26.9.11

Seminar Musik Kontemporer dan Problem Interkultural

MInggu, 25 September 2011

Hari Minggu adalah jadwal rutin kumpul KlabKlassik. Meski pada Minggu itu KK tidak berkumpul di Tobucil, mereka tetap mengadakan kegiatannya di Studio Musik Melodia, jalan Cipunagara nomor 15. Ini punya kaitan dengan kerjasama antara Studio Musik Melodia dan KK dalam rangka menggelar suatu seminar berjudul "Musik Kontemporer dan Problem Interkultural". Pembicara dalam seminar tersebut adalah Dieter Mack, seorang guru besar komposisi asal Jerman dan satu lagi tidak lain adalah aktivis Tobucil yang aktif di Madrasah Falsafah maupun KK, yaitu Diecky K. Indrapraja.

Sebetulnya acara tersebut tak tepat benar disebut seminar. Karena jika berbicara seminar, biasanya konotasinya langsung ke suatu pertemuan besar di gedung besar yang mana suasananya kurang lebih formal. Acara ini tidak. Tempatnya relatif kecil, suasananya santai, dan terjadi dialog yang cukup intens antara peserta dan pembicara. 

Awalnya, Dieter Mack menyatakan awal mula mengapa ia hendak membicarakan topik tersebut. Ini terkait dengan acara yang akan digelar di Taman Budaya Jawa Barat dari tanggal 2 hingga 9 Oktober. Acara yang disponsori oleh Goethe Institut itu merupakan semacam kompetisi bagi komposer muda se-Asia Tenggara. Dieter Mack menjadi penggagas sekaligus juri, sedangkan Diecky menjadi salah satu dari sepuluh finalis terpilih dalam kompetisi tersebut (mari beri selamat). Kemudian Dieter masuk ke apa yang disebutnya sebagai interkultural, dengan menyajikan empat contoh lagu yang mengandung baik instrumen barat maupun timur. Pertanyaannya sederhana, namun agak sulit menjawabnya, "Diantara keempat ini, manakah yang terasa seperti ditempelkan atau digabungkan, dan mana yang terasa seperti satu kesatuan?"

Jawabannya beragam. Namun kesimpulan Dieter cukup mengena, "Soal kepekaan kita tentang mana yang terasa digabungkan dan mana yang terasa sebagai satu kesatuan, ditentukan oleh sebanyak apa kita mendengar. Jika mendengarkan tak terlalu banyak, kita akan sulit menerima pelbagai kemungkinan-kemungkinan dari komposisi baru." Kemudian Diecky tampil mengemuka, memperdengarkan karya pemenangnya pada para peserta. Namun di tengah presentasinya, ketika ia menyebut kalimat, "Tradisi Barat yang sistematis..", Dieter Mack langsung memotong, "Kata siapa tradisi Barat sistematis?" Dieter langsung melanjutkan, "Di Barat sistematis dengan tradisi tulisan. Di Timur sistematis dengan tradisi lisan. Kalau Timur tidak sistematis, bagaimana mungkin kita bisa menabuh gamelan, sekarang ini?"

Menjelang akhir diskusi yang berlangsung selama dua setengah jam itu, peserta boleh bertanya secara bebas. Misalnya, Ulung bertanya, "Apakah betul fungsi musik itu terbagi dua antara musik seni dan hiburan? Apakah ada musik yang seni sekaligus hiburan?" Dieter menjawab dengan contoh, ia memainkan dua lagu dalam piano, yang satu agak jazz, satu lagi kontemporer. Setelah lagu yang terakhir, ia berujar, "JIka saya memainkan lagu seperti itu, saya pasti diusir."Kata Dieter, "Musik hiburan tidak salah. Tapi ia tidak ditujukan untuk menarik perhatian. Ia bisa dimainkan sambil orang melakukan apapun. Tidak harus dinikmati sebagai sesuatu yang independen. Penghasil musik hiburan bisa disebut juga tukang atau pengrajin. Tapi sekali lagi ia tidak salah, tidakkah kita semua butuh tukang atau pengrajin?"

Setelah dua jam setengah yang mengasyikkan sekaligus memabukkan (oleh sebab musik kontemporer yang kadang-kadang tidak cocok untuk semua telinga), diskusi itu ditutup jua. Diakhiri dengan makan kudapan ringan di halaman belakang. 

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin