20.5.11

Menembus Garis Batas Asia Tengah

Foto: Dokumentasi Tobucil
SAAT duduk di bangku sekolah dasar, di Lumajang, Jawa Timur, Agustinus Wibowo ditanya oleh gurunya, "Cita-citamu menjadi apa?"
Dengan tegas Agustinus menjawab, "Saya ingin menjadi turis."

Jawaban itu tidak dapat diterima oleh sang guru karena cita-cita seorang anak haruslah menjadi dokter, pilot, insinyur, dan berbagai predikat "bergengsi" lainnya. Menjadi turis tidak boleh menjadi cita-cita. Akan tetapi, Agustinus tetap bersikukuh ingin menjadi seorang turis.
Belasan tahun kemudian, pada 2003, pada usianya yang baru 21 tahun, Agustinus memang menjadi turis. Namun, dia bukan seorang turis biasa. Pemuda yang tampak culun itu sedang berada di Afganistan, negeri yang sedang terca-bik-cabik perang untuk keseki-an kalinya.
Keberadaan Agustinus di Afganistan bukan tidak sengaja. Dia merencanakan perjalanan itu sejak 2001 ketika dia melihat berita di televisi tentang Taliban yang menghancurkan patung Buddha raksasa. Bukan masalah hancurnya patung Buddha yang membuat Agustinus ingin mengunjungi Afganistan, tetapi gambar panorama alam di sekitar parung itu yang memukau matanya, sampai terbawa ke alam mimpi.

 "Saya lihat sekilas di televisi. Afganistan begitu indah. Kemudian saya bermimpi datang ke Afganistan, di sebuah tempat yang hijau, dan ada seorang perempuan bercadar di sana. Saya singkap cadar itu, dan mungkin itu pertanda bahwa saya harus menyingkap Afganistan," kata Agustinus saat berbagi pengalamannya di Tobucil, Jalan Aceh No. 56, Kota Bandung, Jumat (13/5) lalu.

Ke Afganistan, Agustinus tidak menggunakan pesawat terbang. Dia menempuh jalan darat dari Cina selama berbulan-bulan. Perjalanan itu begitu berat sampai membuat dia terserang hepatitis di Indiadan Pakistan. Akan tetapi, semuanya terbayar tunai ketika dia memasuki Afganistan untuk menyingkap keindahan negeri itu yang tersembunyi di balik debu dan bisingnya peperangan.

Bukan kenyamanan hotel dan resor mewah yang diharapkan Agustinus dari Afganistan, melainkan keindahan hakiki dan juga perkenalan dengan penduduk setempat yang dia inginkan. Semua itu dia dapatkan setelah menetap di Afganistan selama dua tahun.
"Perjalanan di Afganistan tidak selalu mudah. Saya pernah hampir diculik pada tengah malam oleh seorang sopir taksi yang menginginkan uang saya. Saya pernah kehabisan uang di sana. Untungnya penduduk Afganistan sangat ramah. Selalu saja ada yang memberi saya air, makan, dan tempat untuk tidur selama di perjalanan," kata Agustinus yang sekarang merasa Afganistan adalah salah satu rumahnya.

Foto dokumentasi Tobucil
SELEPAS dari Afganistan, Agustinus melanjutkan perjalanan ke negara-negara Asia Tengah pecahan Uni Soviet. Menyeberang dari Afganistandengan mengendarai keledai, melalui bukit-bukit yang curam, dan menyeberangi derasnya Sungai Amu Darya yang ganas.
Lima negara pecahan Uni Soviet berhasil didatangi Agustinus satu per satu selama tujuh bulan. Dari perjalanannya itu, Agustinus menyingkap makna negara bangsa, dan batas-batas ima-jiner yang memisahkan manusia dari akar budaya dan nenek moyangnya.
Misalnya, betapa warga Ta-jikistan sekarang mengagung-agungkan para pahlawan dan kota-kota penting dalam peradaban Islam di masa lalu. Padahal, para pahlawan dan kota-kota penting itu juga diklaim sebagai bagian dari sejarah bangsa Persia dan Uzbek. Aksi saling klaim warisan leluhur itu mengingatkan Agustinus atas perilaku serupa yang dilakukan oleh warga Indonesia dan Malaysia.

"Dahulu mereka itu satu bangsa, kemudian penjajahan Uni Soviet membuat mereka terpecah-pecah. Garis-garis batas ditegaskan, perbedaan dijadikan identitas masing-masing. Sama saja seperti Indonesia dan Malaysia, di managaris batas negara bangsa ini dibuat oleh para penjajahnya," kata Agustinus.

Perjalanan panjang menembus garis-garis batas itu membuat Agustinus lebih memahami makna dari persamaan dan perbedaan. Pengalaman perjalanan itu pula yang kemudian dia bagi di dalam dua buku yang tebal. Kisah perjalanan di Afganistan dia rangkum dalam buku Selimut Debu. Sementara kisah perjalanan ke lima negara pecahan Uni Soviet dia ruliskan di dalam Garis Batas.

Sebagai seorang pengemba-ra, Agustinus memiliki nilai lebih. Dalam dua bukunya dia membuktikan diri bahwa dirinya adalah seorang penulis perjalanan (travel writer) yang andal. Dia tidak men-dangkalkan diri pada tulisan panduan wisata, tetapi jauh menggali pada persoalan manusia dan lingkungannya di tempat-tempat yang dia kunjungi. Selain itu. Agustinus juga membuktikan diri sebagai seorang fotografer andal. Dia mampu menangkap momen yang menggairahkan hasrat dengan sudut pandang yang memukau. (Zaky Yamani/-"PR")"#

Tulisan ini di publikasikan kembali atas seizin penulisnya (Zaky Yamani) dari Harian Umum Pikiran Rakyat, 16 Mei 2011.
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin