11.7.11

Filsafat untuk Pemula: Bangkitnya Filsafat Islam

Selasa, 5 Juli 2011

Kelas Filsafat untuk Pemula sedikit lagi menemui puncaknya. Memasuki pertemuan keenam dari total delapan, kali ini yang menjadi bahasan adalah filsafat Islam.

Filsafat Islam menemui puncaknya di Abad Pertengahan. Penyebabnya antara lain, masuknya filsafat Aristoteles pada peradabannya. Pemikiran Aristoteles memicu kemajuan pesat di bidang sains dan ilmu pengetahuan. Namun yang menjadi bahasan, adalah adanya faktor internal dalam diri Islam sendiri yang bisa mendorong majunya filsafat. 

Penyebabnya adalah Al-Qur'an itu sendiri. Al-Qur'an kadang-kadang memuat ayat yang kontradiksi satu sama lain. Misalnya, ada ayat yang menyebutkan tentang takdir kita sudah diatur dari alam sebelumnya (tertulis dalam kita Lauh Mahfuz). Tapi di sisi lain, ada ayat yang menyebutkan bahwa kita juga menentukan nasib kita sendiri. Ini tentu saja bertentangan. Al-Qur'an juga memiliki beberapa muatan kata atau kalimat yang ambigu, yang maknanya tidak ajeg. Contoh paling sering adalah adanya kata qur'u dalam Al-Qur'an, yang mana Abdullah bin Mas'ud dan Zaid bin Tsabit (keduanya sahabat Nabi) bertentangan mengenai artinya. yang satu mengatakan qur'u artinya haid, satu lagi bersuci.

Jika Allah menghendaki, tentunya bisa saja qur'u ini diartikan secara gamblang dalam Al-Qur'an itu sendiri. Namun Allah memilih tidak, seolah-olah memang perbedaan pandangan adalah sesuatu yang Ia kehendaki. Maka dari itu, Al-Qur'an dengan segala ambiguitas bahasanya, mengundang umat untuk memaksimalkan nalarnya untuk menginterpretasikan isi. Itulah yang menjadi cikal bakal mengapa Islam juga punya kandungan filosofi.

Pembahasan masuk ke dalam para sufi, yaitu orang-orang yang secara khusus menggeluti filosofi dalam Islam. Contoh sufi-sufi besar antara Jalaluddin Rumi, Al-Hallaj, dan Rabi'ah Al-Adawiyah. Mereka mengupayakan masuk ke inti semangat dari Islam itu sendiri. Memang, beberapa diantaranya mengundang kontroversi, seperti misalnya Al-Hallaj yang mengatakan Ana Al-Haqq atau 'Akulah kebenaran'. Menyebabkan ia dihukum mati. Namun lebih jauh dari itu, sufi adalah kelompok orang yang tidak terpaku pada hukum-hukum Islam yang sudah pasti mengundang perdebatan. Mereka mengetahui bahwa berbicara mengenai syari'at pasti tidak ada habisnya dan malah memperuncing perbedaan. Sufi melihat Islam dari sudut pandang yang lebih holistik. Bahwa Islam mengajarkan cinta, dan cinta ini adalah sarana satu-satunya mencapai sang khalik. 

Syarif Maulana

Tarian Darwis, digagas oleh Jalaluddin Rumi sebagai sarana penyatuan dengan Yang Khalik. Gambar diambil dari sini.
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin