Athena itu seperti seekor kuda yang lembam, dan akulah pengganggu yang menyengatnya agar beringas - Socrates
Lukisan Jacques-Louis David tentang Kematian Socrates, diambil dari sini
Socrates berjalan keliling Athena, bertelanjang kaki, dan mengajak orang-orang di pasar dan
gymnasia untuk diskusi. Ia tidak melakukan doktrinasi pengetahuan, melainkan dengan pertanyaannya, ia membidani pengetahuan yang terdapat dalam diri orang lain. Athena gegar, masyarakat gusar, karena Socrates tak pandang bulu dalam menunjuk lawan dialog. Socrates bertanya pada Chepalos, pedagang tua yang kaya dan terhormat: Apa itu keadilan? Chepalos menjawab: Keadilan adalah berbicara kebenaran dan membayar hutangnya. Namun Socrates menjawab dengan sebuah contoh pembalik: Kadangkala membayar hutang bisa jadi hal yang tidak adil, seperti jika Anda meminjam sebuah senjata pada sahabat Anda, namun jika sahabat Anda lantas kehilangan akal, bukankah itu akan menjadi tak adil jika Anda mengembalikan senjata tersebut? Chepalos terjebak dalam
aporia (kebingungan), ia dipermalukan di hadapan orang-orang.
Metode Sokratik adalah seni kebidanan. Ia percaya bahwa tugasnya yang hakiki adalah membantu orang-orang melahirkan pengetahuan dari dalam dirinya sendiri melalui dialog-dialog. Aporia Chepalos dianggap sebagai awal yang baik dalam memulai persalinan pengetahuan. Runtuhnya definisi awal adalah akses masuk pengetahuan yang sangat lebar. Di situ kemudian Socrates, dengan ironinya –karena ia seringkali pura-pura bodoh-, mengajak lawan dialognya untuk tidak naïf terhadap apa-apa yang dianggap sudah “jelas”. Apa itu pengetahuan? Apa itu alam realitas? Apa yang menjadi kebaikan tertinggi manusia? Apa itu perbuatan baik? Adalah hal yang mudah dijawab dalam tataran stereotip yang berkembang di masyarakat. Tapi Socrates kemudian merangsang, bahwa sesungguhnya dalam dialog yang tajam, manusia punya kebajikan dalam dirinya masing-masing untuk mengkaji ulang hakekat segala sesuatu.
Alkisah, jauh pasca Socrates secara waktu maupun geografis, terdapat sebuah komunitas yang secara aktif kumpul tiap Rabu sore mengusung semangat Socrates dalam membidani pengetahuan. Mereka mengadopsi komentar Cicero tentang Socrates, “Menurunkan filsafat dari langit, mengantarkannya ke kota-kota, memperkenalkannya ke rumah-rumah, dan memaksanya untuk menelaah kehidupan, etika, kebaikan dan kejahatan.” Madrasah Falsafah namanya, adalah mereka yang menganggap dirinya sebagai pasar Athena yang siap diobrak-abrik hingga mengalami aporia massal. Untuk sebuah lingkaran filsafat, ia jauh dari gaya-gaya macam Lingkaran Wina misalnya, yang mengusahakan dirinya agar mampu merumuskan “kebenaran-yang-tak-terbantahkan” secara kompak. Madrasah Falsafah atau Madfal, sederhana saja, ada seorang yang ditunjuk sebagai “Chepalos”, yakni mereka yang membawa masalah-masalah umum (sangat umum, seperti misalnya, tetangga, kebahagiaan, ketakutan, atau musik). Dan akhirnya, “Chepalos” ini dibawa ke hadapan para “Socrates” yang siap membongkar persoalan lewat dialog-dialog.
Metode Sokratik menitikberatkan kekuatannya bukan pada jawaban, melainkan pada pertanyaan. Pertanyaaan yang tajam mesti sukses menjebol gembok definisi umum dalam rangka membuka jalan masuk bagi dialog yang lebih kuat. Seperti pertemuan 8 Desember lalu dengan tema kemiskinan, seorang berinisial MSF meminta hadirin untuk mendefinisikan apa itu “kemiskinan” sebelum masuk pada perbincangan lebih jauh. Jawabannya beragam, dan ternyata jauh dari stereotip tentang kemiskinan itu sendiri yang biasanya dikaitkan dengan situasi finansial. MSF sukses menjadi bidan, dengan melahirkan kemungkinan bahwa kemiskinan adalah berarti soal keterbatasan akses. Titik tolak diskusi, sebagaimana halnya dialog Chepalos dan Socrates, menjadi bermula, segera pasca keruntuhan definisi umum.
Dialog Madfal yang berlangsung selama kurang lebih dua jam, selalu ditutup dengan tepuk tangan. Dalam tepuk tangan tersebut, Madfal selalu dinaungi suasana tragis, seperti kematian Socrates itu sendiri. Tragis karena kenyataan bahwa Madfal tak pernah memberitahumu apa-apa. Madfal tak pernah merasa dirinya seorang filosof sebagaimana halnya Socrates menolak disebut bijaksana. Madfal membiarkanmu pulang dengan pertanyaan. Pertanyaan tentang, “Apakah aku masih kuda yang lembam, atau sudah beringas?”