18.9.11

Ada Apa dengan Abad Modern? (Artikel Pengantar)

(Pengantar untuk Kelas Filsafat untuk Pemula Tobucil dengan tema “Ada Apa dengan Abad Modern?”)


Setelah Eropa dilanda krisis kepercayaan terhadap kekuasaan gereja, masuklah mereka pada suatu fajar pemikiran yang baru. Inilah perubahan dari yang tadinya teosentris (Tuhan sebagai pusat) menjadi antroposentris (manusia sebagai pusat). Dari yang tadinya takaran benar salah adalah teks-teks Tuhan, sekarang takaran benar salah menjadi rasio manusia itu sendiri. Era itu disebut dengan Renaisans, yang berlangsung sekitar abad ke-15 dan dimulai di Italia. Selain dipicu oleh kekecewaan terhadap gereja, Renaisans juga didorong oleh penemuan akan tiga hal: Mesin cetak, kompas, dan mesiu. Dengan mesin cetak, ide bisa disebarluaskan secara massal dan seragam. Dengan kompas, manusia tidak takut berlayar mengarungi lautan karena selalu tahu arah pulang. Dengan mesiu, manusia mempunyai senjata menakutkan untuk kolonialisasi. Renaisans bisa dibilang merupakan cikal bakal pemikiran modern. 

Efek dari atroposentrisme itu salah satunya adalah kepercayaan bahwa alam harusnya dikuasai manusia. Sebelumnya, alam adalah sesuatu yang tak sanggup diprediksi, yang berbagai pergerakannya adalah metafisis dan di luar kuasa manusia. Kemajuan teknologi membuat manusia percaya bahwa manusia tidak perlu tergantung lagi pada alam. 

Pasca Renaisans, periodisasi dalam abad modern dapat dibagi menjadi era Barok, Pencerahan, Romantik, hingga Abad ke-20. Meskipun pemikiran di dalamnya sangat beragam, namun pemikiran modern dalam digeneralisasikan menjadi beberapa poin sebagai berikut: 

1. Oposisi biner. Pemikiran modern percaya akan adanya kebenaran absolut. Standar yang berlaku bagi semua. Contoh, “Kriteria orang beradab adalah punya skor TOEFL yang tinggi. Maka orang yang tidak punya skor TOEFL yang tinggi adalah orang tidak beradab.” 

2. Subjek. Pemikiran modern berpusat pada manusia. Kebenaran sejati ada pada individu. Subjek ada dalam kondisi sadar dan menentukan nasibnya sendiri. 

3. Grand-Narrative. Mirip dengan oposisi biner, pemikiran modern percaya akan adanya narasi besar seperti Keadilan, Kesejahteraan, Hak Asasi, atau misalnya Ideologi. Grand-Narrative ini dianggap seolah-olah berlaku bagi semua keadaan, bahwa sungguh-sungguh ada keadilan sejati bagi seluruh manusia, kesejahteraan sejati bagi seluruh manusia, dan seterusnya. 

4. Tuhan. Oleh sebab kekecewaan serius terhadap periode sebelumnya (Pertengahan), ateisme menjadi berkembang dan dideklarasikan. Para filsuf seperti Nietzsche dan Sartre dengan terang-terangan menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada dengan berbagai argumen filosofisnya. 

Empat poin di atas tentu saja merupakan generalisasi yang berlebihan. Nyatanya ada banyak sekali pemikiran yang khas dan barangkali mempunyai beberapa perbedaan dari apa yang digariskan di atas. Namun sebagai pengenalan awal, dalam rangka pemetaan dan garis besar, empat poin di atas boleh juga dijadikan pegangan. 

Kelas filsafat untuk pemula Tobucil dengan tema “Ada Apa dengan Abad Modern?” kira-kira ditujukan untuk menjawab berbagai pertanyaan sebagai berikut: 
•Apa sesungguhnya Abad Modern itu? 
• Bagaimana detail pemikiran di dalamnya?
• Bagaimana jalinan antar pemikiran satu dan lainnya? 
• Bagaimana dengan modernisasi di Timur?



Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin