Monday, May 24, 2010

Perhentian


Dalam perjalanan apa-apa, perlu ada momen untuk berhenti. Untuk menandai akhir sekaligus awal. Maksudnya, orang tidak bisa selamanya bekerja, beraktivitas, dan melarutkan dirinya bersama denyut semesta. Ada saatnya mereka keluar sejenak dari keseharian, dan justru melihat keseharian itu berjalan tanpa dirinya. Orang bisa kapan saja membuat perhentian, dan dalam bentuk apapun. Bisa dengan liburan, menyepi, atau malah merayakannya. Pokoknya dalam perhentian, boleh dibilang tidak ada yang wajib, semua suka-suka. Semua menjadi manusia dalam eksistensinya.

Pada 29-30 Mei ini, Tobucil akan merayakan perhentiannya, Crafty Days namanya. Perhentian yang tiap tahun dilakukan. Agar semata-mata Tobucil menandai akhir dari suatu perjalanan, yang sekaligus juga merupakan awal dari perjalanan yang lain. Jangan lupa datang dan ramaikan, semoga ini juga bisa jadi momen perhentian kita-kita semua.

Bach Memberkati.

Google Twitter FaceBook

Ada Penjaga Baru Tobucil!

Ada penjaga baru di Tobucil, namanya Yoga. Setelah kami sempat buka lowongan kemarin-kemarin, eh dapatnya ngga jauh-jauh, masih saudara dari kru Tobucil juga :D Yoga jaga di akhir minggu dan mungkin di hari lain kalau-kalau saya atau Mbak Elin nanti ngga bisa hehehe. Yoga ini masih kuliah di LPKIA, angkatan 2008. Harusnya saya wawancara Yoga sih, tapi biarlah jadi terkesan misterius Yoga itu siapa :P

Sekian dulu tentang Yoga, di lain waktu saya akan wawancara dia hehe. Buat yang penasaran datang saja akhir minggu hehe.

Ngomong-ngomong akhir minggu, akhir minggu ini jangan lupa ya datang ke Crafty Days! :D

[Ipey]

Google Twitter FaceBook

Pengetahuan Musik Milik Semua


KlabKlassik kemarin ada usulan menarik: Bagaimana jika dijadikan tiap minggu saja pertemuannya? Melihat ke masa lalu sebentar, KlabKlassik ini awal mulanya nebeng KlabJazz. Dalam artian begini: KlabJazz berkumpul tiap hari minggu, dan jika dalam satu bulan ada minggu kelima, maka KlabKlassik lah yang akan mengisi. Intinya: KlabKlassik berkumpul sekali dalam sebulan, itupun tidak setiap bulan, hanya bulan yang terdapat minggu kelimanya saja. Lalu ketika Tobucil pindah ke Aceh 56, KlabKlassik tidak lagi terikat dengan pertemuan KlabJazz, dan kemudian bertemu jadi sebulan dua kali, yakni di minggu ke-2 dan minggu ke-4.

Itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya Diecky, seorang aktivis merangkap komposer dan dosen, mengajukan ide, “Gimana kalau tiap minggu aja. Minggu ganjilnya, kita pakai untuk semacam kelas teori dan komposisi.” Hal tersebut disambut hangat oleh aktivis klab lainnya. Jadinya, Klab akan mendirikan semacam pelatihan singkat dimana Diecky yang jadi tutornya. Tentu saja ini menjadi ilmu yang sangat bermanfaat bagi klab, karena kurikulum yang ditawarkan oleh Diecky, adalah kurikulum yang 90% mirip dengan kuliah musik. Jadi apa tujuannya? “Agar pendidikan musik menjadi milik semua orang. Bukan cuma milik orang-orang yang bisa membayar untuk masuk sekolah musik ataupun kuliah musik,” tutur Diecky. Jadi nantikan pertemuan perdana Klab di minggu ganjil pertama bulan Juni, yakni tanggal 6 Juni. Kelas teori ini direncanakan akan berbayar, untuk kemudian ditukar dengan peralatan seperti kertas paranada, alat tulis, dan minuman. Berapa bayarnya? Masih Klab bicarakan, dan tenang saja, Insya Allah tidak akan mahal, semahal kuliah yang makin mahal.

Google Twitter FaceBook

Musik Sore Spesial Crafty Days: Ammy Alternative Strings

Dahulu sempat hadir beberapa kali edisi Musik Sore di Tobucil. Apakah gerangan? Yakni pagelaran musik dua bulan sekali, yang ditampilkan di beranda Tobucil. Akibat hujan dan berbagai hal non-teknis lainnya, Musik Sore urung hadir dalam beberapa bulan terakhir. Namun khusus Crafty Days Tobucil tahun ini, Musik Sore tampak bergairah untuk dihadirkan kembali. Yang menarik adalah biasanya penampil di Musik Sore jumlahnya tiga, sekarang ada empat. Empat itu siapa saja? Sebagai pembuka, ada KlabKlassik featuring Theoresia Rumthe, lalu berturut-turut ada Silentium, Inaccoustic, dan Ammy Alternative Strings.

` Kehadiran nama terakhir cukup membuat saya dan Tobucil juga kaget. Hal tersebut tidak terlepas dari reputasi Kang Ammy sebagai salah satu violinis yang cukup dikenal baik lokal maupun nasional. Sebagai informasi, Kang Ammy ini pernah tampil bersama Henri Lamirri di RCTI, lalu mengisi rekaman band-band seperti Mocca, SHE, Hijau Daun, KLA Project, hingga Ebiet G. Ade. Kang Ammy saat ini merupakan violinis dari band 4 Peniti. Lalu apakah sebenarnya yang dinamakan Ammy Alternative String itu?

Jadi begini, jika melihat permainan biola Kang Ammy, memang cukup unik dan menghibur. Barangkali jauh dari stereotip permainan biola yang selama ini kita lihat di musik-musik klasik. Kang Ammy bisa bergaya country, jazz, hingga pop sunda sekaligus. Meskipun dia selalu bilang, “Saya tidak berbicara soal genre musik, tapi musik itu sendiri.” Inilah yang kemudian dinamakan Alternative Strings, yakni gaya permainan biola yang dikembangkan untuk melampaui batasan-batasan musik klasik. Kurikulum tersebut ternyata sudah baku di Barat sana, yang kemudian oleh Kang Ammy dibawa kemari dan diajarkan pada murid-muridnya. Jadi, Insya Allah Tobucil nantinya akan semakin hangat, sejak jam 15.00 di hari Minggu 30 Mei, karena Kang Ammy akan membawa serta murid-muridnya untuk tampil dan diapresiasi. Kang Ammy bisa saja berprofesi sebagai pemain gitar yang mengiringi murid-muridnya beratraksi dengan biola, atau Kang Ammy bisa juga bertindak sebagai pemain biola yang mampu memperkaya warna permainan murid-muridnya. Jangan lupa, Minggu 30 Mei, mulai jam 15.00.


 Aksi Ammy Alternative String di CCF Bandung, 23 Desember 2010
Paling kiri: Kang Ammy
Google Twitter FaceBook

Jalan-Jalan Ke Rancamanyar


Minggu, 23 Mei 2010, salah satu penjaga Tobucil berulangtahun. Namanya Mulyana atau biasa dipanggil Mul. Hari itu Mul tepat berusia dua puluh sekian hehe. Mul mengajak kru Tobucil untuk datang ke Rancamanyar. Dari namanya saja Rancamanyar saya langsung bertanya-tanya dimanakah tempat tersebut? Hehe. Di sana ada tempat makan milik keluarga Mul, sebenarnya tempatnya belum jadi total, jadi belum buka untuk umum.

Dan ternyata benar, Rancamanyar itu jauh, terusannya Cibaduyut :D Jalan menuju kesananya jelek (memang sih hampir semua jalan di Bandung sekarang jelek). Tapi begitu sampai di sana ternyata enak juga suasananya. Tempat makannya ada di tengah sawah, dan kami makan di saung-saung. Kalau kata Mbak Tarlen kemarin sih, "Jalan menuju surga itu susah". Maksudnya, jalan susah menuju tempat makannya Mul memang susah (panas, jalan jelek, sempat macet juga), tapi begitu sampai ternyata serasa di surga. Hahahaha.

Mul dan keluarga, makasih ya makan-makannya. Mul, selamat ulang tahun ya! :)

[Ipey]
Google Twitter FaceBook

Do The Greenvolution: Mengenal Species Langka Indonesia part 2

Owa Jawa (Hylobates moloch)
Beberapa suara mendefinisikan dan mewakili ekosistemnya. Auman singa dan terompet gajah menjadi penanda ekosistem savana Afrika. Nyanyian kera dan monyet menjadi suara hutan di Brazil. Maka, seharusnya hutan di negara kita juga mampu "bersuara".

Jawa di masa lampau tak kalah dengan hutan Amazon. "Suara" hutan diwakili oleh lengkingan keras primata, owa Jawa (Hylobates moloch). Owa Jawa merupakan satu dari bagian keluarga Gibbon yang ada di Indonesia, dan mempunyai bulu berwarna biru keperakan.

Lengkingan itu merupakan penanda teritorial. Owa adalah makhluk sosial, seperti halnya rata-rata keluarga primata, yang mempunyai teritori khusus. Bila ada yang menerobos, maka owa akan mengeluarkan suara lengkingan untuk mengusir si pengganggu. Jadi bisa kita bayangkan betapa bisingnya hutan-hutan di Jawa pada masa lampau. Seperti gambaran atmosfer hutan-hutan liar yang ada di film, meriah dengan suara-suara alam.

Sayangnya, itu hanya bisa dibayangkan dalam lamunan nostalgik. Untuk membayangkan hutan di Jawa sekalipun sudah susah. Rapatnya permukiman manusia, atau lahan pertanian dan ladang yang meluas membuat habitat owa Jawa makin terdesak. Itu adalah ancaman paling nyata bagi binatang yang sensitif terhadap teritori mereka. Owa tidak dapat dipaksa hidup dalam habitat yang menyempit. Maka, resikonya adalah berkurangnya populasi owa di pulau Jawa secara drastis. Keberadaan mereka tinggal di hutan-hutan lindung yang berada di pucuk pegunungan. Itu juga masih menghadapi bahaya besar kedua, yakni seringnya binatang ini ditangkap untuk dijadikan peliharaan.

Owa adalah binatang liar yang memberi warna terhadap habitatnya, sebagai salah satu suara alam yang dominan. Teriakan owa kini hampir tidak akan terdengar lagi di alam liar Jawa, menyusul jumlah yang makin menyusut serta ketakutan ekstrim mereka terhadap manusia. Hutan di Jawa kini seperti hutan bisu. Tak punya suara dan kuasa.


 Kantung semar papua (Nephentes paniculata)

El Pirata Cofresi, si Bajak Laut asal Puerto Rico di era 1800-an, mencekoki awak kapalnya dengan campuran rum keras, santan kelapa, dan sari nanas sebelum terjun kedalam pertempuran. Pina Colada, koktail nikmat yang mengirim mereka semua dalam kematian yang manis...

Di belahan dunia lain, dalam dekapan hutan hujan tropis Papua yang lembab, di ketinggian 1.400-an m dpl, hiduplah Nepenthes paniculata, si Kantung semar Papua. Pina Colada dalam bentuk tanaman merambat raksasa dengan panjang batang hingga 20 m. Tanaman karnivora yang memangsa serangga hingga anak kodok, setelah sebelumnya menjerat mereka dengan wangi getah dan warna bibir kantung yang menggairahkan.

Namun semua pesona itu tak banyak gunanya bagi kelangsungan hidup si Kantung. Perluasan area tambang dan perkebunan di Papua yang seolah tidak berujung, dengan cepat melempar mereka ke peringkat Endangered dalam The IUCN Red List of Threatened Species, tiga langkah dari pinggir jurang kepunahan.

Maka, selain koteka, patung dan tarian Asmat, serta keserakahan Freeport yang tak tertanggungkan, tambahkanlah si Kantung semar ketika kita mengingat Papua. Bayangkanlah betapa ia bersusah payah memerangkap mangsanya dengan segala pesona, sementara puluhan ton roda truk perkebunan dan pertambangan berderap mendekat dengan cepat. Segera menggilas dan mengirimnya ke kematian yang sama sekali tidak manis.

Beberapa minggu ke depan, rubrik literasi berisi sepuluh hewan dan tanamanan langka Indonesia yang terancam punah. Kampanye ini di gagas oleh para penggemar Pearl Jam di Indonesia yang tergabung dalam Pearl Jam Indonesia.  http://pearljamindonesia.blogspot.com/
Google Twitter FaceBook

Buku: Tionghoa di Batavia dan Huru Hara 1970

Harga penerbit: Rp 42000
Harga Tobucil: Rp 29500

Penerbit: Komunitas Bambu

Salahsatu karya klasik tentang Batavia, khususnya mengenai peristiwa pembunuhan besar-besaran orang Tionghoa pada 1740. Diangkat dari disertasi Johannes Theodorus Vermeulen, seorang landsarchivaris atau arsiparis di Arsip Negara Batavia. Karyanya menjadi rujukan utama setiap orang yang ingin mendapatkan kajian akademis terlengkap dan panjang lebar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai tragedi warga Tionghoa itu. Vermeulen dianggap berhasil menggambarkan tragedi itu bukan sekadar peristiwanya, tetapi juga penyebab, jalan peristiwa, orang-orang dan lembaga-lembaga yang terlibat, kondisi psikologis zaman, dampak dan lain sebagainya. Deskripsinya menunjukkan bahwa peristiwa itu memang layak tercatat sebagai lembaran hitam dalam sejarah orang Tionghoa di Indonesia.
Google Twitter FaceBook

Crafty Days #4, Play Your Magic Fingers, 29-30 Mei 2010

 

CRAFT FAIR:
felt toys, handmade notebook, aneka rajutan, plushie keychain, handmade stationaries, cussion, vintage stuff, selai buatan rumah dan barang-barang handmade lain  yang hanya dapat kamu temukan di sini.

SALE BENANG RAJUT UP TO 70%

dapatkan pula benang rajut koleksi terbaru  (katalog bulan juni 2010)
tak ketinggalan bonus benang gratisan  (siapa cepat dia dapat) 

pingkan anita
the rozali
naini design
breien & hakken
mikisi curiousities etc.
deviza handicraft
ndandut shop
pyur! handmadebyarum
papayamango
kinjeng things
amithevintagist
noname
Oma anna
dreamesh
Goodness
design by vitarlenology
tobucil's handmade corner
didukung pula oleh 
Rumah Makan Legoh


WORKSHOP & PERTUNJUKKAN GRATIS

Sabtu, 29 Mei 2010,
pk. 10.00-11.30 Membuat boneka jari
Pk.13.00-14.30 Merajut (knitting)
Pk.15.00 Atraksi permainan Yo-Yo
bersama Oke Rosgana, Yo-yo Man Indonesia


MINGGU, 30 Mei 2010

Pk. 10.00 -11.30 Membuat Panggung boneka
Pk. 13.00 - 14.30 Merenda (crochet) & yubiami (fingger Knitting)
Pk. 15.00 Musik Sore spesial
Penampil:
Ami Alternative strings
Klab Klassik featuring theo
Silentium

INFORMASI DAN KETERANGAN
LEBIH LANJUT:  TOBUCIL & KLABS

Jl. Aceh No. 56 Bandung  telp/fax. 022 4261548
e. tobucil@yahoo.com   blog. www.tobucil.blogspot.com
www.tobucilhandmade.blogspot.com  fb. tobucil n klabs
Google Twitter FaceBook

Monday, May 17, 2010

Label



Biasanya, kegiatan memberi 'label' terjadi ketika ada barang baru masuk ke tobucil. Staf tobucil akan menempelkan label harga dan nama pemasok barang itu untuk memudahkan pencatatan administrasi dan laporan penjualan. Hal yang justru sulit di labeli adalah tobucil itu sendiri. Sampai sembilan tahun lebih, saya masih kebingungan 'melabeli' tobucil ketika orang meminta penjelasan: apa itu tobucil?

Banyak orang melabeli tobucil sebagai toko buku alternatif, komunitas, tempat kursus, toko benang rajut. Ternyata banyak label yang diterakan pada tobucil.  Di kartu pos yang saya buat sebagai promosi tobucil, saya mencoba menjelaskan tobucil dengan kalimat seperti ini:
'Sejak awal berdirinya, 2 Mei 2001, tobucil memiliki komitmen mendukung gerakan literasi di tingkat lokal melalui kegiatan-kegiatan klab yang berbasis pada aktivitas serhai-hari. Melalui kegiatan membaca, menulis, apresiasi dan pengembangan hobi. Literasi bagi tobucil bukan sekedar kegiatan membaca dan menulis, namun termasuk kemampuan membaca lingkungan sekitar secara kritis juga keberanian untuk memahami diri sendiri seabgai individu yang mandiri serta memiliki potensi untuk berkembang dan berkontribusi pada perubahan.' 
Penjelasan yang sangat abstrak dan multi tafsir.

Memasuki usianya yang kesepuluh, saya memikirkan kembali label-label itu. Apakah perlu sebuah label yang seragam yang mungkin menjadi tafsir tunggal tentang apa itu tobucil? atau tetap membiarkan tobucil menjadi ruang yang multi tafsir? Sejujurnya saya lebih memilih yang terakhir. Biarkan tobucil menjadi tempat yang multi tafsir, jika orang bingung mencari label untuk menemukan apa itu tobucil, maka kebingungan itu menjadi harapan saya supaya setiap orang memberi makna baru pada tobucil.

Jadi tobucil itu apa?  pertanyaan ini sama rumitnya dengan menjawab pertanyaan: apa itu hidup.. :D

aceh 56
vitarlenology
Google Twitter FaceBook

Kelas Scrap Booking di Sabtu Pagi



Ada yang berbeda di sabtu pagi, pk. 10.00 - 12.00, para pencinta Scrap Booking berkumpul bersama di Tobucil dan berkegiatan bersama, membuat foto album, art journaling, seru deh. Buat kamu yang berminat ikutan bisa mendaftarkan diri di Tobucil 022 4261548 atau lihat informasinya di pengumuman.


Google Twitter FaceBook

Persiapan Crafty Days


Sebentar lagi Crafty Days, kru Tobucil mulai menyicil pekerjaan sedikit demi sedikit. Dari menyelesaikan pekerjaan secepatnya agar tidak terganggu oleh 'Crafty Days' seperti stok opname, sampai persiapan untuk hari H sendiri seperti membuat ekstra kantong gehu, membuat produk untuk dijual, membuat hiasan, sampai mencari pekerja tambahan.

Menambah pekerja dilakukan karena pada saat Crafty Days memang dibutuhkan lebih dari satu orang untuk jaga toko, karena memang pengunjung yang datang juga biasanya berlipat-lipat dari hari biasa :D

Crafty Days merupakan acara yang penting buat Tobucil. Ini acara tahunan Tobucil untuk semua yang cinta craft, bahkan yang asalnya tidak suka pun bisa jadi suka ketika datang ke acara ini hehe.

Jangan lupa ya datang ke Crafty Days di Tobucil tanggal 29-30 Mei! :)
Google Twitter FaceBook

Menantikan Pesta Filsuf Jilid Dua


Bagaimana gerangan jika para filsuf menggelar pesta? Bisa saja pesta hura-hura sebenarnya, yang umum terjadi dalam pesta pada umumnya. Tapi pesta para filsuf pastilah melibatkan tukar pikiran, ide, dan filosofi, meski dalam keadaan mabuk sekalipun. Demikian pesta filsuf akan kembali digelar untuk kedua kalinya oleh Madrasah Falsafah sebagai bentuk dari perayaan ulangtahun Madfal. Meski barangkali tidak menyertakan acara mabuk ala Dyonisus dalam acara, tapi pesta filsuf nanti diperkirakan akan merayakan tukar ide dan pikiran dalam suasana yang lebih meriah ketimbang hari Rabu biasanya. Jika pesta filsuf jilid pertama menghadirkan narasumber dan peserta diskusi, maka jilid kedua ini akan lebih partisipatif dengan format diskusi panel. Artinya, akan ada delapan atau sembilan pemasalah yang menuliskan semacam makalah untuk kemudian dipresentasikan. Soal apa gerangan? Dalam “rapat” Madfal Rabu kemarin, akhirnya diputuskan bahwa tema besar pesta filsuf adalah Etika di Media.

Tadinya sudah ada sembilan pemakalah yang disiapkan dari mereka-mereka yang militan di Madfal. Tapi akhirnya diputuskan bahwa kesembilan pemakalah akan dilemparkan ke publik, dan mereka-mereka yang merupakan penggiat Madfal, mesti memberi jalan pada khalayak jika tulisan khalayak itu lebih layak untuk ditampilkan. Acara yang diputuskan jatuh pada tanggal 18 Juli tersebut, juga akan diperkuat oleh dua komentator yang berasal dari orang-orang yang bisa dibilang lebih ahli di bidang etika ataupun di media. Siapa dua komentator itu, belum diputuskan. Yang pasti saya membayangkan bahwa pesta filsuf nantinya akan lebih hidup. Dimulai pukul sepuluh, diakhiri pukul tiga, diselingi makan-makan dan sajian musik jazz serta klasik. Tidakkah terdengar sangat Amor Fati?


Google Twitter FaceBook

Mengapresiasi Venus bersama Langit Selatan


Sore itu ada yang beda di Tobucil. Bukan karena hujan, tapi karena para astronomer dari komunitas Langit Selatan berkumpul disana. Saya memang sengaja kesana untuk meliputnya, karena katanya komunitas tersebut akan sama-sama menyaksikan gerhana Venus. Namun dalam istilah astronomi, tepatnya bukan gerhana namanya, tapi okultasi. Okultasi Venus terhadap bulan, yang berarti Venus melintas di belakang bulan. Dalam diskusi ini juga sekaligus meralat berita yang tersebar, bahwa okultasi Venus terjadi sangat jarang, nyaris 50 tahun sekali, maka itu jadi momen yang jangan sampai terlewatkan. Ferry Simatupang, yang sepertinya dedengkot komunitas tersebut, memberitahukan bahwa okultasi ini tak seberapa jarang, bahkan tahun ini bisa terjadi tiga kali, yakni Mei, September, dan November. Hanya saja memang, yang bisa diamati dari Indonesia hanyalah yang bulan Mei ini. Tapi sebenarnya, masih kata Ferry, sepanjang abad ke-21 ini, terjadi total 37 okultasi Venus terhadap bulan.

Saya terkagum-kagum salah satunya oleh program yang mereka gunakan untuk mensimulasikan peristiwa-peristiwa langit. Program yang ketahuan bernama Stellarium itu, bisa merumuskan kapan kira-kira benda langit A berada pada tanggal sekian, tahun sekian, hingga jam sekian, ditengok dari kota mana di belahan manapun di dunia. Menggunakan medium infokus, semakin sedap dipandang saja itu program Stellarium. Yang cukup disayangkan, karena cuaca yang hujan membuat mereka urung untuk melihat kejadian okultasi Venus itu. Pengamatan menjadi sulit karena langit mendung, dan kata Ferry, mereka mesti melihat dari lapang agak terbuka, dan sulit pergi kemana-mana karena hujan. Waktu kala itu sudah menunjukkan pukul 18.30 kala komunitas Langit Selatan memilih untuk makan-makan alih-alih memaksakan diri melihat langit. Padahal momen disappearance berlangsung jam 18.50, puncak jam 19.10, dan re-appearance jam 19.28 siap menanti di langit sana. Meski demikian, mereka tak kecewa, bahkan mereka sempat menjawab pertanyaan saya soal filosofi astronomer. Pertama, bagi mereka yang rajin memotret, mendapatkan momen sekejap dari kejadian langit adalah sangat berharga. Karena bisa saja mereka menantikan momen itu bertahun-tahun lamanya. Lalu menurut Sungging Mumpuni, salah satu penggiat Langit Selatan, berbagai pengamatan ini juga adalah bentuk manusia dalam mengapresiasi semesta. Menyadarkan bahwa kita ini adalah bagian dari kosmos mahabesar. Maka itu manusia itu kecil. Maka itu manusia itu jangan sombong. Tak ada apa-apa nya lah kita di jalinan tata surya ini. Demikian setelah berfilosofi mereka lanjut makan-makan dan bercandatawa antar sesama anggota komunitas yang terlihat sudah sangat kekeluargaan tersebut, seolah-olah mau menunjukkan sedikit keberartiannya dalam semesta ini.

Google Twitter FaceBook

Meliarkan Imajinasi bersama Klab Nulis



Sekira ba’da maghrib, saya tiba di Tobucil. Hari itu hujan rintik, dan terlihat Klab Nulis sedang berkumpul di pertemuan perdananya di angkatan tujuh. Terlihat mentor Sophan Ajie sedang berbicara di hadapan empat peserta yang diketahui bernama Mba Fety, Yunita, Echa, dan Willy. Pertama saya hadir, mereka berempat sedang asyik menulis, sebelum kemudian dibacakan satu persatu. Apa gerangan yang mereka tuliskan? Yakni sebuah tulisan ringkas yang di dapatnya mesti ada kata danau, Miyabi, Brad Pitt, serta oli. Tidak nyambung kan? Memang disitu tantangannya, dan hasilnya cukup menarik serta variatif.

Mba Fety menyuguhkan tulisan tentang imajinasi liar, tapi kemudian dibuyarkan dengan tuturan bahwa si aku dalam cerita itu didapati hanya bermimpi. Sophan mengomentari itu sebagai khas Mba Fety: akhir yang mengejutkan. Sedangkan Yunita dengan jenaka bercerita tentang sebuah keadaan yang serba “biasa-biasa”. Maksudnya, ia bertutur seting dimana ada desa yang biasa-biasa saja, danau biasa-biasa saja, serta orang biasa-biasa saja. Yang lucu, di desa itu ada guru bernama Sharon Stone dan kakek tua bernama Brad Pitt. Kontan para peserta tergelak mendengarnya, lantas Sophan berkomentar bahwa Yunita sangat pandai berparodi. Meski demikian, dalam sebuah tulisan, tetap mesti ada unsur informatifnya. Maka istilah “biasa-biasa” yang banyak dituliskan oleh Yunita dianggap kurang dipahami oleh pembaca. Dua terakhir dibacakan milik Echa dan milik Willy. Yang pertama bercerita tentang lamunan di danau membayangkan Miyabi, dan yang kedua dikaitkan dengan sebuah agama xxx. Sophan lalu memberi masukan yang mirip pada keduanya. Yakni kurang membebaskan imajinasinya. Penulis mesti merdeka, penulis mesta mengekspresikan yang dia mau secara bebas. Maka itu, jangan menggunakan istilah “agama xxx” menurut Sophan. Blak-blakan saja soal agama apa itu, dan mesti berani. Sedangkan untuk Echa, penggunaan metafor akan lebih meliarkan imajinasi seseorang. Misalnya untuk mengingat sensualitas Miyabi, bisa saja digunakan kalimat, “Miyabi bernafas setengah-setangah”, untuk membuat pembaca lebih membayang-bayangkan, daripada misalnya, “Miyabi membelai dengan lembut.”

Demikian Klab Nulis hari itu berlanjut pada diskusi ringan yang hangat tentang idealisme penulis. Sophan Aji yang berpengalaman dengan santainya berbagi dan membuat para peserta betah duduk berlama-lama hingga larut. Sophan Aji, tanpa bermaksud berlebihan, sungguh mengingatkan saya pada figur Mr. Keating di Dead Poets Society. Ia bisa memaksa muridnya untuk mengeluarkan imajinasinya yang terliar.

Google Twitter FaceBook

Do The Greenvolution: Mengenal Species Langka Indonesia part 1

Tarsius sangirensis: Madagaskar dikenal dunia karena mempunyai spesies primata unik dalam wujud lemur. Madagaskar adalah pulau yang terisolir sehingga mempunyai beberapa spesies unik (endemik) yang tak didapati di belahan bumi lain. Alfred Russel Wallace juga pernah mengindikasikan teritori mirip dengan Madagaskar, den...gan paradoksnya mengenai fauna zona peralihan, di region yang kini kita kenal dengan nama Sulawesi. Membentang dari selatan sampai ke Filipina. Seperti halnya Madagskar dengan lemurnya, zona peralihan tersebut juga mempunyai ikon primata dalam wujud tarsius. Ragam tarsius juga membentang dari selatan ke utara. Mereka tidak hidup di kontinen besar, namun hanya menghuni pulau-pulau kecil di sepanjang region ini. Tarsius Sulawesi adalah salah satu yang mempunyai kembangan spesies terbesar. Termasuk di antaranya berada di ujung utara negeri kita, tarsius Sangihe (Tarsius sangirensis).

Tarsius adalah primata yang mirip dengan hybrid monyet dan koala. Kepalanya berbentuk bulat, mata besar, dengan jari-jari yang panjang, mengingatkan kita pada ilustrasi alien. Mereka merambat di antara dahan pohon dengan cengkeraman jari tangan dan kakinya. Binatang nokturnal (aktif kala malam) pemakan serangga dan binatang kecil ini mempunyai dimensi badan kecil. Hanya berkisar antara 10-15 sentimeter, dengan panjang ekor mencapai 25 senti. Diet mereka membuat tarsius satu-satunya spesies primata yang karnivora.

Keberadaan tarsius, sayangnya, sangat kritis di alam liar. IUCN melabeli Tarsius secara umum dengan "Critically Endangered" yang hanya selangkah menuju punah di alam liar. Status satwa di zona khusus membuat mereka tak mampu beradaptasi hidup di habitat lain. Ancaman kepunahan ini tentu amat disayangkan mengingat keunikan tarsius potensial "dijual" sebagai primata khas negara kita, selain orangutan. Tak kalah dengan Madagaskar.

Teks: Hilman TaofaniDavro

 Chelonia mydas, si penyu hijau

Orang Bali gemar menari. Orang Papua pintar memahat patung bermotif hewan. Orang Jawa? Ada dimana-mana! Lalu apa kesamaan ketiganya? Chelonia mydas, Penyu hijau!

Yap! Di sepanjang garis pantai ketiga pulau itu, juga di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan, berenanglah dia, si Penyu hijau. Menghanyutkan cangkang lebarnya dalam “gyre”, lorong-lorong arus bawah permukaan rahasia yang menghubungkan seluruh samudera di dunia. Mengembara sepanjang hidupnya, mengarungi perairan tropis yang hangat dan penuh warna, hingga dingin dan kejamnya perairan sub-tropis yang kelabu.

Jika si Mydas hijau ini berkeliaran di seluruh dunia, kenapa kita mesti khawatir? Sederhana saja: karena dalam lima generasi terakhir, jumlah Penyu hijau betina yang bersarang di pantai berkurang sebanyak 67%! Bahkan kini mereka sudah resmi dinyatakan hilang dari perairan Israel.

Bagian paling menyedihkan dari kisah Penyu hijau adalah bahwa kitalah, manusia, yang menjadi ancaman utama mereka. Konsumsi telur penyu, yang digadang-gadang sebagai obat kuat, mendesak mereka ke jurang kepunahan.

The IUCN Red List of Threatened Species, dengan mempertimbangkan penurunan populasi yang sangat cepat, menempatkan si Hijau dalam kategori Endangered, tiga langkah sebelum kepunahan total.

Jadi ingatlah Mydas si hijau setiap kali kita menyantap telur mata sapi, telur orak-arik, atau telur dadar pada saat sarapan. Berjanjilah bahwa kita akan membiarkan penyu-penyu hijau kecil itu nyaman berenang dalam “gyre”, alih-alih dalam lautan asam lambung kita yang berbau busuk!

Teks: Eko Prabowo
Art: Davro

Beberapa minggu ke depan, rubrik literasi berisi sepuluh hewan langka Indonesia yang terancam punah. Kampanye ini di gagas oleh para penggemar Pearl Jam di Indonesia yang tergabung dalam Pearl Jam Indonesia.  http://pearljamindonesia.blogspot.com/
Google Twitter FaceBook

Sejarah Adalah Perjuangan Melawan Lupa, Apa Yang Kamu Ingat Tentang Tragedi Mei 98?

Nidandelion Pedestrian
hal yg ga akan pnh kulupain.sgala mcm pjarahan:harga diri,harta,hak sbg manusia..itu smua tjd d hari terakhir ebtanas gw.pusat belanja d dkt rumah abis dijarah dan dibakar,byk bgt korban..tiap mlm bapak2 se-RT gantian jaga malem.d rumah,kita ud siap2 barang2 pnting yg msti dibawa,seandainya ada apa2.kita tdr smbil melukin pentungan,tongkat, dsb,kalo-kalo...
dtambah lg sepupuku yg tinggal d rumah sgt mirip etnis tionghoa.bner2 mencekam..
Harri Safiari
Golkar yang saat itu sempat merajalela hingga dipagar rumah di pedesaan harus berwarna kuning, tiba-tiba jadi lain dan "santun", Ini gejala yang kuamati paling lucu selama hidupku ...
Anggi Hafiz Al Hakam
Mengerikan, selain perjuangan meruntuhkan orde baru, ada kisah sedih dari seorang teman yang ayahnya ikut jadi korban dari pihak Kepolisian. 
Che Setya
kebiadapan masyarakat yang tidak bisa bersabar.......atas ujian dari Allah.s.w.t dengan merampok toko.bank dan merusak infrastruktur negara dengan biadab.membuat perekonomian makin kacau.ya.....itu yang paling saya ingat.dimana mana terjadi anarkisme.subhanallah...
Gustar Mono
benarkah tragedi? sementara banyak yang mengambil keuntungan dari kejadian itu. 
Dhitta Puti Sarasvati
Waktu tragedi Mei, hari itu terakhir sekolah. Saya kelas 3 SMP. Saya tidak bisa pulang karena di sekitar sekolah saya ada kerusuhan. Jadi kami tidak boleh pulang ke rumah sebelum dijemput orang yang lebih dewasa. Kepala sekolah saya dan guru-guru saya menyiapkan makanan buat semua murid yang tertahan di sekolah juga teh hangat. Kami makan bersama sambil minum teh. Di luar sedang rusuh, tapi tidak di dalam sekolah. 
Utari Dewi Narwanti
tragedi mei 98 tidak hanya di jakarta, tapi juga di jogja, meski tidak setragis jakarta. jogja lebih aman. waktu itu di sekitar gejayan sempet rusuh. di sekitar gejayan ini, ada univ. negeri yogyakarta, univ. sanata dharma, dan univ. atmajaya yogyakarta. naah, ada satu korban meninggal yang kudengar waktu itu sebenernya tidak ikut demo and or keributan itu, tapi dia kena imbas kekerasannya... hingga meninggal itu. lalu publik mengabadikan dia sebagai 'pahlawan' dengan memakai namanya sebagai nama salah satu ruas jalan di mrican. kurasa pemakaian namanya untuk nama jalan itu tidak semata-mata karena dia 'pahlawan', tapi sebagai penanda telah terjadi tragedi tersebut.paska kejadian itu, ketika aku berangkat ke kampus, bekas bakarbakaran dan pecahan beling juga batu masih tersisa jejaknya di jalanan. 
Dydy Dyah
13 mei 98, saya ikut shalat ghaib di jalan ganesha, waktu ada kabar mahasiswa trisakti meninggal sehari sebelumnya. Lalu ikut demo ke Gasibu.

Afitz Almanfaluthi
wahh..masih smp kayaknya wktu itu. hehehe...
mengerikan dehh.... anarkis, penembakan, bahkan ada korban meninggal. semua jadi kalap. semoga tidak terulang lagi deh...
Ayoe Sri Rahayu Sangat bersejarah....
(Krn 3hr sblmnya sy plg ke Bdg utk btunangn di tgl.10 Mei '98. Senin balik ke Jkt utk ngantor lg.)
Tgl.12 yg menegangkan, kerusuhan dimana2, panik....
ternyata massa sdh sgt dekat dg lokasi kantor sy di Jl. Majapahit, Harmoni...mereka nyaris mendekati Istana Merdeka.
(Jaman itu blm bs curhat di fb, HP juga msh brg mewah...yg ada cm pager...hiks)
Malam harinya kyk perang, banyak suara tank baja lewat di sekitar tempat kos di Kebon Sirih...suara helikopter mendekat & menjauh menambah suasana tegang.
Di seluruh jl. Merdeka, baik Barat, Timur, Selatan, Utara yg mengelilingi Istana & Monas tiap jarak 100mtr ada 1-2 tank baja + bbrp tentara yg siaga berjaga, plus... gulungan kawat berduri yg memagari jalur lalulintas.
Suasananya menegangkan banget...apalagi menjelang tgl 20...pgn pulang ke Bdg tapi ga bisa...gambirnya tutup! 
Fahmi Arfiandi
hari2 yang menegangkan sekaligus menyenangkan...!!!
Margaretha Nita Andrianti
Waktu kejadian itu saya masih 8 tahun dan lagi demam tinggi. Yang saya tahu, supermarket di luar kompleks perumahan tempat saya tinggal habis dijarah dan dibakar, lalu bapak saya masih berada jauh dari rumah. Yang pasti di mata anak kecil, hal itu menakutkan sekali. Tapi itu pula saat di mana saya pertama kali baca komik Benny n Mice yang Profesi. .Dan setelah baca saya mlihat mahasiswa sudah bertngger di sayap gedung MPR.
Tragedi Mei 98 bukan hanya sekadar pembukaan pintu gerbang reformasi, tetapi satu hari di mana emosi manusia dikerahkan untuk menghabisi manusia yang lain, tanpa alasan jelas. 
Noura Asiah
gerbang sekolah ditutup karena keadaan di luar tidak kondusif, baru bisa pulang sekitar magrib dan harus jalan kaki karena ga ada bis yang berani lewat, suasana mencekam, banyak mobil dibakar dan toko-toko dijarah
Muhammad Meisa
saya masih sekolah dasar ketika tragedi mei pecah. satu yang masih kuat teringat dari dampak tragedi tersebut. ibu bilang sambil menutup pintu" jangan keluar rumah". baru-baru ini saya sadar dan bertanya pada ibu kenapa ketika itu saya tidak boleh keluar. ibu menjawab "mata kamu agar sipit kaya cina".
menyeramkan sekali konflik politik yang menyerang pula rasisme.

TRAGEDI TRISAKTI!!!
yang menewaskan beberapa mahasiswa yang akhirnya disebut dengan "PAHLAWAN REFORMASI " :) 
sebuah kekacauan yang terencana... :( 
gerobak dorong soeharto yang berisi hantu rasialis dan binatang-binatang buas lainnya. 
Pastinya saat itu seluruh anggota TRIAD diperintahkan Godfather TW untuk keluar dari Jakarta karena kerusuhan ini memang sudah direncanakan. 
Ingat banget,karna waktu itu aku masih SMA,sampe mw sekolah itu jalan kaki bareng sm teman2ku.G nyangka dijalan ditawarin naik mobilnya Ali Zainal,itu loh pemain sinetron dan presenter.
Rasanya takut banget waktu itu karna kerusuhan dan demo terjadi dimana mana.Penjarahanlah yg menakutkan aku,karna aku melihat orang2 yg kalap mengamuk,merusak dan merampas hak yg bukan punya mereka.

Aku melihat masa itu membawa perubahan dimana mana,berubah 180 derajat.Pokoknya takut buat keluar rumah..karena jarang ada angkutan umum.Setiap hari beritanya g jauh dari demo n tragedi2 yg memilukan hatiku.Ngga mau lagi deh mengalami itu lagi..Yang positifnya sejak masa itu rakyat jadi ngga takut lagi demo2.Apapun yg dirasa perlu didemo-in..demo aja.. 
gas air mata, tameng fiber glass, polisi baju robo cop, kerusuhan sentimen etnis, prabowo, mahasiswa tertembak, tragedi yang tak pernah terungkap. 
Mengerikan, satu yang masih tersisa selain perjuangan meruntuhkan orde baru adalah kisah sedih dari seorang teman yang ayahnya ikut jadi korban dari pihak Kepolisian. 
mm waktu itu masi SD dan di Palembang, dan tetangga2 yg chinese pada minjem sejadah buat dipajang di dpan rumah, trus toko yg jaraknya sekitar 6rumah karna yg punya Chinese dilemparin batu dan dibakar stengahnya..ah rusuh pokonya, trus d tv liat org2 naek2in gedung MPR, waktu itu si mikirnya *ini ngapain sih..ga rubuh apa tu gedung?* hahaa. 
saya malah mengabadikannya dalam puisi 
ingi melupakan saja 
mei 98 dalam ingatan saya ...
saya baru saja melepas status putih abu abu yg tiap harinya mabuk dan tawuran seperti lazimnya anak anak sma dekade 90an ... kemudian saya mendaftar di sebuah kampus teknik ternama di kota malang yang ternyata gedung kampusnya penuh dengan bekas tembakan dari panser panser aparat saat demonstrasi ... bahkan saat ospek, yang diajarkan adalah cara demonstrasi dan melawan aparat yang bersenjata lengkap plus kendaraan lapis baja ... kemudian beberapa kawan pertama saya saat itu dari berbagai suku mulai dari batak, manado hingga cina yang kesemuanya pada kecanduan paham paham sosialis dan anarkis ... oohhhh gosh ... 98 is really a rough year 
sungguh mencekam...putaran politik yg dulunya otoriter menjadi terjungkal dengan tumbal korban2 para orang2 kritis...tp keadaan itu sampai sekrng masih terjadi dengan yopeng yg berbeda..ekonomi masih morat-marit,korupsi makin merajlela,hukum pn terbeli...uihh..negeri yg payah,yg harus di push oleh amukan massa,baru bergandengan tangn.. 
lagu darah juang, waktu itu aku pas masih sma dan pertama kalinya diajarin lagu darah juang ma aktivis mahasiswa sastra undip untuk mengenang korban di jakarta 
kejahatan kemanusiaan oleh aparat bersenjata dengan tirani kekuasaan pemimpinnya, chaos yg seperti dikondisikan, penjarahan dan berbagai berita mengenaskan lainnya, oh semoga akan ada jalan terang bari para korban Tragedi 98, Amin 
mei '98...kisruh, rusuh, kematian.... 
aku d bandung ... "meski gak separah jakarta ... tp bandung kerasa skali "protes2" thdp kejadian yg ada ...

kampus ku dliburkan dan aku dlarang kluar oleh kluarga yg khawatir aku yg jauh dr kluarga knapa ..

yg msh ku ingat ...
aku nekat keluar ... angkot yg ku naiki posisi nya di depan bis kuning UNPAD ... yg penuh mahasiswa demo ... di depan kantor Telkom Bdg

tak lama ... kluar suara tembakan tepat d belakang angkot yg aku naik ....

besok2 nya aku msh ingat jg ... hadir di orasi penuh sentilan oleh Alm, Kang Harry Roesli dan bbrp anggota Padhyangan Project di depan Gedung Sate ....

Setelah itu yang aku tau, kekcauan di Jkt, penuh jarahan? bakar2n
dan sempat ku baca buku2 n slebran2 yg aku sndri sulit percaya,
bahwa etnis tertentu dperlakukan kejam ...

yg ku tau juga .. di daerah asal ku Tanjungpinang, yg mana etnis China yg udah jadi bagian dari bangsa kita, yg udah ikut berperan di pembangunan Indonesia jg ketakutan...

dan bbrp bangunan di luar kota Tanjungpinang sengaja di bangun utk menampung eksodus etnis China dr Jkt-Jawa dsktr nya

yang masih aku ingat lagi, saat tahun lalu menjadi kandidat pertukaran pemuda int'l ... jawaban ku dipakai sbgai jawaban yg netral ktika mentor sesi nasionalisme, bertanya ...."apa yg akan kalian jawab jika particpants dari negara lain bertanya ... ttg kejadian Mei 98 di Indonesia"

ku jawab "Saya ada di bandung saat itu dan saya yakin, apa yg anda dengar ttg tekanan pada etnis tertentu di Inonesia, saya tidak yakin itu benar secara sporadis dilakukan oleh kelompok org tertentu. Hanya pbicaraan yg tdk bs dbuktikan"

Inti nya, kenapa kita masih saja mempertajam perbedaan yg sudah ada di Indonesia yg beragam ini?
antar agama
antar etnis
antar kepentingan
antar daerah ?
????
padahal tanpa semuanya,
atau hilang saja 1 unsur dari kita,
kita bukan lah lagi
Indonesia

negara yg katanya BESAR? 
Suatu semangat dan upaya untuk menjadi bangsa yang lebih baik. Pengorbanan yang sangat dahsyat dari para mahasiswa. Photo2 di Media penuh kengerian. Ada ungkapan "Pengorbanan menjanjikan bahagia"...Bilakah? 
sejarah adalah kebohongan yang dilakukan terus-menerus...
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin