18.4.11

Talk The Peace: Damai bersama Dr. Rick Love

"Ajari aku tersenyum. Seperti matahari yang takkan berhenti tersenyum pada siang. Ajari aku tersenyum. Seperti bulan yang takkan berhenti tersenyum pada malam."

Lagu berjudul "Ajari Aku Tersenyum" tersebut didendangkan oleh Ustad Yusef Rafiki dengan rasa damai. Beriringkan gitar di tangannya, ia bernyanyi di sela-sela acara Talk The Peace #1 yang digagas oleh kelompok Peace Generation. Acara tersebut semestinya dimulai pukul 18.30, namun tertunda hingga satu jam akibat hujan. Suasana Tobucil malam itu betul-betul lain dari biasanya. Di berandanya, berbicara seorang narasumber bernama Dr. Rick Love yang terus menerus meniupkan kampanye perdamaian. Ditemani penerjemah bernama Eka J. Lewis, ia berkisah tentang bagaimana membangun dialog Muslim-Kristen di Amerika.

Di Amerika, katanya, Muslim adalah minoritas, sedang Kristen adalah mayoritas. Dengan demikian, Kristen menjadi pihak yang semestinya berinisiatif untuk merangkul minoritas itu. Dr. Rick Love membeberkan cara-caranya yang unik: via kuliner. Diantara kedua kaum tersebut, mereka menggagas sebuah acara bernama Peace Feast. Dalam acara tersebut, masing-masing tokoh agama memasak semacam hidangan khas, bersantap sama-sama dalam satu meja, setelah semua gembira baru silakan menceritakan soal iman. Inilah yang dikampanyekan oleh Dr. Rick Love di Indonesia. Sebaliknya, pihak Muslim sebagai mayoritaslah yang seharusnya berinisiatif merangkul Kristen.

Apa yang mau disampaikan oleh Dr. Rick Love sebetulnya bukan sesuatu yang betul-betul baru. Ia hanya mengingatkan kita bahwa agama sejatinya adalah cinta kasih. Ketika cinta kasih sudah menjadi landasan hubungan manusia, maka perbedaan-perbedaan bisa diatasi dengan mudah. Ia menolak kampanye-kampanye keagamaan yang berdoktrinkan, "Mereka yang menyatakan bahwa agama mereka adalah satu-satunya jalan, adalah agama yang buruk." Bagi Dr. Rick Love, meskipun pernyataan itu cukup baik, tapi mesti dikoreksi. Yang betul, "Mereka yang tidak mengajarkan cinta kasih, adalah agama yang buruk."

Acara ditutup dengan nyanyian Eka J. Lewis. Eka J. Lewis yang murni berwajah Eropa Barat atau bule tampil jenaka ketika ia mendendangkan lagu Sunda dengan sangat fasih dan penuh penghayatan. Mengingatkan kita kembali bahwa banyak cara yang dapat dilakukan untuk meruntuhkan perbedaan.


Syarif Maulana

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin