawa banyak perasaan kurang enak menjelang pergi kesana. Setelah menyempatkan pamit ke Tobucil di H-1 biarpun hanya ketemu Mbak Tarlen, esoknya Tobuciler berangkat ke Jeddah, tepatnya bandara King Abdul Aziz.

Oh ya, Tobuciler pergi bersama orangtua, dan rombongan biro perjalanan. Sesampainya di bandara King Abdul Aziz, Tobuciler kaget, karena petugas imigrasi begitu santai. Mereka melayani pengecekan paspor sambil ngobrol-ngobrol dan kadang mengambil teh terlebih dahulu. Walhasil, kami tertahan selama empat jam lebih, itu termasuk dengan kejadian paspor tertukar yang membuat kami menunggu di bis sangat lama. Coba lihat si supir orang Mesir, ia banyak turun naik, entah untuk apa. Jadinya, kami yang dijadwalkan tiba di Madinah pukul 11 malam waktu Saudi, jadinya sampai jam setengah 5. Akhirnya, kami langsung shalat shubuh di Masjid Nabawi, masjid sangat legendaris yang didirikan oleh Rasulullah, sekaligus tempat ia dimakamkan. Awal shalat disana, takjubnya luar biasa. Bukan cuma sekedar arsitekturnya yang punya nuansa Spanyol, tapi juga sound systemnya, terutama suara adzan. Disini, adzan seringkali punya efek cukup berisik, karena speaker yang terlalu kencang. Tapi disana, meski Masjid yang sangat luas (konon sebesar kota Madinah ketika Rasul pertama datang), sound systemnya menyebabkan adzan yang sangat halus dan estetis. Suaranya melayang-layang ringan di udara, dan tidak akan membangunkanmu mesti tidur lelap.

Di Madinah, Tobuciler menginap dua malam. Setelah itu, kami berangkat menuju Makkah dengan menggunakan kain ihram, kain tanpa jahitan yang dicontohkan Nabi Ibrahim untuk menjalankan ibadah haji dan umrah. Setelah menyaksikan pemandangan tandus di jalanan selama enam jam, Tobuciler akhirnya tiba di Makkah Al-Mukarramah, kota suci penuh berkah ilahi itu, konon. Sepanjang perjalanan, Tobuciler memang cuma menyaksikan hamparan gurun dan gunung-gunung batu yang menjulang. Setelah sampai di hotel, kami langsung berangkat ke Masjidil Haram, bertemu Ka’bah yang menjadi arah Muslimin tiap shalat, untuk melaksanakan ibadah umrah. Pertama kali melihatnya, Tobucilernya disusupi perasaan haru sekaligus malu. Malu karena, duh, jarang shalat, dan lebih sering memalingkan mukanya dari kiblat. Tapi meski demikian, Tobuciler tetap berusaha menjalankan ibadah Umrah sesuai petunjuk. Mulai dari thawaf, sa’i, hingga Tahallul alias memotong rambut. Seiring dengan itu pula, Tobuciler mendapat banyak pelajaran baru soal agama yang dianut sejak lahir ini.

Setelah cukup puas berada di Makkah selama lima hari dan beribadah di Masjidil Haram, Tobuciler dan rombongan akhirnya pulang ke tanah air. Sepanjang pesawat yang mengangkut kami selama sembilan jam itu, Tobuciler banyak tidur. Begitupun kala pesawat sudah mendarat di Jakarta, dan bus mengantarkan kami ke Bandung. Sepanjang perjalanan, Tobuciler juga banyak tidur. Tapi Tobuciler ingat, bahwa sempat bangun di tengah jalan, dan terkagum, oleh karena: kembali melihat hijaunya jalanan di Indonesia, terutama mulai mendekati Kota Bandung. Mata Tobuciler kembali termanjakan, setelah seminggu lebih dikeringkan pemandangan gurun pasir. Lalu Tobuciler berandai-andai, seandainya Nabi turun di kota Bandung, akankah masyarakatnya percaya? Jika Nabi bercerita tentang sungai yang mengalir di surga, lalu neraka yang panasnya berlipat-lipat dunia, akankah masyarakat Bandung yang sudah terbiasa dengan aliran air dan iklim sejuk, menjadi percaya? Jika Nabi mencoba mendamaikan masyarakatnya yang bertikai, akankah orang Bandung yang ramah-ramah dan suka senyum, dan punya kemampuan berkomunitas secara damai, menganggap kehadiran Nabi adalah berguna?

Demikianlah, Tobuciler bersyukur tiba kembali di Bandung. Dan bersyukur sudah dilemparkan untuk lahir dan tinggal disini. [Syarif Maulana]



Google Twitter FaceBook

The Existence Doesn’t Mean You’re Exist

 Gambar diambil dari sini

Dalam rangka mendukung Digital Detox Week, 20-26 April 2010, Tobucil & Klabs mengundang teman-teman untuk berbagi pengalaman soal hubungan teman-teman dengan internet (termasuk games online, jejaring sosial di internet). Tobucil menganggap Digital Detox sangatlah penting untuk menemukan kembali makna, hidup ditengah-tengah informasi yang berlimpah ruah yang membuat kita seringkali kehilangan kemampuan untuk memilihnya sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Jika teman-teman termasuk yang sedang berjuang untuk mengatasi ketergantungan pada internet atau sudah melewatinya, pengalaman teman-teman akan sangat berharaga untuk dibagi. Silahkan kirimkan pengalaman teman-temanke tobucil@gmail.com, tulisan yang masuk akan dimuat di blog ini sampai akhir April 2010.

 Awalnya

Saya mengenal internet kurang lebih sudah satu dekade ini. Bermula dari rasa penasaran khas anak-anak SMP yang merasa aneh dengan banyak bermunculannya sesuatu yang bernama “warnet” alias warung internet. Padahal biasanya istilah warnet itu sering kami pakai untuk kedai pinggir jalan tempat makan indomi dan kornet. Saya merasa (waktu itu) harus mengenal internet dan segala kegunaannya. Kebetulan, Bapak saya sering cerita tentang fungsi-fungsi email. Saya merasa tertantang untuk sekedar tahu agar di millennium yang baru ini tidak semakin ketinggalan. Karena sering tidak punya uang saya masih harus menahan rasa ingin tahu.

Dimulai dari Kesenangan yang bukan Hobi

Ternyata tidak salah kalau ada orang bilang, banyak jalan menuju Roma. Seorang sahabat yang duluan punya komputer di rumahnya sering mengajak saya untuk ‘ngewarnet’. Saya rasa inilah titik dimana saya menjadi paham dan tahu bagaimana cara menggunakan internet bahkan sebelum saya begitu menguasai komputer. Hanya dengan mengamatinya dan menghafalkan beberapa perintah di browser, saya mulai merasa percaya diri untuk ngewarnet sendirian. Dan karena sering mengeksplorasi internet sendirian, tanpa teman bertanya dan waktu yang singkat (dulu saya hanya mampu sewa satu jam tiap online) maka saya menjadi lebih paham dan tahu seluk beluk praktis internet. Rasanya bangga sekali waktu bisa pamer unjuk kebolehan ngewarnet rame-rame (6 orang satu komputer) sekedar mencari kord gitar Oasis, “Don’t Look Back in Anger”, lalu “Jaded’-nya Aerosmith, sampai (maaf) buka website porno.

Alasan lainnya yang membuat saya merasa harus kenal internet adalah karena kesenangan. Waktu itu, zamannya saya dan sahabat saya itu menyenangi balap mobil Formula 1. Entah mengapa ada yang menarik dari lengkungan moncong mobil Ferrari atau chimney diatas sidepod McLaren-nya Hakkinen. Sebulan sekali saya pasti baca majalah F1 Racing. Kami berdua seakan jadi orang yang benar-benar tahu bagaimana persaingan Schumacher dan Mika Hakkinen yang mati-matian mempertahankan title juara dunianya. Lalu kenapa Juan Pablo yang Montoya bisa lebih cepat dari Ralph Schumacher. Hingga kenapa ada minuman yang dinamakan Tuaca Schumachersmackers. Kami tahu semua itu karena kami membacanya.

Dari sekedar membaca itulah akhirnya kami menjadi benar-benar kecanduan dan mad about F1. Foto-foto mobil F1 di majalah rasanya kurang cukup untuk memberikan kami perasaan senang dan bahagia. Kebetulan, di internet juga banyak sekali situs yang menyediakan foto-foto yang dapat didownload dengan resolusi tinggi dan yang penting: GRATIS. Entah karena beberapa situs mulai sadar akan pentingnya hak cipta maka mereka tidak lagi menggratiskannya. Kemudian, hampir seluruh situs langganan kami tidak lagi jadi situs gratisan. Minimal, kami harus punya uang 1 dolar amerika untuk sekedar foto mobil McLaren terbaru.

Saya merasa ada semacam perasaan ketergantungan ketika saya tidak bisa lagi mengunduh foto-foto mobil F1 secara gratis. Rasanya memang tidak menyenangkan ketika saya hanya bisa melihat previewnya saja. Ada juga semacam perasaan kehilangan karena pernah punya sesuatu yang berharga tapi harus melupakannya. Perlahan, saya bisa melupakan semua itu karena saya sudah mulai lumayan bosan dengan F1 ketika kesempurnaan seorang manusia bernama M (bukan Muhammad) Schumacher menjadi harga mati bagi F1. Dan semua itu membosankan. Sama membosankannya dengan duduk berjam-jam sambil membaca buku pelajaran Sejarah.

Seiring berjalannya waktu, saya mencari kesenangan baru. Saya kembali pada kesenangan saya yang dulu: Sepakbola. Sebenarnya, F1 dan sepakbola tidaklah jauh berbeda. Keduanya, menggunakan kecepatan, taktik, dan strategi untuk mencapai kemenangan. Namun, teknologi yang digunakan di F1 seakan membuat unsur sport F1 perlahan-lahan menghilang. Berbeda dengan sepakbola yang masih lekat dengan kesederhanaannya. 22 pemain. 3 wasit. Satu bola. Dua gawang. Dan ribuan mata penonton.

Dalam periode itu, saya tidak terlalu banyak bermain dengan internet. Kecuali hanya untuk e-mail saja. Sisanya, sering habis untuk surfing di website e-ducation dan beberapa situs tentang sejarah Indonesia dan dunia, sambil sesekali membuka halaman khusus dewasa dan browsing di website klub sepakbola favorit yang selalu dihati: AC Milan.

Sewaktu SMA, game online Ragnarok sedang jadi trending topic diantara pecinta game. Saya melihat beberapa teman saya rela untuk menginap di warnet yang menyediakan paket happy hours setiap malamnya. Lalu, saya juga melihat bagaimana loyonya teman saya yang tiga hari tiga malam ngajedog (baca: diam, nangkring) didepan komputer, hanya beristirahat ketika ingin buang air saja. Saat-saat itulah yang membuat saya berpikir kembali bahwa internet dan segala produk turunannya telah menjadi racun, terutama racun gaya hidup, lifestyle ecstasy, yang jelas-jelas merusak tapi memberikan kesenangan yang luar biasa dahsyatnya.

Hey World, I’m on Friendster. But find me in Google first.

Menjelang kelulusan SMA medio 2004, rasanya semua orang mulai menyebut-nyebut friendster. Dari pertama kali mendengar namanya, saya menganggap friendster itu hanya sebagai tool untuk pertemanan di dunia internet. Saya masih belum tahu friendster itu apa dan bagaimana dan apa manfaatnya sampai saya masuk semester 1. Setelah mendapat penjelasan dari seorang teman, baru saya mencoba friendster. Rasanya sangat menyenangkan ketika bisa melihat identitas diri kita menjadi “ada” dan bisa dilihat seluruh dunia. Apalagi bisa bertemu kawan-kawan lama. Sejenak waktu itu saya merasa kalau friendster ini jadi dunia kedua atau second life.

Semasa kuliah, saya benar-benar mengalami suatu perubahan yang disebabkan oleh internet. Saya benar-benar kecanduan dengan yang namanya friendster. Karena entah mengapa saya selalu senang melihat-lihat page kecengan saya dan kadang-kadang mengunduh beberapa fotonya. Sebuah kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan di zaman facebook sekarang ini. Selain itu, saya juga merasa bahwa Google adalah segalanya. Drs. Google adalah orang yang tepat untuk ditanyai sesuatu. Dan, anehnya saya mulai sering merasa putus asa bila tidak berhasil menemukan bahan-bahan utnuk tugas yang saya cari lewat Google. Padahal, masih ada perpustakaan dengan koleksi bukunya yang bertumpuk-tumpuk itu dan banyak lagi search engine lain dengan metode pencarian yang berbeda yang bisa jadi alternatif selain Google.

Saya tahu itu beberapa hari sebelum kuliah pertama Information Retrieval pada semester 4. Setelahnya, saya jadi lebih tahu query seperti apa yang cocok untuk bahan tugas dan search engine mana yang akan saya gunakan. Dan itu berhasil untuk saya yang selalu mendambakan nilai A untuk setiap mata kuliah yang terlanjur ditulis di KRS. Dalam kesenangan yang seperti itu ternyata (lagi-lagi) perilaku seperti itu berdampak buruk juga bagi mentalitas mahasiswa dalam penyusunan tugas. Seringkali, kita sebagai mahasiswa menjadi lebih bodoh dari murid SMA karena hanya mengcopy dan paste saja bahan yang didapat setelah nyembah Mbah Google tanpa melalui proses editing. Jadinya, kebanyakan tugas kami adalah sama, hanya covernya saja yang berbeda.

Saya mengakui bahwa saya pernah melakukannya tetapi sejak awal saya sudah mengantisipasi hal ini dengan menjadikan bahan-bahan hasil jalan-jalan di internet sebagai referensi saja. Sisanya, kalau masih bisa menuangkan opini atau sekedar mengutip buku teks rasanya saya suah puas untuk tugas saya. Tetapi, kita selalu tidak puas pada satu titik. Maka dari itu, saya punya prinsip “boleh Google kita sama, tapi punya saya beda”. Walau kita menggunakan Google yang sama tetapi bahan yang saya punya pasti berbeda karena saya menggunakan query yang lebih bervariasi dan search engine yang beragam. Pada waktu-waktu itu, selama kuliah, email memiliki peranan yang lumayan penting karena fungsinya. Selain karena sudah mulai tahu yang namanya milis, seringkali alamat email diperlukan untuk beberapa keperluan, seperti membuat akun gratis di forum-forum internet.

Check out My Profile on Facebook but Too Much Facebook Will Kill You

Habis lulus kuliah, facebook mulai menggusur friendster. Saya juga sudah mulai meninggalkan friendster dengan alasan sudah tidak relevan dan sulitnya mencari teman. Belum lagi, banyaknya “kepalsuan” seperti yang kini dialami facebook. Dalam periode ini, banyak media yang bisa menggantikan penemuan handphone sebagai alat komunikasi tercanggih. Selain facebook ada juga YM, Skype, blog, dll. Semua itu punya sensasi masing-masing. Saya senang facebook karena kemudahannya untuk mencari teman yang benar-benar teman, setidaknya yang pernah saya kenal dan saya tahu. Kemudian, facebook juga menyediakan fasilitas sharing yang beragam khas web 2.0 yaitu notes, links, hingga video. Dan yang terpenting adalah Status Update yang semakin menandakan dan menegaskan eksistensi dan keberadaan kita di internet.

Saya pernah sampai memikirkan status yang akan saya update esok hari kalau ketemu facebook karena waktu itu internet di kantor sempat di blokir. Yang paling menyiksa adalah perasaan ingin stastusnya diperhatikan dan dikomentari karena ternyata hal ini berdampak luar biasa karena sesuai sifat dasar manusia yang selalu ingin diperhatikan dan kalau bisa dikomentari. Rasanya memang tidak menyenangkan tetapi kenapa saya selalu menginginkannya. Padahal yang diupdate itu Cuma hanya untuk bilang “Good morning selamat pagi, kerudung kuning menawan hati”. Lalu kawan-kawan yang lain hanya berkeluh-kesah karena busway yang ditumpanginya mogok, kena macet, atau terjebak demo.

Ada yang mengupdate status sambil berdesak-desakan di KRL dan banyak pula yang mengomentarinya. Ada juga yang cukup merasa eksis dengan mengupdate menu sarapannya, ada lagi yang merasa bangga dan berharga dengan menulis “@Kantor, bentar lagi meeting sama bos” padahal mungkin ia tidak pernah menginginkan meeting itu sekalipun, walau sudah tahu meeting akan selalu membosankan karena penuh dengan omong kosong. Setelah apa yang saya lalui dengan keadaan itu saya masih cukup sadar bahwa saya masih punya eksistensi yang nyata dihadapan diri sendiri bukan dihadapan orang lain dan bukan pula lewat media sosial seperti facebook.

Awal Sebuah Kesadaran

Saya telah mencapai titik jenuh dan puncak kebosanan dalam berfacebook karena semuanya hanya palsu dari sekian banyak kepalsuan di dunia ini walaupun semua teman di facebook saya rasanya mencoba untuk tetap jadi dirinya masing-masing dengan memperlihatkan sisi lain dari hidupnya yang sudah begitu. Saya mengembalikan lagi facebook sebagai media dimana kita bisa bertukar informasi sambil kadang bercanda dengan mengomentari foto dan status teman-teman. Saya kembalikan facebook sebagai media yang benar-benar mendekatkan yang jauh tetapi tidak menjauhkan yang dekat. Untuk komunikasi yang lebih bersifat langsung saya kembali disadarkan untuk menggunakan handphone saya yang ada empat itu dan berhenti menggunakan facebook, email, YM, atau twitter.

Kebetulan, semenjak saya jadi user facebook saya juga menemukan kebebasan untuk menjadi diri sendiri lewat blog (selendangwarna.blogspot.com). Sehingga, saya punya ruang tersendiri untuk jadi diri saya. Saya mencoba belajar untuk jadi pribadi yang orisinil lewat blog. Saya lebih senang untuk menjelajahi link-link blogger yang ada dari blog teman-teman saya daripada harus menghabiskan waktu di facebook. Saya belajar untuk tidak lagi sembarangan mengambil kutipan dari tulisan orang lain hanya untuk sekedar menegaskan eksistensi saya sebagai pribadi yang kelihatan harus lebih dari yang lain, tahu lebih banyak, dan itu palsu.

Saya jadikan blog sebagai media belajar menulis. Saya mencoba menulis apa saja yang saya mau dengan berbagai gaya dan topik yang terserah saya. Tidak ada ikatan perasaan untuk menegaskan kembali eksistensi lewat jagad maya. Kalaupun ternyata tulisan saya di blog sama dengan notes yang ada di facebook, itu karena saya buat setting note di facebook untuk mengambil feed dari blog saya secara otomatis. Jadi saya tidak perlu repot mengcopy-paste tulisan dari blog untuk dijadikan note di facebook. Sampai saat ini, saya rasa itu adalah satu dari sekian banyak keunggulan facebook dan kemudahan internet bagi saya.

Saat ini, saya telah dan masih menganggap internet dan berbagai medianya hanya sebagai pelengkap dan bumbu kehidupan saja supaya tidak terlalu jenuh. Saya mengembalikan fungsi internet sebagai media. Terkadang internet memang bisa jadi media eskapis yang sangat baik untuk jiwa yang lelah. Saya menyadari bahwa internet memang telah menjadi kebutuhan tetapi tidak semua kebutuhan dapat dipenuhinya.

Maka dari itu, sebagai media atau yang disebut ‘channel’ dalam paradigma Lasswell, yang bersifat interaktif dengan segenap efek yang ditimbulkannya, saya rasa penting bagi kita untuk mulai memahami dan menyadari bahwa kebiasaan internet yang sehat bisa dimulai dari diri kita sendiri sebelum menularkannya ke orang lain. Kita bisa mulai perubahan yang kecil mulai dari mengidentifikasi kebutuhan yang kita perlukan dari internet yang sudah terlanjur jadi information superhighway agar kelak tidak kehilangan arah dan semakin tenggelam dalam dunia yang sengaja dibuat nyata dan ada.

Tangerang, 13 Maret 2010, 01.25

Anggi Hafiz Al Hakam
Google Twitter FaceBook

10 Hal yang Dapat Dipelajari Dari Digital Detox Week

Tulisan ini dari pengalaman salah satu Iain Tait, salah satu partisipan Digital Detox Week yang diselenggarakan Adbusters tahun lalu. Iain, membagi hasil pembelajaran yang ia peroleh di blognya. Berikut adalah 10 hal penting yang dapat menjadi perenungan teman-teman yang akan atau sedang memulai Digital Detox.

1. Berkomunikasi kembali melalui telepon, terasa jauh lebih baik. Mendengar suara lawan bicara secara langusng atau beradu pendapat lewat telepon jauh lebih terasa menakutkan daripada menuliskannya lewat email atau yahoo messanger. Namun, berkomunikasi secara langsung melalui telepon juga dapat mengurangi kesalah pahaman dan memberikan kepastian dalam berkomunikasi. Jadi cobalah mulai membiasakannya kembali.

2. Email dapat menunggu. Terpaku di depan komputer dan me-refresh inbox dengan harapan tidak ingin ketinggalan email-email yang baru masuk, membuat kita mengkonsumsi lebih banyak waktu percuma. Satu hal yang jangan dilupakan bahwa email-email itu bisa menunggu, tanpa harus kita refresh terus menurus untuk menunggu email2 yang baru masuk. Mengeceknya hanya pagi dan malam hari, tidak akan mengurangi perhatian kita untuk membalas email-email tersebut.

3. Ipod sepanjang waktu. Selain bisa mengganggu pendengaran, mengisolasi diri dengan ipod, membombardir pendengaran kita dengan lagu-lagu yang kita kira bisa menghibur selalu, justru tanpa sadar menjauhkan diri kita dengan realitas hidup sehari-hari. Menjauhkan kedekatan kita dengan suara-suara di sekeliling kita.

4. Tulisan Tangan Vs. Pixel. Mencatat dengan tangan, ternyata mampu memaksa otak untuk menyelesaikan masalah secara berbeda. Ide-ide yang tertuang melalui tulisan tangan bisa jauh lebih intens daripada menggunakan komputer.

5. Menunggu waktu tidur tiba, antara berada di depan layar atau mematikannya. Dari pengalaman, membaca buku sebelum tidur lebih mudah membuat tubuh kita mengirimkan sinyal ketika lelah dan mengantuk. Mata terasa berat, tulisan di buku menjadi kabur dan akhirnya kita jatuh tertidur. Sementara jika kita berharap menghabiskan waktu sambil menunggu waktu tidur tiba di depan komputer, mata kita dan otak kita akan terus menerus di paksa bekerja. Kepekaan tubuh untuk menerima sinyal kelelahan dan rasa mengantuk menjadi berkurang. Hal ini yang banyak menyebabkan gangguan waktu tidur bagi para pencandu internet.

6. Jejaring/web memecah perhatian kita akan banyak hal. Ketika kita membuka satu web, sebelum selesai membacanya dan memahaminya, kita akan dengan mudah masuk ke web yang lain dengan kemudahan hyper link begitu seterusnya. Sehingga banyak hal menjadi tidak utuh kita baca dan kita pahami. Sementara ketika membaca sebuah buku, saat kita tidak mengerti satu bagian, kita akan membuat catatan atau kembali ke halaman sebelumnya membaca kembali  berulang-ulang sampai kita paham apa yang dimaksud oleh tulisan itu.

7. Komputer menciptakan keluasan bukan fokus. Jangan berharap dengan menghabiskan waktu lebih banyak terhubung dengan internet, kita bisa belajar untuk fokus yang terjadi malah sebaliknya. Banyak distraksi dan perhatian kita cenderung melebar kemana-mana.

8. Ketika jauh dari Internet, kita merasa tidak terhubung  dengan orang lain, padahal kenyataannya kita hanya tidak terhubung pada sebuah benda. Apakah hidup kita tiba-tiba berubah secara drastis ketika kita tidak terhubung dengan internet? apakah dunia kita akan hancur hanya karena kita tidak membuka email atau facebook sehari atau seminggu saja? Ternyata tanpa terus menerus terhubung dengan internetpun, dunia yang kita alami baik-baik saja. Hidup masih berjalan apa adanya dan banyak kesenangan yang bisa dinikmati tanpa bersentuhan dengan internet.

9. Tidak benar, jika tanpa komputer kita merasa menjadi tidak kreatif. Tanpa sadar kita adalah korban dari 'komputer dan internet sebagai pusat hidup kita'. Semua kreativitas kita menjadi sangat digital karena kemudahan-kemudahan yang ditawarkan. Membangun kreativitas analog, menggembangkan kemampuan tangan untuk kreativitas kita, sama artinya dengan memberi porsi yang lebih adil pada bagian dari tubuh kita yang lain untuk berkembang.

10. Komputer adalah alat yang sangat mudah bagi kita untuk bersembunyi dari kenyataan. Duduk di depan layar dan masuk kedalam dunia yang sama sekali berbeda melupakan banyak persoalan di dunia nyata, bisa dengan mudah dilakukan lewat komputer, tapi apakah itu akan membantu kita menyelesaikan persoalan nyata dalam hidup kita sehari-hari?
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin