Dalam rangka mendukung Digital Detox Week, 20-26 April 2010, Tobucil & Klabs mengundang teman-teman untuk berbagi pengalaman soal hubungan teman-teman dengan internet (termasuk games online, jejaring sosial di internet). Tobucil menganggap Digital Detox sangatlah penting untuk menemukan kembali makna, hidup ditengah-tengah informasi yang berlimpah ruah yang membuat kita seringkali kehilangan kemampuan untuk memilihnya sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Jika teman-teman termasuk yang sedang berjuang untuk mengatasi ketergantungan pada internet atau sudah melewatinya, pengalaman teman-teman akan sangat berharaga untuk dibagi. Silahkan kirimkan pengalaman teman-temanke tobucil@gmail.com, tulisan yang masuk akan dimuat di blog ini sampai akhir April 2010.
Awalnya
Saya mengenal internet kurang lebih sudah satu dekade ini. Bermula dari rasa penasaran khas anak-anak SMP yang merasa aneh dengan banyak bermunculannya sesuatu yang bernama “warnet” alias warung internet. Padahal biasanya istilah warnet itu sering kami pakai untuk kedai pinggir jalan tempat makan indomi dan kornet. Saya merasa (waktu itu) harus mengenal internet dan segala kegunaannya. Kebetulan, Bapak saya sering cerita tentang fungsi-fungsi email. Saya merasa tertantang untuk sekedar tahu agar di millennium yang baru ini tidak semakin ketinggalan. Karena sering tidak punya uang saya masih harus menahan rasa ingin tahu.
Dimulai dari Kesenangan yang bukan Hobi
Ternyata tidak salah kalau ada orang bilang, banyak jalan menuju Roma. Seorang sahabat yang duluan punya komputer di rumahnya sering mengajak saya untuk ‘ngewarnet’. Saya rasa inilah titik dimana saya menjadi paham dan tahu bagaimana cara menggunakan internet bahkan sebelum saya begitu menguasai komputer. Hanya dengan mengamatinya dan menghafalkan beberapa perintah di browser, saya mulai merasa percaya diri untuk ngewarnet sendirian. Dan karena sering mengeksplorasi internet sendirian, tanpa teman bertanya dan waktu yang singkat (dulu saya hanya mampu sewa satu jam tiap online) maka saya menjadi lebih paham dan tahu seluk beluk praktis internet. Rasanya bangga sekali waktu bisa pamer unjuk kebolehan ngewarnet rame-rame (6 orang satu komputer) sekedar mencari kord gitar Oasis, “Don’t Look Back in Anger”, lalu “Jaded’-nya Aerosmith, sampai (maaf) buka website porno.
Alasan lainnya yang membuat saya merasa harus kenal internet adalah karena kesenangan. Waktu itu, zamannya saya dan sahabat saya itu menyenangi balap mobil Formula 1. Entah mengapa ada yang menarik dari lengkungan moncong mobil Ferrari atau chimney diatas sidepod McLaren-nya Hakkinen. Sebulan sekali saya pasti baca majalah F1 Racing. Kami berdua seakan jadi orang yang benar-benar tahu bagaimana persaingan Schumacher dan Mika Hakkinen yang mati-matian mempertahankan title juara dunianya. Lalu kenapa Juan Pablo yang Montoya bisa lebih cepat dari Ralph Schumacher. Hingga kenapa ada minuman yang dinamakan Tuaca Schumachersmackers. Kami tahu semua itu karena kami membacanya.
Dari sekedar membaca itulah akhirnya kami menjadi benar-benar kecanduan dan mad about F1. Foto-foto mobil F1 di majalah rasanya kurang cukup untuk memberikan kami perasaan senang dan bahagia. Kebetulan, di internet juga banyak sekali situs yang menyediakan foto-foto yang dapat didownload dengan resolusi tinggi dan yang penting: GRATIS. Entah karena beberapa situs mulai sadar akan pentingnya hak cipta maka mereka tidak lagi menggratiskannya. Kemudian, hampir seluruh situs langganan kami tidak lagi jadi situs gratisan. Minimal, kami harus punya uang 1 dolar amerika untuk sekedar foto mobil McLaren terbaru.
Saya merasa ada semacam perasaan ketergantungan ketika saya tidak bisa lagi mengunduh foto-foto mobil F1 secara gratis. Rasanya memang tidak menyenangkan ketika saya hanya bisa melihat previewnya saja. Ada juga semacam perasaan kehilangan karena pernah punya sesuatu yang berharga tapi harus melupakannya. Perlahan, saya bisa melupakan semua itu karena saya sudah mulai lumayan bosan dengan F1 ketika kesempurnaan seorang manusia bernama M (bukan Muhammad) Schumacher menjadi harga mati bagi F1. Dan semua itu membosankan. Sama membosankannya dengan duduk berjam-jam sambil membaca buku pelajaran Sejarah.
Seiring berjalannya waktu, saya mencari kesenangan baru. Saya kembali pada kesenangan saya yang dulu: Sepakbola. Sebenarnya, F1 dan sepakbola tidaklah jauh berbeda. Keduanya, menggunakan kecepatan, taktik, dan strategi untuk mencapai kemenangan. Namun, teknologi yang digunakan di F1 seakan membuat unsur sport F1 perlahan-lahan menghilang. Berbeda dengan sepakbola yang masih lekat dengan kesederhanaannya. 22 pemain. 3 wasit. Satu bola. Dua gawang. Dan ribuan mata penonton.
Dalam periode itu, saya tidak terlalu banyak bermain dengan internet. Kecuali hanya untuk e-mail saja. Sisanya, sering habis untuk surfing di website e-ducation dan beberapa situs tentang sejarah Indonesia dan dunia, sambil sesekali membuka halaman khusus dewasa dan browsing di website klub sepakbola favorit yang selalu dihati: AC Milan.
Sewaktu SMA, game online Ragnarok sedang jadi trending topic diantara pecinta game. Saya melihat beberapa teman saya rela untuk menginap di warnet yang menyediakan paket happy hours setiap malamnya. Lalu, saya juga melihat bagaimana loyonya teman saya yang tiga hari tiga malam ngajedog (baca: diam, nangkring) didepan komputer, hanya beristirahat ketika ingin buang air saja. Saat-saat itulah yang membuat saya berpikir kembali bahwa internet dan segala produk turunannya telah menjadi racun, terutama racun gaya hidup, lifestyle ecstasy, yang jelas-jelas merusak tapi memberikan kesenangan yang luar biasa dahsyatnya.
Hey World, I’m on Friendster. But find me in Google first.
Menjelang kelulusan SMA medio 2004, rasanya semua orang mulai menyebut-nyebut friendster. Dari pertama kali mendengar namanya, saya menganggap friendster itu hanya sebagai tool untuk pertemanan di dunia internet. Saya masih belum tahu friendster itu apa dan bagaimana dan apa manfaatnya sampai saya masuk semester 1. Setelah mendapat penjelasan dari seorang teman, baru saya mencoba friendster. Rasanya sangat menyenangkan ketika bisa melihat identitas diri kita menjadi “ada” dan bisa dilihat seluruh dunia. Apalagi bisa bertemu kawan-kawan lama. Sejenak waktu itu saya merasa kalau friendster ini jadi dunia kedua atau second life.
Semasa kuliah, saya benar-benar mengalami suatu perubahan yang disebabkan oleh internet. Saya benar-benar kecanduan dengan yang namanya friendster. Karena entah mengapa saya selalu senang melihat-lihat page kecengan saya dan kadang-kadang mengunduh beberapa fotonya. Sebuah kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan di zaman facebook sekarang ini. Selain itu, saya juga merasa bahwa Google adalah segalanya. Drs. Google adalah orang yang tepat untuk ditanyai sesuatu. Dan, anehnya saya mulai sering merasa putus asa bila tidak berhasil menemukan bahan-bahan utnuk tugas yang saya cari lewat Google. Padahal, masih ada perpustakaan dengan koleksi bukunya yang bertumpuk-tumpuk itu dan banyak lagi search engine lain dengan metode pencarian yang berbeda yang bisa jadi alternatif selain Google.
Saya tahu itu beberapa hari sebelum kuliah pertama Information Retrieval pada semester 4. Setelahnya, saya jadi lebih tahu query seperti apa yang cocok untuk bahan tugas dan search engine mana yang akan saya gunakan. Dan itu berhasil untuk saya yang selalu mendambakan nilai A untuk setiap mata kuliah yang terlanjur ditulis di KRS. Dalam kesenangan yang seperti itu ternyata (lagi-lagi) perilaku seperti itu berdampak buruk juga bagi mentalitas mahasiswa dalam penyusunan tugas. Seringkali, kita sebagai mahasiswa menjadi lebih bodoh dari murid SMA karena hanya mengcopy dan paste saja bahan yang didapat setelah nyembah Mbah Google tanpa melalui proses editing. Jadinya, kebanyakan tugas kami adalah sama, hanya covernya saja yang berbeda.
Saya mengakui bahwa saya pernah melakukannya tetapi sejak awal saya sudah mengantisipasi hal ini dengan menjadikan bahan-bahan hasil jalan-jalan di internet sebagai referensi saja. Sisanya, kalau masih bisa menuangkan opini atau sekedar mengutip buku teks rasanya saya suah puas untuk tugas saya. Tetapi, kita selalu tidak puas pada satu titik. Maka dari itu, saya punya prinsip “boleh Google kita sama, tapi punya saya beda”. Walau kita menggunakan Google yang sama tetapi bahan yang saya punya pasti berbeda karena saya menggunakan query yang lebih bervariasi dan search engine yang beragam. Pada waktu-waktu itu, selama kuliah, email memiliki peranan yang lumayan penting karena fungsinya. Selain karena sudah mulai tahu yang namanya milis, seringkali alamat email diperlukan untuk beberapa keperluan, seperti membuat akun gratis di forum-forum internet.
Check out My Profile on Facebook but Too Much Facebook Will Kill You
Habis lulus kuliah, facebook mulai menggusur friendster. Saya juga sudah mulai meninggalkan friendster dengan alasan sudah tidak relevan dan sulitnya mencari teman. Belum lagi, banyaknya “kepalsuan” seperti yang kini dialami facebook. Dalam periode ini, banyak media yang bisa menggantikan penemuan handphone sebagai alat komunikasi tercanggih. Selain facebook ada juga YM, Skype, blog, dll. Semua itu punya sensasi masing-masing. Saya senang facebook karena kemudahannya untuk mencari teman yang benar-benar teman, setidaknya yang pernah saya kenal dan saya tahu. Kemudian, facebook juga menyediakan fasilitas sharing yang beragam khas web 2.0 yaitu notes, links, hingga video. Dan yang terpenting adalah Status Update yang semakin menandakan dan menegaskan eksistensi dan keberadaan kita di internet.
Saya pernah sampai memikirkan status yang akan saya update esok hari kalau ketemu facebook karena waktu itu internet di kantor sempat di blokir. Yang paling menyiksa adalah perasaan ingin stastusnya diperhatikan dan dikomentari karena ternyata hal ini berdampak luar biasa karena sesuai sifat dasar manusia yang selalu ingin diperhatikan dan kalau bisa dikomentari. Rasanya memang tidak menyenangkan tetapi kenapa saya selalu menginginkannya. Padahal yang diupdate itu Cuma hanya untuk bilang “Good morning selamat pagi, kerudung kuning menawan hati”. Lalu kawan-kawan yang lain hanya berkeluh-kesah karena busway yang ditumpanginya mogok, kena macet, atau terjebak demo.
Ada yang mengupdate status sambil berdesak-desakan di KRL dan banyak pula yang mengomentarinya. Ada juga yang cukup merasa eksis dengan mengupdate menu sarapannya, ada lagi yang merasa bangga dan berharga dengan menulis “@Kantor, bentar lagi meeting sama bos” padahal mungkin ia tidak pernah menginginkan meeting itu sekalipun, walau sudah tahu meeting akan selalu membosankan karena penuh dengan omong kosong. Setelah apa yang saya lalui dengan keadaan itu saya masih cukup sadar bahwa saya masih punya eksistensi yang nyata dihadapan diri sendiri bukan dihadapan orang lain dan bukan pula lewat media sosial seperti facebook.
Awal Sebuah Kesadaran
Saya telah mencapai titik jenuh dan puncak kebosanan dalam berfacebook karena semuanya hanya palsu dari sekian banyak kepalsuan di dunia ini walaupun semua teman di facebook saya rasanya mencoba untuk tetap jadi dirinya masing-masing dengan memperlihatkan sisi lain dari hidupnya yang sudah begitu. Saya mengembalikan lagi facebook sebagai media dimana kita bisa bertukar informasi sambil kadang bercanda dengan mengomentari foto dan status teman-teman. Saya kembalikan facebook sebagai media yang benar-benar mendekatkan yang jauh tetapi tidak menjauhkan yang dekat. Untuk komunikasi yang lebih bersifat langsung saya kembali disadarkan untuk menggunakan handphone saya yang ada empat itu dan berhenti menggunakan facebook, email, YM, atau twitter.
Kebetulan, semenjak saya jadi user facebook saya juga menemukan kebebasan untuk menjadi diri sendiri lewat blog (selendangwarna.blogspot.com). Sehingga, saya punya ruang tersendiri untuk jadi diri saya. Saya mencoba belajar untuk jadi pribadi yang orisinil lewat blog. Saya lebih senang untuk menjelajahi link-link blogger yang ada dari blog teman-teman saya daripada harus menghabiskan waktu di facebook. Saya belajar untuk tidak lagi sembarangan mengambil kutipan dari tulisan orang lain hanya untuk sekedar menegaskan eksistensi saya sebagai pribadi yang kelihatan harus lebih dari yang lain, tahu lebih banyak, dan itu palsu.
Saya jadikan blog sebagai media belajar menulis. Saya mencoba menulis apa saja yang saya mau dengan berbagai gaya dan topik yang terserah saya. Tidak ada ikatan perasaan untuk menegaskan kembali eksistensi lewat jagad maya. Kalaupun ternyata tulisan saya di blog sama dengan notes yang ada di facebook, itu karena saya buat setting note di facebook untuk mengambil feed dari blog saya secara otomatis. Jadi saya tidak perlu repot mengcopy-paste tulisan dari blog untuk dijadikan note di facebook. Sampai saat ini, saya rasa itu adalah satu dari sekian banyak keunggulan facebook dan kemudahan internet bagi saya.
Saat ini, saya telah dan masih menganggap internet dan berbagai medianya hanya sebagai pelengkap dan bumbu kehidupan saja supaya tidak terlalu jenuh. Saya mengembalikan fungsi internet sebagai media. Terkadang internet memang bisa jadi media eskapis yang sangat baik untuk jiwa yang lelah. Saya menyadari bahwa internet memang telah menjadi kebutuhan tetapi tidak semua kebutuhan dapat dipenuhinya.
Maka dari itu, sebagai media atau yang disebut ‘channel’ dalam paradigma Lasswell, yang bersifat interaktif dengan segenap efek yang ditimbulkannya, saya rasa penting bagi kita untuk mulai memahami dan menyadari bahwa kebiasaan internet yang sehat bisa dimulai dari diri kita sendiri sebelum menularkannya ke orang lain. Kita bisa mulai perubahan yang kecil mulai dari mengidentifikasi kebutuhan yang kita perlukan dari internet yang sudah terlanjur jadi information superhighway agar kelak tidak kehilangan arah dan semakin tenggelam dalam dunia yang sengaja dibuat nyata dan ada.
Tangerang, 13 Maret 2010, 01.25
Anggi Hafiz Al Hakam
heuum..enggak atuh, buat berbagi informasi, atau berbagi lirik lagu yang bagus, I guess..