Adalah Sudjojono, yang jadi perbincangan kami sore itu. Edisi khusus, sebagai bagian dari selebrasi mengenai S. Sudjojono yang dilakukan di empat belas titik di Kota Bandung, baik dalam format pameran, seminar, maupun diskusi seperti yang dilakukan Madrasah Falsafah Rabu kemarin. Berhubung publikasi yang dilakukan Tobucil cukup baik, yang datang jadinya pun cukup banyak. Sekitar lebih dari dua puluh orang, dan itu terjadi dalam kondisi hujan cukup deras. Yang membuat Mbak Tarlen sempat khawatir akan kelangsungan diskusi.
Meski demikian, Rosihan Fahmi alias Kang Ami memulainya relatif tepat waktu, yakni jam 17.10, hanya ngaret sepuluh menit. Ia memulainya sesuai wacana, yakni soal pemikiran Sudjojono tentang apa yang dinamakan “Jiwa Ketok”. Sudjojono, seniman yang dilahirkan di Kisaran, Tebing Tinggi, Sumut tersebut, terkenal menciptakan beberapa definisi bagi dunia seni rupa. Misal tentang kata “sanggar” yang ia adopsi sedikit banyak dari kata “langgar”. Sudjojono ingin sanggar yang biasa dipakai untuk para seniman merampungkan karyanya, punya unsur spiritual, semedi, dan maka itu ia seolah mau menyamakan seniman dan para kyai dalam soal adiluhung. Begitupun ketika ia ditanya, “apa itu kesenian?” Beliau menjawab: Kalau seorang seniman membuat suatu barang kesenian, maka sebenarnya buah kesenian tadi tidak lain dari jiwanya sendiri yang kelihatan. Kesenian adalah jiwa kétok. Jadi kesenian ialah jiwa.”
Soal ini, yang menjawab cukup banyak, mulai dari seniman Isa Perkasa, pendatang baru Seto dan Sudra, lalu Pak Amrizal, serta seorang kurator bernama Aminuddin TH. Siregar atau biasa dipanggil Ucok. Seto mengaitkan kesenimanan dan keseimanan, terkait dengan usaha penyamaan istilah sanggar dengan langgar. Lalu Sudra, dengan latar belakang fisikanya juga ikut berkomentar tentang jiwa ketok ini. Mengatakan bahwa apa yang disebut jiwa, lama kelamaan bisa dijelaskan lewat partikel-partikel fisika. Ia sendiri tengah meneliti soal love particle. Yang cukup runut adalah penjelasan dari Bang Ucok, maklum, beliau merupakan salah satu panitia tentang selebrasi Sudjojoni ini, sehingga sedikit banyak pengetahuannya cukup lengkap.
Bang Ucok mengaitkan antara kesenimanan Sudjojono dengan konsep superman ala Nietzsche. Hal tersebut tidak lepas dari heroisme Sudjojono yang seolah “mengharuskan” para seniman untuk maju terus pantang mundur, tidak apa-apa sengsara, melarat, yang penting berjuang demi kebenaran dan keindahan. Ini persis dengan konsep superman Nietzsche, yang mendorong kita untuk mengatakan “ya” pada hidup. Amor Fati, begitu yang ia bilang. Maka itu, jiwa ketok adalah semacam ungkapan keberanian untuk memperjuangkan kebenaran subjektif. Karena jiwa ketok adalah jiwanya sendiri, keindahan versinya sendiri, dan jua kebenaran miliknya sendiri.
Di akhir diskusi yang cukup berat dan melelahkan itu, Kang Fahmi mengajukan ide: Kiai sudah, militer sudah, jadi pemimpin Indonesia dan terbukti gagal. Bagaimana jika berikutnya adalah seniman?
Bookmark this post: |







