29.5.11

Berbincang Hingga Larut Bersama Eric Sasono

Selasa malam itu, di tengah hujan-hujan rintik, berkumpul suatu forum di beranda Tobucil. Mereka tengah membahas tentang film Indonesia bersama kritikus film Eric Sasono. Dimoderatori oleh Mohammad Syafari Firdaus alias Mas Daus, forum yang dipadati sekitar sepuluh orang itu berlangsung hangat dan akrab.  

Mas Daus memulai pembicaraan dengan mengajak Mas Eric membahas persoalan film Indonesia saat ini secara umum, terutama bagaimana film-film tersebut tidak dekat dengan realitas keseharian. Mas Eric memulainya dengan, "Sehari-hari saya naik busway. Berjuang di dalam sana, dan sampai kantor saya kerak berteriak tanda gembira. Itu adalah salah satu realitas yang kita lihat sehari-hari di masyarakat, tapi tidak banyak kan film yang mengambil latar busway? Hanya dua yang saya ingat." Mas Eric juga melihat bahwa tema-tema nya pun tidak menyentuh persoalan-persoalan keseharian yang subtil, seperti misalnya anti-korupsi. 

Mas Eric yang sangat senang mengembangkan pembicaraan ini, akhirnya menyentuh sisi teknis yang amat menarik dari film-film Indonesia. Menurutnya, film-film Indonesia, sinetron contohnya, lebih banyak menyoroti wajah pemain (eksplorasi middle shot dan close up), ketimbang gesturnya. Ia menyebutkan dengan gamblang, "Lihat alisnya, semua ekspresi ada di alis." Lantas ia sambung, bahwa sinetron memberikan ruang interpretasi yang minim, maka itu acapkali tidak edukatif. Misalnya, suatu ekspresi marah, akan dipertegas dengan ungkapan "saya marah", dan lagu yang juga mendukung hal tersebut. Sehingga, sangat sulit bagi pemirsa untuk berpikir dan menarik interpretasi yang luas lagi mencerdaskan.

Bioskop, lanjut Mas Eric, adalah sebuah fasilitas yang tidak cuma menyuguhkan film saja, tapi juga social event. Via bioskop, masyarakat menjadi berkumpul dan mendapatkan hiburannya dari tidak cuma sekedar film, tapi juga sosialisasi. Persoalannya, penyebaran bioskop di Indonesia mengalami problem struktural, sehingga distribusinya kurang merata. Banyak film-film yang bagus dan inspiratif, tidak bisa menjangkau daerah-daerah terpencil yang barangkali jua membutuhkan. Mas Eric mengambil contoh di India, ketika bioskop dan film-film lokal begitu merajai dunia hiburannya, dan sanggup merata secara distribusi.

Obrolan malam itu ternyata berlanjut hingga pukul setengah dua belas. Banyak yang dipetik dari kritikus film yang juga penulis skenario film Brownies dan peraih best film critic Piala Citra 2005 dan 2006 ini. Segala tentangnya dan tulisannya, bisa ditengok di sini.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin