7.8.11

Madrasah Falsafah: Membedah Kegembiraan Diecky


Rabu, 3 Agustus 2011

Madrasah Falsafah hari itu nyaris tidak ada obrolan jika bukan Diecky yang tiba-tiba memberi kejutan. Ia yang daritadi mondar-mandir dengan teleponnya, tiba-tiba duduk di tengah-tengah forum dan berkata lantang, "Karyaku diterima di Jerman!"

Kegembiraan Diecky berbuah diskusi. Diskusi dimulai dari sejumlah pertanyaan Madfal tentang karya itu sendiri. "Karyamu itu, coba ceritakan," Iqbal bertanya. Diecky menjawab, "Aku merenungkan Indonesia itu sendiri. Karena Indonesia isinya adalah perbedaan-perbedaan, maka perbedaan itu sendiri adalah interupsi bagi kehidupan kita sehari-hari. filosofinya yaitu menyandingkan yang berbeda tanpa sibuk mencari perbedaan" Diecky yang seorang komposer musik-musik kontemporer itu, menjelaskan lebih lanjut bagaimana idenya bisa tertuang secara musikal, "Karya ini untuk ensembel campuran, setiap instrumen  adalah dirinya sendiri dengan segala keluasan gramatika bahasa bunyinya masing." 

Pembahasan menjadi meluas pada renungan Iqbal, "Mana sesungguhnya yang duluan dalam mengapresiasi, etika atau estetika dulu?" Beberapa orang sepakat estetika, beberapa lainnya sepakat etika. Estetika, karena ketika menyerap bunyi, keindahan adalah tidak punya filter. Keindahan ada pada dirinya sendiri. Namun sebagian yang berpendapat etika menyerukan,"Keindahan itu punya filter, berupa pengalaman pribadi yang membentuk kita tentang keindahan itu sendiri." Mas Daus contohnya, sebelum ia datang untuk menyaksikan pertunjukan, ia membawa pengetahuan-pengetahuan untuk mengomentari, kritisi, maupun apresiasi. Inilah yang disebut etika, selain daripada seperangkat aturan dari pihak pertunjukkan. Seperti halnya dalam pertunjukkan musik klasik yang mempunyai sederet etika untuk menyaksikannya. Di tengah-tengah perdebatan seru itu, Mba Eci menyelipkan guyonan, "Tentu saja estetika, lihat saja KBBI. Pasti estetika dulu baru etika." 

Nama kompetisi yang diikuti Diecky adalah Young Composers Competition of Southeast Asia 2011 yang disponsori oleh Goethe-Institut. Kompetisi tersebut adalah kompetisi untuk komponis yg memiliki kewarganegaraan di Brunei, Cambodia, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapore, Thailand, Philippines and Vietnam. "Yang menarik dari kompetisi ini," kata Diecky, "Komposisi yang dikirim tidak boleh diberi judul dan nama komponis. hal ini untuk menghindari subjektivitas dewan juri dalam memilih karya. Dewan juri diketuai oleh Prof. Dieter Mack."  Sebagai informasi, karya Diecky ini akan ditampilkan di tiga tempat di Indonesia, yaitu tanggal 8 Oktober di Taman Budaya Bandung, 10 Oktober di Taman Budaya Yogyakarta, 11 Oktober di Gouthe-Haus Jakarta.

Selamat untuk Diecky, renungan filosofisnya berbuah juga. Jadi ingat perkataan Bapak, "Orang bisa mencapai hal-hal yang material dengan memikirkan sesuatu yang justru immaterial."



Diecky K. Indrapraja berfoto di pintu masuk Tobucil
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin