29.5.11

Filsafat Untuk Pemula Angkatan Dua: Kajian Abad Pertengahan

Setelah Filsafat Untuk Pemula digelar untuk pertama kalinya bulan Maret hingga Mei kemarin, kelas tersebut kembali digelar dengan tema yang berbeda, yakni "Di Sini Terang, Di Sana Gelap" (Kajian Filsafat Abad Pertengahan). Filsafat Untuk Pemula di Tobucil, seperti biasa, mempunyai upaya dekonstruksi. Tidak hanya mengajarkan filsafat secara an sich, tapi juga mencoba memperbandingkan, mempertentangkan, dan melihatnya dari sudut pandang yang lain. 

Abad Pertengahan, acapkali menjadi tema-tema film Hollywood yang memikat mata. Robin Hood, King Arthur, Kingdom of Heaven, hingga Black Death adalah beberapa contohnya. Ksatria berpedang, berjubah, bertameng baja, berkuda, hingga raja-raja lalim ada di latar jaman ini. Di samping keindahan setingnya, Abad Pertengahan juga mencatat beberapa hal yang menjadi "trauma" bagi sejarah Barat. Ia konon disebut dengan "pertengahan", karena berada diantara dua periode yang "beradab" dalam sejarah Barat, yakni Romawi dan Renaisans. Ia terapit di tengah-tengah, dan seolah dianggap sebagai masa transisi keberadaban.

Abad Pertengahan, bagi kaum skeptis, tak jarang disebut sebagai Abad Kegelapan. Masa yang terentang dari abad ke-5 hingga abad ke-15 tersebut, disebut demikian salah satunya karena hadirnya inkuisisi. Di Abad Pertengahan, ada periode serius dimana yang berbeda keimanan dieksekusi di tiang-tiang pembakaran. Beberapa pemikiran malah menyebutkan bahwa di Abad Pertengahan, filsafat dikatakan mengalami kematian. Ia kerap dipertentangkan dengan keimanan, dan adapun beberapa upaya penyatuan filsafat dan keimanan menjadi rancu dan tak valid. Salah satu produknya ya itu tadi, inkuisisi, yang berasal dari Neo-Platonisme Santo Agustinus. Bahkan Abad Pertengahan sering sekali filsafatnya diejek dengan, "Menggaruk tidak di tempat yang gatal."

Meski demikian, jika Barat menganggap Abad Pertengahan sebagai periode yang kelam, nanti akan kita lihat betapa periode tersebut adalah justru keemasan bagi peradaban yang lain. Misalnya, Islam waktu itu sedang ada dalam salah satu jaman terbaiknya, dengan lahirnya beberapa ilmuwan dan saintis yang amat berpengaruh juga bagi dunia Barat kemudian. Demikian halnya Jepang, di bawah periode Kamakura, mereka mengalami kemajuan pesat, sama seperti Cina yang melahirkan mesiu (sesuatu yang menjadi peletak dasar Renaisans Eropa). 

Filsafat untuk Pemula Tobucil, yang dimulai tanggal 6 Juni nanti, akan berlangsung delapan kali pertemuan. Ada upaya untuk melihat Abad Pertengahan dari sudut pandang yang lebih luas dan dekonstruktif. Ia bisa jadi gelap untuk sudut pandang tertentu, bisa jadi terang dari sudut pandang yang lain. Kita akan berpindah-pindah tempat duduk, agar penglihatanmu lebih jelas. "Di Sini Terang, Di Sana Gelap."

Filsafat untuk Pemula Angkatan Pertama

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin