11.9.11

Nonton Bareng KlabKlassik: Apocalypse Now

Minggu, 11 September 2011




Hari Minggu kemarin KlabKlassik punya program baru. Atas usul Ismail Reza, KK sebaiknya memutar sebuah film, lantas dibahas scoring-nya, atau musik latarnya. Setelah melalui diskusi, diputarlah film tahun 1979 berjudul Apocalypse Now. Film garapan sutradara Francis Ford Coppola yang berlatarbelakang perang Vietnam itu diperankan oleh dua aktor kawakan, Martin Sheen dan Marlon Brando. 

Ceritanya, Martin Sheen berperan sebagai Kapten Benjamin Willard, yang ditugaskan untuk membunuh Kolonel Kurtz yang diperankan (secara gemilang) oleh Marlon Brando. Keduanya adalah sesama Amerika, dan misi ini terbilang rahasia, tidak resmi, atau biasa disebut black ops. Cerita menjadi menarik karena sebagian besar berisikan pergulatan batin dari Kapten Willard, karena ia bertanya-tanya, bagaimana mungkin ia ditugaskan membunuh sesama Amerika? Segila apakah Kolonel Kurtz itu sehingga harus dilenyapkan?

Film tersebut, meskipun berjudul "film perang", namun yang ditampilkan justru aspek psikologisnya. Mas Daus, salah seorang peserta menyebutkan, "Ini film perang vietnam yang anti-hero, disamping Platoon dan Killing Fields." Film berdurasi sekitar dua setengah jam itu cukup menguras tenaga, beberapa peserta bahkan pulang sebelum berakhirnya film. Terutama juga karena musiknya secara subjektif agak kurang nyaman di telinga, sehingga berpengaruh sekali terhadap endurance. Selain itu, gambar-gambarnya gelap, betul-betul jauh dari hingar bingar heroisme ala Rambo atau Green Berets.

Setelah film berakhir, terjadi diskusi singkat. Pertama, bagaimana scoring mempengaruhi dramatisasi film itu sendiri. Bagi Mas Daus, scoring sangat penting dan boleh dibilang vital. Itulah yang terjadi pada perfilman Indonesia yang mana scoring seringkali digarap asal-asalan. Bahkan dalam banyak sinetron, scoring dicomot saja dari lagu yang sudah ada, tanpa memperhitungkan kecocokan dengan adegan. Profesi penggarap musik bahkan, kata Mas Reza, "Kawan saya di Berkeley, mengambil jurusan khusus music scoring, dan katanya susah. Jadi di luar sana, profesi music scorer gak main-main."

Program perdana kemarin menginspirasi KK untuk menyusun program berikutnya. Kemungkinan di akhir September ini akan diputar film G 30 S/PKI karya Arifin C. Noor, dengan agenda sama, yaitu membahas scoring musik. Kata Mas Daus, "Inilah film Indonesia terbaik sepanjang sejarah, bagi saya."



Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin