Wednesday, June 30, 2010

Kelas Scrapbook Edisi 'Page: Ten Things About Me'


punya banyak foto diri yang keren? Narsis? tapi bingun majangnya biar keren? Ayo bikin scrapbook! Temanya 'Ten Things About Me' Kita buat foto keren kita tambah keren!

Gabung yuk, kita buat scrapbook bareng-bareng di Tobucil Jl. Aceh 56 bandung telp. 022 4261548. Caranya gampang tinggal daftar ke Fani di 022 91126919 atau daftar langsung ke Tobucil. Dijamin Seru!

Syaratnya kamu hanya membayar biaya pendaftaran Rp. 50.000 saja. Selain itu bawa juga foto diri sendiri berkuruan 4R atau 5R (bisa lebih dari 1 lembar), gunting, cutter, alat tulis dan double tape.  Bikin Scrapbook bareng ini akan di selenggarakan pada hari: Sabtu, 3 Juli 2010 di Tobucil Pk. 10.00 - 12.00. Ditunggu ya..:)

Kelas Scrapbook di Tobucil
Google Twitter FaceBook

Tuesday, June 29, 2010

Program Liburan Anak Jilid 2: Crafty Kids Club, 5-9 Juli 2010

Foto-foto Crafty Kids Club 21 s.d. 25 Juni lalu ada di album foto tobucil

Seminggu lalu, sejak tanggal 21 sampai 25 Juni 2010, tobucil bertambah hangat oleh teman-teman kecil yang hadir untuk mengikuti program liburan Crafty Kids Club. Ada Hanfa, Icha, Anais dan Layka. Bersama Kak Upi dan Kak Nana, jari jemari cilik mereka dengan lincah berkreasi membuat topeng, tas, celengan, flower curtain dan boneka jari.

Buat teman-teman kecil yang belum sempat bergabung, Kak Upi dan Kak Nana dari tobucil & klabs akan kembali menemani liburan dengan program Crafty Kids Jilid 2. Buruan daftar ya jangan sampai ketinggalan. Kalian juga bisa berkreasi seperti Hanfa, Icha, Anais dan Layka.


Crafty Kids Club #2  akan diselenggarakan mulai 5 s.d 9 Juli 2010, Pk. 13.00 - 14.30 Wib. Bertempat di Tobucil & Klabs Jl. Aceh 56 Bandung.

Program ini mengasah kreativitas dan melatih keterampilan tangan juga kesabaran dalam menyelesaikan pekerjaan. Materi yang diajarkan adalah:
- Membuat Tas serut
- Membuat Sepatu
- Membuat Boneka Monster
- Membuat Boneka Jari
- Membuat Hawaian Costume

Program ini terbuka untuk anak usia SD (kelas 1 s.d 5). Maksimal peserta 10 orang.
Biaya pendaftaran rp. 300.000/ anak sudah termasuk alat dan bahan. Karya menjadi milik peserta dan bisa dibawa pulang.

Pendaftaran selambat-lambatnya tanggal 4 Juli 2010
Dapat menghubungi:
Tobucil & Klabs Jl. Aceh No. 56 Bandung
telp. 022 4261548


Google Twitter FaceBook

Monday, June 21, 2010

DVD: I'm Not There

Harga: Rp 59.000
Penerbit: Jive Collection

Sebuah film tentang kehidupan legenda musik Bob Dylan yang diceritakan dengan cara yang tidak biasa, seperti halnya karakter Dylan sendiri yang selalu berubah, kacau dan ambigu. Tokoh Dylan ditampilkan melalui 6 pemeran yang berbeda yaitu dalam peran tokoh-tokoh imajiner Woody Gaffer (Marcus Carl Franklyn), Arthur Rimbaud (Ben Whishaw), Jack Rollins (Christian Bale), Robbie Clark (Heath Ledger), Jude Quinn (Cate Blanchett) dan Billy (Richard Gere) dalam berbagai tahap kehidupan Dylan. Film ini juga diselingi dengan beberapa lagu Dylan.
Google Twitter FaceBook

Wednesday, June 16, 2010

Jadwal Baru KlabKlassik


 Melihat animo, kegiatan, dan keinginan untuk menghadirkan situasi baru, KlabKlassik (KK) mengusulkan semacam jadwal baru. Ini dimulai dari kegiatan akademi KK yang mendapat respon cukup positif. Indikatornya, baru dua pertemuan, kegiatan belajar-mengajar teori musik tersebut tercatat sudah sebelas orang yang mendaftar. Ini lumayan, mengingat publikasinya yang rendah, dan materinya yang tergolong cukup berat. Selain teori musik, akademi KK juga akan mengarah pada latihan penulisan komposisi.

Akademi tersebut akan berjumlah delapan jam tiap minggu, Tadinya, minggu ganjil tiga jam, minggu genap satu jam. Tapi melihat peserta yang datang kemarin cukup antusias, satu jam terasa kurang. Yang lucu, ada Ilham, seorang yang masih kelas 1 SMP, tapi sangat bersemangat mengikuti pelajaran menghitung interval. Semangatnya menular ke peserta yang lain, semua jadi hangat, cair dan banyak tertawa. Materi yang tadinya berat pun jadi lebih mudah dicerna. Berbeda dari minggu sebelumnya ketika suasana terlampau serius. 

Dengan demikian, mengingat Akademi enaknya dua jam per pertemuan, lantas bagaimana menyikapi nongkrong KK yang sudah rutin di minggu genap itu? Akhirnya lewat musyawarah, terjadi perubahan jadwal klab sebagai berikut: mengingat sudah diputuskan KK menjadi tiap minggu, maka minggu ganjil adalah untuk Akademi di jam 13.00-15.00, dan nongkrong KK ikut disitu jam 15.00-17.00. Sedangkan minggu genap menjadi latihan Ririungan Gitar Bandung (RGB) pukul 13.00-15.00 dan kemudian disambung Akademi jam 15.00-17.00. Sebagai informasi, Akademi ini berbayar, yakni Rp. 65.000 untuk tiga bulan. Peserta mendapat fasilitas minum, sertifikat, dan kertas paranada. Apakah ini kemudian KK menjadi komunitas yang berbayar? Diusahakan tidak, karena seluruh uang dari iuran RGB dan Akademi, akan dikembalikan lagi ke peserta dalam bentuk snack serta fasilitas, dan juga uang tersebut untuk membiayai fasilitator. Adapun yang lainnya merupakan uang kas untuk menjalankan komunitas itu sendiri. Lagipula, sepertinya, harga demikian tidaklah seberapa mahal, dan memang sangat diusahakan untuk tidak mahal. Lagipula lagi, nongkrong KK adalah kegiatan yang wajib dipertahankan agar citra KK tidak terjebak menjadi komunitas murni berbayar. Semoga Bach memberkati seluruh kegiatan ini.

Google Twitter FaceBook

Monday, June 14, 2010

Program Liburan Anak: Crafty Kids Club


Tobucil & Klabs kembali menyelenggarakan program liburan anak-anak, 'Crafty Kids Club yang akan diselenggarakan mulai 21 s.d 25 Juni 2010, Pk. 13.00 - 14.30 Wib. Bertempat di Tobucil & Klabs Jl. Aceh 56 Bandung.

Program ini mengasah kreativitas dan melatih keterampilan tangan juga kesabaran dalam menyelesaikan pekerjaan. Materi yang diajarkan adalah:
- Membuat Tas/tempat pensil
- Membuat Glitter Mask
- Membuat Celengan
- Membuat Boneka Jari
- Membuat Flower Curtain

Program ini terbuka untuk anak usia SD (kelas 1 s.d 5). Maksimal peserta 10 orang.
Biaya pendaftaran rp. 300.000/ anak sudah termasuk alat dan bahan. Karya menjadi milik peserta dan bisa dibawa pulang.

Pendaftaran selambat-lambatnya tanggal 19 Juni 2010
Dapat menghubungi:
Tobucil & Klabs Jl. Aceh No. 56 Bandung
telp. 022 4261548
Google Twitter FaceBook

Pause/Re-Play

Judul di atas meminjam judul pamerannya Agus Suwage. Setelah dua minggu kemarin blog tobucil 'pause', maka sekarang 're-play' dengan tampilan baru dan sistem updating baru. Blog tobucil ke depannya tidak lagi mengupdate isinya sekaligus di setiap minggu, tapi kami akan mengupdate isi ketika ada hal-hal yang memang perlu diinformasikan dan itu bisa saja setiap hari. Harapannya biar blog tobucil menjadi lebih aktual dan dinamis dan lebih mudah dalam mengelolanya. Menu update tetap akan kami kirimkan setiap minggu sebagai pemberitahuan ada informasi baru apa saja selama seminggu terakhir.

Thanks to blogger karena menambahkan fasilitas design yang membuat blog ini bisa di custom dan di ubah tampilannya sehingga tampilan blog tobucil menjadi lebih menarik dan lengkap.

Selamat menikmati perubahan blog tobucil. Saran dan masukkan silahkan email ke tobucil@gmail.com

aceh 56
vitarlenology
Google Twitter FaceBook

Yang Tersisa Dari Crafty Days #4

IMG_4768
Selamat datang di Crafty Days #4

DSC00269
Komunitas Indie Yo-Yo ikut memeriahkan Crafty Days #4

IMG_4834
Meski di guyur hujan, tidak mengurangi keceriaan di Crafty Days #4

DSC00185
"Yuk bikin boneka jari..!"

DSC00500
Hujan tak mengahalangi semangat 'Silentium' untuk menghibur para pengunjung Crafty Days #4

Moelyana dan Palupi Kinkin
Dynamic Duo: Moelyana dan Palupi Kinkin yang memamerkan karya Coral Reef Crochet & knitting di Crafty Days# 4

Lebih banyak foto Crafty Days #4 ada di sini
Google Twitter FaceBook

Sunday, June 13, 2010

Musik Spesial Crafty Days


Di Crafty Days, sore yang mendung itu, di beranda Tobucil tertata beberapa amplifier besar. Nampak seperti akan ada acara musik, dan ternyata iya. Sore itu, di Crafty Days, tampil tiga kelompok musik. Semestinya empat, tapi Inaccoustic urung hadir karena vokalisnya sakit. Tiga yang tampil adalah KlabKlassik feat. Theoresia Rumthe sebagai pembuka, lalu Ammy Alternative Strings dan diakhiri dengan Silentium. Sebagai orang yang mengurusi permusikan ini, saya sempat deg-degan karena sudah masuk pukul tiga, tapi belum ada satu penampil pun yang datang. Penampil yang sudah datang, ya baru saya. Akhirnya Mas Yunus datang, yang membuat format KlabKlassik jadi agak lengkap kecuali sang penyanyi, Theoresia Rumthe. Jadilah saya dan Mas Yunus berduet dulu dua lagu. Yang membuat agak deg-degan, karena Ammy Alternative Strings sebagian besar telah berkumpul dan siap main. Hanya saja sang punggawa, Kang Ammy, belum datang. Maksudnya, penonton sudah berjubel, tapi tak kunjung ada pertunjukkan hehe. Namun tak lama kemudian, Theo pun datang, dan kami menyanyikan dua buah lagu yakni Cinta-nya Vina, dan When I Fall in Love. 

Setelah itu, Kang Ammy pun datang, dan kami mesti turun panggung. Kang Ammy bersama murid-muridnya, kalau tidak salah ada delapan, menyiapkan enam lagu. Delapan murid itu adalah murid biola Kang Ammy, tapi lucunya Kang Ammy sendiri tak tampil dengan biola, tapi dengan gitar. Dengan gitar, ia mengiringi murid-muridnya tampil bergantian, adapun pemain keyboard dan drum disana, yang membuat beranda Tobucil sangat meriah dan perhatian orang tertuju kesana. Adapun tercatat beberapa penampil yang menarik, meskipun semuanya keren. Misalnya Ilham yang dijuluki oleh Kang Ammy sendiri sebagai The Feeling Man. Ilham yang masih SD itu, saya tanya, "Kang Ammy, kenapa bukan The Feeling Boy?" Lalu dijawabnya, "Karena Boy kelak akan jadi Man. Jadi biar satu julukan untuk seumur hidup." Itu jawaban filosofis yang bikin tergelak penonton. Penampilan Ammy Alternative String diakhiri dengan lagu In The Mood yang berwarnakan blues, masing-masing dari anak-anak tersebut bergantian menyajikan solo di sela-sela lagu. Penampilan mereka memancing riuh rendah penonton karena Kang Ammy, meskipun bertindak sebagai pengiring, tapi penampilannnya sangat ekspresif dan seringkali ikut menggemulaikan penonton. Akhir segala akhir, manajer dari Ammy Alternative Strings, Mba Utet, menyampaikan promosinya. Bahwa barangsiapa yang ingin belajar biola dari Kang Ammy, bisa langsung dateng loh ke Jalan Progo. 

Setelah itu yang tampil ada Silentium. Sayang sekali ketika mereka tampil, hujan mengguyur sangat lebat, dan cukup mengganggu output suara. Adapun saya terperangkap di area bazaar dalam kerumunan orang dan sulit keluar karena derasnya hujan. Meski demikian, suara Silentium terdengar cukup jelas, dan enak didengar. Diintip-intip, yang mengapresiasi pun betah dan senang. Bahkan Theo terdengar beberapa kali ikut menyanyikan reffrainnya. Saya berhasil mengikuti penuh ketika mereka membawakan dua lagu terakhir, yang mana salah satunya berjudul sampah. Silentium ini komposisinya bandnya amat menarik dan sukses menciptakan harmoni yang pas. Ada gitar, bas, dan kemudian semacam perkusi. Lalu disertai vokalis yang juga memainkan harmonika, sound Silentium amat harmoni dengan bunyi hujan. 

Akhirnya Musik Spesial Crafty Days ditutup dengan pembagian konsumsi, minuman, dan cinderamata dari Tobucil. Musik melengkapkan sore itu.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

Rapat Teater Dikira MLM


Pagi jam sembilan di hari Jumat itu, Tobucil sudah kelihatan ramai. Bergelas-gelas kopi terhidang di meja, dan kepulan asap rokok beterbangan. Padahal, Mbak Elin sang kasir pun baru buka meja. Ramainya, ada sekitar lima belas orang lah. Kebetulan, saya terlibat dalam kumpul-kumpul itu. Yakni, kumpul dalam rangka rapat membicarakan teater yang akan digelar 9 Juli mendatang. Teater tersebut digarap oleh salah seorang punggawa Tobucil juga, yakni Sophan Ajie, yang biasa aktif di KlabNulis Kamis-Jumat. Teater tersebut memang bukan bagian dari acara Tobucil, tapi dengan digunakannya Tobucil sebagai tempat rapat pihak-pihak dari luar, menunjukkan komunalisme Tobucil. Meski demikian, ada juga yang diharamkan Tobucil untuk datang dan berkumpul di rumahnya, seperti yang Mbak Tarlen kira sebelumnya ketika pertama kali melihat kerumunan orang-orang rapat tersebut, "Saya kira ada MLM kumpul di Tobucil pagi-pagi. Kalau MLM mau saya usir deh hahaha." Rapat itu, tepatnya, membicarakan panduan kerja masing-masing tim. Saya sendiri terlibat mengurusi musik. Jadi, jika mau sombong, ada dua aktivis Tobucil yang terlibat dalam pertunjukkan teater berskala nasional yang akan digelar di Gedung Kesenian Jakarta itu. Satu ya Sophan Ajie, sutradara, satu lagi ya saya itu, Alhamdulillah.

Eits, ada satu lagi, yaitu kegiatan Partai Politik. Itupun tidak diijinkan masuk dalam komunalisme Tobucil. Sisanya boleh dikatakan sah-sah saja mengadakan pertemuan disana. Asal tidak rusuh dan minim unsur propaganda. Hitung-hitung meramaikan warung ya, Mbak Elin?
Google Twitter FaceBook

Hari Perdana Akademi KlabKlassik


Hari itu ada yang spesial di KlabKlassik, yakni untuk pertama kalinya, mereka berkumpul di hari Minggu yang ganjil. Maksudnya, jika biasanya klab berkumpul di minggu kedua dan keempat, sekarang di minggu pertama pun ternyata ada kumpul-kumpul, tepatnya pukul satu. Bagi Klab, itu adalah hari cukup bersejarah, karena pertama kalinya Klab membuat semacam akademi. Yang mana merupakan semacam kelas yang isinya mengajarkan seputar materi-materi mendekati kuliah. Dosennya? Ada, seorang aktivis Klab dan juga Madfal, namanya Diecky K. Indrapradja. Ia punya pengalaman mengajar cukup banyak, salah satunya di institusi resmi Sekolah Tinggi Musik Bandung.

Hari perdana kelas yang diberi nama Akademi KlabKlassik itu, belajar tentang dasar-dasar harmoni, yang nantinya akan mengarah pada penulisan komposisi. Pesertanya ternyata cukup banyak, ada sepuluh. Delapan diantaranya anggota Ririungan Gitar Bandung, dua lainnya ternyata orang yang baru datang, Kebetulan, yang bikin Klab senang, kedua orang baru tersebut berlatar belakang vokal. Sesuatu yang jarang terlihat di Klab yang kebanyakan gitar dan biola. Meski dimulai agak telat, tapi peserta terlihat serius dan antusias, meski materi ternyata cukup berat. Hari itu belajar soal harmoni jaman barok dan klasik, dan beberapa anjuran serta larangan penulisannya. Misal, dalam sebuah harmoni Sopran, Alto, Tenor, dan Bas, tidak boleh mengulang nada ketiga dua kali. Hal tersebut disebutkan haram di era Klasik, meski bagi telinga kita sekarang, terdengar enak-enak saja. Akademi KlabKlassik akhirnya ditutup dengan latihan menulis pengembangan komposisi dari melodi dasar To Be With You-nya Mr. Big.

Akademi KlabKlassik ini diselenggarakan tiap Minggu, hanya saja di Minggu ganjil waktunya tiga jam (jam 13.00-16.00), sedangkan di minggu genap waktunya sejam (jam 15.00-16.00). Bayarnya tidak mahal, yakni 65.000 Rupiah untuk satu triwulan. Adapun triwulan itu menandai habisnya satu materi.



Google Twitter FaceBook

Memaknai Penyintas

Rabu 2 Juni 2010, Tarlen Handayani menjadi pemasalah forum diskusi Madrasah Falsafah (Madfal). Ia memulai paparannya tentang “penyintas” dengan pengalaman kunjungan dia ke reruntuhan WTC New York. Penyintas bersepadan arti dengan “survivor” dalam Bahasa Inggris. Pemandu dalam tur itu adalah petugas pemadam kebakaran yang selamat dari bencananya. Menurut Tarlen, di situs itu tidak ada sesuatu yang istimewa untuk diperhatikan. Sang pemandu “hanya” bercerita tentang jejak-jejak, apa-apa yang tadinya ada di sana. Lebih menarik dari itu, si pemandu tidak pernah menyebut teroris sebagai penyebab runtuhnya menara WTC.

Beberapa bulan lalu, Tarlen melakukan perjalanan lagi. Kali ini ke wilayah Asia Tenggara. Wilayah yang relevan dengan diskusi kita, adalah negara Vietnam dan Kamboja. Di Vietnam, Tarlen menyaksikan sisa-sia kubu pertahanan pejuang Vietnam saat berperang melawan Amerika Serikat. Orang Vietnam tidak menyebutnya “Perang Vietnam”, melainkan “Perang Amerika”. Istilah itu sekaligus menegaskan bahwa perang tersebut, Amerika-lah yang memulai. Antitesis dengan istilah di Amerika sana yang seolah mengatakan Vietnam biang keladinya. Bagi Tarlen, menyaksikan kecanggihan sekaligus kesederhanaan kubu pertahanan berupa lorong-lorong bawah tanah (bisa sampai tiga tingkat ke bawah dan luar biasa sempit—hanya cukup untuk satu orang lewat) sangat mengingatkan pada semangat “DIY” (Do It Yourself). Mereka dengan bersahaja, gagah menghadapi pasukan AS yang didukung teknologi termutakhir saat itu.

Di Kamboja, Tarlen merasa melihat hal yang kebalikan dari semangat juang rakyat Vietnam. Situs yang disaksikan Tarlen adalah sisa-sisa kekejaman rejim pemerintah Kamboja meneror rakyatnya sendiri. Di Kamboja, para penyintas juga dapat kesempatan menjadi pemandu, bertutur tentang pengalaman mereka. Suasana di sana sarat dengan aroma kematian dan kesedihan, demikian kesaksian Tarlen.

Tarlen kemudian bercerita, bahwa dia dan beberapa teman pernah mendiskusikan tentang arti kata penyintas. Menurutnya, penyintas bukan sekedar orang yang berhasil bertahan hidup, lebih dari itu penyintas adalah orang yang berhasil melepaskan diri dari problematika yang mengakibatkan hidupnya terancam.

Diskusi kemudian sempat berpusar pada hubungan kebertahanan hidup dengan kesempatan bertutur. Soal kesempatan ini, berhubungan juga dengan kemenangan dan kekalahan: jika pihak yang tadinya kejam membunuhi sesama kalah, maka ia dapat dibuat tunduk mengakui kesalahannya dan para mantan korban berkesempatan tampil membuat pernyataan.

Bukankah memang itu yang paling penting: pengakuan atas kesalahan dan bagaimana cara mengambil pelajaran agar kesalahan itu tidak terulang lagi?
Moh. Syafari Firdaus kemudian menggaris-bawahi tentang aspek politis. Rejim Pol Pot di Kamboja kalah, dan korban-korbannya dapat bertutur tentang horor yang dialami, hingga kita—orang yang tidak mengalami—bisa mengambil pelajaran. Dengan kata lain, kalau Pol Pot tidak kalah, akankah para penyintas itu dapat kesempatan tampil? Akankah kekejaman rejim Pol Pot bisa terungkap? Bukankah jika benar begini, maka sejarah tetaplah sejarah penguasa. MSF mengingatkan pentingnya pemunculan “sejarah korban”: suatu sudut pandang dari mereka yang kalah. Aspek politis ini penting mengingat kondisi negara kita. Hingga saat ini kekejaman rejim Suharto masih jauh dari terkuak.
Dien Fakhri Iqbal kemudian melontarkan masalah lain. Dari pengalamannya di Aceh, mendampingi para penyintas bencana tsunami, dia melihat ada kecenderungan orang Aceh enggan mengingat. Tonggak pengingat, totem, monumen, merupakan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Ada juga suara-suara yang menyayangkan: dahsyatnya bencana tsunami menghapus jejak kekejaman penindasan ABRI atas rakyat Aceh. Betul, tsunami mengakibatkan mereka kehilangan banyak orang-orang yang dicintai. Tapi ini adalah penyebab yang berada di luar kuasa manusia. Namun periode Daerah Operasi Militer (DOM), juga membuat mereka kehilangan banyak, dan ini disebabkan oleh sesama manusia—tepatnya oleh “saudara sebangsa dan setanah air”. Membekukan ingatan atas kehilangan yang disebabkan oleh bencana Tsunami sepertinya membuat terhapus kehilangan lain yang disebabkan oleh sesama.

Kira-kira dari diskusi tersebut, beberapa hal yang bisa diambil adalah: penyintas bukan sebatas bertahan hidup, tapi juga soal mengeluarkan diri dari lingkaran kekerasan, kesempatan bertutur, kompetisi wacana, kekuasaan, horor, dan tenggang rasa. Diskusi hari itu ditutup dengan tepuk tangan seperti biasa, dan peserta pulang dengan perasaan bingung dan penuh pertanyaan: lazimnya orang pulang dari sebuah diskusi filsafat. Terutama Iqbal, ya, ada seorang peserta baru bernama Iqbal. Yang baru saja lulus seleksi penerimaan mahasiswa kedokteran. Ia dengan semangat datang ke Madfal seolah mencari kebenaran, dan ketika pulang, tak ada satupun yang tahu apakah ia telah menemukannya atau malah menjauhkannya.


Heru Hikayat, ditambahkan sedikit oleh Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

Jangan Baca Madilog!

Rabu 26 Mei 2010 saya datang ke Madfal terlambat. Walaupun tidak seterlambat Daus (Mohamad Syafari Firdaus) tetap saja saya luput mendengar paparan awal Iqbal (Dien Fakhri Iqbal ) tentang Madilog. Saya belum tamat baca buku karya Tan Malaka itu. Tapi begitu duduk, saya langsung tahu satu hal: membaca buku Madilog bikin sakit mata. Iqbal sibuk memaparkan hasil bacaannya dengan mata bengkak memerah.

Seturut kesaksian Syarif Maulana, JS (Joko Supriyadi) adalah rival MSF. Pesan Syarif, siapapun yang menjadi pemandu forum Madfal, selayaknya mewaspadai debat berkepanjangan antara JS dan MSF. Hari itu JS berperan cukup besar mengisi kekosongan pemaparan yang diakibatkan Iqbal berkali-kali harus berhenti bicara, menutup mata, mendongakan kepala, dan mengelap cairan yang menetes dari matanya. Andai ada yang melihat dari kejauhan, Iqbal akan tampak seperti orang yang sedang mencurahkan hatinya. Suatu beban dalam dada yang begitu berat, begitu memerihkan, dicurahkan pada sekumpulan teman-teman dekat yang setia menjadi pendengar.

Pada satu titik, Iqbal memutuskan untuk mengenakan kacamata hitam. Sepertinya ia tanggap melihat teman-temannya risih. Kedua mata Iqbal mencolok, menjadi bagian yang paling menarik perhatian lawan bicaranya. Saat Iqbal harus membuka buku Madilog untuk menjelaskan satu bagian dari buku itu, adegan pun makin tampak memelaskan. Ia seperti orang dengan penglihatan bermasalah sedang berusaha menyimak satu teks tertulis yang terlalu sulit dicerna dan ia melakukannya demi orang lain bisa mengerti teks tersebut. Sungguh satu niat baik yang layak diberi penghargaan.

Dalam jeda-jeda yang diakibatkan keterbatasan Iqbal itu, saya pun berusaha melontarkan poin-poin yang bisa mengembangkan diskusi dan mengimbangi perdebatan JS dan MSF agar tidak terlalu mendominasi forum. Teman-teman lain yang hadir saat itu, Mata (Permata Andhika Rahardja), Myra Mariezka Annisa, Dini Zakiaturohmah, Vety—teman yang sudah lama tidak datang ke Madfal— dan Rizal (maaf, saya tidak tahu nama lengkap dan ejaannya yang benar) tidak banyak bicara. Saya menduga, mereka terharu melihat perjuangan Iqbal.

Saat baru tiba, Daus berkomentar: “wah, revolusi ternyata banyak peminatnya ya”. Diskusi ini hanya dihadiri sedikit orang, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan saat Madfal membahas topik "Luka". Madilog memang buku yang revolusioner. Selain ditulis dalam waktu lama (8 bulan), dalam keadaan penulisnya serba terbatas, dan baru berhasil diterbitkan 2 tahun setelah si penulis meninggal, hal yang revolusioner dalam buku itu adalah suatu upaya perombakan cara berpikir secara radikal: bebaskan dirimu dari tenung mistis dan berpikirlah rasional. Maka, bersiap-siaplah sakit mata!

Cigadung 30 Mei 2010
(Heru Hikayat)
Google Twitter FaceBook

Main Bersama Kappalettas

Sepanjang minggu kemarin, saya sama sekali tidak sempat mampir ke Tobucil oleh sebab suatu urusan yang banyaknya di luar kota. Jikapun mampir, itu adalah di hari Minggu, yang mana merupakan Crafty Days. Dampaknya, saya tidak sempat meliput apa-apa kegiatan di Tobucil. Meski demikian, saya punya oleh-oleh, yang mana jika dibilang punya kaitan dengan Tobucil, bisa dibilang ya. Saya bermain untuk Kappalettas, yang jika kau melihat etalase warung Tobucil, di atasnya sering ada selebaran promosi Kappalettas. Beberapa awak Kappalettas juga ternyata dahulunya aktif di Tobucil. Jika boleh jujur dan objektif, Kappalettas ini adalah bisnis yang kreatif dan unik, berikut ceritanya:

"Suatu selasa tanggal 25 kemarin, saya diberangkatkan ke Jakarta naik travel. Jam travelnya cukup malam, yakni jam 19.45. Ada apa gerangan? Saya ternyata mesti main gitar tiga lagu, untuk sebuah kelompok telegram bernyanyi bernama Kappalettas. Dan jam mainnya tidak lazim, yakni menjelang tengah malam. Soal Kappalettas saya pernah menulis sebelumnya, namun saat itu status saya adalah "korban", sedangkan sekarang, saya terlibat dalam Kappalettas sebagai "terdakwa", atau lawannya korban apa ya? Pokoknya kamilah yang mendatangi si korban.

Kappalettas ini adalah kelompok telegram bernyanyi. Jadi kau bisa memesan lagu apa saja (betul nih apa aja, Mba Niken?) untuk kemudian dikirimkan pada target yang kau inginkan. Nantinya si target akan menerima lagu darimu, beserta pesan-pesan lain jika ada, dan boleh juga dengan coklat serta bunga. Yang menarik adalah, lagu dimainkan secara live, memakai format gitar serta vokal (ada biola dan cello sebenarnya, tapi sejauh ini beberapa kali gagal ditampilkan hehe).

Akhirnya sampailah saya di Kartika Chandra, hotel tempat travel itu berhenti. Saya naik ojek menuju kost Christina, yang mana dia merupakan vokalis kami yang berdomisili Jakarta. Berlatihlah kami selagu dualagu tigalagu barang sejenak, bersama gitaris satu lagi, Pepeng, serta ternyata, Urie, eks vokalis band Kuburan. Lagu yang kami latih di waktu sebentar itu adalah To Make You Feel My Love dari Adele, Goodnight dari Melody Gardot, dan All I Want is You dari U2. Tak lama setelah berlatih, datanglah kami menuju rumah si korban. Waktu itu jam setengah dua belas malam, dan kami mendatangi rumahnya yang ternyata tak jauh dari kost Christina. Si korban bernama Kristy, ia mendapat kiriman dari seseorang yang menolak disebutkan identitasnya, meski akhirnya ketahuan.

Di rumah yang cukup besar dan artistik itu, kami memainkan tiga lagu di ruang yang sepertinya ruang tamu. Formasi dua gitar dua vokal di tengah malam, berhasil menimbulkan kekhidmatan yang diwarnai mesem-mesem sang korban. Bergantian Urie dan Christina bernyanyi, sementara saya dan Pepeng main gitar sahut-sahutan. Setiap selesai lagu, terjadi tepuk tangan. Terjadi pertanyaan dari korban, "Siapa sih ini yang ngirim?" Meski demikian, di sela-sela lagu, pengirim misterius menyisipkan kalimat puitis, dan ini ternyata sukses membuka identitas. Kristy sang korban tahu bahwa ini adalah seseorang yang menyukainya, dan sekarang tengah bekerja di Afghanistan. Setelah lagu berakhir, sesuai tradisi Kappalettas, diserahkanlah lirik lagu yang sudah dimainkan, dalam gulungan kertas karton yang sudah dipercantik dengan pita.

Malam itu berakhir damai dan romantis, barangkali seperti setiap akhir cerita buruan Kappalettas lainnya (karena ini pertama kali saya ikutan). Disertai hidangan cake ulang tahun, kami ngobrol-ngobrol singkat dan berbasa basi agak basi, barangkali karena sudah larut. Pulang kami dalam keadaan senang, karena sukses mempermainkan emosi seseorang. Ada lembaran uang, tapi tak jadi soal. Orang bilang ujung segalanya adalah duit. Tapi dari Kappalettas saya belajar: ujung-ujungnya adalah emosi, adalah kepuasan batin. Konon duit bisa membeli itu. Konon."


Google Twitter FaceBook

Manager Tobucil Berulangtahun


Minggu kemarin Mul berulangtahun, sekarang managernya Tobucil, Mbak Elin, yang ulang tahun :) Pada 25 Mei kemarin, Mbak Elin tepat berusia 31 tahun. Di Tobucil kami merayakannya dengan cheesecake, sederhana saja, hanya untuk kru yang ada saat itu saja.

Sekali lagi selamat ulang tahun ya, Mbak Elin. Semua harapannya semoga tercapai, jadi istri yang baik, jadi orang tua yang baik juga buat Angga dan dede yang masih ada di perut, semoga melahirkannya nanti lancar, anaknya sehat, dan makin dicintai oleh kalian (kalian itu siapa? hehe), maksudnya oleh kru Tobucil hehe. Semoga cepat sembuh juga ya, Mbak! Amin.
Google Twitter FaceBook

DVD: Cinta Setaman

Harga: Rp 59.000
Penerbit: Jive Collection

Di sebuah kota yang semrawut dengan situasi yang tidak kondusif, delapan sosok manusia yang berhati baik tiba-tiba mengalami sebuah peristiwa kehidupan yang luar biasa. Sebuah peristiwa yang men'jungkirbalikkan' mereka membuat mereka harus berusaha sekuat tenaga dan sekuat hati, agar bisa survive. Sebuah peristiwa yang sebenarnya pula Maha 'dalam', maha dahsyat dan maha indah itu, akhirnya justru malah membuat kota tersebut seperti dinaungi pelangi yang memberikan keteduhan, cinta, keindahan, dan pencerahan yang menyejukan hati.
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin