12.6.11

Filsafat Untuk Pemula: Membongkar Sejarah yang Terkubur

Selasa, 7 Juni 2011

Filsafat untuk Pemula Angkatan Dua berkumpul untuk pertama kalinya. Bertemakan kajian Abad Pertengahan, total peserta kali ini bertambah dari yang sebelumnya tiga orang menjadi lima orang. Bambang Q-Anees, dosen teologi UIN Sunan Gunung Jati seperti biasa didaulat mengawali pertemuan.

Kang B-Q, biasa ia dipanggil, mengawali kisah dengan mempertanyakan Yunani. Ia melihat bahwa sejarah filsafat Yunani kerap memulai segala sesuatu dari Thales ("alam semesta itu terbuat dari air"), lalu berlanjut ke Anaximandros, Anaximenes, dan seterusnya semisal Heraklitus, Parmenides, Pythagoras, Demokritus, dan lain sebagainya. Intinya, cara bertutur sejarah filsafat Yunani ini sangat linear, seolah-olah keseluruhan dari para filsuf itu adalah saling berhubungan, saling mengenal, atau bahkan punya hubungan guru-murid secara langsung.
Bambang Q-Anees (Merah)


"Tapi," kata B-Q, "Coba tengok Pythagoras, ketika kebanyakan dari mereka membicarakan asal-usul alam semesta, ia mengambil pendapat sendiri. Pythagoras mengatakan bahwa 'kebenaran itu haruslah yang terukur'. Lalu diketahui bahwa Pythagoras mempunyai semacam pengikut yang mau berpuasa dan mengikuti dirinya semacam nabi." Menurutnya, ini jelas sesuatu yang tidak bisa dilinearkan. Ada klaim sepihak dari Barat bahwa Pythagoras disimplifikasikan seolah menjadi bagian dari Yunani yang barangkali kita kenal sekarang secara geografis. 

Alkisah, ada sebuah bangsa bernama Phoenicia. Mereka terbentang dari wilayah Afrika Utara termasuk Lebanon, dan masuk ke bagian-bagian dari Eropa Selatan seperti Neapolitan dan Corsica. Pythagoras, secara geografis, tidak masuk kepada bagian dari Yunani. Ia justru adalah seorang Phoenician itu tadi (hal yang B-Q kritik sebagai ketidakkritisan kita melihat sejarah). Berikutnya, B-Q menyebut satu per satu filsuf atau orang penting dalam sejarah yang disinyalir punya garis keturunan Phoenicia. Seperti Hannibal, Newton, St. Agustinus, hingga Voltaire lalu Rousseau. Bahkan B-Q menyebut bahwa piramida, sebagai salah satu simbol keajaiban dunia, dibangun di atas tanah Afrika Utara dengan metode pengukuran ala Pythagorean.  Ketika menyebut St. Agustinus pula, B-Q langsung mengajak peserta masuk ke area Abad Pertengahan. St. Agustinus adalah salah satu tokoh Abad Pertengahan yang terkenal dengan pemikiran Neo-Platonisme-nya. St. Agustinus bukanlah lahir di Roma ataupun wilayah-wilayah lain di Eropa. Ia lahir di wilayah Hippo, Afrika Utara. 

Artinya, dari paparan ini, kelas Filsafat Untuk Pemula ingin melihat bahwa sejarah itu tidak linear. Abad Pertengahan tidak dilihat sebagai sesuatu yang "Dari Barat untuk Barat". Peradaban lain semisal Phoenicia, Islam, Jepang, hingga Cina adalah unsur-unsur yang tidak boleh diabaikan dalam perkembangan kebudayaan Barat hingga hari ini. "Bahkan," tutup B-Q, "Jangan pernah lupakan Indonesia."

Belum terlambat untuk bergabung, karena pertemuan kemarin baru saja pembukaan.


Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

1 comment:

za said...

Wah Bambang Q-Anees. Dulu aku suka membaca buku-bukunya.

Salam.

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin