7.8.11

Ada Semangat Tobucil n Klabs di Manba'ul Huda

Minggu, 7 Agustus 2011

Pesantren Manba'ul Huda adalah sekolah berbasis Islami yang terletak di wilayah Cijaura. Kepala sekolahnya bukan orang yang asing bagi Tobucil. Ia adalah Rosihan Fahmi alias Kang Ami alias koordinator Madrasah Falsafah Tobucil.

Dengan basis filsafat dan kebiasaannya berkomunitas, Kang Ami menularkannya pada siswa-siswi di pesantrennya. Ia mengadakan suatu program bernama Student's Day yang diselenggarakan setiap hari Minggu. Jadi, di pesantren tersebut libur adalah setiap hari Jumat alih-alih Minggu. Minggu menjadi semacam "Hari Ekstrakurikuler", meskipun definisinya tak tepat benar karena Student's Day masuk perhitungan nilai dalam rapor. Untuk Student's Day ini, Kang Ami memberikan siswanya beberapa pilihan materi. Dari seluruh materi, tiga diantaranya diinspirasi dari kegiatan-kegiatan Tobucil n Klabs yaitu Klab Nulis, Klab Rajut, dan KlabKlassik. Walhasil, wajah pesantren Manba'ul Huda setiap hari Minggu menjadi "wajah Tobucil". Disana dapat disaksikan beberapa awak Tobucil berkeliaran.

Di hari pertama Student's Day minggu kemarin, Klab Nulis memulainya dengan menonton bersama dan belum memulai menulis. Sedangkan Klab Rajut dibawah bimbingan Mba Upi dan Rudi memulainya dengan Yubiyami atau merajut tanpa alat. Yubiyami adalah teknik merajut dengan mengandalkan tangan saja. Kata Mba Upi, "Agar tangannya lentur dulu sebelum mulai merajut menggunakan alat." Kelas merajut cukup diminati, isinya ada tiga belas siswa. Adakah kesulitan dalam menjinakkan siswa sebanyak ini? Rudi bilang, "Tidak." Sedangkan KlabKlassik diminati terbanyak yaitu dua puluh siswa. Meski awalnya diberi tajuk "Kelas Gitar Klasik", namun di dalamnya berubah. Kelas yang dibimbing oleh saya dan Kristianus ini, diganti jadi "Kelas Musik" saja. Hal tersebut tak lepas dari kenyataan bahwa tidak semua orang punya dasar gitar yang cukup, serta peminat yang terlalu banyak cukup menyulitkan penyerapan materi.

Kang Ami, ketika ditanya mengapa mengadakan Student's Day itu, menjawab, "Agar si anak tidak melihat kebenaran itu hitam putih. Berbagai kegiatan kesenian terutama yang dibangun lewat komunitas, akan menghaluskan budi si anak dan menyadari bahwa kehidupan itu abu-abu." Filosofis dan cukup mendalam nampaknya. 


Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin