4.7.11

Filsafat untuk Pemula: Masa Skolastik

Selasa, 28 Juni 2011

Kelas Filsafat untuk Pemula Kajian Abad Pertengahan memasuki pembahasan mengenai situasi puncak Abad Pertengahan. Bagaimana sebuah jaman disebut mengalami masa puncak? Yaitu ketika  dia mengalami suatu keorisinalitas yang membedakan dirinya dari jaman-jaman lain. Karena suatu jaman pasti pernah mengalami masa transisi yang mempunyai sisa-sisa pengaruh dari jaman sebelumnya. Periode puncak Abad Pertengahan adalah ketika marak dibangun akademi-akademi di hampir seluruh daratan Eropa yang isinya mengajarkan doktrin, teologi, dan apologi (argumentasi untuk membela agama Kristen).

 Lukisan Abad Pertengahan tentang suasana sekolah di era Skolastik. Gambar diambil dari sini.

Periode puncak ini juga ditandai dengan masuknya filsafat Aristoteles yang sempat runtuh bersamaan dengan runtuhnya Romawi oleh kaum Barbar. Filsafat Aristoteles ternyata sukses dan berkembang di wilayah kekuasaan Islam dan menjadi cikal bakal lahirnya banyak saintis Islam seperti Ibnu Sina (Avicenna) dan Ibnu Rusyd (Averroes). Lewat perang Salib dan jalur perdagangan, dunia Islam dan Kristen Eropa terhubungkan dan maka itu pemikiran Aristoteles bisa masuk juga. 

Berbeda dengan filsafat Plato yang "mengawang-ngawang" karena kerap membahas tentang dunia ide, pemikiran Aristoteles lebih "membumi" dan eksistensial. Aristoteles menyatakan bahwa masing-masing makhluk di dunia mempunyai ciri-ciri yang membedakan satu sama lain. Ia mengklasifikasikannya, dan lebih daripada itu, Aristoteles juga mengklasifikasikan berbagai ilmu-ilmu sehingga menjadi multidisiplin. Hal tersebut berperan penting pada perkembangan sains karena pemilahan itu punya efek terhadap spesialisasi dan pendalaman. Selain itu, Aristoteles juga menjadi orang yang pertama kali merumuskan logika beserta penalaran dan premis-premisnya. Filsafat Aristoteles menjadi hal yang krusial pada masa Skolastik dan diajarkan di sekolah-sekolah.

Masa puncak abad pertengahan juga tidak mungkin dilepaskan dari nama Thomas Aquinas. Lewat bukunya, Summa Theologiae, Aquinas dengan lengkap memberikan fondasi teologi disertai penalaran yang kuat. Salah satu pemikiran Aquinas yang terkenal adalah via negativa. Menurutnya, Tuhan lebih baik dirumuskan dengan kata "bukan" daripada "adalah". Misal: Tuhan itu bukan manusia, bukan binatang, bukan tanaman, bukan malaikat, dan bukan iblis. Ketimbang Tuhan adalah cinta. Reduksi via negativa jauh akan lebih mengena pada definisi Tuhan itu sendiri.

Pada akhirnya, masa puncak juga tidak selalu mengandung muatan positif. Selalu ada di dalamnya muatan-muatan antitesis yang nantinya menggerogoti dari dalam dan menyebabkan jatuhnya suatu masa keemasan. Oknum gereja yang korup dan menjual surat penebusan dosa berlangsung pada fase ini, termasuk ketika gereja Katolik dipimpin oleh dua hingga tiga Paus sekaligus oleh sebab kekacauan kekuasaan.


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin