6.2.11

Madrasah Falsafah: Membicarakan Bahasa

Rabu, 2 Februari 2011


Hari itu saya terlambat datang ke Madfal. Diskusi sudah berjalan tiga puluh menit ketika saya datang. Topiknya pun, tak ada yang mau memberitahu soal apa, karena kata Mas Oyeah, "Bahasa tak mampu melukiskan topik hari ini!" Okelah, jadi saya ikuti saja alur diskusinya yang mengalir cukup bebas sore itu. Yang pertama saya dengar adalah ucapan kang Ami (Rosihan Fahmi), moderator Madfal, "Bahasa adalah rasa. Ia mewakili dirinya, pribadinya." Lalu ditimpali oleh Ijal, "Sebentar, apakah bahasa juga dipengaruhi gestur?" Pertanyaan Ijal itu dijawab dengan menarik oleh Wienny, yang menyodorkan pengalamannya menonton film berjudul Lie to Me. Menurutnya, tubuh adalah sumber kejujuran. Meskipun diusahakan untuk jujur, tapi secara detail pasti ada gestur yang menyatakan dia berbohong, "Misalnya, dulu kita berpikir kalau orang tidak mau bertatapan mata berarti dia tengah berbohong. Tapi ternyata bisa jadi orang terus-terusan menatap mata karena dia sedang berbohong. Dia ingin meyakinkan lawan bicaranya dengan menatap mata terus menerus."

Saya menimpali, bahwa politisi salah satu pekerjaannya adalah mengatasi tubuh dan gestur. Politisi ulung tau caranya tetap tersenyum meskipun perasaan tidak mendukung. Iqbal punya pendapat lain, ia melihatnya bahwa bahasa adalah biologis, ketika kita mengatakan, "An*ing!", maka intonasi naik menyebabkan emosi juga naik. Akibat membahas itu, obrolan Madfal menjadi terkerucutkan pada omongan an*ing itu, maksudnya dibedah secara filosofis. Saya mulai bisa tahu bahwa sepertinya semua ini tengah membicarakan soal bahasa. Menurut Iqbal, penting sekali orang untuk marah dan kadang-kadang mencaci, untuk membebaskan tekanan dari dalam diri. Ungkapan-ungkapan seperti an*ing dan beberapa perkataan yang tidak normatif justru adalah upaya manusia untuk melawan kemapanan. Bahkan Jazzy mengatakan bahwa dalam beberapa kata-kata dalam bahasa Inggris, ada kata-kata kasar yang justru diadaptasi ke dalam bahasa baku agar itu seolah-olah resmi.

Saya jadi ingat, ketika seorang guru Yoga mengatakan, bahwa orang yang tidak pernah bersenandung, kemungkinan punya potensi psikopat dan pembunuh. Hal tersebut menunjukkan adanya korelasi menarik antara senandung sebagai kegiatan tak sadar, dan senandung sebagai ekspresi pembebasan bawah sadar. Bahwa manusia, dalam segala gerak-gerik realitasnya yang terbatas, membutuhkan ruang untuk menumpahkan berbagai unek-unek. Diecky bilang, ada seni sebagai sarana pembebasan, tapi Madfal kemarin bilang: ada an*ing sebagai mediumnya.

Syarif Maulana

Google Twitter FaceBook

1 comment:

RIVAL ARDILES SANDO said...

kayanya asik madrasah falsafah

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin