Sunday, December 26, 2010

Klab Nulis 2010: Upaya Bangkit di Tengah Duka


Klab Nulis meluluskan dua angkatan di tahun 2010, yakni angkatan VII dan VIII. Bedanya, jika angkatan VIII baru saja berakhir manis dan dramatis bulan Desember kemarin, angkatan VII berlangsung tertatih-tatih. Hal tersebut dapat dipahami, mengingat Klab Nulis kehilangan salah seorang tutor terbaiknya, yaitu Paskalis Trikaritasanto. Paskalis atau akrab dipanggil Mas Kalis, berpulang di tengah aktivitas Klab Nulis angkatan VII yang menyebabkan Sophan Ajie (tutor utama) menghentikan kegiatan tersebut hingga dua bulan. Di samping itu, Sophan juga tengah sibuk menggarap acara di Gedung Kesenian Jakarta bulan Juli, sehingga memang angkatan VII berjalan kurang mulus. Meski demikian, angkatan VII tetap diupayakan selesai dengan segala gangguannya, dan menghasilkan Yunita sebagai peserta dengan cerpen terbaik. Acara juga ditutup dengan hiburan dari kawan-kawan Sophan sendiri.

Angkatan VIII dimulai pasca bulan puasa tahun 2010 dengan antusiasme tinggi. Terlihat sekali Sophan melakukan persiapan dengan baik usai masa berkabung. Berbeda dengan angkatan VII yang fokus menulis pada urusan keseharian, angkatan VIII dipersiapkan untuk menulis sesuatu yang kiranya lebih filosofis dan mendalam. Hal tersebut terlihat dari tema-temanya yang kadang-kadang menyinggung filsafat dan kaitan antara sastra dengan agama. Sophan menunjuk Puji sebagai tutor pendampingnya menggantikan Mas Kalis.

Menurut Sophan, yang ia soroti di kedua angkatan ini adalah, ”Motivasinya yang agak kurang.” Maksudnya, bukan soal administrasi tentunya, karena terbukti keseluruhan peserta membayar lunas biaya keikutsertaan sejak awal. ”Ini lebih ke semangat menulis yang kurang, terlihat dari seringnya mereka absen dan jarangnya mereka bertanya,” kata Sophan. Di tahun depan, Sophan berharap angkatan baru Klab Nulis lebih termotivasi dan fokus, karena materinya katanya akan relatif lebih berat. ”Kami akan fokus pada filsafat menulis,” demikian tutup Sophan. 

Google Twitter FaceBook

Madrasah Falsafah: Kemiskinan Pola Pikir dan Peran Motivator

 











Madrasah Falsafah (Madfal) Rabu itu entah kenapa cukup sepi. Padahal, minggu sebelumnya sangat ramai bahkan hingga menyesaki dua meja. Mestinya yang dibahas adalah soal kemiskinan lintas generasi yang seyogianya diangkat oleh Pak Amrizal. Hari itu beliau absen dan jadinya Chris, salah seorang pendatang baru tapi lama, mengangkat kemiskinan pola pikir alias mindset.


Pertanyaan Chris, apakah kemiskinan itu disebabkan oleh struktur saja, atau mungkin juga berasal dari pola pikir individu juga? Maksudnya, ketika seseorang memang secara sifat sudah malas, pastinya ia juga akan terseret ke dalam kemiskinan. Lantas, Jazzy, pendatang baru tapi lama juga, tiba-tiba menyinggung profesi motivator yang tengah marak, contohnya Mario Teguh dan Bong Chandra. Kata Jazzy, motivator adalah contoh orang yang mencoba mengubah mindset kita ke arah yang lebih positif. Persoalannya, positif kata siapa dan bagi siapa? Mata mengatakan, bahwa motivator terkadang jahat, oleh karena mereka memotivasi karyawan untuk terus bekerja dan bekerja, dalam artian menyuntikkan semacam landasan spiritual agar bekerja adalah semacam keharusan, dan kerajinan bekerja adalah ibadah yang mendapat ganjaran pahala. Persoalannya kemudian, jika motivator itu ada kaitannya dengan perusahaan tertentu, maka bisa dibilang motivator disini tidaklah netral, melainkan justru menjadi sumber justifikasi agar karyawan bertahan dan berkorban lebih banyak bagi perusahaan. Dengan sarkas, bisa dibilang ketimbang menaikkan gaji, lebih baik menyewa motivator.

Iqbal lalu menambahkan, bahwa motivator barangkali ideal untuk komunal, tapi tidak untuk individual. Maksudnya, motivator memang cocoknya untuk menggiring karyawan, atau kelompok-kelompok manusia agar kemudian tujuan mereka menjadi kompak dan selaras. Individu lebih membutuhkan pencarian yang sifatnya pribadi, dan maka itu berbahaya jadinya jika tujuan-tujuan kemudian diseragamkan oleh motivator, padahal kenyataan bahwa latar belakang dan minat manusia sudah jelas berbeda-beda.

Google Twitter FaceBook

Sunday, December 19, 2010

Klab Rajut 2010: Berakhirnya Zaman Keemasan Yubiyami dan Dimulainya Era Hakken

Klab Rajut, kita semua tahu, adalah salah satu Klab paling eksis sejak era Tobucil masih di Kyai Gede Utama. Umurnya, kata Mba Upi (mentor rajut breyen), sudah lebih dari lima tahun. Klab Rajut sekarang ini terbagi tiga kelas, yaitu kelas merajut breyen yang dipimpin oleh Mba Upi, kelas merajut hakken pimpinan Dian, serta kelas merajut yubiyami pimpinan Rudi. Usia dua kelas rajut terakhir relatif muda, yaitu hakken dua tahun, dan yubiyami sekitar setahunan.

Menurut pengakuan Rudi, yubiyami pernah sangat digandrungi di awal tahun 2010. Namun setelah itu, peminatnya seolah turun. Padahal, masih kata Rudi, Yubiyami termasuk praktis dan mudah, karena tidak membutuhkan alat. Selain itu, yubiyami juga dapat mengembangkan motorik. Yubiyami, atau finger knitting memang murni mengandalkan kelima jari saja untuk merajut. Turunnya peminat ini, diakui Rudi, karena belum adanya kurikulum. Mentor masih mengandalkan materi pengajaran per datang, yang menyebabkan tiadanya kesinambungan dan peningkatan level kemampuan secara sistematis. Meski demikian, Rudi meniatkan akan membentuk kurikulum untuk tahun 2011. Selain itu, ia juga sedang mempersiapkan desain alat agar yubiyami bisa membentuk produk yang lebih kompleks. Alat tersebut, tentunya, tidak merusak esensi yubiyami yang intinya memaksimalkan kelima jari.

Sedangkan hakken, diakui Dian, tengah memasuki masa keemasan. Hal tersebut menurutnya, dimulai sejak ia keluar kerja kantoran pada September 2010. Gara-gara Dian keluar, maka ia menjadi lebih fokus dan semangat mementori hakken, dan berdampak pada respon semangat juga dari para peserta. Efeknya, salah seorang peserta sukses membuat bolero, yang mana menjadi salah satu primadona produk yang mampu dihasillkan oleh hakken atau biasa disebut merenda ini. Harapan Dian di tahun 2011, adalah membuat kelas jalan-jalan, yaitu semacam merajut bersama di kafe-kafe.

Breyen, menurut pengakuan Mba Upi, tidak selalu bisa diistilahan dengan Zaman Keemasan atau Era Kegelapan. Semuanya berlangsung "begitu-begitu saja" dalam artian positif: konsisten dan stabil. Meski demikian, Mba Upi mencatat pencapaian di tahun 2010 adalah melahirkan dua murid yang sukses membuat sweater dan vest, yang mana keduanya membutuhkan ketekunan. Bisa menghabiskan 1,5 bulan hingga dua bulan dalam merajutnya. Mba Upi hanya berharap di tahun 2011, ia bisa membentuk kurikulum yang membagi kelas menjadi dua kategori, yaitu dasar (basic) dan kelas bentukan (advance).


Mba Upi dan Dian

Google Twitter FaceBook

KlabKlassik 2010: Lahirnya Akademi KlabKlassik

Menjelang tutup tahun, Tobucil akan mereview kegiatan-kegiatan klab sepanjang tahun 2010. 

KlabKlassik merupakan salah satu klab yang konsisten berkumpul di Tobucil setiap hari Minggu. Salah satu yang menarik adalah hadirnya Akademi KlabKlassik (AKK) pada 10 Juni 2010. AKK ini awal mula kemunculannya adalah sebagai respon terhadap eksklusivikasi musik yang sepertinya dimiliki oleh lembaga-lembaga pendidikan atau sekolah musik saja. AKK dicetuskan oleh Diecky K. Indrapraja, salah seorang aktivis KlabKlassik yang cukup aktif. Profesinya adalah komponis, dan sempat juga menjadi dosen di STiMB (Sekolah Tinggi Musik Bandung). Ia mengusulkan bahwa AKK dimulai dari pendidikan dasar tentang teori musik. 

Debut AKK dimulai pada tanggal 10 Juni 2010 dengan sepuluh orang peserta. Bayarnya relatif murah, yaitu 65.000 untuk tiga bulan dan diselenggarakan tiap minggu. Meski AKK mendapat beberapa evaluasi sana sini terkait penyelenggaraannya, namun AKK edisi pertama ini menjadi pembuka jalan bagi kelanjutan AKK berikutnya. AKK sendiri diharapkan bisa menjadi ruang penting bagi penyelenggaraan pendidikan musik yang non-eksklusif. "Alasannya sederhana," kata Diecky, "musik adalah milik semua orang. Kenapa seolah-olah hanya milik lembaga musik saja?" 

Selain AKK, KlabKlassik juga menyelenggarakan sejumlah konser sejak bulan Agustus, yaitu Resital  Gitar Johan Yudha Brata, Resital Piano Andrew Sudjana, Classical Guitar Fiesta, serta Resital Piano-Trumpet Iswargia Sudarno dan Eric Awuy. Keseluruhan penyelenggaraan tersebut dilakukan di Auditorium CCF. Di samping itu, kumpul komunitas KK juga berlangsung cukup konsisten setiap minggunya. Menjelang tutup tahun, KK membuat semacam kuartet gitar yang dipersiapkan untuk acara-acara yang melibatkan KK sebagai performer.

Di tahun 2011, KK berharap tidak hanya aktif di Tobucil ataupun di blognya saja, melainkan juga menerbitkan semacam buletin yang disebarkan secara gratis. Buletin tersebut memuat konten seputar musik klasik dan keadaan musik secara umum saat ini.



Akademi KlabKlassik 2010
Google Twitter FaceBook

Sunday, December 12, 2010

Gairah Ensembel KlabKlassik

Minggu, 12 Desember 2010

KlabKlassik terlihat bersemangat. Hal tersebut, konon disebabkan oleh undangan tampil dari UNPAD pada tanggal 17 Desember nanti. Meski demikian, bukan itu inti semangatnya, melainkan kenyataan bahwa undangan tersebut "memaksa" beberapa aktivis klab untuk membentuk ensembel dan berlatih bersama. Ketika ensembel Ririungan Gitar Bandung (RGB) tengah libur dari latihan, KlabKlassik membentuk kuartet gitar yang terdiri dari Mas Yunus, Aldi, Kang Trisna, dan Kristianus.

Kuartet tersebut akan memainkan satu lagu saja, yaitu La Cumparsita karya G. Matos Rodriguez. Karya dengan ritmik Tango tersebut diaransemen untuk tiga gitar, dua flute, dan satu cello oleh Diecky K. Indrapradja, salah seorang aktivis klab juga. Karena tidak ada pemain flute, maka bagian flute diganti oleh gitar. Bagian cello juga tadinya ditiadakan, tapi mendadak KlabKlassik kedatangan seorang pemain cello bernama Fery Mathias, dan ia bersedia tampil tanggal 17 Desember. 

Kuartet ini akan dinamai KlabKlassik Guitar Quartet, yang diyakini akan menjadi "home band" yang siap pakai untuk acara-acara Tobucil yang membutuhkan musik.
 

KlabKlassik Guitar Quartet, siap jadi "home band" Tobucil
Google Twitter FaceBook

Klab Nulis: Penutupan yang Dramatis

 Jumat, 10 Desember 2010

Ophan dalam penutupan Klab Nulis, ditemani KlabKlassik


Sophan Ajie, tutor Klab Nulis, awalnya memperkirakan bahwa Klab Nulis angkatan VIII ini sepertinya akan berakhir anti-klimaks karena tidak adanya sidang karya. Namun yang terjadi malah sebaliknya, sidang Klab Nulis Angkatan VIII ternyata ditutup dengan suasana haru.Keenam peserta yang "tersisa"-dari tadinya pendaftar yang jumlahnya sebelas-, yaitu Idhar, Arlin, Ellis, Martia, Bu Meta, dan Dini, sukses menghayati hari pamungkas ini dengan khidmat. 

Sophan Ajie alias Ophan, membukanya dengan semacam diskusi mengenai penting-tidaknya menulis, lalu proses kreatif masing-masing peserta, serta ide-ide karyanya.  Misalnya, Ophan bertanya, "Menulis adalah gambaran diri kita, berarti kalau cerpen Ellis bericerita tentang kesepian, apakah Ellis pada dasarnya kesepian?" Ellis menjawab, "Iya, secara psikologis kesepian, walaupun secara sosial tidak juga." Puji, yang mendampingi Ophan selama jalannya diskusi, juga sukses mengorek-ngorek peserta sehingga jawaban yang keluar menjadi beragam dan mendalam. Misalnya, "Apakah menulis itu, adalah ungkapan rasa saja, atau malah bisa merubah pribadi si penulis?" Lantas Dini menjawab, "Bisa, karena dengan menulis, kita menjadi semakin mengenal batin kita yang terdalam. Pada titik itu, perubahan menjadi sangat mungkin."

Suasana Klab Nulis juga terasa lebih kuat karena Ophan mengundang KlabKlassik untuk menghadirkan musik di tengah-tengah diskusi. Selain bermain untuk pembuka dan pertengahan diskusi, KlabKlassik juga mengiringi pembacaan puisi yang dilakukan oleh Dini. Acara penutupan yang berlangsung kurang lebih dua jam itu, menghasilkan cerpen terbaik yang diraih oleh Ibu Meta, dan cerpen terfavorit yang diraih oleh Dini. Pada penyerahan sertifikat, terjadi suasana haru yakni ketika Mbak Tarlen, pemilik Tobucil, menyebut nama Mas Paskalis yang telah berjasa dalam menghidupkan Klab Nulis ini. Mas Paskalis, yang meningggal 26 November 2009 tersebut, adalah asisten Ophan dalam banyak edisi Klab Nulis. Mbak Tarlen juga sekaligus berterimakasih pada Puji yang mau menggantikan posisi Mas Paskalis.

Acara benar-benar ditutup dengan peluk haru antar peserta Klab Nulis. Mereka merasa kegiatan menulis ini tak sekedar menghasilkan tulisan, tapi juga persahabatan.

Google Twitter FaceBook

Madrasah Falsafah: Antara Chepalos dan Socrates

Athena itu seperti seekor kuda yang lembam, dan akulah pengganggu yang menyengatnya agar beringas  - Socrates

 Lukisan Jacques-Louis David tentang Kematian Socrates, diambil dari sini

 Socrates berjalan keliling Athena, bertelanjang kaki, dan mengajak orang-orang di pasar dan gymnasia untuk diskusi. Ia tidak melakukan doktrinasi pengetahuan, melainkan dengan pertanyaannya, ia membidani pengetahuan yang terdapat dalam diri orang lain. Athena gegar, masyarakat gusar, karena Socrates tak pandang bulu dalam menunjuk lawan dialog. Socrates bertanya pada Chepalos, pedagang tua yang kaya dan terhormat: Apa itu keadilan? Chepalos menjawab: Keadilan adalah berbicara kebenaran dan membayar hutangnya. Namun Socrates menjawab dengan sebuah contoh pembalik: Kadangkala membayar hutang bisa jadi hal yang tidak adil, seperti jika Anda meminjam sebuah senjata pada sahabat Anda, namun jika sahabat Anda lantas kehilangan akal, bukankah itu akan menjadi tak adil jika Anda mengembalikan senjata tersebut? Chepalos terjebak dalam aporia (kebingungan), ia dipermalukan di hadapan orang-orang.

Metode Sokratik adalah seni kebidanan. Ia percaya bahwa tugasnya yang hakiki adalah membantu orang-orang melahirkan pengetahuan dari dalam dirinya sendiri melalui dialog-dialog. Aporia Chepalos dianggap sebagai awal yang baik dalam memulai persalinan pengetahuan. Runtuhnya definisi awal adalah akses masuk pengetahuan yang sangat lebar. Di situ kemudian Socrates, dengan ironinya –karena ia seringkali pura-pura bodoh-, mengajak lawan dialognya untuk tidak naïf terhadap apa-apa yang dianggap sudah “jelas”. Apa itu pengetahuan? Apa itu alam realitas? Apa yang menjadi kebaikan tertinggi manusia? Apa itu perbuatan baik? Adalah hal yang mudah dijawab dalam tataran stereotip yang berkembang di masyarakat. Tapi Socrates kemudian merangsang, bahwa sesungguhnya dalam dialog yang tajam, manusia punya kebajikan dalam dirinya masing-masing untuk mengkaji ulang hakekat segala sesuatu.

Alkisah, jauh pasca Socrates secara waktu maupun geografis, terdapat sebuah komunitas yang secara aktif kumpul tiap Rabu sore mengusung semangat Socrates dalam membidani pengetahuan. Mereka mengadopsi komentar Cicero tentang Socrates, “Menurunkan filsafat dari langit, mengantarkannya ke kota-kota, memperkenalkannya ke rumah-rumah, dan memaksanya untuk menelaah kehidupan, etika, kebaikan dan kejahatan.” Madrasah Falsafah namanya, adalah mereka yang menganggap dirinya sebagai pasar Athena yang siap diobrak-abrik hingga mengalami aporia massal. Untuk sebuah lingkaran filsafat, ia jauh dari gaya-gaya macam Lingkaran Wina misalnya, yang mengusahakan dirinya agar mampu merumuskan “kebenaran-yang-tak-terbantahkan” secara kompak. Madrasah Falsafah atau Madfal, sederhana saja, ada seorang yang ditunjuk sebagai “Chepalos”, yakni mereka yang membawa masalah-masalah umum (sangat umum, seperti misalnya, tetangga, kebahagiaan, ketakutan, atau musik). Dan akhirnya, “Chepalos” ini dibawa ke hadapan para “Socrates” yang siap membongkar persoalan lewat dialog-dialog.

Metode Sokratik menitikberatkan kekuatannya bukan pada jawaban, melainkan pada pertanyaan. Pertanyaaan yang tajam mesti sukses menjebol gembok definisi umum dalam rangka membuka jalan masuk bagi dialog yang lebih kuat. Seperti pertemuan 8 Desember lalu dengan tema kemiskinan, seorang berinisial MSF meminta hadirin untuk mendefinisikan apa itu “kemiskinan” sebelum masuk pada perbincangan lebih jauh. Jawabannya beragam, dan ternyata jauh dari stereotip tentang kemiskinan itu sendiri yang biasanya dikaitkan dengan situasi finansial. MSF sukses menjadi bidan, dengan melahirkan kemungkinan bahwa kemiskinan adalah berarti soal keterbatasan akses. Titik tolak diskusi, sebagaimana halnya dialog Chepalos dan Socrates, menjadi bermula, segera pasca keruntuhan definisi umum.

Dialog Madfal yang berlangsung selama kurang lebih dua jam, selalu ditutup dengan tepuk tangan. Dalam tepuk tangan tersebut, Madfal selalu dinaungi suasana tragis, seperti kematian Socrates itu sendiri. Tragis karena kenyataan bahwa Madfal tak pernah memberitahumu apa-apa. Madfal tak pernah merasa dirinya seorang filosof sebagaimana halnya Socrates menolak disebut bijaksana. Madfal membiarkanmu pulang dengan pertanyaan. Pertanyaan tentang, “Apakah aku masih kuda yang lembam, atau sudah beringas?”

Google Twitter FaceBook

Sunday, December 5, 2010

RIP: Sidang Klab Nulis

Kamis, 2 Desember 2010

Jika ingat dahulu, jaman dahulu ketika Klab Nulis sedang jaya-jayanya melahirkan aktivitas menulis yang sangat mengasyikan, maka bolehlah prihatin dengan kondisi dan situasinya saat ini. Klab Nulis yang setiap tahunnya melahirkan dua hingga tiga angkatan menulis, adalah mereka yang mempunyai tradisi sidang karya di akhir materinya. Sidang karya adalah seperti sidang skripsi atau tugas akhir kuliah, demikian Sophan Ajie, tutornya, menggambarkan. Ada dua atau tiga "dosen", dimana mereka berhadapan dengan satu "mahasiswa" yang sedang dimintai pertanggungjawabannya tentang apa yang ia tuliskan. Cerpen atau novel adalah objek pengujian sidang karya ini. Di akhir pengujian, para peserta Klab Nulis ditunjuk siapa yang menyandang gelar Cerpen Terbaik berdasarkan hasil karyanya dan pertanggungjawaban di sidang karya.

Tradisi tersebut rupanya tidak akan ditemui pada Klab Nulis angkatan XI ini. Hal tersebut disebabkan oleh banyak faktor, menurut Sophan Ajie. Pertama, kehadiran peserta yang fluktuatif. Kadang banyak, kadang sedikit, bahkan belakangan sering absen sama sekali. Hal tersebut menyebabkan sidang mustahil diselenggarakan. Karena syarat sidang karya yang baik adalah kehadiran yang konsisten. Dengan kehadiran yang konsisten, penguji dan pembimbing bisa mengetahui tahapan-tahapan dari proses kreatif si penulis. Faktor kedua adalah cuaca, belakangan Bandung sering diguyur hujan yang menyebabkan banyak kegiatan urung dilaksanakan. Hal tersebut sebetulnya jadi terkait dengan alasan pertama, banyak ketidakhadiran yang disebabkan oleh hari hujan. Alasan ketiga, adalah antusiasme yang sepertinya kurang menggelegak ketimbang edisi Klab Nulis sebelumnya. Kurangnya semangat ini adalah faktor utama mengapa Sophan Ajie memilih untuk tidak menyelenggarakan sidang karya.
 
Meski demikian, Sophan Ajie tetap mengusahakan penutupan yang manis untuk murid angkatannya. Ia akan menyelenggarakan diskusi pada tanggal 10 Desember di Tobucil tentang karya fiksi. Semua peserta wajib datang karena inilah hari pamungkas Klab Nulis sebelum sertifikat nantinya dibagikan. Oia, diskusi 10 Desember terbuka untuk umum. Datang dan kunjungi seolah-olah kau sangat membutuhkan ilmu tentang menulis. 

Contoh suasana Klab Nulis yang tengah antusias









Google Twitter FaceBook

Madfal yang Dikunjungi Berbagai Disiplin

Rabu, 1 Desember 2010

Muhammad Sadhra Ali, hari itu sedang melakukan presentasi. Presentasi mengenai hipotesis fisika terbaru yang bernama Higgs boson. Higgs boson secara sederhana diartikan sebagai partikel yang mendasari segala partikel-partikel. Jika hipotesis tentang Higgs boson itu ternyata terbukti, maka dasar dari dunia material di alam semesta ini menjadi jelas. Karena sifatnya yang seolah seperti causa prima, maka Higgs boson disebut juga sebagai God Particle. 

Di forum Madrasah Falsafah yang cukup disesaki banyak orang itu, Sadhra memulai presentasinya dengan memperlihatkan berbagai macam lukisan lewat laptopnya. Di akhir presentasi gambar-gambar tersebut, ditampilkan tulisan yang cukup provokatif, "Face of God". Lewat gambar-gambar itu, Sadhra mau menyampaikan bahwa ia melihat Higgs boson dalam setiap lukisan. What you see is what you get. Seolah ia mau berkata bahwa Higgs boson ada dimana-mana, dan demikian halnya Tuhan yang tidak selalu "berada di atas", tapi Ia juga berada di manapun, menjadi dasar semua partikel di alam semesta ini. 

Bagi saya pribadi, penjelasan Sadhra berikutnya cukup sulit dipahami. Selain dari Sadhra sering menyampaikan istilah-istilah yang sangat saintifik, saya pun tidak mempunyai dasar pengetahuan IPA yang cukup. Sadhra membagikan beberapa makalah untuk pedoman, tapi tetap beberapa tulisannya memuat rumus-rumus yang dibaca pun susah. Namun kehadiran Sadhra tetap sesuatu yang memperkaya Madfal, karena setelah sastra, psikologi, film, musik, politik, dan sosial, sekarang giliran sains menjadi disiplin terbaru yang mengunjungi ruang diskusi Madfal. Kekayaan ranah disiplin yang mewarnai Madfal ini siap dikemas jadi kekuatan baru yang akan diperlihatkan pada Madfal Rabu tanggal 8 Desember nanti. Setelah sekian lama Madfal mempunyai format diskusi yang dipimpin oleh satu moderator, maka nanti Madfal akan mencoba mengijinkan masing-masing peserta diskusi menyampaikan pendapatnya tentang sesuatu, lewat disiplinnya masing-masing. Tema Madfal Rabu ini adalah Kemiskinan. Mari, kata Rosihan Fahmi, mengepung kemiskinan lewat berbagai disiplin yang kau tekuni.
Format diskusi Madfal biasanya, diskusi dengan satu moderator (berdiri -red)

 



Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin