19.6.11

Resensi Buku: Johnny Mushroom dan Cerita Lainnya


Kepalaku plontos. Kemejaku Ben Sherman. Celanaku Levi's. Sepatuku Doc Martens. Aku Mendengarkan Sham 69, The Business, GBH, dan Rancid. Tapi jiwaku murni seorang hippie, karena The Grateful Dead selalu terngiang di telingaku. Aku menjual magic mushroom. Umurku hampir tiga puluh. Aku lahir dan tinggal di Rancaekek, tapi bergaul di Dago. Namaku Yadi. Orang-orang memanggilku Johnny... Johnny Mushroom.

Demikian paragraf yang tertulis di back cover Johnny Mushroom dan Cerita Lainnya yang diambil dari paragraf pembuka kumpulan cerpen tersebut. Dari secuil paragraf tersebut, tercatat ada tiga kali penyangkalan eksistensi urban pinggiran: "Tapi jiwaku murni seorang hippie", "Tapi bergaul di Dago", dan "Orang-orang memanggilku Johnny... Johnny Mushroom". Seolah-olah ada upaya dari si Yadi ini untuk tidak terlihat sebagai pemuda dari kaum urban pinggiran. Ia ingin melebur bersama eksistensi manusia di "urban tengah" lewat stereotip-stereotip itu tadi: "hippie", "Dago" dan "Johnny".

Secuil paragraf itu juga cukup menjelaskan tentang beberapa isi kumpulan cerpen yang ditulis antara tahun 2001-2011 ini. Zaky Yamani berupaya menjelaskan persoalan kaum urban dari sudut pandang kegelisahan eksistensialnya. Ia menyoroti dari mulai kaum "urban tengah" yang akrab dengan normalitas rutinitas yang alienatif, hingga urban pinggiran yang lekat dengan kriminalitas. Semuanya ternyata, dalam kacamata kumpulan cerpen ini, punya persoalan masing-masing yang sama-sama absurd. Demikian yang tercermin dari cerita "Johnny Mushroom", "Nihil", "Saturday Night's Lullaby", "Hangover", dan "Percakapan antara Mur dan Baut".

Jika kehidupan kaum urban dikategorikan sebagai narasi keseharian, maka Zaky juga menuliskan beberapa cerita yang boleh dibilang ide-ide besar. Seperti misalnya konsep politik dan penggulingan kekuasaan dalam "Kambing Gunung Padang Bintang" serta moralitas dalam "Dasamuka". Cerita yang disebutkan pertama itu dipaparkan dengan gaya dan jalan cerita yang nyaris mirip dengan fabel dalam Animal Farm-nya George Orwell. Sedangkan "Dasamuka" diceritakan lewat tema karya sastra India yang agung, Ramayana. Keduanya cukup menunjukkan bahwa Zaky punya wawasan yang melebihi pengalaman eksistensialnya semata.

Keseluruhan ide-ide yang relatif beragam ini membuat pembaca dipastikan disuguhi kejutan-kejutan setiap membalik bab. Meski beragam topik, gaya tulisan Zaky yang "absurd" dan kerap sukses menghadirkan kontemplasi tetap konsisten. Namun ada beberapa topik yang bagi saya pribadi, terlalu vulgar diungkapkan konflik-konfliknya. Seperti dalam "Percakapan antara Mur dan Baut" serta "Hangover". Ada upaya penyajian pesan secara langsung agar pembaca langsung mengerti. Menunjukkan barangkali ada keterpepetan ruang teknis sehingga pesan tidak usah bertele-tele dan dibungkus bunga-bunga. Langsung saja. 

Apapun itu, buku ini tetap layak dibaca sebagai sebuah potret kegelisahan kaum urban.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin