3.4.11

Filsafat untuk Pemula: Hellenisme

Mari berkenalan dulu dengan Aleksander Agung dari Makedonia. Lahir tahun 356 SM, ia sukses menjadi raja dari sebuah wilayah kekuasaan terbesar sepanjang sejarah: Membentang dari Laut Ionia hingga Himalaya. Yang lebih hebat, ia melakukannya dalam kurun waktu sepuluh tahun, yang diawali dari Asia Minor yang kala itu dikuasai Persia. Aleksander Agung meninggal dalam usia relatif muda, yakni 32 tahun. Namun warisannya sungguh tak terkira. Ketiranian tentu menjadi salah satu warisan kelam. Namun warisan positifnya adalah, murid dari Aristoteles ini telah menyatukan dunia Yunani dan Romawi, dimana di dalamnya lahir banyak sekali pengaruh yang ditularkan ke peradaban Barat (penanggalan Januari-Desember sekarang adalah salah satu contoh kecilnya).

Tak terkecuali aliran pemikiran pun bermunculan di era yang disebut dengan Hellenisme ini. Yunani yang pernah jaya dan merdeka, dicaplok dengan mudahnya oleh Aleksander. Selanjutnya akan dikutip dari buku Brian Magee berjudul Story of Philosophy, tentang bagaimana keadaan dunia Hellenis:
"Aleksander mendirikan kota-kota baru untuk mengatur dan mengurus wilayah taklukannya. Proses kolonisasi ini dilakukannya dengan kerja sama dengan orang-orang Yunani. Mereka umumnya menikahi perempuan setempat. Populasi kota-kota ini cepat sekali menjadi kosmopolitan, namun etos pemerintahan serta bahasa mereka tetaplah Yunani. Demikianlah, seluruh dunia saat itu dijalankan dari kota-kota "Yunani" yang tidak berada di Yunani, dengan penduduk yang multirasial dan multilingual. Inilah dunia Helenistik."

Keadaan seperti ini, yakni akulturasi antara Yunani, Romawi, -dan juga Mesir-, telah menyebabkan lahirnya aliran-aliran pemikiran yang sangat beragam dalam waktu nyaris bersamaan. Dalam pertemuan Filsafat untuk Pemula kemarin yang dihadiri tiga orang, tidak dibahas seluruhnya, melainkan beberapa saja:

  • Epikureanisme. Epikureanisme berasal dari seorang pemikir, Epikuros. Tujuannya adalah membebaskan orang dari ketakutan, bukan hanya ketakutan terhadap kematian, melainkan juga ketakutan terhadap kehidupan. Dalam zaman ketika kehidupan masyarakat serba tidak pasti, paham ini mengajarkan agar orang mencari kebahagiaan dan kepenuhan dalam kehidupan pribadi. "Hiduplah tanpa dikenal" merupakan salah satu semboyannya.
  • Stoisisme: Ini adalah filsafat yang dominan di zaman Romawi. Inti filsafat Stoisisme terletak dalam pandangan bahwa tidak ada autoritas yang lebih tinggi daripada nalar. Pertama, dunia sebagaimana dihadirkan oleh nalar kepada kita, yakni dunia Alam, adalah satu-satunya realitas yang ada. Tidak ada yang "lebih tinggi". alam diatur oleh prinsip-prinsip yang dapat dipahami secara rasional. Kita pun bagian dari Alam. Roh rasionalitas yang merasuki diri kita dan Alam itulah yang disebut Tuhan. Jadi, Tuhan tidak berada di luar atau terpisah dari dunia, melainkan hadir merasuk dalam segalanya di dunia. Karena kita menyatu dengan Alam, dan karena tidak ada dunia yang lebih tinggi lagi, maka tidak ada pernyataan "ke mana kita pergi setelah mati". Tidak ada tempat lain yang akan kita tuju. Kita kembali larut dalam alam.
Pembahasan ketiga sesungguhnya adalah tentang Neopitagoreanisme. Tapi baru sepuluh menit penjelasan, obrolan tiba-tiba menjadi sangat "mistik". Awalnya, Kang Ami sebagai pemandu menjelaskan tentang pemikiran Neopitagoreanisme soal pemisahan tubuh dan ruh. Bu Maria tiba-tiba mengaitkan dengan pengalaman Near Death Experience (NDE) yang diperolehnya masa SMA. Ia pernah terpisah dari tubuhnya selama beberapa saat, dan cerita itu memancing banyak pengalaman-pengalaman mistik. Apakah kemudian aroma filsafat yang rasional teracuni dengan adanya cerita-cerita mistik ini? Tidak, kata Kang Ami, karena filsafat juga mengawali berbagai ujarannya dari sesuatu yang "mistik", mengejawantahkan yang tak terejawantahkan, menjelaskan yang tidak terjelaskan, merasionalkan yang tidak rasional, menampakkan apa yang tak kelihatan. Dan kadangkala, hasil pemaparan filsafat tetap saja hmmm mistik. 

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin