31.7.11

Pena Akhir Pekan: Sang Guru dan Secangkir Kopi

Jumat, 29 Juli 2011

Tobucil di akhir pekan kemarin kedatangan kelompok diskusi. Mereka mengadakan suatu bincang-bincang tentang buku yang baru saja ditulis oleh sejarawan AA, judulnya Sang Guru dan Secangkir Kopi. Buku tersebut merupakan tulisan yang diluaskan dari percakapan antara penulis dan salah satu sejarawan besar Indonesia, Onghokham. 



Onghokham (1933-2007) adalah sejarawan yang tidak banyak menulis buku. Hanya empat dan itu ditulis di masa tuanya (mulai tahun 2000-an). Namun setelah ia meninggal, banyak orang yang berinisiatif untuk menulis buku tentangnya, salah satunya AA ini. Dalam buku tersebut AA memaparkan pemikiran-pemikiran Ong tentang banyak hal, mulai dari revolusi Prancis, masyarakat Jawa serta pemerintahan Orde Baru. Tak jarang ia juga menyelipkan keeksentrikan sang guru di tengah-tengah pembahasan serius, sehingga membaca buku tersebut menjadi tak lelah dan hangat. Misalnya, kebiasaan Ong untuk meninggalkan AA tidur di tengah-tengah perbincangan tanpa pamit, atau jamuan makan malam yang ditutup dengan anggur.

AA mengemukakan bahwa cukup wajar jika Ong kurang dikenal oleh generasi muda sekarang, pertama oleh sebab minimnya karya buku yang ia tulis, yang kedua adalah faktor-faktor yang membuat ia agak didiskriminasikan oleh sejarah Indonesia. Diantaranya, menurut AA, adalah seksualitasnya (Ong seorang gay) dan ke-Tionghoa-annya. Padahal kemampuan Ong sangat mumpuni. Selain tajam dalam menganalisis, Ong juga dikatakan Mba Tarlen sebagai, "Pendongeng yang luar biasa. Membaca bukunya tidak seperti membaca buku sejarah yang seringkali kaku, tapi seperti membaca buku dongeng." Dalam bukunya, Ong sering memberi wejangan pada AA bahwa dalam menulis sejarah, harus ingat kata History. Penggal kata itu jadi His Story. Yang terpenting dari sejarah adalah manusia (His) dan harus ada unsur mendongeng (Story).

Meski yang hadir tak terlalu banyak, diskusi tentang Sang Guru dan Secangkir Kopi tetaplah hangat. Hadirin aktif bertanya. Bagaimanapun juga, dengan segala kontroversi, Ong tetap harum namanya. Penulis Goenawan Mohamad (GM) memuji kemampuan memasaknya seraya berkata, "Bagi Ong, sejarawan dan juru masak tiada beda: sama-sama mengolah dari detail, meracik dengan metode yang ajek, dan menutupnya dengan sentuhan personal." 

Diskusi di Tobucil tersebut sebenarnya berlangsung dua kali. Yang pertama jam empat hingga jam enam, yaitu tentang "Museum dan Reka Batas". Diskusi tersebut dipandu oleh Mbak Prathiwi dan Hafiz Amirrol yang menghadirkan AA sendiri dan Deddy Wahjudi. Isi perbincangannya sendiri adalah seputar museum dan kaitannya dengan arsitektur, ruang publik, dan fungsi-fungsi sosial. Diskusi tersebut diadakan oleh kelompok Pena Akhir Pekan (PAP). Rencananya mereka akan membuat secara berkala dengan topik yang berbeda-beda.

Syarif Maulana


Google Twitter FaceBook

1 comment:

baghendra said...

wah ada saya tuh, sering2 ya tobucil ada sayanya di foto,uhuy...

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin