19.6.11

Filsafat untuk Pemula: Bertemunya Filsafat dan Agama

Selasa, 14 Juni 2011

Sore itu hujan sangat deras. Kelas Filsafat untuk Pemula pun baru dimulai pukul enam karena menunggu orang-orang untuk hadir. Yang hadir pun akhirnya hanya segelintir, namun show must go on. Kelas dimulai dari paparan Kang Ami tentang sebuah kisah dari Timur Tengah, yaitu Hasan Basri. Konon penguasa pada jaman itu terkenal lalim dan kerapkali mereka menghindar dengan, "Ini kehendak Allah." Sifat filsafat yang seringkali menggunakan rasionalitas untuk membenarkan suatu perbuatan membawa Hasan Basri pada pertanyaan, "Betulkah kelaliman itu gara-gara filsafat?"

Cerita tersebut merangsang sebuah diskusi kelas yang menarik. Terutama ketika sebelumnya dipaparkan pula mengenai garis besar situasi Abad Pertengahan di Eropa yang notabene merupakan perjumpaan antara filsafat dan Kristianitas. Kristen, sebagaimana halnya agama semit lainnya (Yahudi dan Islam), digolongkan oleh ahli sejarah sebagai agama historis. Bukan agama filosofis sebagaimana halnya Hindu dan Buddha. Itu sebabnya, perlu perjuangan serius bagi filsafat untuk melebur dengan agama Kristen. 

Hanya saja, Agama Kristen yang sedang trend di masa-masa abad ke-5 hingga abad ke-15 itu kerapkali digunakan oleh oknum-oknum kekuasaan. Misalnya, penggunaan bahasa Latin pada Alkitab. Dahulu Alkitab ini tidak diterjemahkan pada bahasa lain sehingga orang-orang yang mengerti bahasa Latin saja yang sanggup membacanya, atau dalam arti kata lain, hanya kaum terpelajar, kaum gereja, atau kaum bangsawan saja yang bisa. Rakyat pada umumnya tidak disuguhi akses ini sehingga yang sampai pada mereka hanyalah kredo-kredonya saja via gereja. Adapun kemudian efeknya adalah, filsafat mesti jadi hamba bagi iman. Filsafat bukanlah cara memaksimalkan nalar secara bebas dan maksimal, melainkan ia harus berada dalam koridor iman Kristen. Dari sudut pandang tertentu, ini sebuah kemunduran. Karena sebelumnya, di era Yunani atau Klasik (Antiquity), filsafatlah yang memegang peranan kunci, bahkan melampaui agama. 

Itu sebabnya renungan filsafat Abad Pertengahan terasa "kurang keren". Argumen-argumennya berkaitan dengan penciptaan, eksistensi Tuhan, dan moralitas murni. Tidak ada sesuatupun yang sekiranya punya kaitan langsung dengan pengalaman keberadaan manusia itu sendiri. Mungkin ini disebabkan oleh kredo bahwa manusia di jaman itu adalah imago dei (citra Tuhan), sehingga manusia sebagai entitas yang unik tidak punya kebebasan.

Pada situasi yang lain, Islam ternyata mengalami kemajuan dari sudut pandang sains dan teknologi. Padahal mereka mengadopsi banyak sekali filsafat Aristotelian (tokohnya seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Sinna dan Al-Ghazali). Artinya, pertemuan filsafat dan agama jika dikelola dengan baik ternyata tidak selalu sama dengan kemunduran. Islam dan Kristen, padahal, sama-sama masuk kategori agama historis.
Ibnu Sina atau dunia Barat menyebutnya Avicenna. 
Gambar diambil dari sini


Kelas Filsafat untuk Pemula Kajian Abad Pertengahan ini, sekali lagi, bertujuan untuk melihat situasi Filsafat Barat dari sudut pandang yang lain. Ada upaya dekonstruksi dan perumusan kembali, terutama tentang dunia Timur yang kita diami saat ini.
Google Twitter FaceBook

2 comments:

ayam.salam said...

filsafat dan agama...
tentang itu... buat yang seneng mikir tanpa berpikir...
coba kunjungi ayamsalambinalam.blogspot.com

siapa tau bisa jadi bahan diskusi...

Rio Rahadian said...

yap bener banget, keduanya tak harus selalu bertentangan.

mirip dengan yang di sini ya? http://interculturalpeople.blogspot.com/2012/08/budaya-agama-dan-budaya-agama.html

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin