25.4.11

Madrasah Falsafah: Memecahkan Kegalauan Ijal dan Ratna

Rabu, 20 April 2011

Rabu itu semestinya Hadi yang menyajikan topik, yakni pembahasan mengenai buku Lekra dan Manikebu. Hingga pukul enam, Hadi belum juga hadir. Akhirnya Madrasah Falsafah mulai mengobrol ngalor-ngidul, berharap salah satu dari celetukannya sukses nyantol untuk menjadi topik. Ternyata salah satunya memang berhasil, yakni ketika Ratna dan Ijal menceritakan tentang rencananya untuk mengikuti Eagle Awards. Eagle Awards adalah kompetisi film dokumenter yang diselenggarakan oleh MetroTV. Tema film dokumenternya adalah Bagimu Indonesia. Para peserta tidak mesti membuat filmnya, melainkan hanya menyumbang konsep untuk kemudian digarap oleh kru MetroTV itu sendiri.

Jadilah diputuskan, tema hari itu adalah tentang pematangan konsep film dokumenter Ijal dan Ratna. Dalam workshop yang digagas oleh MetroTV, didorong bagi para peserta untuk lebih menyoroti lingkungan sekitar, dari yang terdekat. Maka itu Ijal dan Ratna terpikir soal Gasibu pagi, yakni pasar tumpah yang hadir setiap Minggu pagi. Persoalan Gasibu inilah yang kemudian dibahas secara filosofis. Dalam pembicaraan Madfal, keberadaan pasar di Gasibu dapat dilihat sebagai tiga hal: Pertama, sebagai bentuk disfungsi ruang. Ruang yang semestinya dipakai untuk berolahraga, ternyata dipakai untuk hal yang non-olahraga. Kedua, perspektif yang lebih damai, adalah geliat sektor informal. Artinya, ketika sektor formal minim kesempatan, sektor informal inilah sumber roda ekonomi masyarakat yang baru, dan kemudian memanfaatkan Gasibu sebagai tempatnya. Terakhir, adalah bentuk perlawanan ideologis untuk merebut ruang. Ini perspektif yang lebih radikal sepertinya.

 Suasana Gasibu pagi, diambil dari sini

Namun dalam observasi Ijal, ternyata nomor satu dan nomor dua benar adanya. Namun yang nomor tiga sepertinya tidak ada, sepertinya para pedagang itu baik-baik saja dan tiada upaya melawan secara ideologis. Bahkan Ijal menganggap keberadaan mereka sebagai hiburan, karena ternyata ada tukang-tukang yang jarang ditemukan dalam keseharian, seperti tukang patri misalnya. Apapun itu, setidaknya memang nyata adanya, bahwa belakangan ini di berbagai bidang telah terjadi Indonesianisasi secara serius, termasuk filsafat dan seni. Seolah-olah memang sudah waktunya manusia Indonesia mencari kediriannya ke dalam, dan bukan ke luar. Tema diskusi-diskusi filsafat misalnya, Extension Course Filsafat Unpar mengangkat tema Manusia Indonesia Abad ke-20, senada dengan Kelas Filsafat untuk Pemula di Tobucil yang berujung pada perumusan apa itu manusia Indonesia. Di bidang seni, selain tema film dokumenter Eagle Awards ini, juga belakangan di musik digelar konser Mahagita Nusantara oleh ITB, serta kompetisi lagu daerah oleh salah satu lembaga musik. Demikian, semoga perenungan ini menjadi sesuatu yang nyata. Bukan sesuatu yang trendi semata. Maju terus Ijal dan Ratna.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

1 comment:

Azhar Rijal Fadlillah said...

terimakasih Madrasah Falsafah :)

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin