10.4.11

Akhir Kelas Filsafat untuk Pemula: Merumuskan Manusia Indonesia


Selasa, 5 April 2011


Filsafat untuk Pemula akhirnya memasuki pertemuannya yang terakhir. Kelas yang bertatap muka selama delapan kali tersebut, menutup sesi puncaknya dengan melakukan review terlebih dahulu. Bersama Bambang Q-Anees (dosen filsafat UIN), diulas kembali bagaimana kelas tersebut berjalan, berdasarkan urutan materinya: Dimulai dari mitos, filsafat tradisi non-semitik, filsafat tradisi semitik, filsafat pra-Socrates, filsafat Socrates, Plato, dan Aristoteles, serta filsafat Hellenisme. Didapatkan semacam “pemetaan ulang”, bahwa kiblat filsafat tidak melulu mesti ke Barat. Nilai-nilai Timur sesungguhnya merupakan filsafat juga, dan padanya terkandung nilai kebijaksanaan yang seringkali oleh Barat “dikelola” ulang sehingga nampaknya pemikiran Timur itu hanyalah gagasan kosong berbasis keimanan semata (baca: agama). 

Ternyata kelas pamungkas tersebut tidak hanya menyimpulkan hal di atas, melainkan juga ada diskusi tambahan yang cukup ekstrem dari Mas B-Q: “Mari kita rumuskan, apakah manusia Indonesia itu, secara filosofis.” Ini nampak seperti pekerjaan cukup sulit, karena setelah dengan susah payah memilah manusia Barat dan Timur, akhirnya ketimuran itu sendiri dieliminasi menjadi khas manusia Indonesia saja, yang tidak ada ciri-ciri serupa menempel pada manusia Cina ataupun manusia India, dan lainnya.

Mas Tanto, salah seorang dari empat murid kelas, menyebutkan kemungkinan bale-bale. Bale-bale adalah semacam alas berbentuk persegi terbuat dari kayu –dimana orang-orang duduk bersila- yang sering ditemui di masyarakat-masyarakat pertanian di Indonesia. Di tempat itu biasanya mereka berkumpul untuk makan atau apapun kegiatan sebelum dan sesudah pertanian. Bale-bale menurut Mas B-Q, bisa jadi merupakan cara yang khas bagi masyarakat Indonesia untuk berefleksi, mawas diri, menjadi bagian yang harmoni dari semesta, dengan cara yang sama sekali lain dengan Barat ataupun bangsa-bangsa Timur lainnya.

Kemungkinan lainnya adalah wayang. Wayang kita tahu, berasal dari India. Namun tengok bagaimana orang Indonesia melakukan counter-culture dengan menghadirkan kuartet punakawan: Semar, Gareng, Bagong dan Petruk. Seluruh ksatria dalam pewayangan, sehebat apapun mereka, dalam perjalanan mencari mustika DewaGuru, mestilah diantar punakawan. Inilah salah satu kreativitas manusia Indonesia, ketika secara perlahan mereka menyusupkan sekelompok tokoh jenaka padahal sangat esensial bagi kehidupan para ksatria. Inilah yang juga ditemui pada banyak aspek kehidupan lain yang mungkin tidak kita sadari. Bagaimana orang Indonesia selalu dengan halus berkelit dari aturan eksternal, mempunyai daya kreatif sendiri untuk bertindak atas normanya sendiri. Indonesia mustahil bisa diatur seperti Singapura yang bagi Goenawan Mohamad, “Negara yang seperti ruang gawat darurat.”

Contoh-contoh lain seperti pekerjaan “polisi cepek” di perempatan, istilah “masuk angin” (sehingga dengan menyederhanakan berbagai penyakit dalam satu konsep, konsep penyembuhannya pun cuma satu), hingga “tragedi nasi aking” (nasi aking dianggap tragedi dalam kacamata modernis, tapi itu adalah sebentuk kreativitas, dalam kacamata lain), menunjukkan bahwa jangan-jangan manusia Indonesia, adalah manusia yang kreatif dan selalu cepat dan kuat dalam beradaptasi. “Lihat krisis moneter, bagi masyarakat bawah, tidak ada pengaruhnya,” tambah Mas B-Q.

Filsafat untuk Pemula pun ditutup dalam suasana yang cukup aneh, karena ada hal berani yang tidak pernah dilakukan sebelumnya: merumuskan siapa kami ini sesungguhnya, dalam konteks yang lebih makro. Merumuskan eksklusivitas, kekhasan, dan pada akhirnya mengembalikan kepercayaan diri kami yang sempat hilang ditelan jejalan filsafat Barat yang seringkali menjadikan kami berpisah dengan diri-identitas. Sampai bertemu di kelas berikutnya: Abad Pertengahan.

Para peserta dan fasilitator Filsafat untuk Pemula memamerkan sertifikat tanda kelulusan.
Google Twitter FaceBook

1 comment:

leleituenak said...

protes ah :)..wayang mah ga dari India! Aseli Indonesia. cuma salah satu cerita pewayangannya memang ada yang mengadopsi dari India, Mahabarata, Ramayana. Tapi kisah asli pewayangan Indonesia juga tetep ada

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin