22.5.11

KlabKlassik Edisi Playlist #6: Dari Pat Metheny sampai Jose Gonzales

KlabKlassik Edisi Playlist #6, seperti biasa digelar di minggu keempat pertemuan KlabKlassik. Masing-masing dari orang yang hadir membawa satu lagu untuk diputar dan didengarkan sama-sama. Jika beruntung, narasumber dan analisator Ismail Reza dan Diecky K. Indrapraja akan angkat bicara menyoal lagunya.  

Di hari Minggu yang ceudeum itu, peserta playlist beberapa diantaranya hadir lebih cepat sebelum jam tiga sore. Ketika acara itu sendiri dimulai sekitar jam setengah empat, lagu yang sudah didaftarkan di operator Beben mencapai sebelas lagu. Akhirnya acara dibuka, dan ini dia ulasan-ulasannya.

1. Last Train Home - Pat Metheny
Lagu ini dibawa oleh Mas Daus atau Moh. Syafari Firdaus. Lagu ini sebetulnya pernah diputar oleh Martina di edisi sebelumnya, namun yang ini versinya agak berbeda. Kata Mas Daus, ia punya sejarah yang melankolik-romantik terhadap lagu ini. Awalnya ia tak tahu Pat Metheny sama sekali dan cuma diberi oleh kenalannya. Ketika mendengarkan lagu tersebut dalam kereta perjalanan pulang ke Bandung, ia merasa karya Letter from Home sangat mewakili perasaannya kala itu, "Padahal sebelumnya saya gak tahu judul lagunya apa, cuma dengar aja sambil tidur-tiduran."

2. Paranoid Android - The Section Quartet
Lagu ini dibawa oleh Nia Janiar. Versi asli dari Radiohead, digubah dengan cukup aman menurut pandangan Diecky. Tidak banyak perubahan komposisi dari karya orisinilnya, hanya perpindahan instrumentasi dari Radiohead ke kuartet gesek saja (dua biola, satu biola alto, dan cello). Yang asyik adalah perasaan-perasaan gelisah yang ditimbulkan oleh lagu bagian verse-nya, yang lalu disambung dengan bagian tengah yang "metalistik". Menurut Diecky, menanggapi Mas Daus yang mengusulkan bagian biola diganti saksofon, "Memang bisa, tapi instrumen gesek punya efek glissando yang menyebabkan suasana metalnya lebih asik." Glissando sendiri merupakan efek yang ditimbulkan dari jari-jari kita ketika menggeserkan posisi dalam dawai. 

3. Lady Gaga Fuga
Lagu ini dibawa oleh Sebastian A. Nugroho. Ia mengambil karya tersebut dari Youtube, dan sepertinya lupa mencantumkan pemainnya. Karya fuga tersebut dimainkan pada piano, mengambil tema dari Bad Romance-nya Lady Gaga. Karya Fuga, kata Diecky, adalah karya yang populer di jaman Barok (abad ke-17) dan menonjolkan rajutan kalimat-kalimat musik yang susul menyusul dan sahut menyahut. Karya ini menarik karena bagi Bastian, "Fuga bisa juga dilakukan dengan materi lagu pop."

4. My Friend - Sweeney Todd
Karya ini dibawa oleh operator Adrian Benn atau Beben. Soundtrack dari The Demon Barber of Fleet Street ini dipilih oleh Beben karena menurutnya, "Asyik aja, ketika lagu ini dinyanyikan, meskipun berjudulkan My Friend, tapi sebetulnya si penyanyi menujukan 'friend' itu pada pisau belatinya." Di tengah-tengah lagu, lanjut Ben, terdengar ada suara penyanyi wanita yang muncul tapi cuma sebentar. Dalam film, si wanita ingin mengatakan bahwa "Akulah temanmu!", tapi apa daya si penyanyi pria kadung cinta pada pisaunya.

5. Bolero - Maurice Ravel (Aransemen oleh Frank Zappa)
Karya ini dibawa oleh Pak Tono Rachmad. Dosen Apresiasi Musik dari UPI tersebut memutar lagu sepanjang kurang lebih lima menit itu, dan membawa serta juga partiturnya. Beliau sebut karya ini sebagai "karya prosesual", karena dari awal musik hingga akhir, ada perkembangan dari sudut pandang nada, harmoni, instrumentasi maupun dinamika dari simpel ke kompleks. Bolero adalah tema dari tarian pergaulan di Kuba, dan dikomposisi ulang seorang Prancis bernama Ravel. Asyiknya, komposisi itu digubah ulang oleh seorang Amerika bernama Zappa yang membuat si karya itu menjadi unik secara instrumentasi dan warna bunyi.  

6. You Suffer - Napalm Death 
Karya ini dibawa oleh Patra Aditia. Karya ini sangatlah unik dan menarik perhatian karena cuma satu atau dua detik saja! Ia cuma berisi growl singkat dengan pukulan drum, bass, dan distorsi gitar secara simultan. Kata Patra, "Walaupun lagunya singkat, moga-moga diskusinya tidak singkat." Betul saja, diskusinya sendiri berlangsung selama hampir dua puluh menit. Kata Pak Tono, karya-karya seperti ini menunjukkan bagi kita pentingnya "diam". Karena tanpa diam ataupun kesunyian, bunyi sesungguhnya tidak punya arti. Yang menarik, dalam growl itu sesungguhnya, kata Google, ia mengatakan, "You Suffer, but why?" 

7. Dalai Gama - Acid Mothers Temple & The Melting Paraiso UFO
Karya yang dibawa oleh Ismail Reza ini, seperti biasa, punya banyak unsur keanehan. Lagu yang dibuat tahun 2006 ini adalah hasil karya dari mahasiswa-mahasiswa-nya Karlheinz Stockhausen, seorang komposer kontemporer asal Jerman. Isinya cuma bebunyian elektronik tanpa tonal, tanpa gravitasi, tanpa nada dasar. Hanya spiral, mengembang, dan bunyi cuit cuit cuit. Iman, seorang musisi elektronik yang hadir juga hari itu menyebutkan, "Ini bukan soal enak gak enak, tapi kejutan-kejutan yang dihasilkannya, dan kemungkinan-kemungkinan yang dibuat di tengah lagu." 

8. Bluebird of Delhi - Duke Ellington.
Karya ini dibawa oleh Al-Mukhlisiddin alias AM. Lagu ini begitu kental aroma jazz-nya, meskipun AM merasakan ada bau rock di dalamnya. Bagi Mas Reza, dalam karya ini, Duke Ellington sangat rendah hati. Ia seorang pemain piano dengan skill eksepsional, tapi bunyi pianonya malah tak terdengar dalam lagu ini! Karya ini juga, kata Nia, menjadi karya favoritnya di playlist hari itu.

9. True Romance Main Theme - Hans Zimmer
Karya ini dibawa oleh Dien Fakhri Iqbal Marpaung alias Iqbal. Karya ini sejuk, lembut, dan jauh dari absurd,  tak seperti sebelum-sebelumnya. Tidak banyak yang dibahas dari karya yang diangkat dari film Quentin Tarantino ini, karena banyak orang betul-betul menikmatinya, diakibatkan sepanjang playlist mendengarkan musik-musik yang secara harmoni "kurang nyaman". 

10. Dorotea - Jim Saku
Karya ini dibawa oleh Kang Tikno. Jim Saku adalah kependekan dari duo drum-bass Akira Jimbo dan Tetsuo Sakurai. Tidak seperti pada umumnya kala mereka membawakan lagu-lagu berteknik tinggi, dalam Dorotea mereka membawakan lagu lembut-melankolik-romantik. Patra menanggapi karya ini dengan menyamakan pada kecenderukan musik-musik yang dihasilkan oleh musisi Jepang pada umumnya, "Mereka skillful, berteknik tinggi, tapi ada unsur 'gelap', mewakili bagaimana cara pandang mereka terhadap teknologi yang apokaliptik, alih-alih mencerahkan." Ia mencontohkan soundtrack film Ghost in the Shell sebagai perbandingan.

11. Mere Words- Bobby McFerrin
Karya ini dibawa oleh Permata Andika Rahardja alias Mata. Bobby McFerrin mengusung teknik a capella dalam musiknya. Ketika sudah biasa dalam playlist menghadirkan karya-karya instrumentalia non vokalia, Mata tiba-tiba menyuguhkan karya vokalia non instrumentalia. "Two thumbs up," demikian seru kebanyakan hadirin tanpa banyak berkomentar. Bobby McFerrin sendiri terkenal dengan lagunya Dont Worry be Happy yang rajin menjadi soundtrack beberapa film seperti Flushed Away, The Simpsons, Nip/Tuck, Dawn of the Dead, dan Jarhead. 

12. Heartbeats - Jose Gonzales
Karya terakhir ini dibawa oleh Haris. Menurutnya, setelah mendengarkan lagu ini, untuk pertama kalinya ia mau menelisik hingga ke sejarah lagu tersebut via Google maupun wikipedia. Sehingga lagu tersebut berarti tinggi karena membuat Haris menjadi "melek teknologi" (haha). Meskipun demikian, ia juga punya alasan-alasan objektif, seperti misalnya lagu itu sering diputar di iklan-iklan elektronik dan iklannya itu sendiri sangat menarik. Meskipun namanya berbau hispanik, Jose Gonzales, tapi ternyata ia adalah seorang Swedia.

Demikian kisahan Playlist hari itu, lagi-lagi pengalaman eksistensial masing-masing dibagikan di satu forum. Sebuah perayaan akan kemajemukan. "Jagat bunyi," kalau kata Diecky.


Suasana edisi playlist

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin