22.8.11

Klab Nulis: Sidang Kecil Angkatan X


Jumat, 19 Agustus 2011

Dalam kesederhanaan beranda Tobucil, tersulap sedemikian rupa sebuah tata letak meja agar terlihat seperti sebuah persidangan. Ada tempat duduk terdakwa dan ada tempat duduk untuk majelis hakim. Memang tidak berlebihan jika sore itu terdapat semacam sidang di Tobucil. Yakni sidang Klab Nulis, sidang kecil untuk menentukan cerpen karangan siapa yang terbaik diantara para peserta.

Dengan Sophan Ajie sekaligus mentor dan moderator, sidang Klab Nulis dihadiri oleh dua juri yaitu Mas Pujo dan Mas Puji. Keduanya menyidang peserta secara bergantian. Sidang selalu dimulai dari presentasi dari masing-masing peserta mengenai karyanya. Ternyata seluruh karya sudah dikenai tema berjudul "Kedewasaan". Tidak hanya itu, mereka juga telah diberi pattern berupa sinopsis yang dibuat berdasarkan game pada kelas harian Klab Nulis.

Tampil ke depan pertama, peserta bernama Lodra yang akan mempresentasikan karyanya berjudul Malang. Karya ini berkisah tentang seorang istri yang tidak setuju cara suaminya memperlakukan hubungan ia dan ayahnya. Ayah sang istri yang rajin mengontak setiap saat, dianggap mengganggu bagi sang suami yang tengah fokus bekerja. Ujungnya, ayah sang istri meninggal dunia dan sekitar empat hari kemudian sang istri itu menceraikan suaminya. Definisi kedewasaan menurut Lodra ada pada keputusan berani sang istri untuk menalak suami di hari berkabungnya.

Setelah Lodra maju ke depan, ada Marlina menyuguhkan karyanya tentang pengalaman yang ia peroleh dari temannya yang sukses bangkit dari koma. Baginya, kedewasaan adalah perjuangan tanpa henti. Berikutnya tampil ke depan dua orang sekaligus, yaitu Fuad dengan karyanya Hujan tanpa Pelangi dan Riska dengan karyanya On the Way. Keduanya mempunyai definisi kedewasaan yang mirip-mirip, yaitu bagaimana cara mereka memandang kerelatifan moralitas. Karya Fuad mendapat pujian terselubung dari juri bernama Mas Pujo, "Karyamu ini kirim aja ke Kompas," begitu katanya. 

Sidang ditutup oleh penampilan dua orang bernama Bagus dan Lidya. Keduanya menyuguhkan cerpen yang relatih panjang, Bagus dengan Menggapai Angkasa, Lidya dengan Realita Kehidupan. Keduanya mempunyai definisi kedewasaan yang persis bertolak belakang. Bagus melihat kedewasaan sebagai cara pengambilan keputusan yang mempertimbangkan banyak hal, sedangkan Lidya melihat dewasa sebagai pengambilan keputusan yang berani, mengikuti kemauan diri, dan maju terus dengan resiko ditanggung sendiri.

Klab Nulis angkatan kesepuluh ini hampir seluruh pesertanya "mengeluhkan" hal yang serupa, "Ternyata sulit sekali menulis dengan sinopsis yang sudah dibuat sebelumnya." Meskipun demikian, memang sudah tradisinya Klab Nulis kerap menyuguhkan tantangan bagi pembuatan karya akhir. Sophan sebagai mentor selalu menyelipkan pesan bahwa kemampuan menulis yang baik harus datang dalam berbagai kondisi, termasuk dalam tekanan. Karena hanya dalam tekanan kreativitas bisa muncul. 

Sampai jumpa minggu depan tanggal 26 Agustus, akan dilakukan penutupan Klab Nulis angkatan kesepuluh beserta pengumuman dua karya terbaik.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin