Tuesday, July 20, 2010

Mempertanggungjawabkan Karya


Saya terlambat datang ke KlabKlassik (KK) hari itu. Ketika datang, telah berlatih delapan orang memainkan sebuah karya baru gubahan Yunus Suhendar. Mas Yunus mengaransemen sebuah lagu dari Enya yang berjudul Willow on The Water. Karya ini merupakan pesanan dari acara Rhapsodia Economica UNPAD yang akan diselenggarakan tanggal 7 Agustus. Isi pesannya: "Jika KlabKlassik bisa tampil, maka pertimbangkan untuk memainkan lagu Enya yang berjudul Willow on The Water". Lagu tersebut terbilang sederhana dan tidak ada variasi yang memikat sepanjang lagunya. Nyaris melodinya berulang dari awal sampai akhir, KK pun terbilang tak sulit memainkan karya tersebut.

Namun Diecky, sang dosen di akademi KK (sebuah kelas komposisi musik yang rutin diadakan tiap Minggu), tidak ingin membuatnya sederhana. Mas Yunus seolah disidang dan diminta pertanggungjawabannya atas segala-gala yang telah ia lakukan. Karyanya dibedah dari banyak aspek, sehingga terasa sekali bahwa karya yang relatif sederhana tersebut ternyata memuat banyak unsur. Misalnya dari sudut pandang instrumentasi, Diecky melihat bahwa dalam lagu Enya, berusaha ditonjolkan teknik pizzicato dari instrumen gesek. Diecky melihat lagi bahwa Mas Yunus tidak berusaha menonjolkan itu, melainkan barangkali membuat suara baru yang berasal dari orisinalitas gitar. Perbincangan ini menarik dan cukup menyedot apresiasi para peserta KK. Di pertemuan nanti-nanti, diharapkan peserta akademi membawa sebuah komposisi untuk dibahas bersama. Ternyata lebih menarik jika ada contoh komposisi yang dibuat orisinil oleh peserta akademi sendiri!

Google Twitter FaceBook

Monday, July 19, 2010

Saya dan Menulis

Saya suka sekali menulis. Sejak kecil. Saya menulis sajak di diary. Tapi isinya bukan tentang cinta atau laki-laki, melainkan tentang gunung, bunga, kebun. Beranjak remaja saya masih suka menulis di diary. Isinya lebih warna-warni: tentang cowok, teman-teman, keluarga, diri sendiri.
    Kelas tiga SMA saya menulis cerpen sampai jadi satu buku. Semuanya ditulis tangan dan tidak ada yang dikirim ke media massa. Cerpen-cerpen saya cuma dibaca teman-teman.
    Saya sempat berhenti menulis sewaktu kuliah. Tapi saya menulis lagi ketika jatuh cinta pada awan. Awan putih yang kehadirannya selalu sebentar, membentuk aneka rupa seperti aktor yang bermain pantomim: lucu dan bisu. Tapi saya tidak bisa menyentuhnya. Awan terlalu jauh di angkasa. Saya di bumi.
    Maka saya menulis tentang awan. Cerpen, puisi, atau tulisan-tulisan lain yang tidak saya tahu namanya. Awan tidak tahu saya menulis tentangnya. Tidak apa-apa. Awan tidak perlu tahu.
    Dan ia memang tidak pernah tahu.
    Tapi awan selalu membuat saya ingin menulis. Saya menulis tanpa henti. Tentang awan, matahari, rumput, sandal, kursi.
    Lama-lama saya jatuh cinta pada menulis. Lalu saya berpikir, mungkin menulis itu soulmate saya. Pasangan saya bukan awan, tapi menulis. Saya ingin hidup dengan menulis. Saya yakin menulis bisa membuat saya bertahan hidup dalam kesulitan apapun.
Rie Yanti suka menulis tentang apa saja, bahkan tentang hal-hal sepele. Tulisan-tulisannya bisa dibaca di  http://ceritarie.wordpress.com/
Google Twitter FaceBook

Saturday, July 17, 2010

Sinetron: Salah Siapa?


Setelah lama absen oleh karena suatu urusan, akhirnya saya bisa kembali mengikuti Madrasah Falsafah. Kebetulan, hari itu membahas perihal sinetron. Kenapa kebetulan? Karena belakangan saya cukup mengikuti, akibat Piala Dunia yang seringkali mengharuskan saya untuk menunggu antara jam sebelas hingga setengah dua sebagai jeda diantara dua partai sepakbola. Jeda tersebut seringkali menyuguhkan sinetron, dan sebagai hiburan saya jadi menyaksikannya. Konon yang jadi pemasalah dalam diskusi kali ini adalah Retna. Namun hingga pukul enam, orangnya tak kunjung datang, sehingga moderator Rosihan Fahmi terpaksa membuka duluan.

Berbagai komentar langsung bermunculan, misalnya seputar kesan-kesan tentang sinetron, atau definisi sinetron itu sendiri. Iqbal mencoba mengingat kemunculan sinetron pertama di Indonesia, seperti Losmen, ACI (Aku Cinta Indonesia) atau Siti Nurbaya. Atau generasi berikutnya seperti Keluarga Cemara dan Si Doel Anak Sekolahan. Setelah diingat-ingat, ternyata sinetron dulu lebih punya kualitas ketimbang sekarang yang terkesan kejar setoran. Saya menambahkan bahwa sinetron sekarang dari sudut teknis juga terlihat asal-asalan. Misalnya musik yang tidak variatif, atau teknik gambar yang rajin menggunakan slow motion untuk dramatisasi.

Perbincangan menjadi semakin menarik kala Mas Daus dan sang pemasalah, Retna, datang nyaris bersamaan. Retna mengupas sedikit soal sejarah singkat sinetron, tapi Mas Daus kemudian memaparkan secara lebih mendalam. Sinetron ini awal sejarahnya dari soap opera alias opera sabun, yakni potongan pertunjukkan dengan format episode atau serial. Perhatian opera sabun ini lebih kepada dramatisasi emosi memang, ketimbang misalnya teknik pencahayaan atau bahkan alur cerita. Namun berkembang kesini, opera sabun menjadi sinetron yang murni dengan format episode. Di Indonesia bahkan, sinetron menjadi murni format episode yang boleh jadi bersekuel-sekuel, seperti sinetron Tersanjung atau Cinta Fitri. Dalih produser sederhana saja: masyarakat yang meminta terus.

Diskusi menjadi beralih kepada: sesungguhnya kemunculan sinetron ini, pihak mana yang harus disalahkan? Ada yang menuding mayoritas masyarakat Indonesia yang menengah ke bawah dan berpendidikan rendah membuat sinetron menjadi hal yang mudah diterima. Adapun kesalahan ada di pihak produser yang memanfaatkan tingkat ekonomi rakyat Indonesia untuk menjual hasrat dan berbagai utopianisme dari sinetron yang sebenarnya tidak berkualitas secara teknis. Jadi ini salah siapa? Atau jangan-jangan cuma bagai lingkaran Cartesian tak berujung? Demikian Madfal seperti biasa menutupnya dengan pertanyaan, bukan dengan jawaban. Demikian pula filsafat menjadi berguna. (Syarif Maulana)
Google Twitter FaceBook

Thursday, July 15, 2010

5 W + 1 H Print On Demand


Tanggal 8 Juli lalu, saya atas nama tobucil diundang teman-teman Dipan Senja dan Dekranasda Jawa Barat, memberikan workshop tentang Print On Demand. Pada workshop itu, saya membuat booklet kecil yang berisi materi 5 W + 1 H Print On Demand. Isi booklet tersebut saya publikasikan di blog tobucil, biar teman-teman yang tidak dapat mengikuti workshop itu, tetap bisa mendapatkan materinya. Salam hangat - Tarlen (http://designbyvitarlenology.blogspot.com). Hal-hal yang masih kurang jelas atau pertanyaan lain, silahkan kirim melalui email: vitarlenology@gmail.com


What?
Print on demand atau dalam bahasa Indonesia 'mencetak berdasarkan permintaan' adalah sebuah teknik mencetak  yang muncul dan berkembang seiring dengan muncul dan berkembangnya teknologi cetak digital. Print on demand bukan 'aliran' dalam penerbitan buku. Ia hanyalah salah satu cara dan pilihan teknik untuk menerbitkan sebuah buku.

Why
Ada beberapa alasan mengapa teknik ini kemudian dipilih sebagai cara untuk menerbitkan sebuah buku
  • Dapat mencetak dalam jumlah yang sangat terbatas. Teknik ini memungkinkan hanya menerbitkan jumlah eksemplar yang terbatas (bahkan hanya 1 eksemplar) dengan biaya produksi yang cukup murah. Secara teknis POD seperti halnya mencetak sebuah file dokumen langsung dari komputer ke printer.
  • Tidak memerlukan modal besar untuk menerbitkannya. Karena dapat dicetak dalam jumlah yang sangat terbatas, teknik ini membuat penerbitan buku tidak lagi memerlukan modal besar untuk diterbitkan.
  • Tidak memerlukan gudang penyimpan untuk stok buku.
  • Memberi peluang untuk mencetak buku dengan banyak pilihan. Karena setiap judul tidak perlu dicetak banyak, maka peluang untuk memperbanyak judul yang di cetak menjadi lebih besar.

Who?
  • Penerbit yang mengkhususkan diri pada terbitan-terbitan khusus.
  • Penulis yang sulit menembus penerbitan besar untuk menerbitkan karyanya.
  • Penulis pemula yang ingin menerbitkan bukunya tanpa banyak intervensi dari editor.
  • Orang yang ingin bereksperimen dengan medium buku, misalnya ingin menerbitkan buku sketsa miliknya, membuat buku foto jepretannya, dll.

When
  • POD ini cukup ekonomis dilakukan ketika kita hanya akan mencetak di kurang dari 500 eks terutama buku-buku yang menggunakan banyak warna.
  • Ketika hanya memiliki sedikit waktu untuk produksi.
  • Ketika berniat membuat DIY (Do It Yourself) Publishing.

Where
POD bisa dilakukan sendiri dengan bermodalkan peralatan cetak digital seperti komputer dan printer laser, atau dilakukan di tempat vendor yang biasa melakukan cetak digital atau yang memang secara khusus melayani POD.

How
Sekarang bagaimana mengerjakannya? Sekali lagi perlu diingat bahwa POD adalah salah satu dari sekian banyak teknik mencetak sebuah buku.  Untuk itu hal yang perlu dipersiapkan dengan matang adalah :
  • Tahapan Pra Produksi
Hal terberat dalam pra produksi ini adalah menyiapkan naskah yang akan diterbitkan. Jika naskah ini adalah naskahmu sendiri, urusan bagi hasil menjadi sederhana, karena pada prinsipnya kamu yang menulis, kamu yang menerbitkan dan kamu juga yang menjualnya. Kamu yagn sepenuhnya bertanggung jawab dari A sampai Znya. Banyak penulis tidak ingin tulisannya di edit oleh editor dengan alasan tidak ingin kebebasan dalam menulis di campuri oleh orang lain, padahal sebuah tulisan yang baik tetap saja sebisa mungkin terhindar dari salah ejaan dan secara logika tetap harus bisa dipertanggung jawabkan. Editor akan banyak membantu dalam hal ini, tinggal bagaimana kamu berkompromi dengan editor dalam hal ini. Jadi persiapkan naskah ini dengan matang sebelum memutuskan untuk  menerbitkannya.

  • Tahapan Produksi
Produksi ditentukan oleh keputusan kamu dimana kamu akan melakukan  produksi ini? apakah di rumahmu sendiri dengan memanfaatkan printer yang ada di rumah? atau dilakukan di vendor cetak digital?

Jika dilakukan di rumah/olehmu sendiri hal yang harus kamu perhatikan:
  • Printer laser black and white adalah hal yang wajib kamu miliki untuk mencetak isi buku yang akan kamu terbitkan. Mengapa printer laser? karena hasilnya lebih tahan air/tidak akan luntur dan tulisan yang dicetaknya lebih tajam.
  • Perhatikan ukuran maksimal kertas yang bisa digunakan oleh printer lasermu. Mengapa ukuran kertas ini menjadi penting? karena berhubungan dengan efisiensi penggunaan bahan dan desain yang memudahkan urusan teknis dalam tahapan produksi.
  • Untuk desain kamu bisa menggunakan software desain: seperti corel draw, adobe illustrator, terserah mana yang nyaman buat kamu gunakan yang terpenting, software ini cukup compatible dengan printer yang kamu gunakan.
  • Kamu perlu mengenal jenis kertas untuk isi dan juga cover. Tidak ada keharusan memakai jenis kertas tertentu hanya yang penting dipertimbangkan adalah jenis kertas yang digunakan (terutama untuk isi) tidak mengganggu kenyamanan mata dalam membacanya. Kecuali kamu memang berniat membuat buku eksperimental, bukan hanya dari isi tapi juga dari bahan yang digunakan untuk buku tersebut.
  • Untuk mencetak cover kamu bisa menggunakan printer ink jet warna, tapi kelemahannya warna akan mudah luntur dan pudar. Jika menggunakan printer ini, kamu perlu melakukan tahapan lain yaitu melaminasi covernya.  Lebih baik jika kamu mencetak covernya dengan menggunakan printer laser color (kamu bisa mencetaknya di tempat cetak digital), menyablonnya atau melakukannya dengan teknik stensil art. Kelebihan dari POD yang dikerjakan sendiri adalah, kamu bisa bebas berkreasi. Jika kamu mencetak 50 eks buku, tidak harus 50 eks itu covernya sama semua, Kamu bisa membuat 50 cover yang berbeda.
  • Untuk menjilidnya, kamu bisa menggunakan staples biasa, simple book binding atau block lem, tergantung dari ketebalan buku yang akan kamu buat.

Jika dilakukan oleh vendor cetak digital yang perlu diperhatikan adalah format file yang menjadi standar mereka. Selebihnya vendorlah yang akan melakukan produksi sampai menjadi buku.

  • Distribusi dan Pemasaran
Hal yang paling membedakan antara POD dengan teknik penerbitan buku melalui penerbit adalah proses distribusi dan pemasaran. Jika melalui penerbit, penulis tidak perlu bersusah payah menjual bukunya, dengan teknik POD, penulis adalah produsen sekaligus penjual juga. Teknik distribusi dan pemasaran buku dengan teknik POD ini adalah direct selling. Kamu bisa memanfaatkan jejaring sosial di internet untuk memasarkan bukumu. Selain itu, karena buku ini diproduksi sesuai permintaan, semakin rajin kamu mempromosikan bukumu, semakin besar peluang permintaan dari calon pembeli.

Hal yang penting untuk diperhatikan dalam teknik direct selling:

  • Jika kamu menggunakan internet sebagai media pemasaran, maka kamu perlu menyiapkan perlengkapan untuk melakukan mekanisme penjualan online. Kamu memerlukan internet banking, kurir yang bisa diandalkan dengan jangkauan yang luas dan, nomer kontak dan email untuk berkomunikasi dengan konsumen. Hal terpenting adalah kepercayaan. Penjualan online membutuhkan kepercayaan lebih besar karena  pembeli membayar terlebih dahulu barang yang akan dia beli, setelah itu baru penjual mengirimkan barangnya. Pelayanan yang mengecewakan akan menjadi rekomendasi buruk bagi masa depan direct selling yang kamu bangun, karena konsumen yang kecewa dapat menyebarkan kekecewaannya dengan cepat secara online. Maka berhati-hatilah menjaga kepercayaan konsumen.
  • Gunakan teknik promosi online yang cerdas. Jangan menjadi spammer di internet, karena dengan mudah email kamu akan di block dan dilaporkan sebagai spammer
  • Untuk itu, kenalilah target market kamu. Siapa sasaran yang menurut kamu perlu untuk mengapresiasi karyamu. Semakin jelas semakin baik. Karena dari awal penerbitan dengan teknik ini cocok untuk buku-buku yang spesifik, maka target marketnya juga menjadi spesifik pula.
Menghitung harga jual:
Menghitung harga jual seringkali menjadi hal yang membingungkan bagi banyak orang. Ada rumus sederhana yang bisa diterapkan: 
biaya produksi + biaya promosi + ongkos direct selling + keuntungan = harga jual

biaya produksi adalah biaya yang diperlukan untuk memproduksi setiap eksemplar buku yang kamu cetak. Kamu bisa menghitung biaya cetak perlembar, biaya print cover, jilid, finishing, untuk menentukan biaya produksi.
biaya promosi adalah biaya yang kamu butuhkan untuk promosi, Misalnya biaya pulsa atau internet, cetak brosur atau material lain yang kamu perlukan untuk promosi. Jika sulit menghitung secara pasti, kamu bisa mengalokasikan dalam jumlah tertentu, sehingga mudah menghitungnya.
ongkos direct selling adalah biaya yang dibutuhkan untuk layanan direct selling ini. Misalnya biaya kemasan yang kamu butuhkan untuk mengirimkan setiap eksemplar buku yang kamu kirimkan. Ongkos kirim biasanya tidak termasuk dalam harga jual. Jadi harga jual tidak termasuk ongkos kirim.  Untuk itu kamu juga perlu memiliki daftar tarif ongkos kirim ke seluruh daerah tujuan dari jasa kurir yang kamu gunakan.
keuntungan adalah berapa banyak keuntungan yang akan kamu ambil dari setiap eksemplar bukunya. Jika kamu mengerjakan A sampai Z, kamu pantas mengehargai dirimu sendiri.
harga jual adalah harga yang merupakan akumulasi dari seluruh biaya-biaya yang kamu butuhkan dan keuntungan dari setiap eksemplar buku yang kamu produksi. Kamu bisa melakukan survey kecil untuk mengetahui apakah harga yang kamu patok cukup masuk akal atau tidak, yang penting tidak merugikan kamu tapi juga masuk akal untuk calon pembeli.


Catatan: variebel biaya tambahan lain selain rumus di atas (misalnya konsinyasi kepada outlet-outlet yang membantu menjual) bisa ditambahkan untuk menghasilkan perhitungan harga jual.

Selamat menerbitkan bukumu sendiri :)
Google Twitter FaceBook

Tuesday, July 13, 2010

Undangan Obrolan Sore: 'Medium in the Mess Age'



Rumah Buku/Kineruku dan Tobucil & Klabs bekerjasama dengan Yayasan Air Putih, menyelenggarakan obrolan sore membahas tentang Open Source dan Sosial Media.  Kali ini teman-teman dari Yayasan Air Putih akan berbagi mengenai seluk beluk Open Source dan bagaimana hidup dengan Sosial Media (seperti facebook dan jejaring sosial lainnya di internet), silahkah hadir dan bergabung dalam obrolan sore kali ini. Bagi teman-teman yang tertarik untuk mengetahui silahkan langsung datang. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

Kamis, 15 Juli 2010, Pk. 15.00 WIB
Open Source from A - Z
Tempat: Tobucil & Klabs
Jl. Aceh 56 Bandung

Jumat, 16 Juli 2010, Pk. 15.00 WIB
Living with Social Media
Tempat: Rumah Buku/Kineruku
Jl. Hegarmanah 52 Bandung


Rumah Buku/Kineruku: http://rukukineruku.com
Tobucil & Klabs: http://tobucil.blogspot.com
Yayasan Air Putih: http://airputih.or.id
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin