30.1.11

KlabKlassik Edisi Playlist: Memamerkan Barang-Barang Pribadi

Minggu, 30 Januari 2011

KlabKlassik minggu terakhir, sudah disepakati, menjadi edisi playlist. Edisi playlist adalah pertemuan yang berisikan pemutaran lagu-lagu untuk diapresiasi bersama. Lagu-lagu tersebut, bebas saja, masing-masing orang membawa satu dalam format mp3. Dini mendapat giliran nomor satu, ia memutar lagu lirih dari The Script, judulnya The Man Who Can't be Moved. Lagu berirama britpop itu, bercerita tentang seorang pria yang menantikan wanita di tempat pertama mereka berjumpa. Pria tersebut ogah beranjak, seolah ia mau bermukim selamanya, hingga sang wanita datang kembali. Lagu pertama ini membuka keran untuk mengarahkan topik pertemuan menjadi soal lirik. Tentang bagaimana kekuatan lirik, dan lirik bagaimana saja yang laku di pasaran.

Setelah pemutaran lagu sendu dari Dini, Kang Tikno giliran menyuarakan lirik yang gahar dan "tak laku". Yakni Iwan Fals berjudul Kancil. Bercerita tentang pragmatisme sistem sekolahan yang akhirnya menawarkan mental-mental birokrat oportunis. Lagu ini sangat laku di kalangan masyarakat bawah tahun 1980 an, namun ternyata tak diputar secara bebas. Dari situ, kata Diecky, lirik lagu pun sesungguhnya menunjukkan rezim kekuasaan yang berlaku. Jika lagu-lagu bertemakan kritik sosial tidak bebas dipasarkan, maka itu artinya ada semacam bau-bau totalitarian di lingkungan penguasa. 

Setelah itu, giliran Wawan yang memamerkan barang pribadinya. Ia menyetel lagu karya Johanes Brahms yang dinyanyikan secara a capella oleh PSM Unpar. Lagu tersebut, ia suka, karena kekuatan ekspresinya dalam menggambarkan masa muda yang hilang. Berbeda dengan dua lagu sebelumnya dimana lirik menjadi kekuatan utama, lagu Brahms ini justru sangat kuat dari dinamika ekspresinya. Kami yang mendengar bisa ikut merasakan pesannya, meski tak paham liriknya karena dalam Bahasa Jerman.

Pertemuan yang berlangsung hangat dan melankolik itu ditutup oleh musik pop dari Peter Gabriel dan Michael Buble. Masing-masing dari Martina dan Andre. Pada akhirnya, para pengikut pertemuan belajar satu hal: Bahwa musik tidak ada yang buruk secara an sich, jika dikaitkan bagaimana hal tersebut melekat pada memori. Kaos yang kita pakai sebelum tidur, meskipun kotor dan bau, sulit sekali kita buang karena kenyataan bahwa barang tersebut sudah mendagingi kita secara pribadi. 

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin