Monday, April 19, 2010

Pulang


Jika seseorang meninggalkan dunia, ada dua istilah yang disematkan: pergi atau pulang. Namun berdasarkan pengamatan kebanyakan, ternyata kata pulang lebih sering digunakan, seperti dalam berita-berita ketika muslim meninggal dunia: telah berpulang ke Rahmatullah. Apa sesungguhnya pulang? Dan apa yang membedakan dengan pergi? Barangkali begini: Bahwa pergi, seringkali dikonotasikan dengan suatu keberangkatan menuju belantara ketidakpastian. Sesuatu yang tak terlalu jelas, apa gerangan yang menanti kita disana. Tapi pulang, kira-kira cukup jelas: Kita berangkat menuju asal-muasal kita berangkat, yang berarti kembali. Dan kepulangan selalu berkonotasi dengan kedamaian. Pulang tidak selalu tentang rumah, tapi bisa kemana saja, yang mengisyaratkan suatu tempat yang membuat kita merasa jiwa ini tentram.

Demikian halnya Mba Tarlen, yang akhirnya pulang ke Tobucil dan rumahnya di Bandung, setelah pergi tiga minggu lamanya. Semoga memang iya, disinilah tempat hatinya kemudian damai.

Semoga Bach Memberkati.



Google Twitter FaceBook

25 Contoh Hal yang Dapat Dilakukan Selama Pekan Digital Detox

Dalam rangka mendukung Digital Detox Week, 20-26 April 2010, Tobucil & Klabs mengundang teman-teman untuk berbagi pengalaman soal hubungan teman-teman dengan internet (termasuk games online, jejaring sosial di internet). Tobucil menganggap Digital Detox sangatlah penting untuk menemukan kembali makna, hidup ditengah-tengah informasi yang berlimpah ruah yang membuat kita seringkali kehilangan kemampuan untuk memilihnya sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Jika teman-teman termasuk yang sedang berjuang untuk mengatasi ketergantungan pada internet atau sudah melewatinya, pengalaman teman-teman akan sangat berharaga untuk dibagi. Silahkan kirimkan pengalaman teman-teman ke tobucil@gmail.com, tulisan yang masuk akan dimuat di blog ini sampai akhir April 2010.

Menjelang pekan Digital Detox, saya menemukan di website ini, beberapa contoh hal yang dilakukan selama tidak berinteraksi dengan jaringan sosial di internet. Contoh kegiatan tersebut cukup jenaka, tapi hmmm boleh juga dilakukan, biarpun contoh-contoh ini ada beberapa yang relevan dilakukan jika di Barat sana. Berikut 25 contoh kegiatan yang bisa dilakukan:
1. Menyewa sepeda, sepatu roda, atau perahu.
2. Pergi ke pub dan memesan minuman yang belum pernah kau pesan sebelumnya.
3. Mengecat tembok rumahmu dengan warna yang lain.
4. Beli CD artis favoritmu.
5. Membeli bumbu masak yang unik, dan buatlah masakan baru dengannya. (contoh: Wasabi).
6. Bertaruh lima dolar di tempat judi terdekat.
7. Membeli majalah porno, terutama untuk kamu yang jarang membelinya.
8. Makan makanan sea-food yang tidak biasa.
9. Menggambar peta, boleh peta buatan atau nyata.
10. Ke toko kerajinan dan membuat sesuatu darinya.
11. Bermain detektif-detektifan.
12. Pergi ke perpustakaan dan membaca buku-buku klasik.
13. Piknik dan mengajak tetanggamu, terutama yang belum kenal sebelumnya.
14. Tulis lagu dan buatlah semacam band.
15. Buatlah rumah pohon.
16. Tanam tumbuhan di pekarangan.
17. Buatlah laptopmu sendiri.
18. Pergi ke kota yang agak jauh dan jarang kau singgahi, berhentilah dan minum-minum di pub setempat.
19. Membuat roti.
20. Menjadi turis di kota sendiri.
21. Memakai topi sepanjang hari.
22. Jalan-jalan keluar dan dengarkanlah berbagai bebunyian. Catat bunyi-bunyian yang belum pernah kau dengar sebelumnya.
23. Pergi naik kereta secara acak, tanpa peduli tujuan.
24. Membuat selai dari buah-buahan.
25. Pergi ke forum diskusi dan bacakan puisi buatanmu.

Patut dicoba, intinya, banyak yang bisa dilakukan selain internetan, kan?


Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

Bunyi dan Pengkotakan oleh Modernitas



Klabklassik di suatu bulan Maret, pernah membahas ikhwal Bunyi. Sekarang ternyata, Madrasah Falsafah juga membahas tentang hal serupa. Pembahasan yang mendalam sekaligus jenaka, jenaka karena ternyata sang moderator, Rosihan Fahmi alias Kang Ami, membawa buku “Tubuhmu yang Pintar” sebagai panduan diskusi. Buku karangan Neil Morris yang diterjemahkan tersebut, awalnya dibeli Kang Ami untuk menambah pengetahuan sehubungan dengan anaknya yang baru lahir (Selamat, Kang Ami!). Yang lucu adalah, Kang Ami sering membaca keras-keras isi buku tersebut di tengah diskusi, bahkan dengan gaya deklamasi yang berapi-api. Menimbulkan tawa para peserta.
Apakah gerangan hubungannya topik bunyi dengan buku “Tubuhmu yang Pintar” yang ditujukan bagi anak itu? Agak sulit mencari hubungannya sebetulnya. Jadi begini, ini soal kekritisan atas modernitas. Bahwa modernitas telah sukses mengotak-ngotakan banyak aspek kehidupan serta pemikiran. Kesehatan misalnya, dulu barangkali orang hanya mengenal tabib, yakni orang pintar yang bisa menyembuhkan segala. Hal itu tidaklah aneh, karena muara dari segala penyakit, barangkali hanya satu atau dua hal aja, entah itu psikis atau kebersihan. Sekarang, mendadak kesehatan jadi terspesialisasikan, ada dokter THT, bedah, hewan, dan lain-lain. Dari situ sebenarnya, meski terlihat dipermudah, tapi kenyataannya penyakit jadi bertambah banyak oleh karenanya.
Dari situ hubungannya begini: Membicarakan soal “bunyi” di Madfal, adalah seolah membicarakan satu kemurnian aspek kehidupan jaman pra-modern. Yakni ketika bunyi belum di-“spesialisasikan” macam sekarang, menjadi misalnya musik, bising, melodi, nada, atau ritmik. Kesemuanya itu bunyi-bunyian yang telah dipilah. Maka itu kembalilah kita, di Madfal itu, membicarakan bunyi dalam konteks yang paling purba. Bunyi sebelum ia dipilah.
Saya dan Diecky yang pernah mendiskusikan soal bunyi di klabklassik, akhirnya menunjukkan beberapa video dan rekaman, yang diantaranya video John Cage yang berjudul WaterWalk. Disitu, Madfal ditunjukkan semacam tayangan absurd soal bagaimana John Cage memainkan musik dari bunyi teko, bunyi air di bak mandi, bunyi piano yang dipukul, hingga bunyi tanaman yang disiram. Dari situ muncul diskusi soal betapa bunyi ini beragam adanya, dan persepsi kita sendiri yang mengharmonisasikan bunyi itu, apakah mau jadi musik, atau malah kegaduhan. 


Google Twitter FaceBook

Catatan Perjalanan 2 - Cambodia: Terbakar Teriknya Tanah Khmer

Selamat datang di Cambodia

Perjalanan menyebrang dari Ho Chi Minh ke Phnom Penh, berjalan lancar dan tidak ada kendala yang berarti. Perjalanan mamakan waktu sekitar 6 jam. Kami berangkat 29 Maret 2010 Pk. 10.00, sampai perbatasan sekitar pk. 12.00 waktu setempat (tidak ada perbedaan waktu dengan Jakarta). Teriknya tanah Cambodia, langsung terasa. Tenggorokanku langsung bereaksi dengan hal ini, rasanya kering sekali dan panas. Urusan visa juga ga repot, karena semua dibantuin oleh petugas bis yang membawa penumpang ke Cambodia. Sepanjang perjalanan menuju Phnom Penh daerah yang kulewati terasa gersang dan panas menyengat. Terlihat sekali perbedaan antara Vietnam dan Cambodia, sebagai negara yang lebih kecil dan beda ideologi dengan Vietnam, Cambodia seperti sedang berjuang keluar dari bayang-bayang rezim Khmer Merah dan sedang berusaha membangun dirinya dengan tertatih-tatih. Setidaknya kesan itu aku dapatkan dari ekspresi orang-orang Cambodia yang kutemui sepanjang perjalanan.

Seorang ibu yang bersama-sama naik bus denganku dan menyangka aku orang Filipina (selama perjalanan ini bukan sekali ini aku disangka orang Filipina, berkali-kali, kalo dibilang orang Indonesia, mereka bereaksi, Malaysia?. No! Indonesia!, kalau dijawab orang Puerto Rico mereka lebih bingung lagi hahahaha..). Oke, si ibu teman perjalanan naik bis dari Ho Chi Minh ternyata dia orang Cambodia yang udah beberapa kali ke Indonesia untuk ikut pelatihan Clean Goverment di Indonesia (ga salah nih???), begitu tau aku orangIndonesia dia langsung bercerita soal Cambodia dengan bahasa Inggris logat Cambodia.. heheheh jadi setengahnya aku bisa paham, setengahnya lagi nebak-nebak. Tapi dari dia minimal aku dapet gambaran seperti apa Cambodia, mungkin seperti Indonesia setelah tahun 1965 (aku menebak aja).

Daerah Sekitar Rusia Market di Phnom Penh

Phnom Penh, lebih awut-awutan dari Ho Chi Minh. Jalanannya kotor dan semrawut banget, tapi ga tau kenapa aku merasa langsung terhubung dengan orang-orangnya. Bis berhenti di dekat Russian Market. Perlu Tuk Tuk (semacam bajaj) untuk pergi ke tempat penginapan yang di rekomendasikan Lonely Planet. Sejak menemukan Green Tortoise Hostel atas rekomendasi Lonely Planet waktu backpacked ke Seattl, 2008 lalu, aku sangat mengandalkan pilihan editor Lonely Planet untuk guest house atau hostel backpacker dimanapun berada. Begitu pula waktu di Cambodia. King Guest House namanya. Semalam sewanya 7 US dolar. Kamarnya cukup bersih lah, double bed dan ada kamar mandi di dalam. Oya yang mengejutkan dari Cambodia adalah mata uang yang dipakai sehari-hari adalah US Dolar selain dari mata uang mereka sendiri. 1 US dolar sama dengan 4000 riel (KHR). Jadi membawa US Dolar akan jauh lebih mudah kalo pergi ke Cambodia.  Begitu nyampe di Cambodia aku langsung tewas, karena rasanya penat dan sedikit meriang. Mungkin karena cuaca yang sedemikian panasnya. 

Untuk makanan sekali makan sekitar 2-3 US dollar dan minuman yang paling murah adalah lemon juice hanya 0.50 US dolar. Porsinya cukup mengenyangkan dan makanan Cambodia, ga terlalu berbeda dengan Vietnam, hanya saja lebih sederhana. Kalau Vietnam mereka lebih cantik dalam menyajikan, tapi kalau di Cambodia lebih apa adanya, mungkin sesuai dengan kondisi negaranya juga. Tapi ada hal lain yang juga tidak kuduga sebelumnya, orang Cambodia lebih banyak yang bisa berbahasa Inggris daripada orang Vietnam. Dari cerita tukang tuk tuk, ternyata bahasa Inggris adalah bahasa yang dipelajari dengan antusias oleh generasi muda Cambodia. Sementara orang-orang tua mereka sempat mengalami pelajaran bahasa Perancis di sekolah, jadi generasi tuanya lebih bisa berbahasa Perancis daripada Inggris. 
Royal Palece maskotnya wisata Cambodia

Hari kedua di Cambodia, bersamaan dengan hari ulang tahunku. Hari kedua keliling-keliling Cambodia dengan menyewa Tuk Tuk, 20 US dollar. Dengan harga segitu, Tuk Tuk akan mengantar ke tempat-tempat yang biasa di kunjungi turis dan dimulai dengan Royal Palace. Tiketnya lumayan mahal juga 12.5 US dolar/orang. Ternyata bangunan Royal Palace ga sekuno yang kubayangkan. Cukup baru dan detail-detailnya juga terasa lebih sederhana dan ga halus dalam pengerjaannya. Namanya juga kerajaan yang sudah dipengaruhi oleh penjajahan. Pengaruh ini bisa dilihat di langit-langit Royal Palace yang Eropa banget. Ada lukisan semacam Birth of Venus gitu di langit-langitnya, sebuah bukti pengaruh Eropa yang sedemikian kuat ada di langit-langit pula, berarti posisi pengaruhnya cukup tinggi dan penting.


Salah satu blok di S-21

keterangan di salah satu blok bangunan di museum genocide

Setelah dari Royal Palace, beranjak ke Museum Genocide yang merupakan penjara S-21 yang digunakan sebagai tempat penyiksaan, intrograsi dan penjara orang-orang yang dianggap menentang rezim Khmer Merah. Tiket masuknya 2 US dolar/orang. Kompleks bangunan yang terdiri dari 4 blok dan masing-masing blok terdiri dari 3 lantai. Setiap lantai adalah ruangan-ruangan yang tersekat-sekat. Di museum ini yang setiap ruangan dibiarkan seperti ketika masih berfungsi sebagai S-21 dulu. Di salah satu blok hanya ada ranjang besi di tengah-tengah ruangan dan alat penyiksaan. Sementara di ruang lain ada alat-alat penyiksaan untuk kepentingan intrograsi seperti kursi listrik, bak untuk menenggelamkan, dan ada juga blok yang didalamnya di sekat-sekat lagi jadi ruangan 1x1 meter sebagai penjara dan isolasi. Sisanya berisi foto-foto korban kekejaman rezim Khmer. Suasana di museum Genocide terasa hening tapi sekaligus juga mencekam. Rasanya peristiwa itu baru saja terjadi. Temboknya dan semuanya masih dibiarkan apa adanya. Setiap mata yang ada di display foto-foto korban, seperti menatap pengunjung dan menceritakan kekejaman yang sulit dibayangkan itu. Sulit untuk berkomentar.


Beginilah ruang penyiksaan itu beserta alat-alatnya


Aturan main di S-21 (klik gambar untuk melihat tulisan lebih jelas)

Setelah dari museum Genocide, rasanya ga lengkap kalo ga mengunjungi Choeng Ek alias The Killing Field. Lokasinya 15 KM dari Phnom Penh. Naik Tuk Tuk kira-kira 1 jam perjalanan. Tiket masuk 2 US dolar/orang. Lokasinya bener-bener di tengah lahan gersang. Museum ini luasnya sekitar 2 hektar. Dan memang seluas itulah dulu Pol Pot mengunakan tempat ini sebagai tempat pembantaian dan kuburan masal. Jadi para tahanan S-21 dibawa oleh truk untuk 'disukabumikan' di sini. Di tengah-tengah lahan seluas 2 hektar ini ada bangunan kecil yang cukup tinggi yang digunakan untuk menyimpan tulang belulang korban kekejaman rezim Khmer Merah. Bangunan ini masih baru, karena dibangun 2008, 20 tahun setelah kuburan masal ini di temukan (1988: tolong dikoreksi kalo salah). Suasananya jauh lebih senyap dan 'haunted'. Turis-turis yang datangpun mengelilingi tempat ini dalam diam. Bahkan saat masuk ke ruangan dekat pintu keluar untuk menyaksikan dokumenter tentang Choeng Ek dan penjelasan mengenai The Killing Field, suara langkah sendiri menuju ruang itu pun jadi begitu jelas terdengar dan terasa menteror.


The Killing Field

Ada sebuah pohon yang dinamai 'The Killing Tree'. Pohon yang digunakan untuk menghempaskan bayi-bayi yang direbut dari ibu-ibu mereka dengan begitu keras pada batang pohon dan mati seketika. Aku perhatikan batangnya. Nampak garis-garis pada batangnya seperti di toreh oleh kepedihan ibu-ibu yang kehilangan anak-anak mereka dengan cara yang sedemikian brutal. Pol pot mengaku tidak pernah membunuh bayi dengan cara menghempaskan ke "the killing tree" itu, tapi dalam pernyataannya dia bilang, jika tentaranya yang melakukan itu, berarti ia bertanggung jawab untuk itu.  Udara di sekitar The Killing Field, terasa panas menyengat. Tanahpun seperti belum bisa memaafkan dirinya sendiri atas kekejaman yang pernah terjadi diatasnya, karena tidak banyak pohon tumbuh di lahan itu. Hanya semak belukar saja yang tumbuh liar mengayomi ayam-ayam dan burung-burung liar yang mencari hidup di situ.

The Killing Tree

Kembali ke Phnom Penh, menghadiahi diriku sendiri oseng cumi dengan bumbu Cambodia untuk mengembalikan mood di hari ulang tahun. Sisa hari yang dihabiskan dengan keliling Phnom Penh, mengunjungi National Museumnya dilalui dalam diam. Banyak hal berkecamuk, tapi sulit untuk diungkapkan. Menuliskannya sembarangan pada buku harian supaya tidak jadi residu. King Guest house tempatku menginap itu, ternyata mau pindahan ke tempat baru. Jadi malam terakhirku di Phnom Penh, juga malam terakhir bagi lokasi lama guest house itu. Suasananya jadi rada berantakan karena si empunya guest house sibuk mengangkuti barang-barangnya.

Hari ketiga, dimulai dengan perjalanan menuju Siem Reap, sebuah propinsi di Cambodia yang menjadi cagar dunia karena keberadaan Angkor Wat. Aku membayar 6 US dolar untuk tiket bus ke Siem Reap, itu sudah termasuk minibus yang menjemput dari guest house sampai ke terminal. Perjalanan dari Phnom Penh menuju Siem Reap di tempuh selama 6 jam perjalanan. Sepanjang perjalanan aku menyaksikan Cambodia yang gersang dang 'miskin'. Rumah-rumah tradisional mereka seperti rumah panggung yang banyak kutemui di Kalimantan.  Sawah dan ladang terlihat tandus dan kering. Nampaknya ini menjadi musim kering yang berat bagi banyak orang termasuk orang-orang di Cambodia.

Begitu memasuki propinsi Siem Reap, aku melihat banyak perbedaan. Bau 'internasional' mulai terasa, ketika aku menemukan tenda bantuan pangan World Food Program seperti yang kutemui di Banda Aceh, 5 bulan setelah tsunami. Mobil-mobil berstiker lembaga internasional seperti ILO atau FAO aku temukan beberapa, berpapasan di jalan. Logo-logo lembaga seperti USAID, UNESCO, UNICEF, terselip di bilboard beberapa fasilitas publik. Dan ketika sampai di kota Siem Reap, suasananya lebih bebeda lagi. Kotanya terasa sangat kota turis. Selama ini Siem Reap mengandalkan pendapatannya dari turistik. Setelah Tom Rider mengambil setting di Angkor Wat, semakin banyak turis asing yang  datang ke kota ini, penasaran ingin melihat Angkor Wat secara langsung. Harga-harga juga terasa lebih mahal dari Phnom Penh. Di sini aku menginap di guest house yang sama dengan di Phnom Penh. Mereka ternyata punya cabang di sini. Jadi aku membayar 7 US dolar permalam untuk kamar double bed, kamar mandi air panas dan dingin dengan kamar yang lebih bagus dan luas. Lokasinya juga ada di daerah turis dekat dengan tempat-tempat turis seperti pasar, dan KFC! heheheh.. jauh-jauh ke Siem Reap, makannya di KFC. Karena aku booking guest housenya dari Phnom Penh, aku dapet bonus di jemput tuk tuk di terminal. Jarak dari terminal ke guest house ternyata lumayan jauh juga.

Hal yang cukup mengejutkan di kota sekecil Siem Reap, ada toko buku yang koleksi buku bahasa inggrisnya lumayan oke. Meski yang dijual sebagian adalah buku-buku second. Oya di sini juga aku dapet bajakan Motor Cycle Diarynya Che Guevara dengan kualitas bajakan yang lumayan (cover di print laser color) dengan harga 3 US dolar saja dan bajakan Lonely Planet edisi Thailand hanya 6 US dolar saja. Sepanjang perjalanan ini nampaknya aku dibuntuti oleh 'Che Guevara'. Di Vietnam aku nemu flyernya, di Cambodia aku nemu bukunya, di Thailand di weekend marketnya banyak yang bikin sesuatu dengan foto Guevara yang terkenal itu. Che bener-bener 'poster man' heheheh.. nanti pulang aku mau nonton lagi ah tiga-tiganya: Motor Cycle Diarynya Walter Sales dan Che Part One & Part twonya Steven Soderbergh. Btw.. sekilas info, Benicio jadi kandidat kuat untuk memerankan biopicnya Diego Maradona, setelah sukses memerankan biopic Che Guevara (demikian sekilas info dari google alert Benicio Del Toro hihihihih).


Danau yang mengelilingi Angkor Wat

Hari kedua di Siem Reap, barulah berangkat ke Angkor Wat. Sewa tuk tuknya 15 US dolar dan tiket masuknya untuk small tour 15 US dolar per orang.Ada paket tur yang lain kaya big tour 17 US dolar, 2 hari tur 40 US dolar, 3 hari 60 US dolar. Karena kompleks Angkor Wat ini bener-bener gede banget. Small tour aja bener-bener melelahkan. Memang yang paling besar adalah Angkor Watnya itu sendiri. Situs bekas kerajaan Angkor yang komposisinya langsung membawaku masuk ke gambar-gambar litografi kolonial. Angkor di kelilingi pepohonan seperti pohon asem, salah satu jenis palem-paleman yang tertata rapih dan membuat aku, selain masuk ke gambar litografi kolonial seperti masuk ke dalam setting komik Budha.  WOW.. sureal banget.

Kaya di litografi jaman kolonial

Hal yang perlu diperhatian jika akan mengikuti tur Angkor Wat ini adalah stamina. Turun naik tangga mengitari candi-candi di tengah cuaca yang panas dan terik, jangan lupa topi dan air minum secukupnya. Kalo ga bisa dehidrasi.  Salah satu paket small tour Angkor Wat ini adalah mengunjungi salah satu candi yang ada di sela-sela pepohonan besar, seperti yang di film-film itu. Beberapa candi kondisinya masih dalam perbaikan. Hanya yang menarik dalam satu kompleks Angkor, aku menemukan bentuk candi yang mirip prambanan, ada juga yang bentuknya kaya Machu Pichu, juga ada yang terbuat dari batu bata seperti reruntuhan kerajaan jawa di kota gede, Yogja (rasanya aku perlu membaca kembali buku sejarah nih).  Mengelilingi Angkor Wat aja udah cukup melelahkan. Kembali ke guest house jadi terasa menyenangkan.

Hari ketiga di Siem Reap adalah hari menyebrang ke Thailand. Aku membayar 8 US dolar sudah termasuk taksi yang menjemput dari penginapan sampai bus Cambodia yang mengantar ke perbatasan. Sampai di perbatasan cap pasport, minibus yang mengantar dari perbatasan ke Bangkok sudah siap menunggu. Aku berangkat dari Siem Reap pk.09.00 pagi, sampai perbatasan pk. 12.00 istirahat dulu 1 jam. Berangkat pk. 13.00 masuk Bangkok Pk. 16.30 dan langsung disambut oleh kemacetan. Malam sebelum menyebrang sempet ngecek berita via internet soal Bangkok. Ternyata dihari aku tiba (Jumat 2/4) demo "Red Tshirt" yang menuntut reformasi kepemimpinan tengah berlangsung dan hari ini (sabtu 3/4), sekitar 2 juta pendukung turun ke jalan memadati jalanan Bangkok. Dan dari tempatku menginap di kawasan Bang Lampoo, terdengar samar-samar suara pemimpin demo. Langsung saja aku merasa akrab dengan suasana itu. Bangkok yang terasa seperti Jakarta. Aku beradaptasi sangat cepat dengan kota ini.

New Merry V Guest House,
Bang Lampoo, Bangkok
3 April 2010


Vitarlenology

Tulisan diambil dari sini.
Google Twitter FaceBook

Jaga Weekend

Dalam rangka KumKum, hampir semua kru Tobucil pergi ke Jakarta. Yang tersisa salah satunya adalah saya dan alhasil saya tukar jadwal jaga saya dengan Mul. Saya jaga weekend. Jarang sekali saya jaga weekend. Biasanya kalau weekend, Tobucil ramai dengan pembeli benang dari luar kota dan orang-orang yang kursus rajut, tapi weekend kali ini menurut saya kurang ramai. Mungkin mereka ke KumKum juga ya? :D

Saya juga jarang jaga pagi, dan weekend kemarin saya jaga full dari pagi sampai malam. Pagi di Tobucil, rasanya seperti di rumah. Adem, masih sepi, nyaman dan bawaannya mau tidur lagi, hehehe.

Tapi klab rajut tetap ada. Ada Dian yang mengajar crochet, dan ada beberapa murid yang datang. Makin sore juga makin ramai.

Weekend di Tobucil kemarin, walaupun di dalam Tobucil sepi, tapi ternyata di beranda tetap ramai. Walau ditinggal beberapa 'penunggu'nya ternyata Tobucil tetap tersenyum :)


[Ipey]
Google Twitter FaceBook

Apa Pendapatmu tentang Tayangan Televisi Sekarang Ini?

Rain Rosidi
televisi yang mana? saya nontonnya AlJazeera
Eka Perdania Nurul Fitrie
membosankan, dangkal, nggak ngasih pengetahuan, terlalu banyak iklan, terlalu banyak imaji2, terlalu banyak propaganda, dan terlalu banyak kepentingan dari pihak2 besar :)
Cep Jayz
jauh lebih kreatif tobucil,,, walau pun cuma bisa melihat dari status2 nya ja,,,,
Wilton Djaya
tidak kreatif sama sekali..
Nidandelion Pedestrian
saya sdh brenti nonton tv sejak bertaun2 lalu.kcuali kick andy.krn isinya sampah smua.sinetron lah, acara2 musik ga jelas yg band2nya ga jelas dgn lirik, musik dan dandanan yg nunjukin btapa dangkalnya mereka... ap msh ad alasan utk ntn tv??
Eka Perdania Nurul Fitrie
oiya, yg saya maksud itu utk tayangan tv lokal tentunya :) lagian nonton tv ga bisa berinteraksi dgn konten/pembuat kontennya, kita cuma dicekokin
Onge Songe
Terlalu banyak suguhan , kembali kepada diri sendiri untuk memilahnya....sesuaikan dengan kebutuhan , kalo terlalu bnyak nonton memang bisa lier'...
Dwi Yulianto
di dominasi oleh acara2 yang kurang mengangkat kesadaran penonton terhdap realitas yang ada..penuh kebohongan yang seolah olah itu nyata....terlalu fulgar dalam penyampaian...sperti contoh adanya acra promosi sebuah produk brang yang sangat mewah berikut hargany sangat mahal namun disiarkan di TV nasional,,,dari sana terlihat bahwa tayangan tersebut kurang peka terhadap kondisi masyrakat secra umum dimana masyrakat masih kalut dan bingung untuk dapt memperthankan hidupnya...
Dini Estha
sudah lama tidak lihat tv lokal jadi tidak bisa ber komentar :)
Dwi Cahya Yuniman
TURN OFF your tv, NOW! ...... FOR GOOD! *oh aq teh udah pernah komentar yg sama ya, sorry .. :-)
Susy Devianna Dedev
Tayangan tv sekarang khususnya bwt berita sangat monoton dan seragam, walaupun tv nasional udah banyak, investigasinya kalah ama infotainment yg low ada issue hmpr 90% terbukti kebenarannya, hehehe...low berita di tv yg penting pembawa acaranya jago bicara low perlu ngotot bgt low nanya ma nara sumbernya (pdhl kadang sotoy, bkn cari info dulu yg sebanyak2nya), kayak mau sidang tugas akhir atau pas debat ma polisi lalin waktu kena tilang aja, :))...
Evelyn Ghozalli
tv lokal.. 20% berita, 50% sinetron + sinetron berita dan 30% iklan
tv kabel.. Sangat menambah wawasan walaupun diulang2
Diana Kea
mendingan nonton animal planet daripada tv lokal.... :D

Helmi Haska
Tak ada gunanya menonton televisi, jika hanya menayangkan Jakartasentris, melulu tentang orang Jakarta dengan segudang persoalannya, sampah, korupsi, kawin-cerai artis, penghinaan, banjir, penggusuran, traveling orang Jakarta yang menye-menye ke hutan-pantai-laut, kong kalikong, presiden yang lebay, seniman arogan, markus kesenian, suap, budayawan snobbish, taman pesing, narkoba, tawuran, fuck sinetron, lalu-lintas macet.... semua yang ditayangkan televisi TIDAK BERGUNA UNTUK KAMI ORANG DAERAH
Den Bagoes
Semua kembali pada pribadi setiap individu untuk memilih dan memilah tayangan televisi sekaranbg ini yang baik untuk pribadi, keluarga, maupun anaknya ( Dalam hal ini bukan berarti saya pribadi sudah mampu melaksanakan hal tersebut. Namun mudah-mudahan kawan semua mampu memaksimalkan tayangan televisi sekarang ini ) Sebab manfaat itu bisa kita jemput tanpa harus mengorbankan materi ( misalkan uang ) yang kita keluarkan untuk membeli tayangan televisi berlangganan. Karena secara tidak kasat mata, sebenarnya hal inilah yang membiarkan kita dihisap nirmana kapitalisme. Bukankah kita semua tidak menginginkan hal tersebut menina bobokan kita?

Semoga tulisan ini membuat saya sendiri merasa mawas diri, dan mudah-mudahan kawan semua juga mampu memetik satu hal yang mungkin masih jauh dari kata bermanfaat.

Terima kasih atas apresiasinya untuk mengadakan diskusi terhadap pertelevisian sekarang ini.

Salam.
Rain Rosidi
yang terlanjur adalah, semua jaringan televisi dikuasai oleh kelompok tertentu. seharusnya televisi sebagai media dimiliki secara merata oleh banyak orang, bukan milik orang2 tertentu yang juga bermain di wilayah politik praktis. bagaimana kita mengharapkan tayangan yang berimbang kalau semua televisi dimiliki oleh para pemain politik??
Halimun Giri
TV .... adalah alat ... bisa mencerdaskan, memberikan informasi, membutakan mata hati, membuat pembodohan sistematis, memberikan inspirasi, meningkatkan kapasitas, positif, negatif, semuanya ada disini, yang kita butuhkan hanyalah saringannya, salah satu saringan yang bisa diandalkan adalah budaya, dengan akar budaya yang menancap kuat, segencar apapun serangan sampah2 peradaban yang ditayangkan lewat televisi, kita tetap akan bisa memilah dan memilih sesuai dengan budi dan daya kita
Rain Rosidi
sekarang aku malah nonton TVRI, soalnya indovisonnya lupa bayar, tadi diputus
Nanne Lasut
Hhhhh... Capè d...!? 
KiBagus Ahmad Mangunsukarta
ngimpi dapet popularitas instan,....yi 
Kuswardhanansyah Dhanan
televisi? ada yang menarik loh.. isinyakan "pendidikan".. "PENDIDIKAN SINETRON" maksudnya..hahha..
Dah ga ada mutunya.. Paling yang bagus cuma berita aja + sepak bola lah.. Kalo yang lain mah cuma kejar rating doank.. Udah ceritanya ga ada mutunya.. Dasar tv swasta.. Giliran tv negeri, acaranya kesian.. Kurang daya tarik, jadinya ga ada penontonnya... Padahal lebih bermutu daripada yang swasta..
Dulu saya pas masih kecil, pas TK, saya masih ingat kalo nonton tv itu kita harus bayar setiap bulannya.. Kalo ga salah 3 ribu rupiah deh.. Pake kartu.. Kalo yang masih inget, hayo coba kenang.. Klo dah lupa, coba tanya orang tua, atau nenek dan kakek kalo masih inget juga..hahha..
Anggi Hafiz Al Hakam
intinya masih seputar rating, karena tidak langsung hal itu berpengaruh terhadap kelangsungan peradaban manusia disekelilingnya. imbasnya, adalah budaya instan, dehumanisasi, dan dekarakterisasi. memang tidak semua, untuk beberapa tujuan ada gunanya pula tergantung dari pemanfaatannya. tapi disadari atau tidak, we cant avoid it. untung ada kampanye TV turn off week campaign, tks tobucil.
Margaretha Nita Andrianti
Sangat mendidik! Pasti kaget! Hehehehe.... Sebenarnya saya sangat berterima kasih pada TV karena program-programnya yang aduhai menjerumuskan, dapat membuat saya semakin brpikir kritis. Saya kira berpikir kritis itu hadir karena adanya tayangan yang aduhai menjerumuskan, sedangkan tayangan yang aduhai membangun fungsinya untuk menginspirasi. Dua- duanya penting, kan? :D

Hida Ngirhanto
Setuju dengan MNA, tergantung cara pandang, siapa yang ada di sebelah kita dan memaknai tayangannya... yang perlu dipertebal wawasan dan iman penontonnya saja....
Ima Ditya Dewi
kl menuru0ah mah g smua tyangan tv lokal kita g bermutu smua kok..contohny kl tayangan pagi n siangny penuh dgn tontonan anak2 yg brmutu...
Lina Herlina
sedih...karena aku pgn py saluran tv d negeri ini yang full fokus bikin acara wat anak2 sama satu lagi saluran yang membahas tentang kreatifitas bisa apa aja....aku yakin kita bangsa indonesia bisa dan py sdm nya...tapi kapan ya...semua itu terwujud? 
Hanif Ikhwanto
entah kenapa setelah sekian lama saya tidak menonton siaran tv lokal, dan baru2 ini saya mulai mencoba menonton lagi..hasilnya saya bingung..di drama sinetron saya tidak tau apa yg mereka lakukan di layar tv, acara komedi saya tidak tau apa yg lucu, siaran infotainment menceritakan ttg orang2 yg tidak saya kenal, iklan2 produk yg berulang2 dan tidak menarik membuat saya pusing. Saya merasa siaran tv itu bukan sesuatu yg tepat buat saya..rasanya asing. Padahal saya tidak kemana2 masih di Indonesia saja. 
Inayah Gotoh
B'yk acr yg t'lalu dbuat2 n hiperbola.. jd'y g enak ddnger n dliat, tp mau g mau media interaktif yg paling efektif bt ngbius masyarakat y..televisi.. Skrng sh tinggal pinter2 kt aj bt m'filter mana yg pantas dtonton ato ngga..
Anna Sutanto
Sangking takjubnya pada TV lokal, saya sampai memilih untuk tidak punya TV di rumah. Untuk hiburan lebih baik baca buku, masak, nyabutin rumput, dan internetan :p
Deasy Suryani Purba
smua gk mutu
Nadia Octavialni Ali
ada yang bermutu seperti jalan sesama dan laptop si unyil, hehe.... yang bikin tidak efektif dan efisien adalah banyak iklan yang bikin para pemirsa (seperti saya) jadi konsumtif luar binasa....
Rahma Dina
sy cuma sering nontonnya berita,acara kuliner, traveler indonesia, dan acara2 yang mendidik positif de, yang itu hanya ada dibeberapa statiun tv doang , sisanya statiun tv yang isinya sinetron..sinetron..sinetron..enyahkan sinetron!!!! 
Natalia Christa
terlalu banyak sinetron ga jelas yg inti ceritany sebenrny sama aja (cinderella story - cewe miskin ketemu cowo kaya jatuh cinta, merit, ditentang ortu, ada antagonist yg mau misahin dsb...)

drama reality yang juga sama ga jelasnya. Buat apa eksploitasi cerita ttg kehidupan orang lain (plus acara gitu jg partly fiktif karena diperanin sm aktor/aktris)... mending buat acara edukatif buat anak-anak (kaya jaman g masih kecil dulu ada ka ria sm susan, si komo, dll dll)...

Sekarang perasaan juga udah ga ada lagi acara musik buat anak-anak (atau malah ga ada lagi musik khusus buat anak-anak ya)

Yang bagus cuma beritanya aja, hehe..
plus tayangan edukatif yg sedikit sekali di beberapa stasiun TV...

Kalau talk show2 gitu, kayany juga masih kurang maksimal.
( paling Kick andy yang bagus :P )
Kalo mau buat talk show mending total sekalian kaya oprah winfrey gitu...Ga melulu ngundang artis yang bikin acaranya cuma jadi monoton dan jadi kaya sitkom. Toh kalo ngundang artis yg diomongin sm aj dengan yang ditayangin infotainment. Jadi double2 deh acaranya..hehehe

Maaf kalau terlalu jujur :P
Semoga tidak ada pihak yg tersinggung...

Panpinpun Serartbutan
terlalu banyak progrm yang diyangankan ber bau hendonisme.
mungkin program creative lainnya tidak dikembangkan
Muhammad Meisa
panggung sandiwara, sampai gayus,susno,jennifer dunn,julia peres seolah nyata. televisi hanya secondhand reality. jadi saya yang nontonnya juga secondhand product 
Henny Fitriana Haryani
Paarah!!! smua isinya sinetron yang ga jelas dan pastinya ga ngedidik.....
Che Setya
acara tv sekarang banyak yg ga bermutu.gw paling nonton tv cuma berita,film layar lebar,sama olahraga dan musik,musik pun pilih2........oiya sama playboy kabel dan bukan 4 mata.:)
Ruru Shop
bagus, kita punya televisi, bisa lihat banyak hal dari dalam rumah.
Noura Asiah
bahaya buat anak-anak yang menonton tv tanpa didampingi ortunya, karena hampir semua stasiun tv lebih banyak memiliki tayangan untuk dewasa ketimbang utk anak-anak yang justru ditayangkan pada jam-jam utama
Ahsan Andrian
menyedihkan. 230 juta penduduk indonesia dengan kebhinekaannya, tetapi hanya menawarkan sedikit sekali pilihan, selain untuk mematikannya.

Utari Dewi Narwanti
tivi itu bagai dua sisi mata uang. manfaat dan ruginya untuk penontonnya hanya berjarak sekian mili, sangat dekatttt! jadi, pilih acara menarik ato matikan tivi! sampai dengan awal januari tahun ini, aku suka gemess dengan banyak acara dan tayangan berita di banyak stasiun tivi, kecuali kick andy, oprah w show, MTGW, nanny 911, seri avatar, dan film lain yang menurutku menarik. sekarang, di rumah ini, gak ada tivi! anak-anak bisa nonton hiburan cd film via laptop, dan kalo kami butuh berita lewat internet aja, apalagi suangat memungkinkan untuk komunikasi dua arah. juga bisa dengan koran, buku, majalah, ato radio..... ternyata, nyaman banget loh! itu seperti detoks! kami bisa mbaca, ngliat, dan cari tau yang kami mau dari media lain, selain tivi!
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin