Temukan Arsip Tobucil

Loading...

Monday, July 25, 2011

Filsafat untuk Pemula: Penutup

Tanpa terasa, kelas Filsafat untuk Pemula Kajian Abad Pertengahan yang merupakan angkatan kedua, memasuki pertemuan pamungkas. Pada pertemuan terakhir ini, tidak banyak yang dibahas kecuali beberapa kesan tentang tujuh pertemuan kebelakang yang membahas mulai dari Era Patristik, Filsafat Islam, hingga Embrio Filsafat Modern. 

Sekali lagi, seperti dibahas sebelum-sebelumnya, Abad Pertengahan adalah era sekitar 500 M hingga 1400 M. Dalam rentang waktu hampir seribu tahun itu, sebagian besar kawasan Eropa mengalami "mabuk agama". Kekristenan menjadi "tren" kala itu. Ajaran Yesus tersebut dirumuskan pada masa Patristik (sekitar 400-500 M) menjadi sebuah ajaran yang sistematik. Kredonya disusun, pun dogmanya, sehingga Kristen menjadi sebuah agama yang sanggup membela diri melawan filsafat Yunani -yang masa itu masih cukup kuat sebagai sisa-sisa peninggalan kekuasaan Romawi-.

Pada Era Skolastik, Kristen diajarkan secara sistematik di sekolah-sekolah. Hal ini punya pengaruh dari filsafat Aristoteles yang -ironisnya- masuk ke Eropa via kedatangan Islam dari Timur Tengah. Filsafat Aristoteles notabene pernah amat berkembang di Eropa bersamaan dengan kekaisaran Romawi dan zaman Hellenisme. Namun pada Abad Pertengahan, pemikiran tersebut "diusir". Filsafat Aristoteles ditampung oleh Islam dan mempunyai andil atas timbulnya -apa yang oleh banyak ahli sejarah disebut dengan- Golden Age of Islam. Lewat andil filsafat Aristoteles, lahir pemikir-pemikir progresif dalam dunia Islam seperti Al-Kindi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd. Ketiganya bahkan menjadi acuan bangsa Eropa juga ketika Islam bersentuhan dengan Kristen baik lewat perdagangan maupun Perang Salib.  

Secara umum, posisi filsafat di Abad Pertengahan bisa dibilang tidak terlalu populer. Rasio digunakan untuk pembenaran bagi keimanan. Kalaupun ada pemikiran-pemikiran filosofis, kerap lahir dari gereja. Tokohnya antara lain St. Agustinus dan St. Thomas Aquinas. Bagi kaum skeptik, bahkan disebutkan bahwa filsafat di Abad Pertengahan dibunuh oleh paham teosentrisme (Tuhan sebagai pusat). Meski demikian, hal tersebut tidak sepenuhnya benar karena bagaimanapun Abad Pertengahan tidak hanya berpusat di Barat. Belahan bumi lain seperti Timur Tengah, Cina, Jepang dan India di periode yang nyaris bersamaan justru menemukan masa keemasan dalam filsafatnya.

Rentang panjang Abad Pertengahan akhirnya tergantikan oleh Era Modern yang dipicu oleh berbagai faktor. Misalnya borok yang dikandung Abad Pertengahan itu sendiri, seperti otoritas gereja yang melampaui batas. Mundurnya Abad Pertengahan juga punya andil faktor eksternal seperti digalinya kembali teks-teks Yunani kuno secara serius, sehingga Eropa mengalami suatu kerinduan terhadap kebebasan berpikir. Teosentrisme berganti menjadi antroposentrisme yang berpusat pada manusia. Era Modern ditandai awal mulanya dengan Era Renaisans.

Demikian penggalan delapan pertemuan Kajian Abad Pertengahan. Menghasilkan beberapa poin-poin penting yang diharapkan mampu memicu kesadaran tentang betapa periode ini di wilayah Eropa sering disebut kelam oleh para sejarawan, namun di sisi lain adalah periode keemasan bagi peradaban lain. Sekali lagi, Kelas Filsafat untuk Pemula mengajak peserta untuk menengok alur sejarah dari berbagai sisi. Tidak semata-mata linear, tidak semata-mata pro-sejarah Barat. Sejarah adalah konstruksi, juga gramafon besar dimana bangsa-bangsa berbicara satu sama lain. Mengapa harus mendengarkan satu suara saja?

Sampai jumpa di angkatan berikutnya!

Syarif Maulana

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin