5.6.11

Berbincang dengan Teuku Ismail Reza: Persulit "Kangen PerWalian"!

Mas Reza (kiri) ketika mempresentasikan kehebatan piringan hitam.


Teuku Ismail Reza, atau biasa dipanggil Mas Reza, adalah penikmat musik yang belakangan aktif di KlabKlassik sebagai narasumber. Beberapa kali ia membawakan materi menarik semisal soal psikedelik dan pemutaran piringan hitam Those Shocking Shaking Days. Salah satu ciri khas Mas Reza, yaitu suara yang berat serta gaya bicara yang penuh gairah dan meledak-ledak, membuat banyak penggiat Tobucil maupun KlabKlassik mengaku senang mendengarkannya. Pria menikah kelahiran 30 Oktober ini mengaku bahwa aktivitas sehari-harinya adalah mendengarkan musik sambil bekerja (yang ia akui terpaksa) dan mencari-cari piringan hitam murah. Awal penyebab ia nongkrong di Tobucil adalah karena Mas Reza bertemu Mba Tarlen (pemilik Tobucil) pada tahun 2000 di Bandung Art Event dan setelah itu sering kumpul bareng dan akhirnya mengakui bahwa nongkrong di Tobucil adalah habit yang sukar dilepaskan. Berikut petikan ngobrol-ngobrol dengan Mas Reza, yang kebanyakan membahas seputar permasalahan musik di Indonesia: 

Mas Reza adalah penikmat musik kan?
Iya.

Adakah musik yang tidak bisa dinikmati Mas Reza?
Ada, musik yg dimainkan secara asal-asalan. Dangdut juga keren kalau yang maennya menjiwai musik, bukan sibuk olahraga atau sok sexy. Sayangnya, musik yang asal-asalan ini semakin banyak dipasaran, terutama sekali di pasaran Indonesia.

Sampai saat ini, apa musik favorit Mas Reza? Atau secara spesifik, band favorit Mas Reza?
Tergantung mood, tapi semenjak tahun 1999, menjurus ke eksperimental rock -rangenya kan luas banget, dari yg aroma Jazznya kenceng sampai Noise jaya- kebeneran sekarang sih lagi suka sama genre Drone Doom Metal + Drone Metal semacam Sunn O))), Boris, The Body, Ascend, Earth, dan lain-lain. Di sisi lain yang juga sedang sering didengerin adalah para revivalists, mulai dari Cee Lo Green (Soul Revivals) sampai The Black Keys & The Heavy ( Motown + Blues + Soul revival). Kalau Band favorit sih banyak banget.... hehehehe ....

Mas Reza sering sekali terlihat kritis terhadap musik, termasuk musik Indonesia. Mari kita bicara banyak. Tentang musik Indonesia, bagaimana Mas Reza melihat musik Indonesia sekarang ini?
Musik Indonesia masih terlalu cemen-masak sekian banyak rakyat Indonesia cuman menghasilkan kualitas Kangen perWalian. Di sisi lain, banyak juga orang sok semacam D*a*i D**a yg kesannya jago banget, padahal kebisaannya nyontek dari lagu-lagu luar tahun 70an, parah lah!

Mas Reza apakah punya solusi?
Solusinya; pecat semua purchaser musik wakil major label di Indonesia, yang kerjanya memutuskan cd musik apa yg bisa edar di Indonesia. Mereka ini orang-orang nostalgik tapi nggak punya referens yg nggenah. Selain itu, larang dan persulit semua band ala Kangen perWalian, biar kelaparan dan bikin musik yang bermutu karena lapar dan marah  Dimana-mana artis musik yang lapar dan marah akan menghasilkan karya-karya yang berbobot.

Kalau Mas Reza menjadi pemilik sebuah mayor label di Indonesia, apakah yang akan Mas Reza lakukan pertama kali?
Bikin aksi Urban Terror untuk mengkampanyekan musik bermutu di Indonesia. Memperbanyak produksi vinyl, menggratiskan mp3 - karena orang yg suka musik pasti akan cari format yg lebih representatif dan keren secara sound, dan mp 3 cukup efektif untuk menjadi sarana "coba sebelum membeli". Naon deui nya?

Bagaimana menurut Mas Reza peran ruang-ruang alternatif yang sedang marak dewasa ini dalam kontribusinya terhadap musik di Indonesia?
Peran ruang alternatif masih terbatas untuk menghadirkan musik yg enak didengar, bukan musik yg benar-benar bermutu menurut saya - memang sih kualitasnya agak diatas band ala Kangen PerWalian, tapi saya merasa lumayan stagnan.

Oke, kita ngomong yang lain. Mas Reza secara akademik berlatarbelakang arsitektur, adakah hubungan menarik yang bisa dilihat antara musik dan arsitektur?
Architecture is a frozen music.


Dalam aktivitas Mas Reza sebagai dosen arsitektur (Di UPH -red), adakah Mas Reza menggunakan musik sebagai pendekatannya?
Tergantung mata kuliahnya - ini ada satu yg lagi dicoba mata kuliah eksperimen menggunakan musik dan film-semoga berhasil dan mahasiswanya tidak jadi gila atau bikin agama baru yg mengkafirkan orang tuanya sendiri.

Oke, sebagai penutup, Adakah tips-tips khusus dalam menikmati sebuah musik? Misalnya, mencari ruang dan waktu yang pas, atau mengikuti perkembangan bandnya, atau apa, Mas?
Intinya memang musik itu merupakan cerminan dari kondisi sosio kultural masyarakatnya-makanya ngedengerin musik bukan melulu masalah musik enak nggak enak, tapi juga kemauan kita untuk memperluas wawasan dan menabung preseden. Mendengar musik adalah sebuah proses aktif, bukan sebuah proses pasif; jadi diperlukan kemampuan mendengar aktif yg dapat memilah-milah bunyi masing-masing instrumen, dan menyatukannya kembali dalam sebuah komposisi.

Baiklah terima kasih, Mas. Jaya selalu musik Indonesia!
Jaya selalu Boris dan Sun O)))!

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin