5.6.11

Kelas Penulisan Feature Edisi Perdana: Peluang Membedah Seluk Beluk Jurnalisme

Kamis, 2 Juni 2011

Setiap hari Kamis, di sore hari, kita akan temukan sebuah kelas di Tobucil. Kelas itu adalah kelas menulis, namun bukan yang lazim perihal fiksi seperti biasa dibimbing oleh instruktur Sophan Ajie. Kelas menulis ini adalah kelas menulis non-fiksi dengan gaya feature. Apakah gerangan feature itu? Menurut Asep Syamsul Romli dalam buku Jurnalisme Praktis, definisi feature belum bisa dirumuskan secara ketat. Namun bolehlah disebutkan bahwa menulis dengan gaya feature mesti setidaknya mempunyai dua ciri, yaitu punya unsur human interest dan disajikan dengan gaya sastra. Dalam arti kata lain, ia dibedakan dengan news, artikel, kolom dan analisis berita oleh karena dua hal tadi.    

Pada edisi perdana Kamis kemarin, jumlah peserta sebanding dengan jumlah pembimbing, yakni tiga banding tiga. Kelas penulisan feature diasuh oleh Rana Akbari Fitriawan, Zaky Yamani, dan Adi Marsiela, kesemuanya aktif di Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Kelas ini sendiri berdiri salah satunya atas inisiatif AJI Bandung. Sedangkan pesertanya yang juga berjumlah tiga, adalah Nia Janiar, Jessica Fam, dan Wiku Baskoro. 

Dimulai pukul lima lebih lima belas, kelas penulisan feature itu sendiri masih didominasi dengan perkenalan. Mulai dari perkenalan masing-masing personil, maupun perkenalan konsep dasar jenis-jenis tulisan. Misalnya, jenis news, terbagi atas straight news, feature news, dan in-depth reporting. Meski demikian, perkenalan itu sendiri lebih banyak diinterupsi oleh para peserta yang kerap ingin bertanya. Menunjukkan bahwa seluk beluk jurnalisme sepertinya menjadi hal yang belum terlalu akrab dengan masyarakat. Termasuk misalnya kata Kang Zaky, bahwa judul berita atau artikel seyogianya dimulai dengan hal yang berhubungan dengan manusia. Misalnya, kejadian tabrakan bus, semestinya korban tabrakan dulu yang diekspos ke permukaan alih-alih kejadian tabrakannya itu semata. Sebaiknya, "Lima orang tewas dalam kecelakaan bus" daripada "Bus tabrakan hingga tergelincir". Pembaca seringkali akan lebih tertarik pada sisi kemanusiaannya.

Kang Adi punya gambaran lain tentang feature. Bahwa perbedaan feature dengan berita pada umumnya adalah dari kesegeraannya. Berita pada umumnya adalah kontekstual untuk waktu yang segera. Artinya, lewat sehari atau dua hari dari kejadian, ia dianggap basi. Tapi feature lebih "tahan lama" dan bisa dibaca kapan saja. Barangkali karena di dalamnya kerap mengandung unsur kemanusiaan dan punya renungan-refleksi-filosofis tertentu sehingga dianggap selalu relevan. Kelas tersebut berlangsung lebih lama dari yang seharusnya. Di jadwal mestinya bubar pukul tujuh, tapi kelas tersebut selesai pukul delapan. Kata Nia, salah seorang peserta, kelas tersebut baginya sangat bermanfaat. "Gue jadi sadar selama ini gue salah dalam cara penulisan," demikian diakuinya. Kelas ini, terus terang, punya sisi yang menarik terutama menyadari bahwa semua pembimbing berasal dari latar belakang jurnalistik baik akademik maupun praktik. Ini adalah peluang menarik untuk bertanya perihal cara kerja jurnalisme, terutama ketika di era keterbukaan hari ini, media menjadi salah satu lembaga kekuasaan yang berpengaruh dalam pergerakan sosio-kultural masyarakat. 

Sudah terlambatkah untuk mendaftar? Rasanya belum, karena kemarin baru perkenalan.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin