20.2.11

Peluncuran Buku "Perjalanan Teater Kedua": Mencari Jalan Pulang

Kamis, 17 Februari 2011


 Kamis sore itu, beranda Tobucil tengah disesaki pengunjung. Rupanya ada semacam diskusi, tepatnya peluncuran buku "Perjalanan Teater Kedua: Antologi Tubuh dan Kata" karya Afrizal Malna. Acara peluncuran yang diadakan di Bandung ini, adalah untuk ketiga kalinya setelah di Jakarta dan Yogyakarta. Dimoderatori oleh Sophan Ajie (tutor Klab Nulis), acara sempat berlangsung datar di hampir enam puluh menit pertama. Pertanyaan kurang banyak bermunculan, namun dicurigai ini disebabkan oleh moderator yang kurang jeli melihat keadaan. Menyadari situasi ini, moderator langsung membuka keran sesi tanya jawab, dan walhasil pertanyaan, komentar, dan tanggapan langsung bersahut-sahutan.

Iqbal memulainya dengan sesuatu yang ia sendiri bingung apakah itu pertanyaan, komentar, atau tanggapan (?), yaitu mengenai hubungan manusia dengan alam dalam teater. Ungkapan ini adalah berdasarkan pengalamannya di Mentawai kemarin, dimana penduduknya menganut agama "urat daun". Terinspirasi dari hal tersebut, Iqbal bertanya, bagaimana hubungan pemain dengan panggungnya? Seperti misalnya, bagaimana sebuah properti disucikan? Iqbal dilanjut Agus Bebeng, yang secara gamblang mengungkapkan kekecewaannya pada teater sekarang yang seperti sinetron, atau ia menyebutnya dalam istilah, "Teater tak mampu lagi membuat tidur saya terganggu." Antariksa, mengungkapkan bahwa jangan-jangan teater dewasa ini mesti mengimbangi percepatan twitter atau Facebook yang sangat cepat dan instan. Teater harus disesuaikan dan memang tak lagi mesti agung. Konsep keagungan teater mesti mulai dilupakan dan pihak-pihak teater mesti menerima kenyataan ini. 

Afrizal Malna sendiri, dan narasumber lain yakni Irwan Jamal, menjawab bergantian. Memang, acaranya menjadi bukan tentang pembahasan buku, melainkan justru mempersoalkan permasalahan-permasalahan di dunia teater saat ini. Afrizal menyebutkan bahwa teater, sebagaimana halnya juga galeri, membutuhkan kuratorial. Sedang Irwan Jamal melihat bahwa persoalan teater adalah ketertinggalannya dari teknologi masa kini yang begitu cepat. Misalnya teknologi SMS, membuat orang kehilangan ruang-ruang kontemplasi. Mereka tidak lagi punya waktu untuk merenung dalam kesendirian karena ponsel dan internet membuat mereka harus terus bersinggungan dengan yang lain. Afrizal kemudian menambahkan, bahwa akibat teknologi tersebut, imbasnya pada dunia teater adalah bahwa orang-orangnya tak lagi mampu berlatih keras dan lama.Afrizal mencontohkan bahwa kala ia pentas dulu, persiapannya bisa mencapai sembilan bulan, dengan latihan lebih dari dua belas jam per hari.

Acara yang berlangsung hingga hampir pukul sembilan malam itu ditutup oleh pernyataan mengesankan dari Afrizal, "Hidup ini absurd, kadang saya juga tak tahu harus ngapain. Tapi saya merasa teater memberi jalan pulang."
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin