11.7.11

Bedah Buku 'Setelah Marxisme' dari Donny Gahral Adian

Sabtu, 9 Juli 2011

Donny Gahral Adian (kanan berbaju putih), Tamrin Amal Tamagola (sebelah kanan Donny), dan Yasraf Amir Piliang (sebelah kanan Tamrin), dalam bedah buku 'Setelah Marxisme'


Sabtu sore itu, ada kumpul-kumpul di Tobucil. Tujuannya adalah membahas sebuah buku yang baru diterbitkan, judulnya 'Setelah Marxisme', ditulis oleh Donny Gahral Adian. Pengajar filsafat di UI tersebut adalah penulis yang cukup produktif, beberapa buku yang ia tulis diantaranya 'Percik Pemikiran Kontemporer' dan 'Fenomenologi'. Bedah buku itu sendiri menghadirkan dua komentator yang cukup kompeten, yaitu sosiolog dari UI, Tamrin Amal Tamagola dan pengajar dari ITB, Yasraf Amir Piliang. Bertindak sebagai moderator adalah koordinator Madrasah Falsafah, Rosihan Fahmi.

Moderator membuka acara dengan mendengarkan komentar-komentar dari Pak Tamrin maupun Pak Yasraf yang sudah diberi kesempatan untuk membaca buku itu terlebih dahulu. Apa yang dikatakan baik oleh Pak Tamrin maupun Pak Yasraf, ternyata didominasi oleh kritik. Menurut Pak Tamrin, sasaran dari pembaca mesti dirumuskan. Jika pembaca adalah pemula, maka bahasanya terlalu sulit. Selain itu, Donny juga dianggap kurang berhasil mengambil benang merah antara satu pemikiran dengan pemikiran lain. "Seperti akordeon," kata Pak Tamrin, "Donny menekan, tapi lupa meregangkan kembali."

Lain lagi dengan Pak Yasraf, awal mula ia langsung mengritik tentang penggunaan kata "Setelah" dalam buku tersebut. Apakah setelah ini dalam bahasa Inggrisnya disebut "Post", "Beyond", atau "After"? Ketiganya memiliki arti yang berbeda. Jika yang digunakan adalah Post misalnya, maka artinya memang setelah, namun lebih mengarah kepada kritik terhadap yang sebelumnya. Sama halnya dengan Pak Tamrin, Pak Yasraf juga mengritik buku ini tidak mempunyai benang merah antara pemikiran yang satu dengan pemikiran lainnnya. 

Donny kemudian memulai "pembelaannya" dengan meminta maaf. Ia menjelaskan bahwa memang awal mula pembuatan buku itu adalah semacam kompilasi dari materi kuliah yang ia berikan pada mahasiswa S1 nya yang sudah memasuki semestar enam atau tujuh. Akibatnya, Donny mengakui bahwa pemula yang membaca buku itu akan bingung, terutama yang sangat awam. Misalnya, dalam buku tersebut Donny menjelaskan tentang pemikiran Antonio Gramsci tentang hegemoni. Kemudian ia juga menjelaskan tentang bagaimana cara Gramsci melakukan counter terhadap hegemoni, yaitu melalui intelektual organik. Intelektual organik itu sendiri tidak dijelaskan seperti apa, dan tidak diceritakan bedanya dengan intelektual tradisional. Meski demikian, Donny, di penutup forumnya meyakini bahwa bukunya ini adalah buku tentang Marxisme yang mempunyai daya gedor yang dahsyat.

Buku 'Setelah Marxisme' ini diterbitkan oleh Penerbit Koekoesan. Isinya adalah sejumlah teori ideologi kontemporer dari Marx, Gramsci, Lukacs, Habermas, Barthes, Adorno, Althusser, Zizek, dan Eagleton. Dapat diperoleh di Tobucil dengan harga Rp. 30.000.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin