28.8.11

Klab Nulis: Penutupan yang Manis

Jumat, 26 Agustus 2011

Klab Nulis yang telah berlangsung selama dua belas minggu itu akhirnya mencapai puncaknya. Seperti sembilan angkatan sebelumnya, angkatan kesepuluh ini juga ditutup dengan semacam seremoni. Ada musik, pembagian sertifikat, serta tentu saja, pengumuman cerpen terbaik.

Karena dilangsungkan di bulan puasa, maka acara penutupan Klab Nulis diwarnai oleh meja yang berisikan tajil dan makanan ringan. Sebelum adzan maghrib berkumandang, acara terlebih dahulu dibuka oleh penampilan dari KlabKlassik. Setelah itu, ada pembacaan cerpen oleh Riki, yaitu cerpen dari Fuad Hasan yang berjudul Hujan tanpa Pelangi. Penampilan Riki ini amat menarik, karena cerpen tersebut ditampilkan secara teatrikal. Terkadang Riki berteriak lantang, menghentak-hentakan kakinya, hingga tertawa cekikikan sambil rokok terselip di jari-jarinya.

Setelah berbuka dan bertajil ria, dipanggil ke depan dua kandidat peserta Klab Nulis dengan cerpen terbaik. Fuad dan Riska didaulat maju ke depan dan diberi sejumlah pertanyaan oleh moderator. Pertanyaan itu terkait dengan kesan pesan selama Klab Nulis, proses kreatif cerpen yang mereka buat, hingga apa arti menulis untuk mereka. Di tengah-tengah "sidang" itu, terdapat beberapa selingan musik seperti For Life, Sapta Luna, dan penampilan solo dari Prianggono.

Musik memang hadir sebagai selingan, tapi secara umum sukses membuat perpisahan itu hangat dan penuh haru. Puncak acara bukan terdapat pada pengumuman pemenang yang jatuh pada Fuad, melainkan pada pemberian kenang-kenangan dari para peserta terhadap sang tutor, Sophan Ajie. Pemberian kenangan itu sendiri sifatnya kejutan dan tidak diketahui oleh Ophan sebelumnya. Sebagai epilog, Sapta Luna yang tampil dalam format duet, menjadikan suasana beranda Tobucil menjadi temaram dengan musik-musiknya yang jazzy. 

Demikian kisah pamungkas Klab Nulis angkatan kesepuluh. Sampai jumpa di angkatan berikutnya!

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin